RENUNGAN PENDIDIKAN DALAM SURAT MARYAM Bagian 2

Pada edisi yang lalu telah kami sajikan bagian pertama dari terjemahan makalah Dr. Usman Qadri Makanisi yang dipublikasikan di website saaid.net.[1] tentang “Renungan Pendidikan Dalam Surat Maryam” yang berisi 12 poin penting terkait pendidikan Islam. Kini kita lanjutkan dengan “Renungan Pendidikan Dalam Surat Maryam” bagian kedua. Berikut ini adalah terjemahan saya terhadap lanjutan tulisan Dr. Usman Qadri yang saya beri catatan kaki, nama surat dan nomor ayat serta kesimpulan akhir:

Orang yang melihat Surat Maryam dengan seksama, dia akan mendapatkan bahwa surat ini berbicara tentang pendidikan keluarga, dan hubungan antara sesama anggota keluarga.

Bagian pertama berbicara tentang Sayyidina Zakariya dan putranya Yahya alaihimassalam, beban dakwah, memikul amanah, dan birrul walidain.

Bagian kedua berbicara tentang hubungan erat antara ibu dan anaknya, ibu yang perawan dan suci, Maryam, yang telah menghibahkan dirinya untuk agama Allah dan dakwah-Nya, anak shalih Isa u yang membela kesucian dan kemuliaan ibunya, memikul beban dakwah kepada Allah.

Bagian ketiga berbicara tentang Nabi Ibrahim u yang mendapat hidayah Ilahi, hubungannya dengan ayahnya ketika sang anak mengajak sang ayah dengan penuh sopan santun untuk menyembah Allah yang Maha esa, kemudian dia menyendiri menjauhi kaumnya ketika mereka bersikukuh membela kekufuran, maka Allah memuliakannya dengan keturunan yang shalih, hingga menjadi panutan bagi alam semesta.

Bagian keempat berbicara tentang Nabi agung, Nabi Musa, yang bertekad kuat dalam berdakwah, dimuliakan oleh Allah menjadi Nabi yang mulia dan ikhlas. Juga diberi karunia berupa saudaranya, Harun, diberi derajat kemanusian yang tinggi hingga diberi nubuwwah, sehingga Musa bagi Harun adalah sebaik-baik anugerah bagi saudara atas saudaranya sepanjang masa.

Bagian kelima berbicara tentang peran kepala keluarga dalam mendidik anggota keluarganya; apakah istri, anak, ataupun budak-budak yang mengikutinya. Ini adalah Islamil memerintahkan istrinya untuk shalat dan zakat. Dia di sisi Tuhannya diridhai karena pendidikannya kepada keluarganya. Maka dia menjadi teladan dalam memperhatikan keluarga dan menghubungkannya dengan Allah . Barangsiapa sambung kepada Allah maka dia bahagia, mulia, dan diterima.

Sepekan yang lalu kami merenung tentang taman pertama, dalam pelataran dua Nabi yang mulia, sang ayah, yang bernama Zakariya dan sang anak bernama Yahya. Hingga kami sampai pada taman yang kaya di pelataran sang perawan suci Maryam dan putranya yang mulia Isa u.

  1. Pengikat ilmu

Ilmu itu ada di dada, dan diikat di kertas. Kalimat “اذكر في الكتاب” (Sebutlah/ingatlah dalam al-Kitab) berulang 5 kali di dalam surat yang mulia ini, yaitu:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ مَرْيَمَ
وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِبْراهِيمَ
وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ مُوسى
وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِسْماعِيلَ
وَاذْكُرْ فِي الْكِتابِ إِدْرِيسَ

Pelajaran pertama dari kata “اذكر” adalah ilmu: Ilmu tentang sesuatu atau pengetahuan tentangnya adalah sesuatu yang harus atau pasti bagi ahli dakwah, sebab kalau tidak mengetahui tidak bisa mendakwahkannya, pepetah Arab mengatakan: “فاقد الشيء لا يعطيه”.(orang yang kehilangan sesuatu tidak dapat memberikannya).

Pelajaran kedua adalah tulisan: sesungguhnya menulis dan mencatat ilmu dalam sebuah kitab itu memeliharanya dari kehilangan, dan menetapkannya dalam ingatan dari waktu ke waktu.

Pelajaran ketiga adalah ta’lim: ini adalah misi para Nabi dan da’i serta guru, yang wajib diperhatikan, “Barang siapa menyembunyikan ilmu maka Allah memberinya tali kekang dari api neraka.”

2. Transparansi tabattul kepada Allah

Barangsiapa bersama Allah maka Allahu selalu bersamanya. Barangsiapa ikhlas dalam menyembah-Nya maka Allah memilihnya dan mendekatkannya. Maryam telah terputus dari manusia yang paling dekat kepadanya dan dari dunia. Dia fokus menghadap kepada Tuhannya. Dia menyendiri dari mereka dengan penuh adab, tanpa menyakiti mereka. Allah berfirman “انْتَبَذَتْ” (Maka dia menjauh), Allah tidak mengatakan “نَبَذَتْهُمْ “ (Maka dia mencampakkan mereka). Ungkapan pertama mengandung makna menjauh dan memutuskan hubungan dengan penghormatan dan pemuliaan. Sedangkan ungkapan kedua mengandung makna merendahkan dan sombong. Intibadz itu membawa dirinya menjauh dari mereka, sedangkan nabdz itu mencampakkan orang lain. Apakah anda perhatian dengan keindahan ungkapan ini? Kemanakah Maryam mengasingkan diri? “مكاناً شرقياً”, Ketempat sebelah timur, ke sumber cahaya, tempat bersinarnya mentari. Barang siapa tujuannya adalah pencipta cahaya dan sinar maka dia terhijab dari manusia “فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجاباً”.

3. Balasan itu setimpal dengan perbuatan

Ketika Maryam terpusat kepada Allah dan menginginkan apa yang ada di sisi-Nya dan mengharapkan-Nya maka Dia tidak menyia-nyiakannya. Dia menyambungnya saat dia menyambung-Nya. Dia menerimanya saat dia mendekat kepada-Nya.

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Tidak henti-hentinya hambaku mendekatkan diri kepadaku dengan amal-amalan sunnah hingga aku mencintainya, apabila aku mencintainya maka aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, dan pandangannya yang dengannya dia melihat, dan tangannya yang dengannya dia memukul, dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Apabila dia meminta-Ku maka Aku pasti memberinya dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti Aku melindunginya.” (HR. Bukhari)

Dia mengirim kepadanya Malaikat yang paling agung yaitu Jibril u untuk memuliakannya dengan kabar gembira berupa putra yang menjadi sayyid dari sayyidnya manusia.

4. Rasionalitas dalam interaksi

Jibril u memiliki 600 sayap sebagaimana dikabarkan oleh Nabi i. Sayapnya memenuhi langit ketika dilihat oleh Nabi i dua kali dalam bentuk aslinya. Seandainya dia menemui Maryam dalam bentuknya sepeti ini niscaya ia akan tersungkur wafat atau pingsan, tidak akan ada percakapan, dan tidak akan faham mengapa ia menemuianya dan siapa dia. Jadi dia mesti menemui Maryam dalam bentuk manusia sempurna, “فتمثل لها بشراً سويّاً” agar ia faham darinya, dia berbicara kepada Maryam dan Maryampun berbicara kepadanya.

Allah  telah mengingatkan dengan kesetaraan ini untuk membantah orang-orang yang menginginkan agar rasul itu satu sosok malaikat, dan bukan manusia agar mereka beriman dengannya:

وَما مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جاءَهُمُ الْهُدى إِلاَّ أَنْ قالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَراً رَسُولاً (94)

قُلْ لَوْ كانَ فِي الْأَرْضِ مَلائِكَةٌ يَمْشُونَ مُطْمَئِنِّينَ لَنَزَّلْنا عَلَيْهِمْ مِنَ السَّماءِ مَلَكاً رَسُولاً

“Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang hidayah kepada mereka kecuali perkataan mereka, apakah Allah mengirim manusia sebagai utusan? Katakanlah seandainya di bumi ada para malaikat yang berjalan-jalan dengan tenang, niscaya kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit untuk menjadi rasul.” (QS. Al-Isra`: 94-95)

5. Dialog

Dialog adalah metode yang maju dalam pendidikan. Dialog memiliki banyak manfaat, diantaranya:

  1. Anda bisa mendengar macam-macam pendapat dan dalil yang dikemukakan oleh peserta dialog, yang masing-masing ingin membuktikan kebenaran dari apa yang dilihatnya.
  2. Dialog memperkaya pendengar dan pembaca serta saksi mata dengan berbagai pemikiran yang dilontarkan di hadapan mereka, dengan hujjah dan bukti, sehingga mereka terbiasa dengan berfikir yang sehat dan cara yang lurus.
  3. Dialog menetapkan dalam jiwa bahwa pendengaran lebih banyak dipakai dalam rangka memahami dimensi-dimensi dialog dan maksud-maksudnya. Atas dasar ini mari ikutilah bersama saya dialog antara Malaikat dengan Maryam:

Maryam berkata:

إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمنِ مِنْكَ إِنْ كُنْتَ تَقِيًّا

“Aku berlindung kepada Allah yang Maha Pengasih darimu, jika kamu orang yang bertakwa.”

Malaikat berkata:

إِنَّما أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلاماً زَكِيًّا

“Sesungguhnya aku adalah utusan tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah bagimu seorang bocah yang suci.”

Maryam berkata:

أَنَّى يَكُونُ لِي غُلامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

“Bagaimana mungkin aku punya anak, sementara kau tidak pernah disentuh laki-laki dan aku bukan wanita yang melacur.”

Malaikat berkata:

قالَ كَذلِكِ قالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِنَّا وَكانَ أَمْراً مَقْضِيًّا

“Begitulah Tuhanmu berkata: itu mudah bagi-Ku, dan Kami akan menjadikannya sebagai tanda (kekuasaan Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami.” (QS. Maryam: 18-21)

Dalam dialog ini ada banyak pelajaran, diantaranya:

  1. Lari kepada Allah dalam kondisi sulit, sebab Allah adalah benteng yang kokoh dan tempat berlindung yang ampuh.
  2. Orang yang bertakwa tidak mendatangi tempat tinggal kaum wanita, dan harus menjauhi syubhat-syubhat.
  3. Harus memberikan argumentasi untuk menjauhkan dari syubhat-syubhat ini. Seandainya orang yang dicurigai itu bertakwa maka Nabi i telah bersabda kepada dua orang yang melihat beliau berduaan dengan Shafiyyah di suatu malam: “Ini adalah Shafiyyah ibu kalian.” Agar mereka berdua tidak menjadi kafir ketika bersuuzhan kepada Nabi mereka. Maka Malaikat berkata:

لأهب لك غلاماً زكيّاً

“Aku ingin menyampaikan anugerah bagimu satu anak laki-laki yang suci.”

4. Wanita muslimah yang mulia tidak akan berzina, dan kehamilan itu karena pernikahan dan perzinaan.

5. Apabila Allah menghendaki sesuatu, Ia tinggal mengatakan “Jadilah” maka jadilah ia. Maryam mengetahui bahwa Allah mampu atas segala sesuatu akan tetapi dia menampakkan keheranannya yang memilih dirinya untuk kemuliaan yang agung ini.

6. Hati-hati dan merahasiakan. Rasul i mengajarkan kepada kita sikap merasiakan sesuatu. Dia bersabda:

إذا ابتليتم بالمعاصي فاستتروا

“Apabila kalian diuji dengan maksiat-maksiat maka rahasiakanlah.”[2] Al-Qur`an membongkar aib Yahudi yang mendiamkan kemungkaran:

كانُوا لا يَتَناهَوْنَ عَنْ مُنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كانُوا يَفْعَلُونَ

“Mereka tidak saling mencegah dari kemungkaran yang mereka lakukan, sungguh itu seburuk-buruk yang mereka lakukan.” (QS. Al-Maidah: 79)

Nabi Luth u menyalah-nyalahkan kaumnya yang menghalalkan homoseksual dan melakukannya terang-terangan:

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِها مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعالَمِينَ (28) أَإِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نادِيكُمُ الْمُنْكَرَ

“Kamu benar melakukan perbuatan yang sangat keji yang belum pernah dilakukan seorangpun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah pantas kamu mendatangi laki-laki, menyamun, dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” (Qs. Al-Ankabut: 28-29)

Adapun wanita suci yang menjaga diri, yaitu Maryam, maka mengasingkan diri di tempat yang jauh, padahal dia tidak melakukan kemungkaran. Maka ia menjadi teladan dalam kemuliaan, kesucian, dan ketakwaan bagi gadis muslimah. Sampai dia merasa sakit/perih yang sangat dan berangan-angan andai saja tidak diciptakan dan tidak dikenal oleh siapapun. Bahkan andai saja dirinya bukan sesuatu yang berharga.

7. Dukungan dan pertolongan: jika engkau memerintahkan seseorang suatu tugas maka hendaklah sesuai dengan kemampuannya. “Allah tidak membebani satu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya.” Apabila dia tidak mampu mengerjakannya karena di atas kemampuannya atau sangat berat baginya maka bantulah dia, mudahkan urusannya. Ini yang kita dapatkan dalam kisah Maryam.

– Maryam mendengar orang yang mengajaknya bicara dalam kesendiriannya, dia menguatkan jiwanya

– Ada air bersih dan segar mengalir ke arah Maryam sehingga dia meminum dari padanya

Dia menggoyang pohon kurma lalu berjatuhan atasnya kurma yang masak pohon yang sangat lezat melancarkann persalinannya.

  • Menahan diri tidak mau menjawab orang yang iseng. Dia tetap membisu, tidak mau berbicara. Lalu siapa yang akan menjawabnya? Ia adalah bayinya yang membela ibunya dengan izin Allah. Allah yang membuatnya bicara dengan ucapan yang membebaskan ibunya dari tuduhan dan meninggikan derajatnya.

Atas dasar ini Maryam mengambil kekuatan dan keberaniannya, dan kembali kepada kaumnya dengan menggendong putranya. Maka orang-orang ramai membicarakannya, dan mereka pantas untuk menanyainya, sebab ia adalah putri pimpinan mereka yang terkenal agama dan akhlaknya. Ibunya adalah teladan dalam kehormatan dan kesucian, sebagaimana mereka juga mengenal Maryam sebagai wanita shalihah yang taat beragama dan menjaga kehormatannya.

8. Bantahan yang membungkam: terkadang manusia itu di pihak yang benar tetapi tidak pandai berbicara atau bodoh, lugu, tidak mengatahui bagaimana ia merebut haknya, atau menjaga haknya atau membela haknya, sehingga haknya hilang keseluruhan atau sebagian. Terkadang salah seorang mereka di pihak yang salah, namun pandai bicara atau berargumentasi dan cara-caranya sangat cerdik hingga mengambil hak orang lain dan mengakali orang-orang lemah dan merampas hak mereka.

Dalam kasus kita ini Allah menuntun sang bayi untuk mengatakan hujjahnya sehingga ucapannya menjadi kata pemutus perkara.

Pertama: dia mengenalkan dirinya, yaitu hamba Allah. Barangsiapa mengumandangkan penghambaannya kepada Allah maka dia telah mengenal Tuhannya. Ini adalah derajat tertinggi.

Kedua: barangsiapa menjadi hamba Allah, maka akan dibukakan baginya perbendaharaan ilmu dan ma’rifat serta cakrawala hikmah.

Ketiga: kemudian Allah mengistimewakannya dengan nubuwwah, maka ini adalah puncak nikmat dan karunia.

Keempat: Allah melimpahkan kepadanya kebaikan dan keberkahan, maka dia selalu bersama Allah, lahir dan batinnya, di rumah dan di perjalannya, tidur dan jaganya.

Kelima: Allah mewajibkannya untuk tidak putus dari dzikir kepadanya, dan harus memperbanyak shalat –hubungan dengan Allah-, zakat –berbuat baik kepada hama-Nya- seolah Allah berfirman: “Hamba-Ku, Aku berbuat baik kepadamu maka berbuat baiklah kepada para hamba-Ku.” Hama Allah yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya.

Keenam: orang-orang yang dekat adalah paling berhak mendapatkan kebaikan, dan kedekatan ibu tidak tersaingi. Allah  telah menggandengkan antara ibadah kepada-Nya dengan berbakti kepada kedua orang tua, kemudian perbuatan baik itu menjadi sempurna dengan meratakan kebaikan itu untuk seluruh manusia.

Ketujuh: mahkota semua itu adalah keselamatan yang diberikan oleh Allah kepadanya saat dia hidup, saat dia mati, dan saat dibangkitkan oleh Allah di hari kiamat.

Di antara yang unik disebutkan bahwa para mufassir menghadirkan dialog antara dua putra, dua dari kedua bibi itu, yaitu Isa dan Yahya.

Isa: Engkau lebih baik dariku wahai Yahya

Yahya: justru kamu yang lebih baik dariku. Engkau termasuk Rasul ulul azmi yang lima.

Isa: bahkan engkau lebih baik dariku, aku berucap salam kepada diriku maka aku katakan:

والسلام عليّ وأنت سلم الله عليك

“Semoga keselamatan atas diriku, kamu juga semoga keselamatan atasmu.”

Yahya: Semoga salam Allah kepadanya.

Semoga Allah memberi keselamatan kepada semua para Nabi dan Rasul, khususnya kepada sayyidina Muhammad i.[3]

Kesimpulan:

Setelah mengikuti renungan Dr. Usman Qadri di atas maka yang menarik untuk diambil pelajaran dan diaplikasikan adalah:

  1. Pengikat ilmu yaitu hafalan dan tulisan.
  2. Rasionalitas dalam interaksi.
  3. Dialog adalah cara yang maju dalam mengembangkan ilmu dan mengatasi masalah.
  4. Di antara keberhasilan pendidikan adalah: a) Mampu menjalani hidup dengan baik dan melewati segala cobaan dan tantangan dengan baik. B) berbakti kepada kedua orang tua.

Pendidikan harus mampu membentuk anak shalih. Ukurannya, berbakti kepada orang tua sedini mungkin, khususnya membela kehormatan orang tua dengan hujjah. [*]

Nantikan renungan pendidikan dalam surat Maryam bagian 3!

  1. https://saaid.net/aldawah/240.htm
  2. Yang ada di dalam riwayat Muwaththa` Imam Malik:

    مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا، فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

  3. https://saaid.net/aldawah/240.htm

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *