PERSATUAN YANG KITA INGINKAN

PERSATUAN YANG KITA INGINKAN1

Syaikh Mohammad Salem Khidher

(Ketua Pusat Studi dan Penelitian di Mabarroh al-Al wa al-Ashhab Kuwait)

Diterjemah oleh Agus Hasan Bashori

Setiap mukallaf seyogyanya mencampakkan ashabiyyah, meluruskan niat, dan menggunakan pandangan dengan fitrah yang Allah menciptakan manusia di atasnya, dan tidak mengalahkannya dengan apa yang ditalqinkan oleh orang-orang madzhabnya.”

(Imam Ibnu al-Wazir)

Kita menyeru kepada persatuan, ternyata kita tidak memetik melainkan perpecahan. Kita mendengungkan persatuan, ternyata kita tidak memetik melainkan percerai-beraian.

Inilah kita, kita menanam duri, maka kita tidak memanen melainkan rasa sakit. Dan kita mengeluhkan dalamnya luka umat ini, sementara kita sendiri adalah pisau yang digunakan untuk menyayat-nyayat anggota tubuhnya.

Seperti halnya setiap muslim manapun, saya berhak untuk meratapi sejarah agung, kepahlawanan, dan berbagai pengorbanan para pemimpin kita yang telah memimpin kita menuju ketinggian di masa lalu. Lalu kita melupakannya. Dan tidaklah kita menyebutnya melainkan di buku-buku pelajaran kita, atau di berbagai perlombaan Ramadhan kita, atau di media-media massa kita, sebagai serial cerita dan drama, yang hal itu lebih dekat kepada pencitraan buruk untuk sejarah dan para tokohnya daripada menyampaikan hakikat cerita yang sebenarnya.

Saya berhak untuk meratapi semangat tinggi yang telah terbina dalam pangkuan Islam, di mana semangat tinggi tersebut telah mengeluarkan untuk kita para cendekiawan di tengah manusia sepanjang sejarah, di berbagai bidang. Akan tetapi di hari ini, semangat itu telah berakhir sebagai kemuliaan-kemuliaan yang kita nyanyikan, dan paling tinggi kita menetesinya dengan air mata karenanya.

Ya, saya dan Anda pantas untuk bersedih, dan untuk mendorong keimanan, semangat, dan perasaan kita untuk kembali tampil memimpin.

Sungguh, kedua mata saya tengah mengimpikan kepada persatuan. Keduanya tengah menunggu hari tersingkapnya kedukaan dari umat ini.

Aku berangan-angan seandainya tanganku memiliki kekuatan untuk mengumpulkan bagian-bagaian kecil yang tercecer ini, untuk mengurai berbagai ikatan yang kaum muslimin dewasa ini tidak berani untuk menguraikannya, hingga saat ini.

Akan tetapi suaraku lemah, lemah sekali, sebagaimana pengetahuanku terhadap sebab-sebab perpecahan ini juga lemah. Dulu, aku adalah seseorang yang emosional, aku ingin mengubah kondisi umat ini dengan satu kedipan mata, seakan-akan perpecahan dan perselisihan ini adalah permasalahan pinggiran yang mungkin begitu saja disingkirkan, dan dilemparkan jauh-jauh dari jalan.

Aku pun tumbuh besar, dan besar pula semangat ini bersamaku. Lalu jadilah aku menguasai apa yang sebelumnya tidak kukuasai. Kemudaian aku pun bertanya-tanya tentang persatuan yang tengah kita bicarakan dan kita cita-citakan. Apakah persatuan itu adalah persatuan shuriy (formalitas) saja yang kita alami sesaat, lalu kita kehilangan darinya sepanjang usia, ataukah persatuan yang menjamin kekekalan bangunan kita secara kokoh dan solid di hadapan berbagai tantangan?

Apakah itu persatuan yang dibangun di atas Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya , ataukah persatuan itu adalah persatuan yang mengorbankan Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya?!

Sungguh, dulu aku selalu membayangkan hubungan kita dengan ahlul kitab yang Allah telah menurunkan atas mereka al-Kitab dan mengutus kepada mereka para Rasul. Di saat mereka menyimpang dari agama nabi-nabi mereka, dan wasiat-wasiat Rabb mereka, datanglah Islam kepada mereka untuk meluruskan apa yang mereka warisi dari kesesatan, seraya menyeru mereka untuk meluruskan langkah, dan berintegrasi di dalam bendera kebenaran dan tidak rela dengan kesesatan yang ada pada mereka dengan hujjah (alasan) bahwa mereka adalah para pengikut para nabi. Bahkan Islam mengajak mereka untuk berterus-terang bersama jiwa, dan untuk menimbang aqidah-aqidah mereka dengan wahyu langit.

Maka persatuan itu memiliki standar syar’i. Jika orang-orang yang berafiliasi kepada Islam dari berbagai firqah ingin bersatu, maka haruslah persatuan itu berada di atas aqidah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad , bukan di atas bermacam-macam aqidah yang tidak ada hubungannya dengan Islam.

Perhatikanlah firman Allah tentang mereka:

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)

Dan perhatikanlah sirah (perjalanan hidup) Nabi , maka di dalamnya terdapat pelajaran dan nasihat. Di zaman Rasulullah terdapat kelompok orang yang memakai pakaian Islam, dan mengucapkan dua kalimah syahadat tanpa mengimplementasikan makna dua kalimat syahadat tersebut di dalam kehidupannya. Kelompok tersebut memiliki para penggemar dari kalangan kaum mukminin karena husnuzhan (baik sangka) kepada mereka. Maka Allah berfirman tentang hakikat mereka:

لَوْخَرَجُواْ فِيكُم مَّا زَادُوكُمْ إِلاَّ خَبَالاً ولأَوْضَعُواْ خِلاَلَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka, dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah: 47)

Akan tetapi, kita mengabaikan hakikat ini, atau kita tidak menghiraukannya, lalu kita menjadikan perasaan kita sebagai hukum, dan Islam menjadi pengikut segala perasaan ini. [*]2

Sungguh sangat menyedihkan, jika Anda dapati hauzat ilmiyah (semacam pondok pesantren, milik Syi’ah) yang seharusnya hari ini menuntun Syi’ah menuju persatuan Islam, atau paling tidak kita katakan untuk meminimalisir perseteruan antara Ahlussunnah dan Syi’ah, ternyata malah bersikeras dengan segenap potensi dan kekuatan yang dimiliki untuk menyeret dendam kesumat dan kebencian masa lalu, juga bersikeras untuk berjalan menapak jejak para pendahulu mereka dalam mengkafirkan lawan (khususnya Ahlussunnah), serta menghalalkan kehormatan mereka dengan ghibah, cacian, laknat, dan berlepas diri serta lainnya!

Marja’ Syiah Irak Abul Qosim al-Khu`i, dalam kitab Mishbah al-Fuqahat fi al-Mu’amalat mengatakan, “Telah tetap adanya riwayat dan doa-doa serta ziyarah, membolehkan melaknat para penentang dan keharusan berlepas diri dari mereka, memperbanyak cacian dan tuduhan serta menggunjing mereka, sebab mereka itu ahli bid’ah. Bahkan tidak diragukan lagi tentang kekufuran mereka, karena mengingkari wilayah (imamah Ahlul Bait) dan para imam, sekalipun hanya mengingkari satu imam dari mereka. Begitu pula kerena meyakini hak khilafah untuk selain para imam, juga akidah-akidah khurafat seperti al-Jabr (akidah Jabriyah) dan semisalnya, itu semua mengharuskan kekufuran dan kezindikan. Ini ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang mutawatir, yakni dalam hal kafirnya orang yang mengingkari wilayah, juga kafirnya orang yang meyakini akidah-akidah di atas dan yang semisalnya dari kesesatan-kesesatan. Ini juga ditunjukkan oleh ucapan beliau alaihissalam (maksudnya adalah Ja’far al-Shadiq), dalam al-Ziyarah al-Jami’ah, “siapa yang mengingkari kalian, maka ia kafir!”

Juga sabda beliau di dalamnya, “Siapa yang mentauhidkannya, maka diterima dari kalian.” Ini menghasilkan kebalikannya, yakni siapa yang tidak diterima dari kalian, berarti tidak mentauhidkannya, tetapi ia musyrik kepada Allah Yang Maha Agung.”3

Dengan pandangan takfir yang picik inilah, serta perilaku yang suka mencaci, dan melaknat kaum muslimin yang bersebarangan dengan mereka, lahirlah generasi-genesari (Syiah) yang buta, dan sangat membenci umat. Di luar mereka melakukan taqiyyah (kepura-puraan), tetapi sejatinya mereka menyembunyikan kebencian dan keinginan balas dendam.”

Berikut ini adalah Abdullah bin Syubbar, dalam bukunya al-Anwar al-Lami’ah mengatakan dengan penuh keberanian, “Riwayat yang banyak telah menunjukkan kafirnya para mukhalif (orang yang berbeda dengan syi’ah), jika dikumpulkan maka tentu membutuhkan buku tersendiri.”4

Sebelumnya ada an-Naraqi seorang pentahqiq, yang mengatakan, “Klaim iman dan persaudaraan untuk para mukhalif kita adalah termasuk perkara yang dipastikan rusaknya, dalil-dalil yang mutawatir dari mereka (para imam) dalam hal mencela, melaknat dan mengkafirkan mereka.”5

Dan seorang muhaqqiq Yusuf al-Bahrani, yang berani terang-terangan menolak persaudaraan antara Syi’ah Imamiyah dan orang yang menyelisihinya, ia mengatakan, “Sesungguhnya menetapkan persaudaraan antara mukmin (syi’ah) dan orang yang menyelisihinya dalam agama, hampir-hampir tidak akan diucapkan oleh orang yang mencium aroma iman, tidak pula orang yang mengetahui berita dari para tokoh terkemuka, karena begitu banyak riwayat yang mengharuskan memusuhi mereka (para Ahlussunnah) dan berlepas diri dari mereka.”6

Al-Faqih Ali al-Thabathaba’i yang mengisahkan kemutawatiran riwayat yang menolak persaudaraan dengan orang yang menyelisihi Syi’ah Imamiyah, dalam bukunya, Riyadhu al-Masa`il, mengatakan, “Klaim iman dan ukhuwwah termasuk perkara yang dipastikan kerusakannya, riwayat-riwayat banyak disampaikan bahkan mutawatir sangat jelas dalam menolak klaim tersebut.”7

Andai saja perkara ini berhenti sampai di sini, ternyata sampai manasik haji yang seharusnya menjadi kesempatan untuk bersatu, berjumpa, dan ukhuwwah Islamiyah, mereka justru begitu gigih menjadikannya sebagai momentum untuk perpecahan dan pengkafiran.

Dalam kitab Manasik al-Hajj karya Ayatullah Fahil al-Nukrani dan Ayatullah Mirza Jawad al-Tabrizi, Ayatullah Wahid Khurrasani, mendatangkan sesuatu yang mengejutkan ketika Anda membuka lembaran-lembarannya dengan doa “Ziarah Jami’ah”, di dalamnya disebutkan, “Siapa yang menyelisihi kalian (wahai Syi’ah), maka neraka tempat kembalinya. Siapa yang mengingkari kalian, maka ia kafir, dan siapa yang memerangi kalian, ia adalah musyrik, dan siapa yang membantah kalian, maka ia berada di neraka yang paling dalam.”8

Sesungguhnya orang-orang yang dikafirkan oleh ulama-ulama Syiah ini adalah kaum muslimin yang ahli tauhid. Dosa satu-satunya yang mereka lakukan –menurut kacamata Syiah- adalah karena mereka tidak meyakini apa yang diyakini oleh Syi’ah Imamiyyah Itsnay Asyariyyah tentang imam-imam Syi’ah yang 12 itu. Oleh sebab itulah mereka dikafirkan, kehormatan mereka dilanggar dengan laknat, dan kali yang lain dengan cacian.

Kontradiksi yang menggelikan dan sekaligus menyedihkan, Anda dapati mereka para ulama rujukan Syi’ah itu ternyata orang yang paling lantang menyuarakan anti terorisme dan teroris, serta menentang manhaj takfir dan orang-orang yang suka mengkafirkan, dalam propaganda mereka, seolah mereka itu jauh dari terorisme pemikiran, dan bersih dari pemikiran takfiri dalam tulisan dan fatwa-fatwa mereka!

Lalu bagaimanakah Langkah Menuju Perbaikan Akibat Kerusakan-Kesukuan Sektarian ini?

Sesungguhnya perkaranya sangat jelas, tidak memerlukan perdebatan panjang yang akan memakan energi umat, dan membuat bingung dua kelompok besar (Sunnah – Syi’ah), baik penetapan maupun penafian.

Perasaan terus menggelayuti saya sejak memasuki pertempuran ini, bahwa garis pemisah antara hak dan batil yang dengannya hakikat bisa dikenali, dan tidak samar lagi, akan tetapi kita dalam deru ombak fanatisme madzhab, serta hilangnya obyektifitas, tumbuh besar di atas tuduhan-tuduhan, sehingga kita lupa mengenali kebenaran itu.

Jika Allah telah menetapkan di antara kita –kaum muslimin– dan ahli kitab, serta penganut seluruh agama, ukuran-ukuran dan landasan yang disepakati oleh dua kelompok, dengannya hujjah untuk kaum muslimin atas orang-orang kafir bisa tegak. Sungguh tidak masuk akal, jika umat ini dituntut untuk bersatu tanpa adanya landasan yang disepakati, dan tanpa adanya timbangan untuk mengenal mana yang hak dan mana yang batil.[*]9

Selagi Anda hidup, maka dunia ini akan memperlihatkan kepada Anda keanehan-keanehan!

Dapatlan majalah dan bukunya di pemasaran:

081231338889

1 Diambil dari buku Akhirnya, Kulihat Kebenaran Itu: Studi Objektif Terhadap Poin-Poin Penting Yang Diperselisihkan Antara Sunni Dan Syi’i, tulisan Syaikh Muhammad Salem al-Khidher yang saya terjemahkan dari kitab yang aslinya berjudul “Tsumma Abshartu al-Haqiqah: Dirasah Maudhu’iyyah Li Abraz Nuqat al-Khilaf al-Sunni al-Syi’I, Senin 8 Muharram 1438 H/ 10/10/2016.

2 Diambil dari kitab Tsumma Abshartu al-Haqiqah halaman 15-17

3 Mishbahu al-Fuqahah, 1/504, bab Hurmatu al-Ghibah Masyruthoh bil Iman (maksudnya, ghibah yang diharamkan itu jika disertai iman tentang keimaman, jika tidak maka boleh ghibah.

4 Al-Anwar al-Lami’ah fi Syarhi Ziyaratu al-Jami’ah, hal. 150.

5 Mustadanu as-Syi’ah, 14/163.

6 Al-Hada`iqu an-Nadhirah, 18/150.

7 Riyadhu al-Masa`il, 8/68.

8 Yang menarik perhatian, bahwa kitab Manasik al-Hajj karya Fadhil an-Nakrani dan Jawad al-Tabrizi, saya nukil dari keduanya dengan bahasa Persia, berisi sebagian tambahan yang tidak terdapat pada Manasik al-Hajj yang beredar dengan bahasa Arab, padahal ditulis oleh mereka juga. Seperti dalam tambahan al-Ziyarah al-Jama’ah al-Kabirah. Saya tidak tahu apakah hal ini termasuk di bawah judul Taqiyyah mudaratiyyah seperti yang diamini oleh sebagian ulama Syi’ah, ataukah hal itu tanpa dimaksud.

9 Diambil dari kitab Tsumma Abshartu al-Haqiqah halaman 135-138.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *