Ada kisah yang sangat menarik, menunjukkan agungnya al-Qur`an dan mulianya umat Islam karena tidak bisa dipermainkan atau dilecehkan soal al-Qur`an. Kisah ini terjadi di Zaman Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid al-Abbasi (berkuasa pada tahun 198-218 H/ 813 – 833 M).

Yahya ibn Aktsam ibn Muhammad al-Tamimi (w. 22 Dzul Hijjah 242 H), seorang ulama besar dari generasi Tabi’it Tabi’in dan qadhi agung di Bashrah bercerita: Khalifah Makmun memiliki majlis diskusi (untuk para Ulama), maka masuklah ke dalam majlis seorang Yahudi yang bagus bajunya, tampan wajahnya dan semerbak wangi aromanya. Lalu dia berbicara, ucapan dan ungkapannya bagus. Ketika majlis sudah bubar, Khalifah Makmun memanggilnya lalu bertanya, “Engkau seorang Israel?” Dia menjawab, “Ya.”

Khalifah: “Masuklah ke dalam Islam, aku akan berbuat dan melakukan untukmu.” Khalifah pun menjanjikannya. Namun dia menjawab, “Agamaku dan agama leluhurku.” Maka diapun pamit pergi.

Setahun kemudian dia datang lagi kepada kami, namun dia sudah menjadi muslim. Maka diapun berbicara tentang fikih dan bagus penjelasannya. Maka tatkala majlis sudah selesai Khalifah Makmun memanggilnya, lalu bertanya, “Bukankah engkau sahabat kami kemarin?” Dia menjawab, “Benar.” Dia bertanya: “Lalu apa yang membuatku masuk Islam?”

Dia bercerita: Saya pergi dari hadapan paduka, maka saya ingin menguji agama-agama ini. Paduka tahu bahwa tulisan tangan saya sangat bagus. Maka saya mengambil kitab Taurat lalu saya salin dengan tulisan tangan saya sebanyak 3 eksemplar, saya beri tambahan-tambahan di dalamnya dan juga saya kurangi. Lalu saya masukkan ke gereja, ternyata ketiganya laku, mereka membelinya dariku.

Lalu saya mengambil Injil. Saya salin menjadi 3 eksemplar. Saya beri tambahan-tambahan di dalamnya dan juga saya kurangi. Lalu saya masukkan ke Sinagog, ternyata ketiganya laku, mereka membelinya dariku.

Berikutnya saya mengambil al-Qur`an, saya salin menjadi 3 mushhaf. Saya beri tambahan-tambahan di dalamnya dan juga saya kurangi. Lalu saya masukkan ke para warraq (yaitu tukang kertas, pembuat dan penjual kertas, penyalin buku dan penjual buku), maka mereka memeriksa halamannya, membolak baliknya. Tatakala mereka mendapati di dalamnya ada tambahan dan pengurangan maka mereka mencampakkannya dan tidak mau membelinya. Maka saya tahu bahwa kitab ini adalah kitab yang dijaga. Inilah yang menjadi sebab keislaman saya.

Yahya ibn Aktsam berkata: Lalu saya pergi haji di tahun itu, saya bertemu dengan Imam Sufyan ibn Uyainah, lalu saya ceritakan kepada beliau kisah di atas maka beliau berkata kepada saya: Buktinya ini ada di dalam al-Qur`an. Saya katakan: Di tempat mana? Dia menjawab: Dalam firman Allah tentang Taurat dan Injil, Allah berfirman:

… بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ …

“…disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah …” (QS. al-Maidah: 44)

Allah menyerahkan penjagaannya kepada mereka (Taurat dan Injil), maka hilanglah.

Dan Allah berfirman tentang al-Qur`an:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami yang menjaganya.” (Qs. Al-Hijr: 9)

Maka Allah menjaganya atas kita (al-Qur’an), maka dia tidak akan hilang.” (Imam Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 7/159-160).

Demikianlah, kisah ini membuktikan bahwa Taurat bisa diubah-ubah dan Yahudi bisa ditipu, Injil bisa diubah-ubah dan Nasrani bisa ditipu, sementara al-Qur`an tidak bisa diubah-ubah dan Umat Islam tidak bisa ditipu soal kitab sucinya. Maka kita tidak perlu heran dengan adanya Aksi Bela Islam 1, 2 dan 3, yang merupakan aksi bela al-Qur`an dari penistaan, sebuah aksi yang tidak pernah ada satu kitab di dunia ini yang dibela dengan aksi unjuk rasa (demo) raksasa dan super damai seperti itu.

Maka begitu besar nikmat Allah atas kita, begitu agung kitab suci al-Qur`an di atas kitab-kitab yang lain. Sudahkan kita mengagungka al-Qur`an? Sudahkan kita membacanya setiap hari? Menjadikannya sebagai dasar hidup kita? Mari hidupkan hati dengan membaca al-Qur`an, sesibuk apapun. Jadikan sebagai jargon kita: “Tiada hari tanpa al-Qur`an, minimal 1 halaman, apapun yang terjadi”.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai ahli al-Qur`an dan pembela al-Qur`an, dan di akhirat nanti mendapatkan syafaat al-Qur`an. Aamiin. [*]

Salah satu wirid keselamatan adalah memperbanyak bacaan shalawat, misalnya:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.”

Cara baca:

Dibaca 10 kali di pagi hari dan 10 kali di sore hari, dan untuk bilangan maksimalnya maka tidak ada batasan. Batasannya adalah “semakin banyak semakin manjur”.

Khasiatnya:

  • Mengusir beban jiwa dan mengampuni dosa-dosa

Dari Thufail ibn Ubay ibn Ka’b dari ayahnya, dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِى

“Wahai Rasulullah, saya ini banyak bershalawat (berdoa) untukmu maka berapa aku jadikan untukmu dari shalawatku (doaku)?”

Rasulullah  menjawab: “Terserah kamu (sesukamu).” Saya katakan: “Seperempat?” Beliau menjawab:

« مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ »

“Terseserah kamu, jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.”

Saya katakan: “Setengah?” Beliau menjawab:

“Terseserah kamu, jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.”

Saya katakan: “Dua pertiga?” Beliau menjawab:

“Terseserah kamu, jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.”

Saya katakan:

أَجْعَلُ لَكَ صَلاَتِى كُلَّهَا

“Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untumu?”

Beliau menjawab:

« إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ »

“Kalau begitu dicukupkan kamu dari beban pikiranmu dan diampuni untukmu dosa-dosamu.” (HR. Turmudzi, dihasankan oleh al-Arnauth dalam kitab Jalaul Afham karya Ibnul Qayyim.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  ditanya tentang syarah hadits ini maka beliau berkata: Ubay ibn Ka’b memiliki kebiasaan berdoa untuk dirinya, lalu bertanya kepada Nabi : “Apakah dia menjadikan seperempatnya sebagai doa (shalawat) untuk Nabi ?” Maka Nabi menjawab: “Jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.” Lalu dia berkata: “Setengahnya?” Beliau menjawab: “Kalau kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.” Hingga dia bertanya: “Kalau begitu aku jadikan semua shalat (doa)ku untukmu?” Maksudnya: “Aku jadikan semua doaku segabai shalawat kepadamu?” Lalu Nabi bersabda: “Kalau begitu dicukupkan kamu dari beban pikiranmu dan diampuni untukmu dosa-dosamu.” Karena orang yang bershalawat kepada Nabi  sekali saja maka Allah membalasnya dengan memberi rahmat sebanyak 10 kali, dan barangsiapa bershalawat kepadanya maka Allah mencukupkan dari beban pikirannya dan mengampuni dosa-dosanya. (Lihat Jalaul Afham, tahqiq Syuaib dan Abdul Qadir al-Arnauth, h. 79.)

Syaukani  berkata: “Dalam dua hal ini terdapat simpul kebaikan dunia dan akhirat, karena orang yang dicukupi dari beban pikirannya akan selamat dari cobaan-cobaan dunia dan gangguannya, sebab setiap cobaan pasti memiliki pengaruh dalam membebani pikiran, meskipun ringan (sedikit). Dan barangsiapa diampuni dosa-dosanya pasti selamat dari cobaan akhirat, karena tidak ada yang menjerumuskan seorang hamba kecuali dosa-dosanya.” (Tuhfatuddzakirin, h. 30.)

  • Mendapatkan syafaat Rasulullah 

Rasulullah  bersabda:

مَنْ صَلىَّ عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِيْنَ يُمْسِيْ عَشْرًا أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali pada pagi hari, dan sepuluh kali pada sore hari, maka ia mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. At-Thabrani melalui dua isnad, keduanya baik. Lihat Majma’ Az-Zawaid, 10/120 dan Shahih At- Targhib wat Tarhib, 1/273.)

Redaksi shalawat:

Shalawat yang paling sempurna adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi  yang biasa disebut dengan shalawat ibrahimiyyah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (HR. Bukhari dalam Fathul Baari: 6/408.)

Sedangkan shalawat yang paling pendek, setidaknya yang menggabungkan antara shalawat dan salam seperti:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.” [*]

Sayyid Naquib al-Attas:

The modern era has witnessed three significant developments that have created unprecedented challenges to the Muslim community: (1) public education, mass media, and mass literacy, (2) the disintegration of Islamic polities, and (3) the formation of learning institutes based on Western concepts, values, and processes.

“The basic problems can be called “the loss of adab”

I (Agus Hasan Bashori) add the fourth one (4): “The spread of Shi’a in a Sunni Muslim country made the situation worse, and The loss of adab getting worse”.

Then the solution is civilized education or ta’dib so that people and leaders become civilized

We need the concept of ta’dib not ta’lim especially character education that is not clear in its direction and role models, because the Father of Character Education alone (Lawrence Kohlberg) committed suicide in 1987.

EMPAT TANTANGAN MUSLIM

Sayyid Naquib al-Attas:

“Era modern telah menyaksikan tiga perkembangan signifikan yang telah menciptakan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi komunitas Muslim: (1) pendidikan publik, media massa, dan literasi massa, (2) disintegrasi negara-negara Islam, dan (3) pembentukan lembaga pembelajaran berbasis pada konsep, nilai, dan proses Barat.

“Masalah dasar bisa disebut” hilangnya adab ”

Saya (Agus Hasan Bashori) menambahkan yang keempat (4): “Penyebaran Syiah di negara Muslim Sunni memperburuk situasi, dan Hilangnya adab semakin buruk”.

Maka solusinya adalah pendidikan yang beradab atau ta’dib sehingga orang dan pemimpin menjadi beradab.

Kita memerlukan konsep ta’dib bukan ta’lim apalagi pendidikan karakter yang tidak jelas arah dan panutannya, karena Bapak Pendidikan Karakter saja (Lawrence Kohlberg) bunuh diri pada tahun 1987.

أربعة تحديات للمسلمين:

سيد نقيب العطاس:

“شهد العصر الحديث ثلاثة تطورات مهمة خلقت تحديات غير مسبوقة للمجتمع الإسلامي: (1) التعليم العام ، وسائل الإعلام ، ومحو الأمية الجماهيرية ، (2) تفكك السياسات الإسلامية ، و (3) تشكيل معاهد تعليمية قائمة على على المفاهيم والقيم والعمليات الغربية.

“المشاكل الأساسية يمكن أن تسمى” فقدان الأدب ”

أضفت (Agus Hasan Bashori) الرابعة (4): “انتشار الشيعة في بلد مسلم سني زاد الوضع سوءًا، وفقدان الأدب يزداد سوءًا”.

ثم الحل هو التعليم الحضاري أو التأديب حتى يصبح الناس والقادة متحضرين (متأدبين)

نحتاج إلى التأديب وليس التعليم ، خاصة تعليم الشخصية الذي ليس واضحًا في اتجاهه ومثاله ، لأن أب تربية الشخصية بمفرده (لورنس كولبرج اليهودي) انتحر عام 1987.

Rendahnya Toleransi Intern Umat Islam

Agama memiliki kedudukan yang penting dalam pendidikan nasional. Dalam tujuan pendidikan nasional disebutkan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU 20/2003, pasal 3).

Selanjutnya tujuan pendidikan Nasional ini dijabarkan dalam pedoman pendidikan karakter. Dalam Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah (2009: 9-10) dinyatakan bahwa dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, dan (18) Tanggung Jawab.

Karakter nomor 3 adalah toleransi. Dalam prakteknya sikap toleransi pelajar dianggap masih rendah baik internal maupun antara umat beragama. Untuk rendahnya toleransi internal umat Islam sangat terlihat dengan maraknya pelarangan pengajian oleh umat Islam sendiri atau pelarangan pembangunan masjid oleh umat Islam sendiri, dengan alasan karena berbeda madzhab atau tradisi.

Hal ini ada yang mengaitkan dengan faktor teologis (karena tujuan pendidikan adalah untuk mencetak manusia yang bertakwa), faktor kurikuler (berkaitan dengan kurikulum, tidak mengenalkan agama lain) dan lain sebagainya.

Sebenarnya faktor terpenting dari rendahnya toleransi adalah al-Jahl (kebodohan) dan jauhnya kita dari para teladan yang sebenarnya dalam beragama, serta bisa jadi ada agenda yang dilancarkan oleh pihak lawan dalam rangka proxy war.

Oleh karena itulah melalui makalah ini saya ingin mengajak pembaca semua untuk belajar toleransi khususnya yang bersifat internal maupun ekternal kepada para salaf shalih, agar tidak menyalahkan Islam dan ulama Islam, dan agar tidak perlu belajar toleran kepada orang lain.

Di Antara Toleransi Adalah Menghargai Perbedaan MadzhabContinue reading

Atas karunia Allah, kami diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu dari banyak ulama baik dari dalam maupun luar negeri, baik dalam dirayah maupun riwayah. Adapun guru-guru kami dalam riwayat hadits, kitab-kitab aqidah Salaf dan fikih madzhab empat terutama madzhab Imam al-Syafi’i adalah:

  1. Syaikh Dr. Yusuf al-Kattani al-Maghribi (rahimahullah)
  2. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Zainal Abidin Rustum al-Maghribi (Syafahullah)
  3. Syaikh Dr. Muhammad ibn Nashir al-Ajmi al-Kuwaiti
  4. Syaikh Dr. Nizham Ya’qubi al-Abbasi al-Bahraini
  5. Syaikh Dr. Waleed ibn Idris al-Minissi Abu Khalid al-Sulami al-Iskandari
  6. Syaikh Abdul Haq al-Haqqani al-Ruhanji al-Akyabi

Dan kini bertambah satu lagi, yaitu:

  1. Syaikh Dr. Hamid ibn Ahmad ibn Akram al-Bukhari al-Madani, Abu Abdirrahim (lahir di Madinah 1387 H), yang leluhurnya berasal dari Fergana Uzbekistan. Beliau meriwayatkan dari hampir 300 ulama al-Haramain, Syam, Yaman, Najed, Mesir, Maghrib, India, Pakistan dan lainnya.

Seperti yang sudah kami beritakan bahwa guru kami Syaikh Hamid Akram Al Bukhori hafizhahullah memberikan ijazah untuk meriwayatkan kitab-kitab kuning madzhab Syafi’i kepada kami berempat (Saya, Ustadz Kholid Syamhudi, Ustadz Abu Qotadah, dan Ustadz Abu Bakar at-Tuway) di ruang VVIP. Setelah itu beliau memberikan kepada Para peserta Muktamar ke-1 PULDAPII, para kyai pengasuh pesantren anggota PULDAPII sebanyak 103 pesantren di gedung Hall Zaitun.

Continue reading