TIDAK ADA JALAN KECUALI DENGAN ISLAM

SARASEHAN nasional bertajuk: mengembalikan kejayaan peradaban Islam.

1. Key note speaker Prof. Dr. Dato’ Torla Bon Hassan P.S.K., D.S.A.P Senior Academic Fellow dari International Institut of ISLAMIC Thought (IIIT) menyampaikan makalah berjudul : Industri 4.0 and integraty of ISLAMIC velues. Beliau menyimpulkan bahwa dunia modern yang sekularis akan berakibat fatal dan merusak. Secanggih apapun teknologi menciptakan alat, alat itu tidak bisa menilai perbuatan manusia baik atau buruk..
Oleh karena itu tidak ada cara lain kecuali mengintegrasikan antara teknologi dengan ajaran Islam.
Muslim berakhlak saja tidak cukup
untuk benar benar berakhlak. Berakhlak dengan Tuhan harus dengan air yang betul dan kuat. Maka muslim harus yakin dengan Qur’an dan harus cakap dengan bahasa sains dan teknologi.
Integrasi ilmu Wahyu dan teknologi adalah solusi.

2. Prof. Iwan Triyuwono SE, Al.MEc, PhD. Dalam makalahnya tentang akuntansi syariah menyimpulkan:
a. Akuntansi modern blm mencatat dengan benar, Karena filosofinya hanya peduli pada aspek materi. Diluar materi seperti kepuasan, bahagia dan syukur diabaikan.
b. Akuntansi modern Mengandung racun pikiran MESA:
Matrealistik
Egoistik
Sekularistik
Atheistik
c. Rasa senang dan syukur tidak mereka catat karena tidak bisa diukur. Karena tidak bisa diukur maka dianggap tidak ada.
d. Sekuler adalah Memisahkan antara hal hal yang seharusnya menyatu. Ini diambil dari asma Allah
المحيط
e. Konsep ekonomi sekularisme memposisikan Manusia sebagai binatang ekonomi.
f. Maka tidak ada solusi kecuali kembali kepada Syariah, dimana manusia sebagai Khalifah.

3. Saya (Agus Hasan Bashori) dalam makalah berjudul “Revitalisasi Konsep Ilmu Islam dalam Pendidikan dan Kehidupan” menyampaikan:

a. Zaman kejayaan Islam – berlaku sabda Nabi:
الإسلام يعلو ولا يعلى
– Islam diterima secara kaffah
– kepribadian muslim utuh sebagai hamba Allah.
– berlaku ISLAMIC world view
b. Zaman kemunduran peradaban Islam
1) Berlaku sebaliknya. Kepribadian muslim rusak dan pecah.
Banyak muslim berbicara, berbicara dan bertindak bukan sebagai hamba Allah tetapi sebagai status yang lain seperti politisi, budayawan, seniman dll
Contoh:
– Seniman dan pelukis menganut paradigma bebas nilai (free value) seperti dalam sains (positifnya)
– pemimpin atau aktifis banyak yang ikut ideologi sains yang mesti toleran, tidak memihak, rasional dan demokratis.
Toleran dan tidak memihak dalam arti mengingkari dakwah Islam dan amar makruf nahi Anil Munkar.
– penggiat wisata dan pemburu uang wisatawan berkata: Larung laut (yang syirik) itu adalah kearifan lokal!
– paradigma aktifis feminis hari ini: my body ia mine!
Ada RUU P-SK (Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual) filosofinya didasarkan pada suka atau tidak suka si pelaku.
Semua paradigma yang diada-adakan ini dalam konsep ilmu Islam disebut ittiba’ul hawa (QS Al Qashash: 50)
Kalau kita tengok rusaknya kepribadian muslim ini sudah dari pendidikan dasar.
Kondisi kurikulum PAI
Setelah saya meneliti PAI di KTSP 2006 dan PAI dan Budi pekerti K-13 maka kondisinya:
1. Materi agama Islam tidak dibangun di atas konsep ilmu Islam. Konsep ilmunya tidak jelas!
2. Memuat kelemahan dan penyakit. Yaitu riwayat riwayat lemah, khurafat khurafat yang dapat merusak ilmu, iman dan akhlak peserta didik.
Karena itu untuk mengatasi semua itu dan untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam harus merevitalisasi konsep ilmu Islam dengan 6 fariabelnya: pengertian ilmu, sumber ilmu, tujuan ilmu, macam macam ilmu, tingkatan ilmu, dan konsep sanad ilmu.
Alhamdulillah saya sudah merusumkan satu bab atau satu buku berjudul Aku Cinta Ilmu.
Lanjutan di www.agushasanbashori.com InsyaAllah

 

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *