Pengantar Penulis “Koreksi Total Buku Fikih Lintas Agama”

PENGANTAR PENULIS

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Segala puji bagi Allah penguasa semesta alam dengan pujian yang banyak dan diberkahi, saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah, Nabi-Nya, yang diutus ke seluruh umat manusia hingga hari kiamat tiba. Semoga Allah mengalirkan shalawat dan salamnya kepada beliau; Nabi yang jujur dan terpercaya, beserta keluarga, shahabat, dan pengikut setianya hingga akhir masa.

Ini adalah buku bantahan terhadap bid’ah paham pluralisme agama-agama yang tertuang dalam buku “Fikih Lintas Agama”. Meskipun bantahan ini tidak tuntas dan tidak menyeluruh –karena terbatas waktu-, kehadirannya adalah suatu keniscayaan, demi menutup celah yang dikoyak oleh orang-orang yang ingin merusak kesucian islam.

Syaikhul Islam menjelaskan bahwa membantah orang-orang yang menyalahi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah termasuk jihad yang paling agung, bahkan terkadang bisa mengungguli nilai jihad melawan para musuh dari luar. Maksudnya, perang melawan musuh dari dalam lebih besar daripada melawan musuh dari luar. Karena musuh luar adalah sangat jelas permusuhannya, sementara musuh dari dalam terkadang tersamarkan dan tersembunyi. Diantara permusuhan yang paling berat adalah jikalau muncul di tubuh umat Islam orang-orang yang mengajak kepada selain manhaj Salafus Shalaih, seperti kelompok yang memperjuangkan bid’ah, kesyirikan, dan pemikiran sesat serta pemikiran-pemikiran yang merusak. Tentu tidak diragukan lagi bahwa jihad melawan mereka adalah bentuk ketaatan yang sangat agung dihadapan Allah Suhanallah Wa Ta’ala. Allah berfirman:

فَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.(Al-Furqan:52)

Jihad melawan mereka dengan Al-Qur’an dan ilmu jihad yang agung.

Para pemeluk agama-agama yang telah diubah dan para pemilik prinsip-prinsip batil dan zalim selalu mengklaim bahwa mereka memiliki hidayah dari kesesatan yang dapat menyelamatkan manusia dari kebingungan, kemunduran, kebodohan, dan kesengsaraan.

Begitu pula para failasuf, dari dulu hingga kini juga mengklaim demikian… orang-orang Yahudi dan Nasrani juga mengklaim demikian… para pemikir dan cendikiawan, pakar pendidikan dan ilmu jiwa, di Timur maupun di Barat juga mengklaim demikian… kini sekelompok orang indonesia yang mengaku atau yang dijuluki dengan para pemikir progresif, kaum liberalis juga mengklaim demikian… kita mengatakan untuk menghadapi semua itu;

قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى

“Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk.(Al-An’am:71)

Tidak ada hidayah bagi manusia dari kebodohan, kesesatan dan kesengsaraan kecuali Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.(Ali’Imran:100-101)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memaparkan dengan tegas bahwa mencari hidayah di luar islam adalah sesat dan binasa. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abdullah bin Jabir. Dia berkata, pernah Umar Radhiyallahu ‘anhu datang kepada Nabi -Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam- lalu berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya baru saja bertemu dengan satu sahabat dari Yahudi Bani Quraizhah, lalu dia menuliskan untukku beberapa kalimat yang jami’ (ringkas redaksi tapi padat isi) apa boleh saya sodorkan pada anda? Abdullah berkata: Maka berubahlah wajah Rasulullah. Abdullah bin Tsabit berkata: Saya berkata kepadanya: Tidaklah engkau lihat wajah Rasulullah? Maka Umar berkata: Saya rela Allah sebagai tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku.

Dia berkata; Maka hilanglah kemarahan dari wajah Rasulullah, lalu bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ فِيْكُمْ مُوْسَى ثُمَّ اتَّبِعْتُمُوْهُ وَتَرَكْتُمُوْنِيْ لَصَلَلْتُمْ إِنَّكُمْ حَظَّى مِنَ الْأُمَمِ وَأَنَا حَظُّكُمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ

Demi Allah yang jiwaku berada ditangan-Nya, seandainya Musa ada di tengah-tengah kalian lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku niscaya kalian sesat. Sesungguhnya kalian adalah umat yang menjadi bagianku dan aku adalah Nabi yang menjadi bagianmu.”

Oleh karena itulah paham “Teologis Pluralis dan Fikih Lintas Agama adalah bid’ah qabihah (buruk), sesat, dan merusak. Al-Qur’an telah membuka aib orang-orang yang menjadi pengikut thagut yang ingin menghalangi manusia dari agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61) فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna”. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.(An-Nisaa’:60-63)

Semoga buku ini bermanfaat dan kita selamat dari virus-virus pemikiran yang merusak iman. Dan semoga dalam waktu dekat lanjutan bantahan terhadap syubhat-syubhat mereka dapat direalisasikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Akhirnya ucapan terima kasih teruntuk adik Abu Hasan M. Ali Khudhairi dan Abu Rafi’ M. Syahri yang telah membantu naskah buku ini. Semoga Allah membalas kebaikan kita semua.

Malang, 14/4/2004

Abu Hamzah As-Sanuwi

(Visited 9 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.