PELAJAR SMA MASIH JAUH DARI AL-QUR`AN LITERASI AL-QURAN PELAJAR SMA MENYEDIHKAN

Makna Literasi Al-Qur`an

Literasi mungkin telah menjadi istilah yang familiar bagi banyak orang. Secara umum literasi difahami sebagai melek huruf, atau kemampuan membaca dan menulis. Namun demikian, tidak banyak dari mereka yang memahami makna dan definisinya secara jelas. Oleh karena itu kami merasa perlu menerangkan terlebih dahulu maksud dari istilah ini.

Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa Inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “Kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

Sumber lain yaitu National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi secara kontekstual, yang mana definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. 

Lebih jauh dari itu, Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Ia mengatakan bahwa Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Saat ini, Istilah Literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas, seperti Literasi Informasi, literasi komputer, literasi sains dan literasi al-Qur`an, yang kesemuanya itu merujuk pada kompetensi atau kemampuan yang lebih dari sekedar kemampuan baca-tulis.

Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi al-Qur`an apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar membaca dan menulis al-Qur`an serta mengartikannya. Jadi, makna dasar literasi sebagai kemampuan baca-tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas. Dan cara yang digunakan untuk memperoleh literasi adalah melalui pendidikan.

Literasi Al-Qur`an Pelajar SMA Masih Rendah

Berdasarkan data dari Pusat Litbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama yang telah melakukan penelitian Indeks Literasi Al-Qur’an siswa SMA dalam skala penilaian satu sampai lima, menemukan bahwa indeks literasi Al-Qur’an siswa SMA secara nasional berada dalam kondisi “sedang” dengan indeks rata-rata 2,44.

Hal ini disampaikan Kepala Pusat Litbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Choirul Fuad Yusuf, pada acara Seminar Hasil Penelitian Indeks Literasi Al-Quran Nasional di Jakarta, Kamis (01/12/2016) malam.

Penelitian ini dilakukan secara bertahap terhadap 3.710.069 siswa SMA negeri ataupun swasta dari total populasi siswa SMA sekitar tujuh juta siswa di seluruh Indonesia, di 34 propinsi. Ada empat aspek yang dinilai, yaitu membaca (indeks 2,59) dan menulis (2,2) dimana keduanya masuk kategori sedang. Aspek mengartikan bacaan Al-Quran berada dalam kategori rendah (1,87), dan aspek menghafal dalam kategori tinggi (3,03).

Penelitian yang dilakukan pada September 2016, dan ditulis dalam 700 halaman itu bertujuan mengevaluasi berbagai aspek kemampuan dalam literasi Al-Quran. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Al-Quran menjadi bagian penting dalam perkembangan budaya literasi di Indonesia.

Mantan Rektor Institut Ilmu Quran (IIQ) Jakarta, Ahsin Sakho Muhammad mengatakan, “Tingkat literasi Al-Quran pada siswa SMA nasional yang berada di level “sedang”, merupakan wajah kelompok pelajar sekolah menengah dalam menggeluti Al-Quran. Ini bisa dikatakan agak menyedihkan karena keterlibatan anak-anak SMA dengan Al-Quran masih sedikit,” ujarnya, Senin (5/12/2016).

Sementara Pakar Al-Quran UIN Syarif Hidayatullah, Muchlis Muhammad Hanafi menilai tingkat literasi Al-Quran siswa SMA nasional yang berada di level sedang belum menggembirakan (alias memprihatinkan), Senin (5/12).
Apa yang dikatakan Ahsin Sakho dan Muchlis itu benar, bahwa kondisi ini menjadi hal serius dan menyedihkan. Sebab kalau tidak bisa baca Al-Quran itu artinya pemahaman terhadap agamanya sangat minim.

Lebih jauh kita perlu bertanaya, “Level sedang yang dimaksud itu apa kriterianya?” Pak Widi pakar statistik di sela-sela acara Muktamar PULDAPII pertama di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu, 8 Juli 2017 mengatakan: “Yaitu hafal huruf hijaiyah dan mengerti prinsip dasar tajwid, misalnya bacaan izhhar itu dibaca jelas.”

Kemudian Pak Widi yang juga pengusaha di bidang tambang itu menerangkan bahwa di antara hasil penelitian itu mengungkapkan: 18 % siswa membaca al-Qur`an dengan level tinggi, 48 % membaca dengan level sedang dan, sisanya dengan level rendah.

Alasan yang dikemukan adalah karena jumlah dan mutu guru yang kurang, sebab 50 % lulusan S1, dan 50 % sisanya lulusan diploma atau SMA. Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin mengatakan bahwa pendidikan agama Islam di sekolah saat ini dihadapkan pada problem fundamental berupa kekurangan guru agama. Menurutnya, kekurangan guru agama Islam di sekolah sangat massif. “Data kita, kira-kira sekitar 21 ribu kekurangan guru agama Islam di sekolah,” ujarnya di Jakarta, Senin (03/07/2017).

Kamaruddin menilai hal itu menjadi problem mendasar karena jika guru agamanya kurang, berarti pengajar agama di sekolah selama ini bukan ahli agama. Maka pantas kalau mutu agama dan literasi al-Qur`an para pelajar sangat rendah.

Jadi, Istilah “level sedang” dalam laporan penelitian di atas sejatinya kalau kita mau jujur dan mau mengukur dengan ukuran yang maju adalah termasuk level rendah. Apalagi kalau dikaitkan dengan aspek memahami arti ayat al-Qur`an yang dibaca, yang dalam penelitian itu Aspek mengartikan bacaan Al-Quran berada dalam kategori paling rendah (1,87). Lalu bagaimana lagi kalau diukur dengan 4 level bacaan berkualitas: Membaca al-Qur`an dengan benar, Membaca dengan Pemahaman, Membaca dengan Tadabbur, dan Membaca dengan Khusyu’.

Di sini saya ingat Ucapan Imam Syafi’i rahimahullah:

مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيمَتُهُ وَمَنْ نَظَرَ فِي الْفِقْهِ نَبُلَ قَدْرُهُ: وَمَنْ نَظَرَ فِي اللُّغَةِ رَقَّ طَبْعُهُ: وَمَنْ نَظَرَ فِي الْحِسَابِ جَزُلَ رَأْيُهُ وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ

“Barangsiapa belajar al-Qur`an maka agunglah nilainya, barangsiapa mempelajari fikih mulia kedudukannya, barangsiapa mempelajari bahasa (sastra) lembut perangainya, barangsiapa mempelajari ilmu hitung kuat pendapatnya, barangsiapa menulis hadits kuat hujjahnya, dan siapa yang tidak menjaga dirinya maka tidak berguna ilmunya.”

Mengacu kepada ucapan Imam Syafi’i ini maka kita bisa memahami bahwa rendahnya nilai umat Islam yang mayoritas secara jumlah di negeri ini adalah dikarenakan jauhnya umat Islam, para pemimpin, dan dan generasi penerusnya dari al-Qur`an. Oleh karena itu jika umat Islam ingin memiliki harga dan nilai yang tinggi tidak ada jalan lain kecuali rujuk kepada kitabullah.

Langkah-langkah Penanggulangannya

Setelah kita mengetahui kondisi memprihatinkan dari generasi muda Islam yang masih minim kemampuannya dalam baca tulis dan mengartikan al-Qur`an, maka kita wajib memberikan usulan-usulan untuk perbaikan. Menurut penulis, jalan keluarnya harus dilakukan bersama, oleh keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah.

Menurut hemat kami langkah-langkah yang bisa diusahakan adalah:

  1. Perlu ada kebijakan afirmatif (bersifat menguatkan) melalui Kemendikbud karena penelitian ini objeknya siswa siswi SMA. Dalam hal ini Kemenag juga harus ikut bertanggungjawab sehingga harus ada kebijakan afirmatif untuk menggalakkan kemampuan baca tulis Al-Quran di SMA. Selama siswa-siswi SMA itu Muslim, mereka harus bisa membaca Al-Quran. Hal ini senada dengan usulan Pakar Al-Quran UIN Syarif Hidayatullah, Muchlis Muhammad Hanafi .
  2. Pemerintah wajib segera mengupayakan pemenuhan jumlah guru agama di sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan hingga angka 21.000 guru.
  3. Kantor Kementerian Agama sampai tingkat Kabupaten harus mensosialisasikan pentingnya pendidikan agama bagi remaja, sebagaimana yang dilakukan oleh Kantor Kemenag Kab. Cilacap.
  4. Perlu mengadakan program pemberantasan buta huruf al-Qur`an dan tafhim al-Qur`an, sebagaimana diadakannya Program Pintar Baca Al-Quran (PPBQ) di Kabupaten Tasikmalaya, atau diterbitkannya Perda tentang Wajib Baca Al-Qur’an bagi muslim, sebagaimana dilakukan oleh Pemkab Madina (Mandailing Natal) bersama DPRD Madina Sumut yang mana Perdanya mengamanatkan bahwa pasangan muslim yang menikah akan disuruh membaca A-Qur’an oleh tuan Kadi sebelum dilakukan akad nikah.[1]
  5. Para pengawas diharapkan dapat meningkatkan fungsi kontrol dan kepengawasannya, kepada guru-guru pendidikan agama Islam di wilayah kerja masing-masing, sebab belum berhasilnya pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah ada kaitannya dengan tugas kepengawasan.
  6. Sebaiknya hasil dan rekomendasi dari penelitian seperti ini disosialisasikan kepada umat Islam untuk diantisipasi secara bersama-sama.
  7. Partisipasi masyarakat dan keluarga dalam mengentaskan buta huruf Al-Quran. Program Maghrib Mengaji yang digulirkan Kemenag perlu dikuatkan lagi.

Diharapkan Pemerintah memberikan himbauan kepada pengusaha pertelevisian agar tidak menayangkan tontonan untuk anak-anak pada waktu maghrib, sehingga waktu itu efektif untuk belajar ataupun untuk mengaji.

  1. Pemerintah dan Umat Islam diharapkan bisa menggalakkan adanya lomba-lomba yang menghargai para pembaca al-Quran, sebab lomba-lomba itu dapat merangsang minat dan semangat dalam meningkatkan literasi al-Qur`an.
  2. Dilakukan upaya serius untuk menemukan dan mensosialisasikan metode pembelajaran al-Qur`an yang efektif.

Salah satu metode pembelajaran al-Quran yang terbaik di dunia adalah metode Nurul Bayan dari Mesir yang diketuai oleh Syaikh Isham Yusuf. Metode ini sudah diterapkan di banyak negara. Sedangkan di Indonesia yang sudah ditunjuk oleh ketua dan pendiri Arab al-Qur`an (Kampung al-Qur`an) di Mesir Syaikh Ishom, sebagai pusat pengembangannya di Jawa Timur adalah di Pesantren al-Umm Malang jawa timur. Di al-Umm telah didirikan Raudhah Ummu Arab al-Qur`an untuk anak pra sekolah dan anak sekolah SD. Juga sudah diterapkan di Pesantren jenjang SMP, dan disosialisakan di masjid-masjid.

Upaya-upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Literasi al-Qur`an. Kemampuan literasi ini dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, dan masyarakat. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik, apalagi buta huruf terhadap al-Qur`an, kitab Suci yang berisi hidayah, rahmat, obat, dan berkah. Wallahu a’lam [*]

Referensi:

Yahya ibn Syaraf al-Nawawi, al-Majmu’, 1/20

http://literasi.jabarprov.go.id/baca-artikel-954-apa-sih-literasi-itu.html

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/12/05/ohpafz396-literasi-alquran-bisa-dimulai-dari-membaca-dan-mengartikan

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/12/05/ohp3b5366-literasi-alquran-siswa-sma-belum-menggembirakan

http://radarsukabumi.com/pendidikan/2017/03/11/masih-banyak-pelajar-sma-tak-bisa-baca-alquran/

http://www.cilacapkab.go.id/v2/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=5556

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/195801281986121-MUNAWAR_RAHMAT/ARTIKEL-JURNAL/Presentasi-Tasikmalaya_METODE_BACA_QURAN%20%28MunawarRahmat%29.pdf

https://www.dakwatuna.com/2012/12/17/25371/empat-level-membaca-al-quran/#axzz4mn1thO4r

https://kemenag.go.id/berita/read/432302/indeks-literasi-al-quran-siswa-sma-masuk-kategori-sedang

https://kemenag.go.id/berita/read/504830/dirjen-pendis–sekolah-kekurangan-21-ribu-guru-agama-islam

  1. Di jawa Timur, program yang sama juga sudah diberlakukan di beberapa kabupaten/kota, misal: Pasuruan mewajibkan program Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) untuk siswa SD-SMP, demikian pula Sidoarjo, juga Kota Mojokerto. (ed.)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *