PARA SAKSI MATA BERCERITA TENTANG KEBRUTALAM PEMERINTAH MYANMAR DAN TENTARA BUDHA

Seorang pengungsi bernama Tsuriya Bighum menceritakan tentang nasipnya dan keluarganya. Dia berkata:
“Suami saya Abdul Amin tidak datang ke Bangladesh ini, saya tidak tahu apakah orang budha menyembelihnya atau membunuhnya.
Kami berasal dari desa Nansyang. Kami datang ke sini sejak 15 hari lalu.
Kami datang kemari karena Pemerintah Myanmar menembaki kami, dan menculik anak-anak kecil kami dan kami tidak tahan terhadap kekejaman ini maka kami lari menyelamatkan diri kemari.
Sampai sekarang saya tidak tahu nasib suami saya. Waktu penembakan itu beliau bersembunyi.

Sementara saksi lain yang memakai cadar bernama Rasyidah bercerita:
“Suami saya bernama Nurul Amin. Kami dari desa Kiri Farang. Kami datang di sini sejak 18 hari lalu.”
Saat dia diminta menceritakan penderitaan yang dialaminya dan sebab mengapa dia lari ke Bangladesh maka dia berkata:
“Pemerintah Myanmar membakar rumah-rumah kami dan menyembelih orang-orang kami. Karena itulah kami lari kemari.
Mereka membakar rumah-rumah kami dan menghancurkan segalanya.
Wanita lain dari desa Rafala bernama Radhiyyah istri dari Dil Muhammad mengatakan: kami datang sejak 5 sampai 6 hari . mereka membakar rumah saya. Maka pada saat itulah kami melarikan diri dari rumah, tiba-tiba saya sudah berada di tengah-tengah kumpulan manusia yang mereka semua berada dalam kepanikan dan ketakutan yang besar. Kami mendapatkan tempat ini sebagai tempat menyelamatkan diri maka kami menuju kemari. Saya berpisah dengan suami saya, dan hingga sekarang saya tidak mengetahui keberadaan dan nasibnya. Kami hidup di sini sangat-sangat sulit. Semoga Allah menjaga kami.”
Demikian 3 dari ribuan saksi semakin mengukuhkan tentang terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pemerintah Myanmar atau oleh tentara Budha.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.