PENGERTIAN HERMENEUTIKA DAN HAKEKATNYA

Hermeneutika berasal dari bahasa Greek “Hermeneutikos”, dan dari bahasa Inggris “Hermeneutiks” yang berarti “Menunjukkan sesuatu”. Hal ini tidak terbatas hanya pada pernyataan, tetapi meliputi bahasa secara umum, penerjemahan, interpretasi, juga gaya bahasa dan retorika. Makna seperti ini dapat ditemukan dalam karya Plato (429-347 SM) yang berjudul Definitione.

Secara umum Hermeneutika dikenal sebagai sebuah ilmu penafsiran yang berasal dari warisan mitologi Yunani. Ia kemudian diadopsi oleh orang-orang Kristen untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh teks Bible. Dalam tradisi intelektual Barat, ilmu ini berkembang menjadi aliran filsafat. Sebagai sebuat ilmu penafsiran, ia berkembang menurut latar belakang budaya, ideology, pandangan hidup (world-view), politik, ekonomi, sosial, dll. Ia bukanlah ilmu yang netral, melainkan ilmu yang penuh dengan muatan nilai Yunani, Kristen dan Barat.

Menurut Werner G. Jeanroad, ada tiga milien penting yang berpengaruh pada timbulnya Hermeneutika sebagai sebuah ilmu penafsiran atau teori interpretasi:

  1. Milien Masyarakat yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani.

  2. Milien Masyarakat Yahudi dan Kristen yang menghadapi masalah teks kitab “suci” agama mereka dan berupaya untuk mencari model yang cocok bagi interpretasi Bible.

  3. Milien Masyarakat Eropa di jaman pencerahan (Enlightenment) yang berupaya lepas dari tradisi dan otoritas keagamaan geraja dan membawa hermeneutika keluar dari konteks keagamaan menuju ruang filsafat.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HERMENEUTIKA

Fase Metologi Yunani

Sudah dimaklumi bahwa Masyarakat Yunani tidak mengenal agama tertentu, tetapi mereka percaya kepada Tuhan dalam bentuk mitologi. Dalam mitologi Yunani terdapat 55 dewa dewi yang dikepalai oleh dewa Zeus dan Maia yang mempunyai anak bernama Hermes. Hermes dipercaya sebagai utusan para dewa untuk menjelaskan pesan-pesan dewa di langit. Dari nama Hermes inilah konsep hermeneutika digunakan dalam menentukan makna, peran dan fungsi teks kesusastraan yang berasal dari Masyarakat Yunani kuno.

Penafsiran-penafsiran metologi dan puisi boleh jadi sangat subjektif atau ditentukan oleh kondisi politik keagamaan yang belaku. Metode terpenting yang digunakan secara alami adalah metode kiasan (allegory), suatu tradisi di Yunani yang diprakarsai oleh Theagnes dari Rhegium (abad 6 SM). Penafsiran kiasan (Allegorical Interpretation) umumnya melibatkan penolakan Literer atau meninggalkannya sama sekali.Continue reading