RENUNGAN PENDIDIKAN DALAM AYAT KURSI DAN TAFSIRNYA

Siapa yang tidak kenal ayat kursi di dalam al-Qur`an? Siapa yang tidak hafal? Dan siapa yang tidak percaya tentang keagungannya? Hampir tidak ada. Namun adakah orang yang mengaitkan ayat yang agung ini dengan pendidikan? Sepertinya masih sedikit orang yang melakukan itu, padahal al-Qur`an adalah sumber segala ilmu termasuk ilmu pendidikan, khususnya di zaman sekarang, zaman orang menelaah, meneliti, membuat konsep dan teori tentang pendidikan.

Kita perlu melakukan dan mengembangkan renungan pendidikan dalam al-Qur`an, sebab al-Qur`an adalah sumber hidayah, jalan keselamatan di dunia dan di akhirat bagi orang yang mengimaninya dan merenungkannya. Allah sudah memberikan jaminan dalam surat al-Isra` ayat 9 bahwa umat al-Qur`an tidak akan salah jalan atau tersesat jalan, sebab al-Qur`an datang dengan uslub yang mapan dalam memberikan petunjuk, tidak ada penghalang antara al-Qur`an dan penelaahnya, tidak ada cara menuju akhlak dan adab ataupun karakter melainkan ia sudah menitinya, apakah memotivasi ataukah memperingatkan, sehingga orang yang merenungkan makna-maknanya pasti memetik buah manfaat ilmu-ilmunya.

Allah berfirman:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَ‍ُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa´at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255)

Keutamaan Ayat Kursi

Ayat ini memiliki banyak pelajaran sampai-sampai Syaikh Muhammad ibn Sholih al-Utsaimin merincinya ke dalam 40 poin,[1] dan Syaikh Prof Abdurrozzaq al-Badr merincinya lebih dari 140 poin.[2]

Adapun di antara keutamaannya maka bisa kami sampaikan sebagai berikut:

A. Ayat tauhid; ayat yang mengesakan Allah dalam ketiga dimensinya:

  • Tauhid rububiyyah: disebutkan dalam ayat ini bahwa Allah adalah pemilik langit dan bumi beserta isinya, pengatur dan penegak langit dan bumi, pemilik keagungan, kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi, Dia pemilik syafaat, dan pemilik kehendak yang mutlak.
  • Tauhid asma’ dan sifat: tentang nama Asmaul Husna di dalam ayat ini disebutkan 5: Allah, al-Hayyu, al-Qayyum, al-‘Aliy , al-‘Azhim.

Tentang Sifat Allah disebutkan bahwa Allah tidak tidur dan tidak mengantuk karena kesempurnaan-Nya, dan Allah mengetahui segala sesuatu.

  • Tauhid uluhiyyah, dinyatakan bahwa Allah: tidak ada yang berhak disembah kecuali diri-Nya, tidak ada yang dimintai syafaat kecuali diri-Nya. Bagi-Nya adalah segala makna uluhiyyah, tidak ada yang berhak disembah dan diibadahi kecuali diri-Nya, maka ibadah kepada selain-Nya adalah syirik, zhalim, dan sesat.

Syaikh Nashir al-Sa’di mengatakan: Ayat ini dengan sendirinya mengandung aqidah dalam Asma Allah dan sifat-sifatnya yang dikandung oleh Asmaul Husna dan sifat-sifat yang luhur.”[3]

Ayat yang agung ini berisi penjelasan tentang kerajaan Allah yang sempurna, ilmu yang sempurna, dan kekuasaan yang sempurna.[4]

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pokok-pokok asmaul husna dan sifat-sifat yang luhur. Dalam ayat ini disebut 5 asmaul husna, yang kelimanya menunjukkan wahdaniyat, al-hayat, al-ilmu, al-mulk, al-qudrah, dan al-iradah. Sifat yang 7 ini adalah pokok-pokok nama dan sifat, nama Allah menjadi muara dari semua asmaul husna. Dia adalah isim a’zham sebagaimana kata banyak ulama. Al-Hayyu menjadi muara dari semua nama dan sifat. Al-Qayyum menunjukkan sempurnanya qiyam-Nya dan jauhnya dari sifat lalai, tidur, dan sakit. Al-Hayyu al-Qayyum menjadi muara bagi semua sifat kesempurnaan dan keagungan.

Adapun sifat Allah secara khusus maka Syaikh Utsaimin menyebut bahwa ayat kursi ini selain menyebut 5 asmaul husna juga berisis 26 sifat Allah.[5]

B. Ayat Wiqayah (Perlindungan)

Keagungan ayat kursi tampak bagi setiap mukmin yang mengamalkan (wirid pagi, sore) khususnya peruqyah, agar semakin faham, dan semakin tambah mantap keimanannya kepada khasiatnya. Ayat ini bersifat sebagai wiqayah (perlindungan) dari segala bahaya terutama dari gangguan setan. Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah i menunjuk Abu Hurairah sebagai penjaga harta zakat fitrah di bulan Ramadhan. Lalu datanglah sosok yang mengambil dari harta zakat tersebut, hingga pada hari ketiga dia ketahuan untuk yang ketiga kali lalu ditangkap. Maka dia berkata kepada Abu Huraiarah: “Maukah engkau aku ajari sesuatu yang Allah memberikan manfaatnya kepadamu?!” Dia menjawab: “Ya.” Maka setan itu mengatakan: “Kalau kamu beranjak ke tempat tidurmu maka bacalah ayat kursi, sesungguhnya akan selalu ada dari Allah yang menjagamu, dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Ketika Abu Hurairah kembali kepada Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- dan memberitahukannya maka Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

« صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ».

“Dia jujur kepadamu padahal dia tukang dusta.”

C. Ayat ruqyah azhimah

Al-Qur`an adalah Syifa` (kesembuhan) bagi orang beriman, khususnya ayat teragung yaitu ayat Kursi. Maka ayat kursi bisa untuk meruqyah rumah atau manusia. Kata Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ لَهَا لِسَانًا وَشَفَتَيْنِ تُقَدِّسُ الْمَلِكَ عِنْدَ سَاقِ الْعَرْشِ

“Demi Allah ayat kursi memiliki satu lisan dan dua bibir yang mensucikan Allah, pada kaki Arsy.” (HR Abd Rozzaq dan Ahmad, dishohihkan al-Albani).

Dalam satu riwayat Umar bergulat dengan jin lalu menang sampai 2 kali. Lalu kata jin: “Kalau yang ketiga kalah maka engkau akan saya ajari sesuatu yang bermanfaat bagimu.” Maka ketika kalah jin mengatakan: “Sesungguhnya engkau tidak membaca ayat kursi di satu rumah melainkan setan keluar dari padanya, kemudian tidak akan masuk sampai pagi.” (HR. Thabrani dan Darimi)

Oleh karena itu ayat kursi adalah ayat ruqyah yang agung untuk meruqyah rumah atau orang sakit.[6] Khususnya mengulang-ulang kalimat:

وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيمُ”.

D. Wirid shalat, dengan jaminan surga

Nabi bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ

“Barangsiapa membaca ayat kursi di setiap selesai shalat wajib maka tidak menghalangi masuk surga kecuali mati.” (HR. Nasa’i dan Ibn Hibban dari Abu Umamah, dishahihkan oleh al-Albani).

Dalam Zadul Ma’ad, ibnul Qayyim berkata: Telah sampai kepada saya dari guru kami Syaikh Abul Abbas Ibn Taimiyah bahwa beliau berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya di setiap selesai shalat.”[7]

E. Ayat teragung, katanya disebut sayyid ayat al-Quran

Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

«لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامٌ، وَإِنَّ سَنَامَ القُرْآنِ سُورَةُ البَقَرَةِ وَفِيهَا آيَةٌ هِيَ سَيِّدَةُ آيِ القُرْآنِ، هِيَ آيَةُ الكُرْسِيِّ»

“Segala sesuatu memiliki puncak dan puncak al-Qur`an adalah surat al-Baqarah, di dalamnya ada satu ayat yaitu penghulu ayat-ayat al-Qur`an, yaitu ayat kursi.”

(HR. Turmudzi, Ibnu Hibban akan tetapi Hakim ibn Jubair dhaif. Akan tetapi sampai “Surat al-Baqarah” hasan lighairihi. Shahih al-Targhib, 1461, 1462)

Ilmu pendidikan yang terkandung dalam ayat kursi:

Setelah kita melakukan perenungan terhadap ayat yang agung ini maka kami mendapatkan ilmu pendidikan sebagai berikut:

  1. Metode bertanya

Metode bertanya ini berguna baik untuk mengajar atau untuk evaluasi hasil belajar. Dalam hal ini Nabi  -Shalallahu alaihi wa salam- pernah bertanya kepada Abu al-Mundzir yaitu kuniah Ubay ibn Ka’ab:

«يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟»

“Wahai Abul Mundzir, apakah engkau tahu ayat apakah dari kitab Allah yang ada bersamamu yang paling agung?” (HR. Muslim: 258)

2. Pentingnya pendidikan adab sehingga menjadi murid yang beradab.

Adab adalah penghormatan dan pemberian hak secara penuh kepada pemiliknya secara baik. Dalam hal ini adalah izin Allah. Tauhid adalah hak Allah, Allah tidak mengizinkan Syirik. Allah juga pemilik Syafaat, tidak ada yang bisa member syafaat di hari kiamat kecuali atas izin-Nya. Ini adalah kesempurnaan kepemilikan Allah, dan keagungan kerajaan-Nya. Allah berfirman:

۞وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡ‍ًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ ٢٦

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa´at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. an-Najm: 26)

Dalam hal ini para sahabat Nabi adalah berakhlak mulia sebab Nabilah yang mendidik adab mereka. Saat Ubay bin Ka’ab ditanya di atas maka beliau menjawab:

اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.

“Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.”

Ini adalah adab para sahabat Nabi  -Shalallahu alaihi wa salam-. Mereka selalu tidak ingin berbicara lancang di hadapan Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- karena mengamalkan firman Allah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah.” (QS. al-Hujurat: 1)

Dari sini para ulama menyimpulkan bahwa dianjurkan bagi santri untuk tidak banyak berbicara di hadapan guru atau orang alim, agar apa yang dia dengar atau apa yang dia pelajari dari orang alim itu lebih banyak dari pada apa yang dia ucapkan di hadapannya.[8]

3. Metode mengulang

Ketika Nabi i mengulang pertanyaannya tadi kepada Ubay ibn Ka’ab («يَا أَبَا الْمُنْذِرِ، أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟») Baru Ubay mengetahui bahwa Nabi benar-benar menginginkan dia bicara, maka diapun menjawab: “Saya katakan:

{اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} [البقرة: 255] .

4. Metode mengelus atau menepuk dada murid sambil mengucapkan selamat atau mendoakan.

Ketika Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- mendengar jawaban Ubay ibn Ka’ab benar maka Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- menepuk dada Ubay seraya berkata:

«وَاللهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ»

“Demi Allah, semoga ilmu menjadi mudah (lezat) bagimu wahai Abu al-Mundzir”.

Ini menunjukkan pentingnya kedekatan antara guru dan murid, dan kepedulian guru kepada murid.

Metode ini juga pernah Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- terapkan untuk pemuda yang meminta izin berzina kepada Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. setelah beliau ajak dialog dan menerima maka beliau menepuk dadanya dan berdoa:

اللهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

“Ya Allah ampuni dosanya, sucikan hatinya dan lindungi kemaluannya.” Maka sejak saat itu pemuda tadi tidak pernah berfikir zina. (HR. Ahmad, Thabrani, shahih).[9]

5. Metode menghafal

Ini metode yang sangat terkenal. Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- menghafal al-Quran, para sahabat termasuk Ubay menghafal al-Qur`an. Maka ayat kursi termasuk dihafal khususnya untuk wiridan dan doa mau tidur. Yang wajib dihafal tentu sebatas yang bisa digunakan untuk menegakkan shalat wajib, selebihnya adalah kemuliaan.

6. Ilmu manusia itu berbatas

Ilmu manusia menurut Islam dibatasi oleh izin Allah, dibatasi secara qadari (taqdir), seperti manusia tidak mengetahui hakekat ruhnya sendiri. Bahkan ilmu apapun dari ilmu Allah tidak bisa diketahui manusia kecuali seiizin Allah. Dan dibatasi secara syar’i sebab ada ilmu-ilmu yang dilarang oleh Islam, seperti ilmu sihir. Oleh karena itu akal manusia dan agamanya akan rusak manakala manusia menyelami dalam ilmu yang diluar jangkau kemampuan manusia atau sudah dilarang oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala-.

7. Memperlakukan semua murid secara adil dan proporsional.

Semua murid adalah amanah, maka semua kita perhatikan. Ini adalah adil. Tetapi yang berpotensi untuk lebih baik dari yang lain diantarkan kepada kedudukannya, dikembangkan kemampuannya lebih dari yang lainnya. Ini adalah proporsional.

Ini kita ambil dari kenyataan bahwa al-Quran adalah agung tetapi ada surat atau ayat yang lebih agung dari yang lainnya, dan kita pun meyakininya lebih, membacanya dan mengamalkannya lebih dari yang lainnya, tanpa mengabaikan yang lainnya.

Imam Nawawi berkata: Pendapat yang dipilih adalah bolehnya mengatakan ayat ini atau surat ini lebih agung dan lebih utama. Artinya pahala yang berkaitan dengannya lebih banyak. Ini makna hadits. Wallahu a’lam.

Ini pilihan imam Nawawi, dibawa kepada makna pahala ayat, hakekatnya boleh mengatakan: ayat ini, atau surat ini lebih agung dan lebih utama dari surat lainnya. Ini tidak berakibat merendahkan yang lain.

8. Metode tajribah (pengalaman) dan konsultasi

Ini difahami dari kisah Abu Hurairah yang berpengalaman bertemu dengan jin yang mencuri zakat fitrah lalu berkonsultasi kepada Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-.

9. Metode penugasan dan pemberian tanggungjawab

Ini juga diambil dari kisah Abu Hurairah di atas.

10. Metode ilmiah, objektif dan argumentatif

Ini juga diambil dari jawaban Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- kepada Abu Hurairah di atas:

« صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ».

11. Metode empiris

Ada korelasi antara ayat kauniyah dengan ayat quraniyah. Karena di dalam ayat kursi disebutkan bahwa Allah Maha hidup dan Maha mengatur serta menjaga langit dan bumi. Dan hal itu sangatlah mudah bagi Allah:

﴿ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ﴾ [البقرة: 255]

Lalu di dalam surat Rum ayat 25 disebutkan bahwa di antara tanda kebesaran Allah adalah tegaknya langit dan bumi dengan perintah Allah.

﴿ وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالأَرْضُ بِأَمْرِهِ ﴾ [الرُّوم:25

Jadi tegaknya langit dan bumi, penjagaannya serta keteraturannya adalah bukti empiris dari sifat hayat Allah dan qayyumiyyah Allah. Allah tidak ngantuk dan tidak tidur. Maka kebenaran dua nama dan dua sifat Allah tadi bisa disaksikan pada penciptaan dan pengaturan langit dan bumi.

12. Tauhid adalah kurikumul utama

Ayat kursi adalah ayat tauhid, dimuali dengan kalimat tauhid, diisi dengang tauhid dan diakhiri dengan tauhid. Mencakup ketiga bagian tauhid. Maka ini harus masuk dalam kompetensi dasar kurikulum dan diajarkan kepada murid. Jadi yang diajarkan ilmu tauhid al-Qur`an dan al-Hadits, bukan ilmu kalam dan fiilsafat.

13. Metode taslim (pasrah), itsbat (menetapkan apa yang ditetapkan Allah) dengan tanzih (mensucikan Allah) dan ta’zhim (mengagungkan Allah).

Asma dan sifat Allah serta makhluk ghaib seperti Kursi adalah termasuk hal yang ghaib: wajib ditetapkan seperti yang Allah tetapkan, tidak boleh dan tidak perlu ditakwil, dan tidak boleh diqiyaskan/analogkan dengan makhluk lain, apalagi dengan Khaliq. Jadi bukan menggunakan metode ta’wil (metode mu’tazilah dan syiah). Juga bukan metode tasybih atau tajsim (metode kaum musyabbihah, mujassimah). Ini adalah metode Ahlussunah, yang mengikuti Rasikhuna fi al-Ilm.

14. Pendidikan harus bisa mencetak murid yang bertauhid, meninggikan dan mengagungkan Allah, menghamba diri hanya kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Allah berfirman:

﴿ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ ﴾ [البقرة: 255]:

إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا ٩٣ لَّقَدۡ أَحۡصَىٰهُمۡ وَعَدَّهُمۡ عَدّٗا ٩٤ وَكُلُّهُمۡ ءَاتِيهِ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَرۡدًا ٩٥

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam: 93-95)

15. Metode kaderisasi, promosi kader dan rekomendasi

Nabi i mengkader para sahabatnya dengan berbagai macam disiplin ilmu. Salah satunya adalah ilmu al-Qur`an. Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- mengkader banyak sahabat di bidang al-Qur`an, hingga Ubay ibn Ka’ab al-Anshori bergelar Sayyidul Qurra`, sebagaimana kata Ibnu Hajar al-Asqalani. Ubay adalah salah satu Qurra` (penghafal al-Qur`an) yang dinobatkan oleh Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- dan dipromosikan serta direkomendasikan sebagai referensi. Nabi bersabda:

خُذُوا القُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ

“Ambillah al-Qur`an dari empat orang: dari Ibnu Mas’ud, Salim Maula Hudzaifah, Muadz ibn Jabal, dan Ubay ibn Ka’ab.” (HR. Bukhari Muslim)

Demikian renungan pendidikan dalam ayat Kursi ini semoga bermanfaat. Aamiin.

Nantikan renungan ayat-ayat yang lain. [*]

Malang, Jumat, 13 Januari 2017

    1. http://www.3refe.com/vb/showthread.php?t=212946
    1. http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=25852
    1. Tafsir al-Sa’di, 1/11.
    1. http://www.saaid.net/Doat/musleh/95.htm
    1. http://www.al-forqan.net/researchs/print-116.html
    1. http://www.rouqyah.com/showthread.php?t=117473
    1. https://islamqa.info/ar/215945
    1. http://www.al-forqan.net/researchs/print-116.html
  1. http://majles.alukah.net/t36775/
(Visited 14 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.