LAPORAN LANGSUNG DARI ARAKAN (RAKHINE MYANMAR)

Agus Hasan Bashori

Pada tanggal 28 Desember 2016 saudara Abu Azhar sudah membicarakan kordinasi soal bantuan ke Arakan. Tanggal 15 Januari 2017, Abu Azhar dari MPU Muslim Peduli Umat dan kawan-kawan Karanganyar mengundang saya untuk takbilgh Akbar dengan tema “Selamatkan Rohingya Sebelum Punah”. Alhamdulillah, dengan izin Allah, 7 hari setelah itu sauadar kami Hendy Abu Azhar dari MPU Karanganyar beserta Gunawan dan Agus Priyanto Marno diberi kesempatan oleh Allah, melalui pintu kerjasama antara Republik Indonesia dan Myanmar, untuk menyampaikan langsung bantuan kemanusiaan ke Arakan (Rakhine).

Berita kesepakatan RI dan Myanmar soal bantuan kemanusian di Rakhine dimuat di Koran Myanmar


Ahad, 22 Januari 2017, rombongan MPU sudah berada di Myanmar. Hari itu pula mereka akan ke camp untuk pengepakan bantuan yang akan dibagikan ke muslim Rohingnya.

Tanggal 23, Rombongan sudah berada di Arakan yang kini oleh pemerintah Myanmar diubah menjadi Rakhine. Di hari kedua itu, saat saya Tanya tentang bangunan-bangunan masjid, Abu Azhar menjawab: “Masjid hampir-hampir tadak ada (tidak terlihat). Adzan saja sampai sekarang belum terdengar Ustadz!”

Abu Azhar menceritakan bahwa Pembagaian bantuan dilakukan secara terbuka. Sudah ada Team lokal dari Rakhine. Berikut adalah di kampung di Sittwe.

Menurut Abu Azhar, hanya misi kemanusiaan Dari indonesia yang bisa masuk. Dan PULDAPII disarankan untuk mengutamakan Sarana untuk rehabilitasi. Kedepan Insyaallah akan ada upaya pemberdayaan kehidupan mereka sehingga dapat mandiri. Karena sekarang sekolah tidak boleh, dan sholat mereka tidak faham. Tetapi program keagamaan sangat dijaga ketat sama aparat.

Abu Azhar yang berada di desa Bu May Ohn Daw itu saya tanya tentang kesan-kesannya setelah melihat sendiri sebagian suasana di Sittwe (dulunya namanya Akyab ibukota Kesultanan Arakan oleh Bangsa Muslim Rohingya selama 3,5 abad)? “Apakah yang saya sampaikan di Karang Anyar tentang kondisi Rohingya itu betul?” Dia menjawab: “Ya, benar ustadz.”

Suasana pembagian bantuan

Wajib lapor ke penjaga Camp yang bersenjata

Relawan Indonesia ini bisa masuk kesana karena ada guide Rakhine yang menguruskan Ijin permit di Rakhine. Menjelang maghrib di Malang, Abu Azhar melanjutkan laporannya: “Ustadz, yang dibutuhkan sanitasi, karena mereka tidak punta wc yang layak. Lalu Di camp ada dua jenis manusia:

1.  Yang terdata resmi, mereka mendapat bantuan makan minum tapi tidak cukup.

2. Yang tidak terdata oleh pemerintah, mereka tidak mendapatkan apa-apa.”

Lalu Abu Azhar mengirim video yang dia ambil untuk menunjukkan kondisi mengenaskan dan kehidupan yang tidak layak bagi manusia Rohingya di sana.

Saya jawab: “Itulah kezhaliman di depan mata itu, nanti jangan-jangan yang terdata itu syaratnya harus ngaku sebagai Bengali, misalkan bukan Rohingya. الله المستعان.”

Kemudian saya memintanya untuk mencari tahu kenapa tidak terdata? Apa Syarat terdaftar? Apakah harus Ngaku Bengali? Saya tekankan bahwa Info ini penting sekali.

Kemudian Abu Azhar melanjutkan: “Yang tidak terdata dari satu sisi bisa belajar mengaji karena tidak ada aturan yang ketat, tapi tidak diurusi. Di camp yang kita datangi ada 8000 KK yang tidak terdaftar. Jika satu kk ada 4 berarti 24.000 jiwa, uang kita tidak cukup Ustadz. Makanya kita berikan di desa yang KK-nya sedikit populasinya.”

Anak manusia yang tidak diberi makan, namun mereka bisa mengaji al-Qur`an.

Abu Azhar kemudian menyarankan agar kami melanjutkan misi di sana, dan akan dihubungkan dengan guide yang merupakan pegawai muslim hand.

Abu Azhar merasa bahwa dirinya aman tidak ada yang ngawasi sebab sudah ada ijin permitnya selama 3 hari. Begitu pula dengan jumlah uang bantuan, tidak dibatasi. Selama di Sittwe hotel, makan, minum, dan mobil sudah ada yang ngurus. “Tanpa guide kita tidak bisa ke lokasi dan bingung bawanya dan tidak tahu di mana belinya barang,” tutur Abu Azhar.

Selasa, 24 Januari, saya tanya: Di daerah yang tidak terdaftar apa kita bebas keliling dan membagi bantuan uang? Dia jawab: “PKPU bikin sekolahan. PKPU bantuannya bersifat umum, moslim dan budha semua dibantu karena ikut KBRI.”

Lalu Abu Azhar mengirim gambar hasil program shelter dari moslem hand Prancis:

Pukul 11:16 Abu Azhar menulis: “Muslim seakan tidak punya harga diri. Baru saja ada kejadian tabrakan antar Rohingnya, polisi datang bentak-bentak. Miris ustadz, hidup mereka ditindas. Allahu Akbar, mau nangis uatadz.”

Setelah itu dikirim foto DONASI uuntuk Rohingnya:

Setelas Ashar saya membalas: “Ya Allah, rahmatilah umat Nabi Muhammad i di Arakan.” Lalu saya katakan: “Ya inilah suasana penjajahan di sana, mirip dengan Indonesia saat dijajah Belanda, dan berbeda dengan Indonesia saat sudah merdeka. Muslim Arakan dibodohkan, dijajah, diperbudak, diteroris teroriskan, dibakar, dibunuh, diusir, dirampas, diperkosa, lalu diceritakan sebagai yang buruk dan jahat, sementara di antara kita ada yang mengamini berita tersebut.”

Abu Azhar melanjutkan kesan-kesannya dari apa yang dia saksikan di Arakan: “Na’ am Ustadz,

Militer dan Budhis tidak menghargai kaum muslim Rohingnya sama sekali. Oleh karena itu Muslim Rohingnya butuh edukasi. Rohingnya sebuah etnis atau kaum yang tertindas, mereka hidup di daerah yang pintu masuknya dijaga oleh militer, tidak boleh aktifitas kecuali dalam pagar tersebut. Di setiap pintu ada penjaga dari militer bahkan di pasar juga ditempatkan militer. Rohingnya tidak boleh pandai, tidak boleh maju, tidak boleh bangkit karena sebelum pecah konflik Rohingnya adalah etnis yang menguasai perdangan karena mereka tidak boleh jadi PNS , tdk boleh jadi militer. Setelah mereka berkembang di bidang ekonomi, akhirnya Budhis khawatir Rohingnya jadi kekuatan yang besar yang bisa menggeser mereka, maka diusirlah mereka dari kota dan ditempatkan di barak-barak yang jauh dari layak. Wallohu a’ lam bishshawab.”

Tidak lama kemudian Abu Azhar memberikan kalimat tambahan: “Ada yang bisa bahasa Arab dari etnis Rohingnya akan tetapi jika kita didik maka dikhawatirkan akan diburu militer bahkan bisa jadi nyawa melayang. Wallahu a’ lam.”

Saya jawab bahwa alasan ketakutakan itu, sudah dinyatakan baik oleh umat Islam maupun oleh Budhist. Inilah pentingnya kita terus mengungkap fakta melalui buku, seminar, tabligh akbar, konferensi dan lobi-lobi, termasuk membentuk tim pencari fakta resmi oleh MUI atau ORMAS Islam yang besar yang memperjuangkan ukhuwah.

Saat saya tanya: “ Apakah mungkin membangun masjid atau sekolah?” Abu Azhar menjawab: “Muslim Aid , Muslim Hand, OIC, dan Malaysia dananya gede-gede bisa bangun Rohingnya sampai mapan, tapi tidak boleh sama pemerintah Myanmar.”

Lalu saya menelpon seorang ulama di Yangon ibu kota Myanmar, maka jawabannya lebih dari itu bahwa membangun masjid bukan hanya dilarang di dalam Arakan (Rakhine) tetapi di seluruh Burma atau Myanmar. Paling yang boleh adalah renovasi atau pelebaran. Kemudian saya titip pesan kepada relawan Abu Azhar agar disampaikan kepada etnis Rohingya, “Yakinlah akan ada pertolongan dari Allah. Jangan mikir bagaimana caranya. Serahkan itu kepada Allah. Yang penting jaga Islam dan bawa sampai mati.”

Saat saya tanya soal kemungkinan mereka mengakses komunisai semisal Whatsapp atau internet. Dia menjawab: “Justru di sini internetnya sinyalnya kuat ustadz, jadi sebenarnya bisa kita komunikasi dengan mereka. Masalahnya, ya fasilitas dan security.”

Perlu diketahui, bahwa muslim yang dikunjungi oleh relawan Indonesia ini adalah korban kerusuhan 2013. Adapun korban operasi militer Oktober dan Nopember 2016 maka belum dibuka. Saya coba cari tahu: Apakah mereka mendengar pembunuhan 2016? Atau berita tertutup sama sekali dari mereka? Dijawab oleh Abu Azhar: “Ya Mereka tahu.” Abu Azhar melanjutkan: “Hp dan Tv ada. Yang tidak ada listriknya. Maka termasuk program mendesak adalah solar shell.”

Setelah maghrib pk. 18.03 Abu Azhar mengirimkan foto seorang ustadz muda dan memperkenalkan: “Dia pengajar hafalan Qur’ an. Dia etnis Rohingnya. Rencananya tanggal 25 Januari besuk saya menengok Ma’ had Tahfizhul Qur’ an, yang Ustadznya insyaallah bisa bahasa Arab.”

Tanggal 25 Januari, Abu Azhar menyimpulkan: “Rohingnya ditekan dan ditindas karena Budhis khawatir Rohingnya seperti Indonesia yang dulunya berisi kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, akan tetapi sekarang Indonesia menjadi mayoritas muslim. Maka jalan mereka, Myanmar pemerintahnya menekan supaya muslim bodoh, tidak maju, terbelakang, dan lemah, dll. Maka sekedar saran bagaimana agar bantuan itu selain fisik maka pendidikan harus kita mulai. Wallohu a’ lam”.

Kemudian Abu Azhar menyatakan kesiapannya untuk mengantar saya ke Rohingnya.

Para pembaca yang mulia, banyak program yang bisa kita kerjakan untuk meringankan beban penderitaan saudara kita Muslim Rohingya di tanah kelahiran mereka Arakan. Bahkan kami berazam segera akan kesana, mudah-mudahan kita bisa live streaming via Radio Al-Umm 102,5 FM atau streaming di www.binamasyarakat.com atau android….

Bagi para pembaca yang ingin menitipkan donasinya silakan kirimkan langsung ke YBM PEDULI…

Donasi Anda akan sampai langsung ke sasaran, biidznillah, melalui kami dan tim-tim asal Myanmar yang siap:

  1. Membelanjakan kebutuhan
  2. Mengemasi dan menata di dalam gudang
  3. Mengangkut dengan mobil
  4. Menuju sasaran dengan system kupon.

Demikian. Semoga infak dan amal kita diterima oleh Allah dan menjadi kebaikan muslim Indonesia kepada tetanggnya muslim Rohingya yang tertindas yang kehilangan hak-haknya sebagai manusia. [*]

(Visited 12 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.