RAMADHAN BULAN PERSAUDARAAN

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat agung sebagaimana yang digelari oleh Nabi -Shalallhu alaihi wa salam-.Di antara bukti keagungannya adalah banyaknya kebaikan yang ada didalam bulan Ramadhan sehingga bulan Ramadhan memiliki julukan yangsangat banyak sesuai dengan kebaikan yang dikandungnya. Bulan Ramadhah adalah bulan rahmah, bulan ampunan, bulan nuzul al-Qur`an, bulan tadarus,  bulan puasa, bulan qiyam,bulan sedekah, bulan zakat, bulan sabar, bulan jihad, bulan i’tikaf,bulan silaturrahim, bulan santunan dan bulan ukhuwwah.

Puasa Ramadhan yang diwajibkan oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala- memiliki pengaruh besar dalam meguatkan hubungan kasih sayang antara sesama muslim, dan mengokohkan persaudaraan imaniyah. Hampir semua manusia muslim hatinya tergerak kepada kebaikan di bulan Ramadhan ini, sebuah perasaan yang menyatu yang hampir tidak terdapat di bulanselain Ramadhan.

Saat seorang muslim berpuasa dia akan merasakan lapar dan dahaga, diaingat saudara-saudaranya yang kepayahan karena lapar, akibat kemiskinan, kemarau panjang, dan peperangan yang tidak mendapatkan apa yang menutupi kebutuhannya. Sehingga tergeraklah hati nuraninya untuk berbuat kebaikan membantu mereka karena ingin mendapatkan pahala dari Allah -Subhanahu wa ta’ala- .Maka lahirlah ukhuwwah dan terjalinlah persaudaraan, hingga di antara orang yang belum kenal sebelumnya.

Seorang muslim di bulan ini juga meneliti (menginstropeksi) dirinya yang banyak berbuat salah atau kurang maksimal dalam berbuat kebaikan maka dia berusaha menambal kekurangannya dan bersabar menjauhi maksiat-maksiat, dan memaksa untuk berbuat taat, maka berkembanglah faktor pendorong kebaikan. Dalam suasana seperti ini jiwa persaudaraan tumbuh dan berkembang kepada saudaranya. Lebih-lebih jika dia menyadari bahwa puasanya mengharuskannya untuk tidak mengganggu muslim manapun agar puasanya tidak cidera dan cacat. Maka dengan demikian lahir dan berkembanglah ukhuwah islamiyyah.

Pada saat seorang muslim berbuka terkadang dia di samping saudaranya yang fakir hingga dia tidak merasakan kefakirannya maka tumbuhlah ukhuwah Islamiyyah.

Engkau saksikan di bulan Ramadhan seorang muslim mengunjungi kerabatnya dan menanyakan keadaan mereka, kadang juga mengundang mereka untuk berbuka bersama di rumahnya, maka tumbuhlah ruh ukhuwah islamiyyah.

Jangan lupa dengan sedekah dan zakat yang memiliki pengaruh ajaib dalam mengikat hati dan menguatkan persaudaraan maka berkembanglah ukhuwah islamiyyah.

Ketika bantuan engkau ulurkan ke tangan saudaramu dan engkau merasa iabagian dari dirimu maka mengalirlah perasaan cinta dan kesetiaan, dan lahirlah ukhuwah islamiyyah.

Ketika engkau berjalan bersama-sama dari rumah atau bertemu di jalan untukbersama-sama menuju masjid, demi menegakkan shalat berjamaah atau shalat tarawih di masjid maka bersambunglah rasa dan tertautlah hati,maka tumbuhlah ukhuwah islamiyyah.

Tatkala engkau bersama-sama bertadarrus al-Qur`an di masjid atau bermajlisilmu di masjid secara bersama-sama, atau di rumah, maka tumbuhlahukhuwah islamiyyah.

Saatengkau i’tikaf bersama-sama, menghabisan waktu bersama-sama selama beberapaa hari atau sepuluh hari terakhir di masjid untuk mencari lailatul qadr maka tumbuhlah ukhuwah islamiyyah.

Walhasil,bulan Ramadhan adalah bulan yang kita dapat mewujudkan bersama-sama secara serempak makna-makna ukhuwah Islamiyyah. Kita hidup di bawah naungan ukhuwah, tidak mengenal jalan permusuhan, kebencian dan kedengkian. Saat masih ada yang mengikuti nafsu mengajak bertengkar dan mencaci maki maka Nabi kita -Shalallahu alaihi wa salam-mengajarkan agar kita menjawab dengan tenang tapi gamblang: “saya sedang berpuasa”. Jadi Ramadhan adalah bulan persaudaraan yang kaya dengan makna dan kaya dengan nilai-nilai keluhuran.

Namun bulan Ramadhan hanyalah 30 hari atau 29 hari, setelah itu ia akan pergi, akankah jejak-jejak ukhuwah islamiyah yang ditanamkan tetap terpatri ataukah menguap dan ikut pergi?

Ramadhan hanyalah madrasah selama satu bulan, ia melatih manusia muslim agar menjadikan pelajaran-pelajaran Ramadhan sebagi bekal yang cukup mengantarkan hingga tahun berikutnya untuk berlabuh kembali dengan Ramadhan yang akan datang.

Sungguh Maha Sayang Allah kepada kita, dengan mensyariatkan puasa dan ibadah di bulan Ramadhan agar kita membersihkan diri dari segala dosa selama setahun, lalu berbekal diri dengan segala makna iman dan ukhuwah sebagai bekal kehidupan yang akan kita perbaharui kembali pada Ramadhan berikutnya.

Maka marilah kita wujudkan makna-makna imaniyah dan ukhuwah islamiyah dibulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- telah mewujudkannya dan menggariskan keteladanan kepada kita. [*]

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.