RENUNGAN PENDIDIKAN DALAM SURAT MARYAM Bagian 4 (Terakhir)

Pada edisi lalu saya menyajikan bagian ketiga dari terjemahan makalah Dr. Usman Qadri Makanisi yang intinya:

1. Seorang murabbi atau guru adalah pemegang amanah.

2. Guru harus banyak memberikan pujian kepada anak didik atas kebaikannya.

3. Guru harus melakukan pendekatan tahabbub (menjalin hubungan kecintaan dan menjadikan anak didik cinta kepada ilmu dan kepada guru).

4. Guru harus mengulang-ulang pelajaran yang penting.

5. Guru dalam penyampaian dan pengajarannya harus berurutan dan runut.

6. Guru harus sabar dan santun.

7. Guru harus bersemangat untuk memberikan syafaat.

8. Guru harus menjauhi orang jahil, tidak menghadapi orang jahil dengan kejahilan.

9. Guru harus yakin bahwa Allah sudah menjamin pahala orang shalih dan tidak akan menyia-nyiakannya.

Kini kita lanjutkan dengan “Renungan Pendidikan Dalam Surat Maryam” bagian keempat yaitu terakhir. Di sini saya menerjemahkan tulisan Dr. Usman Qadri yang saya beri catatan kaki, nama surat dan nomor ayat, juga kritikan hadits dan sumbernya:

Firman Allah “al-Dzikr”, mengandung banyak makna, diantaranya:

  1. Penghormatan (tasyrif) dan Pemuliaan (takrim).

Dalam firman Allah “وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ (“Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu.” (QS. Zukhruf: 44))

Sesungguhnya nilai manusia itu meningkat berdasarkan intima`nya kepada Tuhannya, usahanya membuat-Nya ridha, pengamalan terhadap perintah-perintah-Nya dan berhentinya dari larangan-Nya.

Dalam firman Allah “صۚ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ (“Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan.” (QS. Shad: 1)

Barangsiapa hidup dalam naungannya maka naiklah kedudukannya, dan barang siapa tidak mau maka ia rendah dan hina.

بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ

“Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (QS. Shad: 2)

Al-Izzah di sini artinya sombong dan menentang. Ini dijelaskan oleh firman-Nya “وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ. (Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa.” (QS. al-Baqarah: 206)) Syiqaq adalah khilaf dan inkar.

Kita kembali kepada al-Dzikr dalam bagian keempat dari renungan kita dalam firman Allah “وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ. (“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al-Kitab (Al-Quran) ini.” (QS. Maryam: 51).

Dengan apakah Nabi yang mulia ini digelari? Kalau kita kembali ke surat yang sama di awal al-Dzikr niscaya kita melihat bahwa setiap nabi disebut dengan sifat khusus.

Zakariya diberi sifat seperti Nabi Kita Muhammad -Shalallahu alaiahi wa salam- yaitu ubudiyyah: ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا. “(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria.” (QS. Maryam: 2)

Isa -Alaihissalam- diberi sifat khusus: قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ (“Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah.” (QS. Maryam: 30))

Ibrahim dan Idris -Alaihissalam- diberi sifat shiddiqiyyah “وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (Maryam: 41), “وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا, (Maryam: 56).

 

Musa -Alaihissalam- diberi sifat khusus “dekat dan diajak bicara”, “وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا (Maryam: 52).

Ismail -Alaihissalam-diberi sifat “benar janjinya dan ridha”, “إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ، وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا. (Maryam: 54, 55)

Daud -Alaihissalam- diberi sifat “kuat dan banyak taubat”, “وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ. (Shad: 17)

Sebagaimana diulang-ulang penyebutan para Nabi bahwa mereka adalah “Akhyar” (pilihan), dan terkadang “al-dzikr al hasan” (penyebutan yang baik), terkadang dengan “sabar”. Semua ini adalah takrim (pemuliaan) dan penghormatan (tasyrif) bagi mereka dan ajakan untuk meneladani mereka. Mereka semua adalah panutan, hati mereka selalu berhubungan dengan Tuhan, hidup mereka selalu berada dalam ridha-Nya, “إِذا تُتْلى عَلَيْهِمْ آياتُ الرَّحْمنِ خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيًّا (Maryam: 58).

Allah swt memuliakan mereka, dan mereka bersyukur kepada-Nya dengan sujud mereka yang mengakui karunia-Nya dan anugerah-Nya kepada mereka.

  1. Targhib dan tarhib

Memotivasi dan menakuti (memberi peringatan) adalah satu model pendidikan yang sangat besar pengaruhnya, sebab dalam setiap insan ada benih kebaikan. Jika ia memperhatikannya dengan perhatian dan perawatan maka benih itu akan tumbuh dan berkembang, sehingga pemiliknya memperoleh keamanan, kenyamanan dan kebahagiaan.

Dalam diri manusia juga ada benih keburukan, jika tidak diperhatikan dan tidak dikendallikan maka ia akan mendesak benih kebaikan dan mendorong menghimpitnya. Jika benih itu ditopang oleh potensi-potensi buruk dalam diri manusia maka benih itu akan mengeras dan menguat, dan tampaklah bahaya atas pemiliknya dan orang-orang sekitarnya, sehingga terjadilah kekacauan dan merajalela di masyarakat.

Di antara tabiatnya juga ia akan terjatuh dalam kesalahan, ketergelinciran, dan keteledoran sebab Allah menciptakan manusia dengan tabiat “tergesa-gesa” dan “lemah” melakukan dosa dan maksiat. Oleh karena itu surga disiapkan untuk orang yang bertaubat dan kembali kepada Tuhannya. Sedangkan neraka untuk orang yang menentang dan menjauhi jalan petunjuk.

Kita melihat al-Qur`an yang agung ini menggunakan metode targhib dan tarhib sesuai dengan kadar yang dapat meluruskan prilaku manusia agar tetap berjalan dalam ridha Allah.

Biasanya, di dalam al-Qur`an itu tidak ada ayat targhib melainkan diikuti oleh ayat tarhib, juga tidak ada ayat tarhib melaikan diiringi oleh ayat targhib. Jagi keduanya saling berkaitan dan berkelindan. Hikmahnya adalah, pertama: ingat pahala dan dosa sehingga manusia semangat meraih pahala dan menghindari dosa. Kedua: barangsiapa yang tidak bisa dipengaruhi oleh targhib maka ia akan dipengaruhi oleh tarhib.

Contoh dua metode ini di dalam surat yang mulia ini adalah firman Allah:فَخَلَفَ

مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا, (Maryam: 59).

Dia memulai dengan tarhib dengan menyebut sebabnya: “menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat”. Kemudian hasilnya “maka mereka kelak akan tersesat”. Dipaparkanlah ancaman terlebih dahulu yang mengejutkan pendengar dan bergoncang hati karenanya, dan bergetar jiwanya. Maka ia takut dengan bergeser condong kepada pahala yang datang setelah pengecualian dalam ayat 59-64 Surat Maryam, yang melapangkan jiwa dan menenangkan saraf-saraf setelah goncangan yang mengerikan tersebut. Maka barangsiapa bertaubat, beriman, dan beramal shalih pasti akan mendapatkan haknya secara penuh dan masuk surga yang sudah dijanjikan kepadanya oleh Allah dalam kehidupan dunia. Di dalam surga ini ada ketenangan, kedaiman, rizki yang melimpah, dan kemakmuran yang tanpa henti. Akan didapatkan oleh hamba yang bertakwa dan shalih. Semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai orang yang stakwa dan shalih.

  1. Hujjah manthiqiyyah (argument yang logis)

Orang kafir mengingkari hari kebangkitan setelah kematian, “وَيَقُولُ الْإِنْسَانُ أَإِذَا مَا مِتُّ لَسَوْفَ أُخْرَجُ حَيًّا. (Maryam: 66)

Ini adalah pertanyan penginkaran, si penanya tidak membutuhkan jawaban karena keyakinannya bahwa tidak ada kebangkitan setelah kematian. Maka datanglah tantangan logika yang dipatahkan dengan hujjah yang nyata dan logika yang terang benderang: Allah menciptakanmu dari tanpa sesuatu apa pun, maka apakah mungkin Dia tidak mampu mengembalikanmu dari sesuatu?!! Jika Allah telah menciptakan kita dari ketiadaan, dan kita bukan apa-apa, apakah masuk akal jika Allah tidak mampu mengembalikan kita kepada kehidupan dari sesuatu yang ada? Tentu, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan ucapannya: “Jadilah! Maka jadilah.”

Tantangan itu disukai oleh orang yang mungkir, maka Allah membungkamnya dan menghentikannya pada batasnya, mematahkan kesombongannya dan melucuti dari kekuatan palsunya, atau menelanjanginya dari apa yang dia klaim, serta menampakkan kelemahannya dan mengembalikannya kepada ukurannya yang asli.

Kemudian marilah bersama saya melihat kepada ucapan orang kafir yang jahil yang tidak memiliki kuasa apa-apa tetapi mengklaim bahwa dirinya akan diberi banyak keturunan, anak laki-laki, dan harta sesukanya. Seolah ia punya kuasa untuk itu, sehingga ia bicara seenaknya: “أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا. (Maryam: 77).

Di sini Allah Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa serta Maha mengatur mempertanyakan: “أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا (Maryam: 78)

Apakah dia tahu ilmu ghaib sehingga tahu, ataukah dia memiliki janji di sisi Allah yang Maha Rahman?! Maka bagaimana mungkin orang yang tidak tahu mengklaim tahu dan yang tidak mampu mengklaim mampu?

Ini sungguh hujjah yang mematikan, mengajari kita bahwa manusia itu harus berhenti pada ukurannya dan batasannya.

 

  1. Tahwil (menakutkan, mengerikan)

Tahwil adalah metode pendidikan yang menakutkan, menggoncang jiwa, membakar urat, mematahkan taring lawan, menanamkan ketakutan di dalam dirinya, sehingga ia menyerah, merasa kecil dan hina, remuk hatinya dan pasrah. Ini adalah metode jika seseorang mampu menggunakannya seperti al-Qur`an menggunakannya maka ia pasti memenangkan pertarungan. Seperti firman Allah:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)”

Dan mereka berkata, “Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak.”

Sungguh, kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu). Karena mereka menganggap Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Pengasih mempunyai anak. (QS. Maryam: 88-92).

Allah adalah Esa, satu, tunggal, sempurna, tanpa istri, tanpa sekutu, dan tanpa anak.

Kerapkali masuk ke dalam metode tahwil ini apa yang kita terangkan pada poin lima berikut.

  1. Al-Tashwir al-Hissi al-Mutasalsal (Visualisasi yang berurutan)

فَوَرَبِّكَ لَنَحْشُرَنَّهُمْ وَالشَّيَاطِينَ

ثُمَّ لَنُحْضِرَنَّهُمْ حَوْلَ جَهَنَّمَ جِثِيًّا (68)

ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ عَلَى الرَّحْمَنِ عِتِيًّا (69)

ثُمَّ لَنَحْنُ أَعْلَمُ بِالَّذِينَ هُمْ أَوْلَى بِهَا صِلِيًّا (70)

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (71)

ثمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا (72)

Demi Rabbmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut. Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Yang Mahapemurah.

Dan kemudian Kami sungguh lebih mengetahui orang-orang yang seharusnya dimasukkan ke dalam neraka.

Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan.

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut. (Maryam: 68-72)

Mari mempersepsikan bersama saya. Bagaimana dikumpulkan para pembangkang dan penjahat besar itu bersama setan dalam keadaan hina, kecil, terbelenggu, dan diseret oleh Zabaniyyah ke Jahannam, kemudian mereka mencari kelompoknya, mereka tidak memiliki apa-apa, dan tidak mengharapkan bantuan dari siapapun. Mereka yakin betul akan kebinasaan mereka, akhirnya mereka tertunduk karena takut dan gemetar. Kemudian engkau lihat para pembangkang yang sombong itu diseret dari tengah mereka lalu dilemparkan ke neraka Jahannam tanpa hisab. Mereka tidak punya nilai sama sekali di sisi Allah, ternyata pembangkangan mereka di dunia menjadi petaka di akhirat. Maka merekalah ahli neraka yang kekal di dalamnya selamanya.

Kemudian ada satu fakta, bahwa semua orang baik yang shalih maupun yang sesat pasti akan mendatangi neraka Jahannam, “وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا. Para ahli bahasa Arab mengatakan bahwa bukan termasuk syarat mendatangi itu masuk di dalamnya. Sesungguhnya ahli surga akan lewat di atas jembatan tanpa merasakannya dengan izin dan karunia Allah. Ya Allah, jadikan kami termasuk dari mereka. Aamiin. Adapun penghuni neraka maka mereka jatuh di dalamnya- na’udzu billah minha-. Karena firman Allah “ثمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا.

Jadi Surat ini penuh dengan gambar yang berjalan yang mampu mencopot jantung dan meruntuhkan hati.

  1. Kalimat-kalimat berirama musik

Pemisah ayat-ayat al-Qur`an di dalam surat ini terbagi menjadi dua bagian:

Dari awal surat hingga ayat 74 adalah huruf ya’ bertasydid, setelahnya ada alif mamdudah. Sajak ini menjadikan nafas nyaman, memberi kelonggaran di dada dan ketenangan dalam jiwa.

Dalam pembicaraan tentang para Nabi -Alaihimassalam-, ada munajat, doa dan rahmat:

خَفِيّاً، وَلِيّاً، رَضِيّاً، سَمِيّاً، سَوِيّاً، عَشِيّاً، نَبِيّاً، عَلِيّاً.

Ini seperti musik yang membuka hati, menggerakkan urat syaraf, menyebar kemesraan dan aroma peristirahatan.

Kemudian, ia juga berubah menjadi musik kematian, pemaksaan, kekuatan tekad, dan ancaman ketika berbicara tentang nasib akhir para penjahat di neraka Jahannam:

جِثِيّاً، عِتِيّاً، صِلِيّاً، مَقْضِيّاً.

Di sini engkau merasakan adanya ancaman yang kuat sekali.

Dari ayat 75 sampai akhir surat kita mendapati kebanyakan akhir ayat adalah huruf dal yang bertasydid, yang cocok untuk ancaman dan hukuman, atau sukun sebelum huruf dal:

مَدّاً، مَرَدّاً، إِدّاً، هَدّاً، وُدّاً، لُدّاً، ضِدّاً،.. عَهْداً، عَبْداً، فَرْداً.

Dan kita mendapatkan huruf zay` yang bertasydid yang menunjukkan murka besar:

أَزّاً، عَزًّا.

Pemisah-pemisah ayat ini adalah satu metode pendidikan karena mengandung banyak inspirasi yang satu waktu mengungkapkan perasaan tenang, dan di waktu yang lain perasaan yang bergejolak, terkadang bagaikan angin semilir terkadang bagaikan angin badai. Hal ini memberikan pengaruh kepada pembaca dan pendengar dalam batasan yang sama. Kamu lihat sangat lembut dalam pembicaraan bersama para Nabi, semangat untuk menceritakan surga, dan bergetar ketika menyebut neraka dan penghuninya, ia bersungguh-sungguh dan rindu agar ia dikumpulkan di mahsyar bersama tamu-tamu Allah, dan takut digiring bersama para ahli maksiat yang sombong, sehingga menjauh dari mereka dan ridha karena ridha Allah, serta marah karena marah Allah.

  1. Berbicara kepada manusia sesuai dengan bahasa mereka

Seandainya engkau dipanggil oleh seseorang dengan bahasa yang bagus dan suara yang indah, akan tetapi engkau tidak mengetahui bahasa itu, apakah engkau akan menjawabnya (meresponnya)? Tentu tidak akan ada respon, karena engkau tidak memahami apa yang ia katakana, dan engkau tidak akan berinteraksi dengannya.

وَلَوْ نَزَّلْناهُ عَلى بَعْضِ الْأَعْجَمِينَ (198) فَقَرَأَهُ عَلَيْهِمْ مَا كانُوا بِهِ مُؤْمِنِينَ (199 (

Dan kalau Al-Qur’an itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir), niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya.” (QS. al-Syu’ara`: 198-199)

Adapun jika ia mengajakmu bicara dengan bahasamu bahkan dengan dialek yang biasa engkau gunakan, bahkan dengan detil-detilnya dialek ini dan kosa katanya, maka ia akan menarikmu dengan kuat kepada apa yang dia katakan.

Begitulah al-Qur`an ini turun:

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا (97)

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.” (QS. Maryam: 97)

Maka al-Qur`an ini memahamkan mereka dan menegakkan hujjah atas mereka.

Atas dasar ini Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- memerintahkan seorang sahabat muda Zaid ibn Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi1, dan beliau bersabda2:

من تعلم لغة قوم أمن مكرهم

Maka tidaklah seseorang bisa memasuki hati orang lain jika tidak memiliki kunci-kunci bahasa yang bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya. [*]

1 “Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- memerintah Zaid ibn Tsabit untuk mempelajari Bahasa Siryani.” (HR. Ahmad) Zaid berkata: “Setelah saya mempelajarinya maka ketika Nabi saw menulis kepada orang Yahudi, saya yang menulis kepada mereka. Ketika mereka mengirim surat kepada beliau saya yang membacakannya kepada beliau.” (HR. Ahmad, Abu daud, Hakim, dan Turmudzi)

2 Syaikh Abdul Aziz Bin Baz menjelaskan bahwa ini bukan hadits Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, tetapi hanya ucapan sebagian ulama. Beliau berkata:

ليس له أصل، هذا من كلام بعض الناس ما هو من كلام النبي ﷺ من كلام بعض العلماء.

https://binbaz.org.sa/fatwas/17380/ الحكمعلىحديثمنتعلملغةقومامنمكرهم

(Visited 7 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.