MISI KEMANUSIAAN KE ARAKAN (Rakhine State) BURMA Kampung Aung Mingalar

Melihat Kampung Aung Mingalar

Masih di hari Kamis, 3 Jumada Tsaniyah 1438 H/ 2 Maret 2017. Sore itu kami keliling kota Sittwe untuk melihat perkampungan muslim etnis Aung Mingalar yang katanya jauh lebih mengenaskan karena mereka terkurung di rumah dan kampung mereka. Mereka tidak bisa kemana-mana dan tidak berhak mendapatkan bantuan apapun, dan tidak bisa berhubungan dengan dunia luar. Rumah dan kampung mereka bagaikan penjara, lebih sempit dan tertutup dibanding dengan penjara kampung/IDP Rohingya.
Jumlah muslim Aung Mingalar menurut penuturan Bapak Hasyim dari Sittwe adalah sekitar 6000 jiwa, berada dalam 960 KK.
Kuartal (Quarter) Aung Mingalar hanyalah sebuah kuartal Rohingya di kota Sittwe. Pada bulan Juni 2012 sekitar 10.000 orang tinggal di sana namun kemudian orang-orang Rohingya melarikan diri ke kamp-kamp pengungsian dan beberapa melarikan diri ke Malaysia dan Thailand. Sampai sekarang sekitar 4.000 orang tetap tinggal. Sementara muslim Aung Mingalar tidak mau dipindah ke kamp-kamp Rohingya. Akibatnya mereka terkurung di dalam dan tidak mendapat bantuan, sebab bukan pengungsi.


Foto dari Hotel Kiss ke arah selatan. Ini jalan utama dari Bandara, menuju ke kampung Aung Mingalar.


Foto saya ceramah live TV al-Umm Streaming di hotel menunjuk ke arah kampong Aung Mingalar


Kami dengan diantar guide budhis mengendarai mobil bisa menelusuri kampung-kampung Aung Mingalar yang ada di sebelah selatan hotel Kiss. Kami belok kiri melihat rumah-rumah yang tutup, lengang milik muslim Aung Mingalar. Kami berjalan terus hingga bertemu kamp IDP Rohingya yang lain. Kami berhenti untuk membeli Ziti di pinggir jalan, dan terus melanjutkan berputar hingga kembali ke hotel.
Selain itu ada pintu masuk ke Quartal Aung Mingalar yang tidak bisa dimasuki oleh siapapun, yang dijaga dengan ketat oleh petugas dan ditutup dengan kawat berduri.

A barbed wire barricade blocks off one of the streets in Aung Mingalar.


Kawat Berduri menutup jalan menuju Kuartal Kampung Aung Mingalar tahun 2012


Ribuan Muslim diisolasi di Aung Mingalar sejak Juni 2012. Foto Agustus 2012.

Seorang muslim mengangkat kertas pertuliskan “Kami diblokir”, tahun 2012.


Aung Mingalar Tahun 2012


Aung Mingalar Tahun 2013


Aung mingalar tahun 2015


Tanggal 22 September 2015 ada sekelompok Budha ekstrim yang berusaha menyelinap masuk untuk menyatroni muslim di Kampung Aung Mingalar namun berhasil digagalkan oleh petugas.


Seorang anak laki-laki Muslim duduk di depan masjid setempat di kuartal Aung Mingalar di Sittwe, Myanmar barat.


Pada 3 Maret 2016 Seorang polisi terus berjaga-jaga di Aung Minglalar, Sittwe, di mana pos pemeriksaan keamanan dan perkemahan tetap ada, lebih dari tiga tahun setelah kerusuhan 2012 mengguncang kota.1
Wartawan Situs Irrawaddy mengunjungi Sittwe dengan harapan bisa mewawancarai para pemimpin agama. Namun pihak berwenang melarang pengunjung Arakan ke Aung Mingalar, kuartal Muslim – yang juga dikenal oleh penduduk setempat sebagai warga Ambala – serta pengunjung Muslim ke tempat tinggal Rakhine. Mereka mengatakan bahwa pembatasan ini dimaksudkan untuk mencegah pelanggaran hukum yang tidak diharapkan.

Seorang satpam bersenjata ditempatkan di depan masjid Ambala saat The Irrawaddy tiba.


Di tengah percakapan dengan sekelompok kecil penduduk setempat, seorang petugas polisi berseragam tiba dan mempertanyakan kehadiran pengunjung. ”Kami mengambil [tanggung jawab] untuk keamanan di sini dan kami tidak bisa membiarkan orang asing masuk ke dalam. Anda butuh izin resmi untuk mengunjungi kuartal ini, “katanya.

Dulu Pasar kotamadya Sittwe pernah menampung lebih dari 150 toko milik warga Muslim Aung Mingalar. Namun Hari ini semuanya ditutup.

Alhmet Ohsan, dari desa Sittwe Bu May, mengatakan kepada The Irrawaddy bahwa penduduk desa dilarang untuk berbelanja atau bekerja di pusat kota, maka mereka membeli komoditas dari Thae Chaung, yang pernah menjadi desa dan sekarang menjadi kamp pengungsi internal.

Dia memiliki warung pinggir jalan dan berpenghasilan maksimal 3.000 kyats (kurang dari US $ 2,50) per hari, jumlah yang tidak mencukupi untuk memberi makan delapan orang di keluarganya. Meski rumahnya masih berdiri, lebih dari 40 rumah di Bu May terbakar habis, menyebabkan banyak orang mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsi.

Pihak berwenang telah mengizinkan beberapa orang Arakan untuk menjual barang di kamp-kamp, ​​tapi Muslim Rohingya tidak diberi hak yang sama, dan mereka secara mutlak dilarang pergi.

Mereka yang dievakuasi menerima makanan dan pakaian dari kelompok bantuan, klaim Alhmet, namun mereka yang tinggal di desa tersebut tidak memiliki akses terhadap bantuan apapun.2

Alhmet yang memilih tetap tinggal di Bu May tidak menyesal, sementara yang lain sekarang merasa terjebak di sekitar mereka. “Kami merasa seperti berada di bawah tahanan rumah,” kata Muhamat Husein, seorang administrator lingkungan Muslim di Ambala.
Demikian sedikit informasi tentang muslim Aung Mingalar. Selebihnya adalah foto-foto tentang Aung Mingalar:

 

 

 

Aung Mingalar tahun 2016


Aung Mingalar tahun 2016


Aung Mingalar tahun 2016
Adapun Aung Mingalar tahun 2017 saat mobil kami lewat di depannya maka kami berhasil memotret sebagai berikut:


Masih tetap menegangkan. Apalagi sekarang setelah genosida 25 Agustus 2017.

Insyaallah akan kami lanjutkan dengan laporan perjalanan kami ke Kota Mrauk-U. [*]

1 https://www.irrawaddy.com/news/burma/sittwe-a-city-divided.html

2 Ibid. lihat juga http://www.middleeasteye.net/essays/desperate-plight-myanmars-muslim-rohingya-1607894390.

(Visited 8 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *