SABAR MENGHADAPI MUSIBAH

Cobaan Itu Pasti

Bagi orang mukmin, adanya cobaan di dunia itu adalah sebuah kepastin. Tidak ada seorangpun yang lepas dari ujian. Hanya saja bentuk ujian dan cobaan itu yang berbeda-beda. Allah berfirman yang artinya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (Qs. AL-Anbiya’ : 35).

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 155)

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS ali Imran 186)

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut 2)

Hikmah Cobaan

Cobaan adalah ujian, untuk mengukur dan mengetahui siapakah yang terbaik dalam menghadapi ujian tersebut.; siapa yang layak masuk surga dan siapa yang harus masuk neraka.Allah berfirman yang artinya:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk 2)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepada(cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al-Baqarah 214)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad[1] diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. ali Imran 142)

Kiat Menghadapi Cobaan

Cobaan wajib disikapi sebagai berikut:

  1. Sabar

Allah berfirman yang artinya: “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[2] (QS. Al-Baqarah 155-156).

Mengapa Harus Sabar?

Musibah adalah bagian dari ketentuan Allah, menerimanya adalah wajib karena ia termasuk kesempurnaan Ridha Allah sebagai Rabb. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[3] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. “(QS. al-Hadid 22-23)

Keutamaan Sabar Dalam Menghadapi Cobaan

a. Mendapat hidayah

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)

Sebagian salaf mengatakan bahwa itu adalah seseorang yng ditimpa musibah lalu mengetahui bahwa itu semua dari Allah maka dia ridha dan bersabar[4]

Dari Abû Malik al-Hârits Ibnu ‘Ashim al-Asy’ari , dia berkata: “Rasûlullâh telah bersabda:

وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ ، والْقُرْآنُ حُجَّةُ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاسِ يَغْدُوْ، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا ، أَوْ مُوْبِقُهَا».

“…sedangkan shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti[5], sabar adalah pelita, al-Qur`an adalah hujjah bagimu atau atasmu. Semua orang berangkat pagi[6]; menjual dirinya maka dia memerdekakannya atau menghancurkannya.” (HR. Muslim)

b. Mendapat derajat ihsan

“Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)

c. Pahalanya tidak terhitung

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS az-Zumar: 10)

d. Dijamin Surga

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Sesungguhnya akan kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang Tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.” (QS. Al-Ankabut: 58-59)

e. Mendapat kebaikan dan ketenangan

Dari Abû Yahya Shuaib Ibnu Sinan , dia berkata: “Rasûlullâh bersabda: “Sungguh mengherankan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur, maka ia menjadi baik baginya. Dan apabila ia ditimpa suatu madharat dia bersikap sabar, maka menjadi baik baginya.” (HR. Muslim)

f. Mendapatkan ampunan bagi dosa-dosanya

Dari Abû Sa’id dan Abû Hurairah dari Nabi , beliau bersabda: “Seorang muslim tidak ditimpa oleh oleh rasa letih[7], penyakit, gelisah, sedih, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri yang tertancap padanya melainkan Allâh menebus dengannya sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Al-Bukhârî – Muslim)

Dari Anas , dia berkata bahwasannya Rasûlullâh bersabda: “Apabila Allâh menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, Dia menyegerakan hukuman untuknya di dunia. Dan apabila Allâh menghendaki keburukan Dia menahan darinya (hukuman) karena dosanya hingga Dia menunaikannya pada hari kiamat.”

Dan Nabi bersabda:

« إِنَّ عِظَمَ الْجزاءِ مَعَ عِظَمِ الْبلاءِ ، وإِنَّ اللَّه تعالى إِذَا أَحَبَّ قَوماً ابتلاهُمْ ، فَمنْ رضِيَ فلَهُ الرضَا ، ومَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ »

“Sesungguhnya besarnya balasan (pahala) ikut pada besarnya bala (cobaan). Dan sesungguhnya Allâh Ta’ala, apabila Dia mencintai satu kaum pasti Dia menguji mereka; maka barang siapa ridha, baginya adalah ridho Allâh, dan barangsiapa murka baginya adalah murka (Allâh).” (HR. At-Tirmidzî, dia berkata: “Hadîts Hasan).[8]

Dari Abû Hurairah , dia berkata: “Rasûlullâh bersabda:

« مَا يَزَال الْبَلاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمؤمِنَةِ في نَفْسِهِ وَولَدِهِ ومَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّه تعالى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»

“Bala itu selalu ada pada orang mukmin dan mukminah dalam dirinya, anaknya dan hartanya, hingga dia bertemu dengan Allâh Ta’ala tanpa membawa dosa.” (HR. At-Tirmidzî, dia berkata: “Hadîts Hasan Shahîh)

g. Mendapatkan derajat syahid

Dari ‘Âisyah , dia bertanya kepada Rasûlullâh tentang Tha’un. Maka beliau menjawabnya bahwa: “Ia adalah sebuah azdab yang dikirim oleh Allâh kepada orang-orang yang Dia kehendaki; maka Allâh menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin, tidak ada seorang hamba yang tinggal didaerah tha’un kemudian dia tetap tinggal di negerinya dengan sabar dan mengharap pahala, serta mengetahui bahwa tidak akan ada yang menimpanya melainkan apa yang telah ditentukan oleh Allâh untuknya, kecuali baginya adalah seperti pahala orang yang syahid.” (HR. Al-Bukhârî)

h. Mendapatkan balasan yang diimpikan oleh orang-orang yang sehat

Rasulullah  bersabda:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلاَءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ

“Orang-orang yang sehat lagi selamat (dari musibah), pada hari kiamat pada saat orang-orang yang ahli musibah diberi balasannya akan berharap andai saja dulu kulit-kulit mereka dipotong-potong dengan gunting”[9] ( Hasan, hadis Jabir diriwayatkan oleh ibnu Abid Dunya, Turmudzi. Lihat Shahih al-Jami’ 5484).

2. Mengupayakan Selamat

Sabar bukan berarti berpangku tangan dan tinggal, tetapi berupaya untuk menjaga keselamatan diri seperti yang diperintahkan Allah.Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. ar-Ra’d: 11)

4. Bertaubat dan beristighfar

Setiap musibah pasti karena dosa, Allah berfirman:

“(Siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[10], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.al-Anfal: 53)

“Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.”[11] (QS. al-Anfal: 33)

5. Menyerahkan nasib kepada Allah

Dari Anas , dia berkata: “Rasûlullâh bersabda:

“Janganlah sekali-kali salah seorang kamu mengharapkan kematian karena satu musibah yang menimpanya. Jika dia harus melakukan maka ucapkanlah: “Ya Allâh hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku jika wafat itu lebih baik untukku.” (HR. Al-Bukhârî – Muslim).

(Disampaikan pada acara tabligh akbar di desa Gondang Paten, Dukun, 2 Km di bawah Babadan gunung Merapi Magelang 14 Mei 2006, 2 hari sebelum meletus)

  1. Jihad dapat berarti: 1. berperang untuk menegakkan Islam dan melindungi orang-orang Islam; 2. memerangi hawa nafsu; 3. mendermakan harta benda untuk kebaikan Islam dan umat Islam; 4. Memberantas yang batil dan menegakkan yang Hak.
  2. Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. kalimat Ini dinamakan kalimat istirjaa` (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
  3. Yang dimaksud dengan terlalu gembira: ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah.
  4. Syaikhul Islam ibnu taimiyyah, al-Ubudiyyah 54
  5. Bukti atas keimanan orang yang memberikan sedekah (dan zakat) kepada yang berhak menerimanya.
  6. Berangkat pagi-pagi sekali untuk menwujudkan kemashlahatannya, maka ada yang memerdekakan dirinya dari adzab dan ada yang menghancurkannya dengan menjauhkan diri dari hamparan ridha Allâh (dengan kata lain ada yang menjual dirinya kepada Allâh dan ada yang menjualnya kepada syetan dan hawa nafsunya
  7. Atau payah. Kandungan hadîts: Sesungguhnya penyakit-penyakit itu dan yang sejenisnya dari hal-hal yang mengganggu yang menimpa seorang mukmin menjadi penyuci dari dosa-dosa, dan seyogyanya seorang manusia itu tidak menggabungkan antara penyakit atau gangguan umpamanya dengan terlepasnya pahala.
  8. Lihat Shahîh Sunan Tirmidzî dengan ringkasan sanad 2/285 -N- 1953,1954
  9. Karena ahli musibah tidak dihisab, berbeda dengan yang lain seperti Syuhada’, orang yang ahli sedekah dan lain-lain; mereka tetap dihisab. Demikian diterangkan dalam hadis dhaif. Lihat Silsilah as-Shahihah 5/240 no 2206.
  10. Allah tidak mencabut nikmat yang Telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah
  11. di antara Mufassirin mengartikan yastagfiruuna dengan bertaubat dan ada pula yang mengartikan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang muslim yang minta ampun kepada Allah.
(Visited 33 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *