D:\Bani Kertiwono\makam tijoyo.jpg

WARENG KERTIWONO & GANTUNG SIWUR “TIJOYO”

Di Makam Gantung Sewur Tijoyo di atas Sumber Keling Damarjati Desa Karangrejo. Dari kanan: Saya Agus Hasan B, Adinda M. Ali Khudlori, Cak Yusuf al-Sanuwi, Ananda Hamzah. Rabu 25 Syawal 1441 H/ 17 Juni 2020.

Agungnya ibadah silaturrahim dalam Islam

Kami Bani Qomari al-Sanuwi khususnya dari pihak Ibu kami Nur Fathonah al-Daniyah sangat senang dengan silaturrahim. Seolah motto kita “Tiada hari tanpa ziarah”. Maka para tetangga di desa Kabunan Kepulungan akan merasa heran dan bertanya ketika mengetahui ibu kami Nur Fathonah rahimahallah berada di rumah: “Kok ada di rumah?”, begitu kata mereka.

Alhamdulillah ibadah besar tersebut bisa kami warisi. Saya katakan ibadah besar sebab ini perintah agama Islam. Allah berfirman:

 وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhan mereka dan takut akan hisab yang buruk 9di akhirat kelak)“. (Ar-Ra’d: 21)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الرَّحمُ معلَّقةٌ بالعرش تقولُ: مَن وصلني وصله اللهُ، ومَن قطعني قطعه اللهُ

“Rahim itu digatungkan di Arsy, dia berkata: Barang siapa meyambungku maka Allah pasti menyambungnya, dan barang siapa memutuskanku maka Allah pasti memutusnya.” (HR. Muslim dari Aisyah Radhiyallahu anha)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, hingga tatkala selesai dari menciptakannya Rahim berkata: ini adalah maqom pemohon perlindungan kepada-Mu dari diputuskannya Rahim. Allah berfirman: Ya, apakah kamu ridha Aku menyambung orang yang menyambungmu dan Aku memutus orang yang memutuskanmu? Rahim menjawab: Tentu Ya Rabb. Maka Allah menjawab: Maka ia milikmu. Rasulullah ﷺ bersabda: Bacalah (firman Allah) jika kamu mau: “ ﴿ فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ ﴾ [ (Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?. QS Muhammad: 22)” (HR. Bukhari Muslim).

Oleh karena kedudukan Silaturrahim sangat penting dalam Islam maka Rasulullah saw banyak menjelaskan keutamaannya dalam banyak haditsnya. Diantaranya jawaban Rasulullah saw kepada seseorang yang bertanya tentang amal yang memasukkan seseorang ke dalam surga dan menjauhkan dari neraka, beliau bersabda:

تعبد الله ولاتشرك به شيئا وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصل الرحم

“Kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menyambung kerabat (silaturahim)”. (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadits lain yang masyhur, Rasulullah saw memberi dua jaminan sekaligus bagi siapapun yang gemar dan rajin menyambung ikatan tali silaturahim:

من أحب أن يبسط له فى رزقه وأن ينسأ له فى أثره فليصل رحمه

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung kerabatnya”. (HR. Bukhari)

Silaturahim dalam arti menyambung dan mempererat tali kerabat atau persaudaraan seperti yang dijelaskan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan aktifitas yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dan Al-Arham (kerabat-kerabat) yang memiliki hak untuk dihubungi dan disambung adalah sebagaimana dijabarkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah:

الأرحام هم الأقارب من جهة الأمِّ ومن جهة الأب؛ فالآباء والأمَّهات والأجداد والجدات أرحام، والأولاد وأولادهم من ذكور وإناث وأولاد البنات كلهم أرحام، وهكذا الإخوة والأخوات وأولادهم أرحام، وهكذا الأعمام والعمَّات والأخوال والخالات وأولادهم أرحام، داخلون كلهم في قوله تعالى: ﴿ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ ﴾ الأنفال: 75

Al-Arham adalah kerabat dari jalur ibu dan dari jalur ayah. Para ayah, para ibu, para kakek, para nenek adalah arham. Para anak, para cucu baik yang laki-laki maupun perempuan, serta cucu dari anak perempuan adalah arham . begitu pula saudara laki-laki dan saudari perempuan serta anak keturunan mereka adalah arham. Begitu pula para paman dan para bibi baik dari jalur ayah maupun jalur ibu serta anak-anak mereka adalah arham. Mereka semua masuk ke dalam firman Allah:

وَأُو۟لُوا۟ ٱلْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۢ

“Dan Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-fal: 75)

Istilah Garis keturunan dalam budaya jawa

Dalam budaya Jawa, ada istilah dalam garis keturunan sejauh hingga keturunan ke 18. Garis tersebut disebut dengan istirah Trah. Diantara trah keturunan dalam Bahasa jawa sebagai berikut:

Keturunan ke-1. Anak.

Keturunan ke-2. Putu, dalam bahasa Indonesia disebut cucu.

Keturunan ke-3. Buyut, dalam bahasa Indonesia disebut cicit.

Keturunan ke-4. Canggah.

Keturunan ke-5. Wareng.

Keturunan ke-6. Udhek-udhek.

Keturunan ke-7. Gantung siwur.

Keturunan ke-8. Gropak Senthe.

Leluhurku dari jalur ibunya Bapak Qomari

Berdasarkan ini maka silsilah saya dari ayah (M. Qomari) dan ibu (Nur Fathonah) adalah sebagai berikut:

  1. Agus Hasan Bashori bin M. Qomari bin Abdul Ghani bin Sanu (Bani Sanu)

Canggah Sanu dimakamkan di makam keluarga besar di Karangsono-Sukorejo.

Silahkan baca:

Ibunya Bapak Qomari yang merupakan istri kakek Abdul Ghani adalah Humayyah binti Sartam bin Kertiwono bin Tiwono (menantu Tijoyo)

D:\Bani Kertiwono\bani kertiwono.jpg

Bani Kertiwono ini tinggal di Damarjati, Desa Karangrejo Kec. Purwosari Kab. Pasuruan.

Gantung siwur Tijoyo dimakamkan khusus di atas Sumber Keling Damarjati- Karangrejo, Purwosari, Pasuruan. Makam kuram terawat, karena tanah sekitarnya digarab menjadi sawah.

D:\Bani Kertiwono\102696538_10219226833475170_1211234760219845069_n.jpg

Batu Nisan kuno, kemudian diberi batu nisa baru bertuliskan “Tijoyo”

D:\Bani Kertiwono\sumber keling 2.jpg

D:\Bani Kertiwono\sumber keling.jpg

Sumber Keling Damarjati Purwosari Pasuruan.

Wareng Kertiwono dimakamkan di pemakaman umum desa Damarjati. Kuburannya punya ciri:

  • Satu-satunya yang dibangun dan beratap, bersama istrinya.
  • Satu-satunya yang diberi bendera merah putih sebagai tanda pahlawan.
  • Satu-satunya yang ada kotak kayu menggantung tempat buku-buku yasin, tahlil dan doa-doa.
  • Dijadikan tempat “tawassulan” oleh sebagian masyarakat baik dari desa Damarjati maupun dari luar daerah, jika mereka punya hajat mau pilihan lurah, pileg, pilkada dll.
  • Satu-satunya yang diberi lampu listrik di bangunan tersebut, tetapi saya lihat sudah digulung kabelnya dan tidak dinyalakan, -saya Tanya- alasannya takut dikultuskan sehingga bisa mengarah kepada syirik.

D:\Bani Kertiwono\makam kertiwono.jpg

D:\Bani Kertiwono\makam kertiwono 5.jpg

D:\Bani Kertiwono\maka kertiwono 1.jpg

  1. Agus Hasan Bashori bin Nur Fathonah binti Kyai Bukhari bin Gartam (Bani Gartam )

Canggah Kyai Bukhari dimakamkan di pemakaman keluarga di dusun Sukorjo Karangjati Pandaan, Pasuruan.

Baca:

https://www.agushasanbashori.com/kisah-yai-bukhori-yang-penyabar/

Ibunya Nur Fathonah yang menjadi istri Yai Bukhari adalah Tuhayya binti Marsaji (Syayyi’) bin Dani (Bani Dani)

Wareng Dani dimakamkan di pemakaman Keluarga besar di bukit Plipir-Kabunan- Kepulungan Gempol , Pasuruan.

Baca:

https://www.agushasanbashori.com/silsilah-keluaga-besar-bani-qomarinur-fathonah-sampai-canggah-dani/

Oleh karena itu mengetahui silsilah keturunan kita secara detil sangat diperlukan untuk kebutuhan ibadah silaturrahim, dakwah, social dll. Maka saya menghimbau kepada para pembaca untuk memperhatikan masalah ini.

Informasi pentig tentang leluhur “Bani Kertiwono”

  1. Gantung Siwur Tijoyo adalah pejabat Mataram Islam yang ada di Pasuruan

Tatkala Mataram bergabung dengan Belanda dan dibawah kendali Belanda maka Tijoyo sebagai orang Mataram yang berada di Pasuruan tidak bisa menerima. Beliau menentang kebijakan itu dan memilih menjadi pejuang yang melawan penjajah bersama rakyat dan sisa-sisa pasukan Untung Surapati. Akhirnya beliau keluar dari Pasuruan mencari daerah aman jauh di plosok di kaki Gunung Arjuno sebelah timur (sekarang di bawah Indonesia Safari Part II Prigen, 43 Km dari ponpes al-Umm) . Beliau adalah orang yang membabat alas alias orang pertama yang bermukim di DamarJati/Karang Lebak ini.

Untuk memahami gambaran zaman Gantung Siwur Tijoyo, perlu kiranya Anda membaca kondisi pergolakan Kerajaan Mataram hingga ke Pasuruan dan Malang saat itu di akhir tulisan ini.

  1. Wareng Kertiwono adalah menantu Tijoyo.

Beliau berasal dari kerajaan Mataram Yogyakarta, yang berada di bawah kesultanan Hamengkubuwono.

Kertiwono ini menjadi kepala desa Damarjati pertama.

Kertiwono ini juga dikenal dengan nama Kamidin (Hamidin, yang berarti orang-orang yang memuji Allah).

Kertiwono memiliki 4 anak: Kaseran, Maimunah, Sartam dan Ambrim.

  1. Kepala Desa Damarjati kedua dijabat oleh Kertotaruno bin Kertiwono. Kertotaruno juga dikenal dengan nama Kaseran.
  2. Kepala Desa Damarjati ketiga adalah Asy’ari Hardjo Sujono bin Kaseran (1894-29 Mei 1970).

Bapak Asy’ari bin Kaseran bin Kertiwono ini adalah Kakak sepupu Mbah Humayyah binti binti Sartam bin Kertiwono, yang menjadi kepala desa pada saat Mbah Humayyah menjadi anak yatim bersama 2 kakanya yaitu Imamah (Genengan) dan Siti nafiah (Karangsono).

  1. Kepala Desa sekarang Ahmad Fauzi juga keturunan Pak Asy’ari. (InsyaAllah Ahmad Fauzi bin Usman Arief bin Asy’ari Hardjo Sujono).

D:\Bani Kertiwono\tijoyo 1.jpg

Menziyarahi makam Tijoyo dan Kertiwono

Alhamdulillah, dengan izin Allah silaturrahim ke jalur ibunya ayah saya yaitu Mbah Humayyah bisa terlaksana pada hari Rabu 25 Syawal 1441 H/ 17 Juni 2020, setelah tertunda lebih dari 20 tahun, kemudian tertunda Lockdown akibat Covid-19.

Rombongan: Saya (agus Hasan Bashori), anak saya Hamzah, menantu kedua Friscal Prayugo, adik Saya M. Ali Khudhlori dan adik Ipar Abu Syifak, diikuti oleh istri dan anak-anak Abu Hasan, dalam dua mobil.

Setelah wisata di Jumpinang (mengantar para mahasantri MAA dan para Dosen) kita sudah janjian ketemuan dengan Cak Yusuf bin Tasyrifah binti Abdul Ghani bin Sanu di Masjid Jamik DamarJati, yang juga ada hubungannya dengan tanah leluhur Canggah Sartam.

D:\Bani Kertiwono\jamik damarjati.jpg

Setelah shalat dhuhur di masjid Damarjati kita diantar ke makam Gantung siwur Tijoyo.

Subhanallah jalan menuju ke makam adalah jalan menuju sumber Keling yang berada di tengah persawahan. Jauh dari desa. Jauh, berbatu, berkelok, sempit, namun asri karena sungai irigasi yang mengalir sangat bening.

Tiga kali Cak Yusuf antar jemput pakai sepeda motor.

Rasa capek terbayarkan sebab kita berakhir pada sumber Keling yang sangat terkenal. Jernih dan rindang. Di lahan sumber itu di bagian atasnya terdapat makam tua dengan dua batu nisan Kuno , lalu diberi batu nisan baru oleh Bani Kertiwono yang ada di di sana dan ditulisi “Tijoyo”

D:\Bani Kertiwono\sumber keling 3.jpg

Setelah itu kita turun lalu shalat asar lalu melanjutkan ke maka Wareng Kertiwono.

Setelah itu kita silaturrahim ke rumah Cak Nurul Huda Aghus bin Aspali bin Kaseran Kertotaruno bin Kertiwono yang tinggal di karangsono.

D:\Bani Kertiwono\nurul huda.jpg

******

KONDISI MATARAM ISLAM DI ZAMAN GANTUNGSIWUR TIJOYO

Mataram melemah dan pecah

Mataram tunduk kepada Belanda pada masa raja Pakubuwana III. Sang raja Pakubuwana II yang sedang sakit itu mewariskan takhta kepada anaknya, Raden Mas Soerjadi. Maka, putra mahkota yang baru berusia 17 itu pun dinobatkan dengan gelar Pakubuwana III pada 15 Desember 1749. Lima hari berselang, Pakubuwana II wafat.

Pakubuwana III resmi menjadi raja, setelah Baron von Hohendorff, Gubernur VOC untuk wilayah pesisir Jawa melantiknya sebagai Pakubuwana III karena wilayah Surakarta saat itu sudah menjadi milik VOC sesuai kesepakatan sebelumnya dengan Pakubuwana II.

Sejarah mencatat, ia adalah raja Jawa pertama yang dilantik oleh pejabat VOC. Bahkan di sepanjang masa kepemimpinannya, Pakubuwana III senantiasa tunduk kepada Belanda demi langgengnya kekuasaan (wafat 26 September 1788 M).

Kala itu, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) bergabung untuk menghadapi Kasunanan Surakarta yang didukung VOC. Keduanya masih satu garis keturunan dengan Pakubuwana III dari Trah Mataram, dan merasa berhak mendapat jatah kekuasaan.

Belanda mendekati Mangkubumi kemudian berhasil membagi wilayah Mataram menjadi dua, yakni untuk Pakubuwana III di Surakarta dan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bertakhta di Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwana I.

Hal ini membuat Said kecewa. Ia pun pisah kongsi dengan Mangkubumi untuk tetap melancarkan perlawanan terhadap Surakarta dan VOC.

Belanda bermain lagi akhirnya Pakubuwana III bersedia berbagi Surakarta dengan Said. Lahirlah Kadipaten Mangkunegaran yang dipimpin Said dengan gelar Mangkunegara I.

Penyatuan Jawa yang pernah diupayakan pada masa kepemimpinan Sultan Agung (‎1613‎-‎1645) akhirnya musnah di era pemerintahan Pakubuwana III. Telatah Mataram terpecah-pecah, terbelah menjadi tiga kerajaan: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegara. Nantinya, pada 1813, muncul satu kerajaan lagi, yaitu Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta.

Penyerbuan VOC dan Pakubuwana III ke Pasuruan, Lumajang dan Pangeran Singosari di Malang

Aksi perlawanan atau pemberontakan yang masih mengusik kekuasaan Pakubuwana III di Surakarta itu digerakkan oleh pamannya, Pangeran Singosari, di Jawa bagian timur. Sebelumnya, Singosari sempat bergabung dengan Mangkubumi dan Said sebelum keduanya dirangkul Belanda.

Singosari mendapat dukungan dari keturunan serta sisa-sisa pengikut Untung Surapati (Pasuruan) yang pernah melawan kekuasaan Mataram dan akhirnya tewas dalam perang kontra VOC pada 1706 (zaman Pakubuwana II).

Pakubuwana III sempat menawarkan perdamaian kepada Singosari, namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. Maka, bergabunglah pasukan Surakarta dan Belanda untuk memburu Singosari beserta para pengikutnya di Jawa Timur.

Operasi militer mulai dilakukan pada 1757. Pasukan gabungan Pakubuwana III dan VOC bergerak menuju ke timur. Mula-mula, pasukan ini melancarkan aksi pembersihan dari Pasuruan hingga Lumajang.

Pangeran Singosari yang bersemayam di Malang itu terpaksa menghindar dan melawan secara gerilya. Cukup lama pasukan gabungan Pakubuwana III dan Belanda menghadapi aksi ini karena Singosari yang dibantu mantan pengikut Untung Surapati sering berpindah-pindah tempat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *