SYUBHAT PENGINGKARAN ADZAB KUBUR

Diantara syubhat yang dilontarkan para pengingkar adzab kubur yang perlu ditanggapi ialah sebagai berikut.

1. Ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tidak ada adzab sebelum hari Kiamat. Misalnya: QS Yasin : 52, An Naziat : 46, Ash Shafat : 20, Yunus : 45, Ar Rum : 55, Al Ahqaf : 35 [Lihat Masalah-masalah Khilafiyah Diantara Gerakan Islam, 197-198]

Jawab:
Pertama. Seluruh ayat Al Qur’an adalah haq. Satu dengan lainnya tidak ada yang kontradiktif, tetapi saling melengkapi dan menafsiri. Jika ayat-ayat ini tidak berbicara tentang adzab kubur, maka ayat-ayat yang lain telah membahasnya. Diantara perkara yang menyeret Ahli Bid’ah menuju kesesatan, yaitu selalu mengkonfrontasikan antar ayat, lebih mengutamakan satu ayat dengan mengesampingkan ayat lain, sebagaimana Qadariyah yang hanya mengimani ayat-ayat yang menunjukkan manusia mempunyai kehendak, atau kaum Jabriyah yang hanya mengimani ayat-ayat taqdir, atau juga para filosof-filosof muslim yang mengimani makhsyar ruhani dan mengingkari makhsyar jasadi.

Kedua. Perasaan orang yang mendapat adzab di akhirat, ketika dibangkitkan dari kuburnya, seolah-olah mereka bangun dari tidur, dan tidak tinggal di dunia melainkan sesaat. Ini karena dahsyatnya hari Kiamat, yang tidak dapat dibandingkan dengan adzab kubur. Sehingga, kehidupan dunia dan barzakh terasa sangat pendek. Dan mereka mengaku baru bangkit dari tidur, karena dalam sebagian hadits disebutkan, bahwa ahli kubur diberi raqdah (tidur sesaat). Yaitu sebelum tiupan kebangkitan. (Taisir Karimurrahman, 4/230). Ibn Abbas dan Qatadah menyatakan, apabila sangkakala telah ditiup, maka adzab kubur diberhentikan atas penghuni kubur, lalu mereka tidur hingga tiupan kebangkitan. Jarak antara dua tiupan itu ialah 40 tahun. Ahli ilmu Ma’ani mengatakan: “Apabila orang-orang kafir telah menyaksikan Jahannam beserta siksanya, maka siksa yang mereka rasakan di alam kubur, bila dibanding dengan Jahannam adalah bagaikan tidur”. (Tafsir Al Qurthubi, 15/ 41-42).

2. Ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tidak ada adzab, kecuali setelah adanya hisab. Seperti QS Al Israa’: 14, Ar Ra’d : 18, Az Zumaar : 10, Al Mukmin : 17 [Masalah-masalah Khilafiyah, hlm. 199].

Jawab:
Ayat-ayat ini menunjukkan, bahwa nanti pasti ada hisab. Dan setelah hisab ada adzab neraka dan balasan surga. Ayat-ayat ini tidak membicarakan alam barzakh dan tidak menolaknya. Ayat-ayat lainlah yang menjabarkan hal tersebut. Jadi tidak ada kontradiksi dengan pertanyaan kubur dan siksa kubur.

3. Ayat 46 surat Al Mukmin dan ayat 27 surat Ibrahim, keduanya adalah surat Makkiyah. Berarti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui adanya siksa kubur sebelum hijrah. Akan tetapi dalam hadits Aisyah disebutkan, bahwasanya Nabi n tidak mengetahui siksa kubur, kecuali ketika di Madinah dan pada saat terakhir. Bahkan Nabi berkata: “Orang Yahudi berdusta. Tidak ada siksa sebelum Kiamat”. [Lihat Absahkah Berdalil Dengan Hadits Ahad Dalam Masalah Aqidah dan Siksa Kubur, hlm. 59].

Jawab:
Masalah ini telah dipecahkan oleh Ibn Katsir. Beliau berkata: “Ayat ini menunjukkan, bahwa arwah di hadapkan pada api neraka pada waktu pagi dan sore di alam barzakh. Ayat ini, sama sekali tidak menunjukkan kaitan pedihnya adzab itu dengan jasad yang ada di alam kuburnya. Karena bisa jadi, hal itu khusus bagi ruh. Adapun terjadinya hal itu pada jasad di dalam barzakh dan rasa sakit yang disebabkan olenya, maka tidak ditunjukkan kecuali oleh hadits-hadits yang diridhai berikut ini”.

Baca Juga  Hadits Ahad Memberikan Keyakinan Yang Bersifat Nazhari
Bisa saja dikatakan, bahwa ayat ini hanya menunjukkan pada adzab kubur bagi orang-orang kafir dalam barzakh. Dan tidak ada kelaziman bila orang mukmin akan mendapat adzab di kuburnya karena dosa. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Aisyah yang terdapat pada Muslim, no. 584. Juga riwayat Imam Ahmad, bahwa Nabi n menjawab: “Sesungguhnya orang Yahudi yang dikenai fitnah kubur,” lalu setelah beberapa malam barulah Rasul n bersabda: “Sesungguhnya kalian diuji di dalam kubur,” …[Tafsir Ibn Katsir, 4/ 104-105].

Imam Ibnu Hajar ikut memberikan jawaban dengan menyatakan: “Sesungguhnya dari ayat pertama (Ibrahim:27) dapat diambil secara mafhum (implisit), bahwa adzab kubur itu untuk orang yang tidak beriman. Begitu pula pada ayat yang lain (Al Mukmin:46) secara manthuq (eksplisit) menyebutkan, adzab kubur itu untuk kelompok Fir’aun, meskipun juga ditimpakan kepada golongan orang-orang kafir yang sama dengan mereka. Sedangkan yang diingkari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu terjadinya siksa kubur atas orang-orang yang bertauhid. Kemudian diberitahukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa yang demikian itu bisa terjadi pada orang yang dikehendaki oleh Allah dari mereka. Maka Beliau memastikannya dan memperingatkan daripadanya, agar ummatnya bersungguh-sungguh dalam memohon perlindungan daripadanya, (ini) sebagai pengajaran dan petunjuk bagi umatnya. Dengan demikian, hilanglah kontradiksi ini dengan pujian kepada Allah (Fat-hul Bari, 3/ 236).

Adapun ucapan Nabi dalam hadits Aisyah : “Berdusta orang Yahudi. Tidak ada siksa sebelum hari Kiamat” merupakan riwayat Imam Ahmad yang berbeda dengan redaksi hadits Aisyah lain yang terdapat pada Bukhari (1.372), Muslim (584 dan 586), dan yang ada pada Ahmad sendiri (6/139-140). Karena itu, disamping dijawab dengan metode jam’ (kompromi) seperti di atas, juga dimungkinkan disanggah dengan metode tarjih (pemilihan yang lebih kuat rajih), meskipun al jam’u lebih utama, dan memang telah mencukupi.

Referensi : https://almanhaj.or.id/2861-syubhat-pengingkaran-adzab-kubur.html

(Visited 11 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *