Runtuhnya idiologi Rasionalis Mu’tazilah

Para ulama telah menyebutkan perdebatan salah seorang ulama sunnah terhadap para pelopor dan penggagas ideologi “Khalqul Qur’an”; sebuah keyakinan bahwa al-Qur’an itu diciptakan[1] oleh Allah bukan diucapkan dan diwahyukan. Ulama ahlussunnah tadi betul-betul membungkan mulut penebar fitnah tersebut dengan “batu”. Kebenarannya membongkar kebatilan mereka. Dia sandarkan hujjah-hujjahnya kepada Kitab dan Sunnah Rasulullah . Itu adalah hujjah yang paling dekat sumbernya, bisa diperoleh dengan mudah dan gampang oleh siapapun. Dengarkanlah, kamu pasti terpikat oleh indahnya cara berargumentasinya serta kuatnya hujjah yang dipakainya.

Thahir ibn Khalaf berkata Tentang fitnah “Khalqul Qur`an” di masa Imâm Ahmad ibn Hanbal : Aku mendengar Muhammad ibn al-Watsiq (bergelar al-Muhtadi billah) berkata:

“Dulu, jika bapakku (Khalifah al-Watsiq Harun ibn Muhammad al-Mu’tashim Billah ibn Harun al-Rasyid, naik tahta pada tahun 227 H) hendak membunuh seseorang, kami dihadirkan di majelis tersebut. Kemudian dihadirkanlah seorang Syekh dalam keadaan terikat yang berlumuran darah karena siksaan. Kemudian berkatalah bapakku: “Ijinkanlah untuk Abu Abdillah dan sahabat-sahabatnya (maksudnya adalah Ahmad Ibnu Abi Du`ad, hakim agung yang menjadi gembong Mu’tazilah dan pelopor fitnah khalqul Qur’an)”.

Muhammad ibn al-Watsiq berkata: “Kemudian dimasukkanlah seorang Syaikh.”

Syaikh tersebut berkata : “Assalaamu’alaikum (Semoga keselamatan untukmu) wahai Amirul mukminin.”

Khalifah membalas: “Mudah-mudahan Allah tidak menyelamatkanmu.”

Syaikh berkata: “Sungguh jelek guru yang mendidikmu, wahai amirul mukmuinin. Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86) Demi Allah, anda tidak membalas penghormatan saya dengan yang serupa, dan tidak pula dengan yang lebih baik.”

Berkatalah Ibnu Abi Du`ad (guru khalifah) : “Wahai Amirul mukminin, orang laki-laki ini ahli kalam (debat, bicara).”

Khalifah menjawab: “Berbicaralah dengannya.”

Berkatalah Ibnu Abi Du`ad: “Wahai Syaikh, apa yang kamu ucapkan tentang al-Qur`an?”

Syaikh menjawab: “Engkau belum berbuat adil kepadaku, dan aku memiliki hak untuk bertanya.”

Ibnu Abi Du`ad berkata: “Bertanyalah.”

Syaikh berkata kepadanya: “Apa yang kamu ucapkan tentang al-Qur`an?”

Dia menjawab: “Makhluk.”

Syaikh bertanya lagi: “Ini sesuatu yang telah diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Khulafa ar-Rasyidin, ataukah sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka?”

Dia menjawab: “Ini adalah sesuatu yang tidak mereka ketahui.”

Syaikh menimpali: “Subhanallah! Sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Khulafa ar-Rasyidin sementara kamu mengetahuinya?!”

Muhammad ibn al-Watsiq berkata: “Maka Ibnu Abi Du`ad pun merasa malu.”

Syaikh bertanya lagi: “Apa yang kamu ucapkan tentang al-Qur`an?”

Ibnu Abi Du`ad menjawab: “Makhluk.”

Syaikh bertanya: “Ini sesuatu yang telah diketahui Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Khulafa ar-Rasyidin ataukah tidak mereka ketahui?”

Dia menjawab: “Mereka mengetahuinya.”

Syaikh bertanya lagi: “Apakah cukup bagi mereka untuk tidak membicarakannya dan tidak mengajak manusia kepadanya, ataukah tidak cukup?!”

Ibnu Abi Du’ad menjawab: “Justru cukup bagi mereka.”

Maka syaikh menjawab: “Apakah tidak cukup bagimu apa yang telah cukup bagi Rasulullah  dan para khalifahnya?!”

Maka terbungkamlah Ibnu Abi Du’ad.

Khalifah al-Watsiq yang hadir saat itu berkomentar: “Semoga Allah tidak mencukupi orang yang tidak cukup dengan apa yang telah mencukupi mereka!”

Muhammad ibn al-Watsiq berkata: “Maka berdirilah bapakku, kemudian memasuki ruang pribadi, lalu berbaring terlentang dan meletakkan salah satu kakinya di atas yang lain, seraya berkata merenung : “Ini sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Khulafa ar-Rasyidin sementara engkau mengetahuinya?! Subhanallah! Sesuatu yang diketahui Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Khulafa ar-Rasyidin dan mereka tidak mendakwahkannya kepada manusia?! “Apakah tidak cukup bagimu apa yang telah cukup bagi mereka?!”

Kemudian dia memanggil seorang pelayan, dan memerintahkannya untuk melepas ikatan Syaikh, memberinya 400 dinar, dan mengizinkannya pulang. Dan jatuhlah martabat Ibnu Abi Du`ad di matanya. Dan dia tidak memfitnah seorangpun setelah itu. Muhammad al-Muhtadi Billah, putra khalifah al-Watsiq juga bertaubat karenanya. Dia mengatakan: “Saya telah taubat dari ucapan bid’ah itu, dan saya kira bapak saya, al-Watsiq, juga taubat darinya sejak saat itu. Ibnu Qudamah dalam kitabnya at-Tawwabin menulis judul: “Taubatnya al-Watsiq Billah dan putranya al-Muhtadi Billah.”

Dengan ini berakhirlah fitnah ideologi kaum rasionalis Mu’tazilah yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu diciptakan oleh Allah bukan diucapkan dan diwahyukan.

Siapakah Syekh ahlussunnah yang diberi taufiq oleh Allah  dalam membongkar kesesatan berfikir kaum rasionalis Jahmiyyah Mu’tazilah di atas? Beliau adalah Abu Abdirrahman Abdullah ibn Muhammad ibn Ishaq al-Adzrumi, murid Imâm Waqi’, Sufyan ibnu Uyainah dan Ibnu Mahdi; guru dari Imâm Abu Daud dan Nasa’i. Kisah ini sangat masyhur, diceritakan oleh al-Khathib dalam Tarikh Baghdad, Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imâm Ahmad, adz-Dzahabî dalam Siyar a’lam an-Nubala’, al-Ajjurri dalam asy-Syari’ah, Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah, asy-Syathibi dalam al-I’thisham.

Sumber: (Kitab Mihnatul Imâm Ahmad ibn Hanbal, karya Abdul Ghani al-Maqdisi, hal. 168; Asraf ibn Abdul Maqshud dalam komentar-komentarnya atas Syarah Lum’atul I’tiqad milik Syekh Ibnu Utsaimin, 45-47) *

  1. Masuk dalam kategori ini adalah bid’ah orang-orang liberalis yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah Muntaj Tsaqafi atau produk budaya, yang dibentuk oleh Nabi dan bangsa Arab pada waktu itu dan kini tidak relevan lagi dengan alam modern, karena al-Qur’an dihasilkan oleh budaya dan budaya itu sendiri bermacam-macam dan berubah dari waktu ke waktu. Dalam masalah ini Syekh Mamduh memiliki sebuah buku yang saya terjemahkan dengan judul: Sejarah Penulisan al-Qur’an, Jawaban Kritis atas Tuduhan Orientalis dan Kaum Liberalis. Semoga segera dapat kita terbitkan dan bermanfaat.
(Visited 2 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.