MENGHORMAT GURU

Bulan Syawal 1438 H/ Juli 2017 adalah awal tahun ajaran baru, dimana para murid dan para santri baru mulai masuk jenjang pendidikan yang baru. Sementara salah satu faktor keberhasilan dalam mencari ilmu adalah berbekal akhlak yang mulia kepada semua orang yang terkait dan berada di sekitarnya. Oleh karena itu dalam kesempatan yang baik ini saya akan membantu para santri untuk mengukir kesuksesannya dengan menyuguhkan makalah tentang “menghormat guru”.

Guru adalah pelita manusia dan tiang negara. Para santri wajib mendoakan untuk mereka, memuji dan menghormati mereka karena jerih payah mereka dalam mendidik para santri dan murid. Tugas guru adalah agung, karena agungnya risalah yang mereka bawa, yaitu menyampaikan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya -Shalallahu alaihi wa salam-.

Guru adalah orang-orang yang mengentaskan manusia dari kebodohan menuju ilmu. Khalifah Umar -Radiallahuanhu- berkata:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، وَتَعَلَّمُوا لِلْعِلْمِ السَّكِينَةَ وَالْحُلْمَ، وَتَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ وَلِيَتَوَاضَعَ لَكُمْ مَنْ تُعَلِّمُونَهُ وَلَا تَكُونُوا جَبَابِرَةَ الْعُلَمَاءِ، فَلَا يَقُومُ عِلْمُكُمْ بِجَهْلِكُمْ

“Belajarlah ilmu, dan belajarlah untuk ilmu itu sikap ketenangan dan kewibawaan, dan berendah hatilah kepada orang yang kamu belajar kepadanya dan kepada orang yang engkau mengajarinya, dan janganlah menjadi ulama yang sombong (angkuh).” (dengan sanad hasan, HR. Al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, 1/478; al-Amali al-Jurjani dalam Tartib al-Aamali al-Khamsiyyah, 1/61, no. 214; Ibn Abdil Barr dalam Jami’ al-Ilm wa Fadhlih. Abul Asybal al-Zuhari: “Shahih secara mauquf dari Umar, Tahqiq Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlihi, no. 893, dan diriwayatkan secara marfu’, 2/501, no. 803, dhaif jiddan[1]).

Rasulullah -Sholallahu alaihi wa salam- bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dari kami dan tidak menyayangi yang muda dari kami.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad, 2329, dari Ibn Abbas; Abu Bakar al-Kharaithi dalam Makarim al-Akhlaq wa Ma’aliha wa Mahmud Tharaiqiha, dari Abu Hurairah, no. 351, shahih)

Riwayat Tirmidzi dari Amr ibn Syuaib dari ayahnya (Muhammad) dari kakeknya (Abdullah ibn Amr ibn al-Ash):

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dari kami dan tidak mengenali kemuliaan yang tua dari kami.”

Dalam jalur lain:

وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا

“Dan yang tidak mengenali hak orang yang tua dari kami.” (Sunan al-Turmudzi, 4/322, no. 1920, shahaih)

Dalam riwayat Imam Hakim:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

“Bukan termasuk dari kami orang yang tidak mengagungkan orang tua dari kami, dan tidak menyayangi yang muda dari kami dan yang tidak mengenal hak orang alim dari kami.” (hadits Hasan dari Ubadah ibn Shamit, Silsilah al-Shahihah, 5443, lihat Juga al-Thabrani dalam Makarim al-Akhlaq, 147, al-Syasyi dalam al-Musnad, 3/184, 1273.)

Apalagi kalau guru itu sudah tua dan beruban, atau guru itu hafal al-Qur`an, sebab Nabi-Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“Termasuk mengagungkan Allah adalah memuliakan muslim yang sudah beruban dan pembawa al-Qur`an, tidak berlebihan di dalamnya dan tidak mengacuhkannya, dan memuliakan penguasa/pejabat yang adil.” (HR. Abu Daud dari Abu Musa al-Asy’ar, 4843, Hasan).

Nabi i telah menjelaskan kedudukan dan keutamaan para guru yang mengajarkan agama Islam dan ilmu-ilmu yang benar dalam banyak sabdanya, diantaranya:

إِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْبَحْرِ

“Sesungguhnya orang alim itu dimintakan ampunan oleh penduduk yang ada di langit dan penduduk yang ada di bumi hingga ikan-ikan yang ada di laut.” (HR. Ibn Majah, 239. Shahih)

Hal ini juga dikatakan oleh Ibnu Abbas:

إِنَّ مُعَلِّمَ الْخَيْرِ تَسْتَغْفِرُ لَهُ دَوَابُّ الأَرْضِ، حَتَّى الْحُوتِ فِي الْبَحْرِ

“Sunguh, guru yang mengajarkan kebaikan itu dimintakan ampunan oleh hewan-hewan yang merayab di bumi hingga ikan yang ada di lautan.” (Ibn Bisyran al-Baghdadi, al-Amali, no. 1013.)

Termasuk menghormat guru adalah memandang kepada gurunya dengan pandangan hormat dan memejamkan pandangannya dari kekurangan gurunya. Hal ini membuat santri lebih mampu menyerap ilmu dari gurunya dan mendengarkan apa yang diucapkannya.

Imam Nawawi berkata: sebagian ulama Salaf jika pergi kepada gurunya ia bersedekah dengan sesuatu dan berdoa:

اللهم استر عيب معلمي عني، ولا تذهب ببركة علمه مني

“Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan jangan engkau hilangkan keberkahan ilmunya dariku.”

Imam Syafi’I berkata: “Saya membuka halaman kitab di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan, karena segan kepada beliau dan khawatir beliau mendengar suaranya.”

Imam al-Rabi’ berkata: “Saya tidak berani minum air sementara Imam Syafi’i melihat kepada saya, karena wibawa beliau.”

Termasuk menghormat guru adalah duduk yang baik, menunjukkan keseriusan dan perhatiannya kepada ilmu, bukan duduk santai sambil bersandar. Hamdan al-Ashfahani berkata: Saya ada di sisi Syuraik ibn Abdillah (al-Nakha’i al-Kufi, wafat tahun 177 H), lalu datanglah sebagian putra Khalifah al-Mahdi (Muhammad ibn Abdillah al-Manshur ibn Muhammad ibn Ali al-Abbasi, dari Khalifah Bani Abbasiyah, wafat tahun 169 H). Lalu putra Khalifah ini bersandar di tembok dan bertanya tentang hadits. Imam Syuraik tidak menoleh kepadanya, dan tetap menghadapkan wajahnya kepada kami. Kemudian dia mengulangi bertanya, dan Syuraik tetap tidak mempedulikannya, maka dia berkata: ‘Apakah kamu merendahkan putra-putra Khalifah?’ Maka beliau menjawab: ‘Tidak, akan tetapi ilmu itu lebih agung di sisi Allah daripada saya sia-siakan.’ Kemudian imam Syuraikh bersimpuh, duduk di atas kedua lutunya lalu berkata: “Beginilah ilmunya dicari! (bukan dengan bersandar santai).”

Termasuk menghormat guru dan mengenali hak guru adalah senantiasa mendoakan guru, walau sudah lama pisah. Imam Abu Yusuf berkata tentang gurunya yaitu Imam Abu Hanifah:

مَا صَلَّيْتُ اِلَّا دَعَوْتُ لِلْاِمَامِ اَبِي حَنِيْفَةَ مَعَ وَالِدِي.

“Saya tidak pernah shalat kecuali saya mendoakan untuk Imam Abu Hanifah bersama dengan ayah saya.”

Termasuk memuliakan guru dan mengakui haknya adalah melayaninya, meskipun guru itu hanya mengajarkan sedikit ilmu. Imam Syu’bah ibn al-Hajjaj berkata:

مَنْ عَلَّمَنِيْ حَرْفاً كُنْتُ لَهُ عَبْدًا

“Barangsiapa mengajariku satu huruf maka aku menjadi pelayannya.”

Dalam riwayat lain beliau berkata:

مَا سَمِعْتُ مِنْ أَحَدٍ حَدِيْثاً إِلَّا كُنْتُ لَهُ عَبْدا ً

“Tidaklah aku mendengar dari seseorang satu hadits melainkan aku menjadi pelayan baginya.”

Sahabat Ibnu Abbas d pergi belajar ke rumah guru-gurunya dari para sahabat Nabi yang senior. Ibnu Abbas mendatangi rumah Abu Rafi’ Maula Rasulillah i sambil membawa alat tulis dan papan-papan untuk menulis, menanyakan kepada beliau apa yang dilakukan oleh Rasul i di hari ini dan itu. Lalu ibnu Abbas mencatat apa yang diceritakannya.

Ibnu Abbas pergi ke rumah siapa saja dari para sahabat Nabi yang memiliki hadits. Dia mendatangi rumahnya di waktu siang saat gurunya istirahat siang, maka dia berbantal surbannya di dekat pintunya. Ibnu Abbas menghormati dan memuliakan beliau, dan tidak berani mengetuk pintunya supaya tidak mengganggunya. Ia rela wajahnya diterpa debu dan pasir yang dihembuskan angin, hingga gurunya bangun lalu keluar dan melihat ibnu Abbas. Maka gurunya itu berkata: “Wahai putra Paman Rasulullah i apa yang membuatmu datang kemari? Maka tidak engkau utus saja seseorang untuk memanggilku? Maka ibnu Abbas menjawab:

لَا، أَنْتَ أَحَقُّ أَنْ أَسْعَى إِلَيْكَ

“Tidak, engkau lebih berhak aku datangi.”

Maka ibnu Abbas pun bertanya tentang hadits dan belajar darinya.

 

Ibnu Abbas belajar kepada Zaid ibn Tsabit al-Anshari t, seorang sahabat Nabi yang hafal al-Qur`an dan mengkhatamkan 2 kali khataman di hadapan Rasul i di tahun wafat beliau. Apabila gurunya hendak naik kendaraan maka Ibn Abbas memegangi tali kekang untanya untuk menyiapkan kendaraannya. Saat itu Zaid ibn Tsabit berkata: “Jangan engkau lakukan wahai putra paman Rasulullah i?” Maka ibnu Abbas menjawab:

هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِعُلَمَائِنَا

“Demikianlah kami diperintahkan untuk berbuat kepada ulama kami.”

Maka Zaid berkata: “Tunjukkan padaku tanganmu!” Maka Ibn Abbas mengeluarkan tangannya, lalu Zaid langsung mencium tangan Ibn Abbas dan mengatakan:

هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِأَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Demikianlah kami diperintah untuk berbuat kepada keluarga Nabi i.” (Abu Bakar al-Dainuri al-Maliki, al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm, 4/146, tahqiq: Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman; dan lihat al-Syajri dalam Tartib Al-Amali al-Khamisiyyah, 1/94).

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, saat ditanya, “Guru saya tidak mau direkam suaranya, sebagai bentuk wira’i beliau, maka apakah saya boleh merekamnya tanpa sepengetahuannya dan seizinnya?” Syaikh Fauzan menjawab: “Tidak, tidak boleh hal itu kamu lakukan, selagi beliau tidak memperbolehkan merekam suaranya, kecuali dengan sepengetahuan dan seizinnya.”

Inilah sebagian adab sopan santun yang harus kita lakukan kepada para guru kita.

Semoga sedikit penjelasan, dalil dan contoh amaliyah dari salaf shalih ini bisa menjadi cerminan bagi para santri dalam bersikap kepada guru di dalam pondok pesantren atau di madrasah/sekolah. Semoga Allah memberi taufik kepada semua santri sehingga mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan menjadi generasi penerus Ahlussunnah wal Jamaah. Aamiin. [*]

Maraji’:

Dr. Ahmad ibn Abdillah al-Batili, Ihtiram al-Mu’allim (makalah)

Al-Hafizh Ibn Abdil Bar, Jami’ Bayan al ‘Ilmi wa Fadhlih

Abu al-Asybal al-Zuhairi, Tahqiq Jami’ Bayan al ‘Ilmi wa Fadhlih

Jamaluddin al-Qasimi, Adab al-Daris wa al-Mudarris

Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab

Abu Bakar al-Dainuri al-Maliki, al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm

al-Syajri dalam Tartib Al-Amali al-Khamisiyyah

Ibn Bisyran al-Baghdadi, al-Amali

Ibnu Majah, al-Sunan

Al-Turmudzi, al-Sunan

Abu Daud, al-Sunan

Al-Kharaithi, Makarim al-Akhlak

http://www.alserdaab.org/articles.aspx?selected_article_no=320

http://islamstory.com/detailes.php?module=artical&slug=زيد_بن_ثابت

http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2032

 

__________________

  1. Syaikh Dr. Ahmad ibn Abdillah al-Batili dalam makalahnya menggunakan riwayat yang marfu’ ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *