KIAT MENGHILANGKAN PENYAKIT HATI DAN MENJAGA HATI

A. Hikmah Penciptaan Hati

Hati diciptakan hanya untuk mencintai Allah , inilah fithrah yang telah Allah tetapkan dalam diri para hamba-Nya. Sebagaimana sabda Nabi : “Setiap bayi dilahirkan atas dasar fithrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, atau Nashrani atau Majusi, sebagaimana hewan ternak melahirkan anaknya secara utuh, tidaklah kamu mendapatkan ada anggotanya yang terpotong.” Kemudian Abu Hurairah berkata: “ bacalah (ayat ini) jika kamu mau [“(Tetaplah atas)fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu, tidak ada perubahan pada fithrah Allah]. (HR. Bukhari Muslim)

Allah menciptakan manusia hanya untuk mencintai-Nya semata dan mengagungkan-Nya semata dan beribadah kepada-Nya semata. Apabila fithrah ini terpelihara tanpa ada kerusakan maka hati pasti mengenal Allah dan mencintai-Nya semata. Akan tetapi fithrah itu akan rusak manakala hatinya sakit. Inilah perubahan fithrah yang sering terjadi karena ulah orangtuanya; lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang terdekat.

Dengan demikian bisa kita ketahui bahwa ukuran hati itu hidup atau mati, sehat atau sakit adalah jenis cinta dan benci yang bertahta di hati. Jika cintanya murni kepada dan karena Allah, dan bencinya murni karena Allah maka hati itu adalah hati yang hidup dan sehat. Jika tidak demikian maka ia adalah hati yang sakit, bahkan bisa jadi hati yang telah mati.

B. Hati Yang Sakit

Telah dimaklumi bahwa racun hati paling ganas adalah (1) Fudhul Kalam (kelebihan ucapan), (2) fudhul al-Tha’am (kelebihan makanan dan minuman) (3) Fudhul al-Nazhar (kelebihan pandangan), (4) Fudhul al-Mukhalathah (kelebihan pergaulan dengan manusia), (5) Fudhul al-Naum (kelebihan tidur) dan (6) Thulu al-Amal (tingginya angan-angan duniawi)

Hati yang telah teracuni akan menderita sakit, dari penyakit yang paling kecil hingga penyakit komplikasi yang kronis.

Sakit adalah lebih rendah dari mati. Hati menjadi mati karena jahl (kebodohan) yang mutlak, dan menjadi sakit karena adanya satu macam jahl. Hidup dan matinya hati serta sakit dan sehatnya adalah lebih agung daripada hidupnya badan, mati, sakit dan sembuhnya. Karena itu jika hati telah sakit, lalu dilewati oleh syubhat atau syahwat maka sakitnya pasti semakin parah. Apabila ia mendapatkan hikmah dan mau’izhah maka hal ini yang akan menjadi penawar dan obat kesembuhan bagi hati. Allah berfirman:

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ

agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat,” (QS. Al-Hajj: 53)

Karena hal tersebut menimbulkan adanya syubhat dalam diri mereka. Hati mereka keras karena kering dan lemah karena penyakit, sehingga apa yang dilontarkan setan menjadi fitnah bagi mereka.

Begitu pula firman Allah :

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik,” (QS. Al-Ahzab: 32)

Ini adalah penyakit syahwat, hatinya sakit dan lemah mudah condong kepada syahwat, tidak mampu menahan beban atau membendungnya sebagaimana hati yang sehat.


C. Kiat Menghilangkan Penyakit Hati

Penyakit hati sangat banyak, antara lain: Hiqd (dengki) dan hasad (iri), bakhil (kikir) dan syuhh (sangat kikir), riya’ dan sum’ah (suka dipuji-puji karena itu ia memperlihatkan atau memperdengarkan amal), kibr (sombong) dan ujub (bangga diri), ghurur (tertipu dengan dirinya sendiri) dan ghaflah (lalai).

Secara umum obat dari penyakit di atas adalah melalui tiga tahapan. Ilmu, keyakinan dan amal. Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i yang menjadi al-Furqan (pembeda) antara yang haq dan yang bathil. Kemudian ilmu ini diimani dan diyakini tanpa ragu. Sebagaimana keyakinannya bahwa api adalah panas dan menghanguskan orang yang mencebur ke dalamnya, dan air sumber adalah segar, menyegarkan serta membersihkan diri dari kotoran.

Karena itulah Allah di dalam al-Qur`an dan Rasul-Nya di dalam haditsnya selalu menjelaskan dua jalan yang saling berhadap-hadapan ini. Jalan kebenaran dan jalan kebathilan dengan sangat gamblang penuh dengan dalil yang sangat memuaskan. Karena jiwa manusia selalu mengikuti keyakinannya untuk mendapatkan apa yang dicintainya yaitu kebahagiaan dan keselamatan.

Sedangkan obat secara khusus adalah sebagai berikut:

  1. Mengobati Penyakit Hasad

Penyakit Hasad (iri) dan sebangsanya seperti ghill (benci) hiqd (dengki), dan ghisy (curang) terhadap manusia dapat diobati dengan cara mengimani bahwa sifat-sifat dan perbuatan tersebut sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah adalah akhlak-akhlak yang rendah dan perilaku orang-orang yang hina, mendatangkan murka Allah dan azdabnya, mengurangi iman dan menghilangkan ketulusan dari hati yang merupakan pondasi segala kebaikan. Hasad adalah akhlaknya orang-orang jahat yang telah dihancurkan oleh Allah seperti kaum Nabi Syu’eib dan lain-lainnya. Hasad adalah perbuatan Baghyi (zhalim) yang akibatnya akan menimpa pelakukanya sendiri. Disisi lain Allah telah mengabarkan bahwa nushh (bersikap tulus) dan hati yang bersih adalah akhlak para Nabi dan orang-orang pilihan, dan bahwasannya agama ini adalah nashihah (sikap tulus) yang sempurna. Sesungguhnya orang-orang mukmin pilihan adalah orang-orang yang selalu berdo’a dan berusaha untuk melenyapkan penyakit hasad ini dari hatinya, mereka berdo’a :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ 

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hasyr: 10)

Barangsiapa ditolong oleh Allah untuk menggabungkan rasa mahabbah kepada Allah dan nush (ingin kebaikan) bagi para hamba-Nya maka ia telah meraup semua kebaikan. Imam Abu Hatim (354 H) mengatakan: “orang yang berakal wajib menghindari hasad dalam keadaan bagaimanapun, karena perkara terendah yang dikandung oleh hasad adalah tidak rela terhadap putusan dan tiqdir Allah dan menginginkan apa yang menjadi lawan dari hukum Allah terhadap hamba-Nya. Kemudian tergulungnya hati pada keinginan hilangnya nikmat Allah dari seorang muslim. Orang yang hasad jiwanya tidak akan tentram dan hatinya tidak akan tenang dan badannya tidak akan diam kecuali ketika melihat lenyapnya nikmat dari saudaranya.”

Hasad melahirkan hiqd dan hiqd adalah sumber kejahatan. Barangsiapa menyimpannya di dalam hati, maka ia akan menumbuhkan satu tumbuhan yang rasanya adalah pahit, perkembangannya adalah kejengkelan dan buahnya adalah penyesalan.

Hasad melahirkan nakad (kesengsaraan), tidakkah kamu perhatikan Iblis? Ia hasad kepada Adam , dan hasadnya itu membuatnya terlempar dari syurga dan terlaknat hingga hari kiamat.

Syaikh Jamaluddin al-Qasimi mengutip dari Imam al-Ghazali mengatakan: “Hasad adalah penyakit hati yang besar, tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal. Ilmu yang manjur untuk mengobati hasad adalah mengetahui dan meyakini bahwa hasad hanya merusak dunia dan agamanya. Sedangkan orang yang diiri justru akan menuai keuntungan untuk dunia dan agamanya.

Sedangkan amal yang paling bermanfaat adalah memaksa diri untuk melakukan kebalikan dari yang diingini oleh hasad yaitu tawadhdhu kepada orang yang diiri, memujinya dan menampakkan rasa senang dengan nikmat yang ada padanya. Ini pahit tetapi manjur dan mujarab.

  1. Mengobati Penyakit Bukhl

Orang yang memiliki sifat kikir disebut bakhil, apabila ia sangat kikir maka disebut syahih, apabila ia mencela orang-orang yang dermawan, maka disebut laim dan apabila ia membela orang-orang yang bakhil maka disebut mula’im.

Kikir adalah penyakit yang sangat berbahaya bagi pribadi dan masyarakat. Buruknya kikir ini telah diketahui oleh semua orang termasuk oleh orang kafir. Suatu hari Kisra Persia bertanya: “Apakah yang paling berbahnya bagi anak Adam? Mereka menjawab: “Faqr (kemiskinan)”. Raja berkata: “Syuhh (kikir) itu lebih berbahaya, karena orang yang faqir apabila ia mendapatkan ia merasa cukup, sedangkan syahih ia tidak merasa cukup meskipun mendapatkan.”

Perlu diketahui bahwa bakhil itu disebabkan oleh cinta harta, sedangkan cinta harta itu sebabnya ada dua: (1) hubb al-syahwat (mencintai kesenangan-kesenangan) yang tidak bisa dicapai kecuali dengan harta, yang disertai dengan angan-angan yang panjang. (2) mencintai harta itu sendiri, dan menikmati wujudnya, meskipun telah lebih dari hajatnya seumur hidup.

Telah kita terangkan bahwa obat bagi setiap penyakit adalah dengan melawan sebab-sebabnya. Maka hubb al-syahwat diobati dengan qana’ah (merasa cukup_ dengan yang sedikit dan dengan kesabaran. Sedangkan Thulu al-amal (angan-angan yang panjang) diobati dengan banyak mengingat mati, memperhatikan kematian orang-orang yang dijamannya yang telah susah payah mengumpulkan harta, ternyata hartanya terbuang sia-sia setelah kepergiannya sementara condongnya hati kepada anak di hati dengan keyakinan bahwa Tuhan-Nya menciptakannya bersama-sama dengan rizkinya. Berapa banyak orang yang tidak mendapat warisan kondisi ekonominya lebih baik daripada yang mendapatkannya.

Hatinya juga diobati dengan banyak merenung tentang berita-berita yang mencela sifat kikir dan memuji sifat sakha’ (dermawan), juga mengingat ancaman-ancaman Allah yang disediakan bagi orang-orang yang bakhil.

Termasuk obat yang sangat bermanfaat adalah banyak merenungkan kondisi orang-orang yang bakhil dan kebencian orang-orang terhadapnya karena memiliki sifat yang nista. Juga dengan memikirkan maksud harta dan tujuan ia diciptakan, maka sewajarnya ia tidak menyimpan kecuali sebatas kebutuhannya, sedang sisanya ditabungkan untuk kepentingannya di akhirat.

Ini adalah obat dari segi ma’rifat dan ilmu, apabila ia telah mengetahui dengan cahaya hati bahwa berinfaq adalah lebih baik untuknya di dunia dan di ahirat pasti jiwanya akan bangkit dan tergerak untuk infaq, jika ia memang berakal.

Imam Hasan al-Bashri berkata:

من أيقن بالخلف جاد بالعطية

“Barangsiapa yakin dengan ganti (yang akan diberikan oleh Allah) pasti ia berderma dengan pemberian-pemberian.”

3. Mengobati Penyakit Riya’

Riya’ adalah syirik, menghanguskan amal, mendatangkan murka Allah dan ia adalah muhlikat (perusak) yang besar, maka sesuatu yang seperti ini wajib dienyahkan, untuk mengobatinya ada dua maqom; (1) mencabut akar-akarnya (2) mengatasi apa yang muncul seketika.

Maqom pertama: mencabut akar riya’

Pangkal riya’ adalah cinta kedudukan dan jabatan (حب المنزلة والجاه) jika kita rinci maka kembali kepada tiga akar; cinta lezatnya pujian, lari dari pahitnya celaan dan tamak terhadap apa yang berada ditangan orang. Inilah yang meggerakkan seseorang untuk berbuat riya’.

Obatnya adalah dengan mengetahui bahaya riya’, kerusakan yang diakibatkan oleh riya’ di dunia dan akhirat dan siksa Allah yang pedih bagi para pe-riya’. Jika seseorang memikirkan kehinaan ini dan dibandingkan dengan kelezatan sesat di dunia karena pujian maka dengan mudah ia akan meninggalkannya, sebagaimana orang yang merasakan manisnya madu segera ia meninggalkannya manakala ia mengetahui bahwa di dalam madu itu ada racun yang mematikan. Kemudian juga perlu diketahui bahwa kebanyakan manusia binasa karena takut cemoohan orang dan suka pujian mereka, sehingga gerak-geriknya disesuaikan dengan kerekaan manusia, ini adalah muhlikat yang amat besar wajib ditanggulangi dengan memperhatikan sebab-sebab yang membuat ia dipuji dan dicela, lalu dikembalikan kepada akal dan syara’

Riya’ adalah sifat orang-orang munafiq yang menyebabkan mereka disiksa di jurang neraka yang paling bawah sebagaimana berada pada akhlak yang paling rendah, pelaku riya’ adalah orang yang kurang agamanya dan lemah akalnya, karena semua akhluk adalah lemah tidak memiliki manfaat, madharat, hidup dan mati dan kebangkitan, maka barangsiapa beramal karena mereka berarti telah bergantung kepada sesuatu yang justru menjadi sebab kematiannya. Sesungguhnya keselamatan itu hanya dengan ikhlash. Amal sedikit dengan ikhlas mengalahkan amalan segunung tanpa ikhlas. Dengan keikhlasan orang selamat dari fitnah dan dosa, meraih maqom yang tinggi di surga dengan kenikmatan yang abadi. Orang yang berakal, tidak akan meninggalkan apa yang menjadi keselamtan dan kebahagiaannya untuk ditukar dengan yang sedikit manfaat dan banyak madharat.

Untuk mengobati tamak terhadap apa yang ada di tangan menusia harus dengan ilmu bahwa Allah-lah yang mengatur hati manusia dan tidak ada pemberi rizki kecuali Allah, maka barangsiapa tamak dengan yang ada pada manusia tidak akan lepas dari kehinaan dan kenistaan, diberi atau tidak.

Adapun celaan mereka maka tidak menambah dan mengurangi apa yang telah ditulis oleh Allah , tidak mempercepat ajal dan tidak menurunkan derajat. Dan perlu diketahui bahwa “kerelaan manusia adalah tujuan yang tidak akan tercapai.”

Ini semua adalah obat-obat ilmiah. Adapun obat amaliyah adalah dengan membiasakan diri untuk menyembunyikan ibadah dan menutup pintu agar tidak dilihat oleh orang sebagaimana pintu-pintu itu ditutup untuk menutupi aib dan dosa.

Maqom kedua; menolak riya’ yang datang tiba-tiba.

Setan tidak akan membiarkan orang yang telah mencabut akar riya’ untuk beribadah dengan tenang. Sekuat tenaga setan menaburkan benih-benih riya;. Maka bilamana kita mengetahui ada orang yang memperhatikan ibadah kita segera harus kita lawan dengan kesadaran muraqabah dan menghadirkan kembali tentang keburukan-keburukan riya’.

4. Mengobati Penyakit Kibr

Kibr adalah muhlikat, ia adalah menolak kebenaran dan menghina orang lain . Mengobati kibr adalah fardhu ‘ain, bukan dengan angan-angan melainkan dengan kesungguhan.

Maqom pertama: mencabut akar kesombongan dari hati.

  1. Obat ilmu, yaitu mengenal dirinya dan mengenal Rabb-nya jika ia betul-betul mengenal dirinya pasti mengetahui bahwa tidak layak baginya selain tawadhdhu’, dan jika betul-betul mengenal tuhannya pasti mengetahui bahwa tidak layak baginya kecuali keagungan dan kesombongan.

Cukuplah bagi seseorang merenungkan 6 ayat ini :

﴿ قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ(17)مِنْ أَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهُ(18)مِنْ نُطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ(19)ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ(20)ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ(21)ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ ﴾

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. (QS. Abasa: 17-22)

apakah pantas makhluk yang kondisinya di atas menyombongkan diri?

كيف لا يتواضع من خلق من نطفة مذرة ويعود أخره جيفة قذرة وهو بينهما يحمل العذرة ؟

Bagaimana tidak merendah orang yang diciptakan dari sperma yang tidak sedap, yang akhrnya akan kembali menjadi bangkai yang buruk dan diantara dua masa itu ia selalu membawa kotoran?”

Kemudian perlu diketahui bahwa kibr bukanlah sifat orang-orang yang cerdas dan orang pilihan. Kibr adalah sifat orang-orang yang jahat dan orang yang tidak mengenal Rabb-nya bahkan tidak mengenal dirinya. Kibr adalah khayalan, seperti tikus yang merasa bahwa dirinya adalah macan, ia tidak akan menggapainya. Allah berfirman:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Ghafir: 56)

Orang yang berakal pasti menjauhkan diri dari takabbur karena ia mengandung perkara-perkara yang tercela:

(a) ia tidak akan menyombongkan diri atas seseorang kecuali setelah ia merasa ta’jub dengan dirinya dan memandang bahwa dia memiliki kelebihan atas yang lain

(b) ia melecehkan ulama , karena orang yang tidak meremehkan orang lain tidak mungkin sombong, cukuplah zhalim orang yang meremehkan manusia yang telah dimuliakan oleh Allah dengan iman.

(c) Ia mengingat Allah dalam sifat-sifat-Nya karena kibriya’ adan azdhamah adalah sifat Allah. Barangsiapa merebut salah satu nya diancam dengan neraka-Nya.

(d) ia tidak akan pernah mengaku salah kalau ditegur dan dinasehati maka kesombongannya akan membuatnya menolak kebenaran maka cukuplah ancaman neraka dan kehinaan bagi orang-orang yang menolak kebenaran.

  1. Obat amal: yaitu dengan mempraktekkan tawadhdhu’ kepada Allah dan kepada seluruh manusia dengan cara meniru akhlak orang-orang yang mulia seperti Nabi Muhammad dan orang-orang shaleh lainnya. Shalat adalah tiang agama siapa yang menegakkannya maka runtuhlah kesombongannya dengan takbir ruku’ dan sujud tawadhdhu; akan bersemi di dalam hati.

Maqam kedua: menolak kesombongan yang muncul karena salah satu dari tujuh sebab.

Kesempurnaan yang hakiki ada pada ilmu dan amal sedangkan selain tiu akan hancur bersama kematian adalah kesempurnaan bayangan (kamal wahmi)

(a) sombong karena nasab.

Ini diobati dengan ilmu bahwa ini adalah kebodohan, sebab berbangga dengan kesempurnaan orang lain, kemudian dengan mengetahui nasabnya yang hakiki yaitu tanah dan sperma, dia tidak pantas lagi sombong dengan nasabnya.

(b) sombong karena rupa elok

Obatnya adalah melihat kepada batinnya seperti pandangan orang-orang yang berakal, tidak melihat kepada zhahirnya seperti pandangan binatang.

(c) sombong karena kekuatan fisiknya

Obatnya adalah dengan melihat kepada penyakit-penyakit dan kelemahan yang ada padanya. Siapa yang tidak tahan tertusuk duri, pusing, lapar, panas dan dingin maka tidak pantas menyombongkan kekuatannya. Kemudian kekuatan manusia dikalahkan oleh binatang seperti banteng, onta, gajah, apa masih pantas sombong dengan sesuatu yang telah dikalahkan oleh binatang?

(d) dan (e) Sombong karena kaya, banyak harta dan banyak pengikut dan sombong dengan jabatan dan pangkat.

Obatnya adalah dengan mengetahui bahwa ini adalah sombong yang paling buruk sebab menyombongkan sesuatu yang ada di luar dirinya. Jika hartanya terbakar atau hilang tentu ia akan kembali hina. Berapa banyak orang Yahudi atau Pagan yang lebih kaya dan lebih banyak pengikutnya maka apakah pantas berbangga dengan sesuatu yang telah dilakukan oleh orang-orang kafir?

(f) sombong dengan ilmu

Ini adalah penyakit yang terbesar. Obatnya adalah dengan dua hal (1) mengetahui bahwa hujjah Allah atas ahli ilmu adalah lebih kuat daripada atas orang awam. (2) mengetahui bahwa tidak ada yang pantas sombong terkecuali Allah. Dengan sombong ia akan dihancurkan dan dihinakan oleh Allah sebagaimana Qarun, Iblis, Fir’aun dan lain-lain.

(g) sombong karena amal, wara’ dan ibadah.

Obatnya adalah memaksa hatinya untuk merendah kepada semua hamba Allah.

Wahb Ibn Munabbah mengatakan: “Tidak sempurna akal seseorang hingga ia memandang bahwa semua orang lebih baik darinya, manusia dalam pandangannya ada dua kelompok; kelompok yang lebih utama dan lebih tinggi dari dirinya, dan kelompok yang lebih buruk dan lebih rendah dari dirinya. Jika melihat orang yang lebih baik ia senang dan berharap agar bisa menyusulnya dan jika melihat yang lebih buruk ia berkata siapa tahu ia akan selamat dan saya akan hancur. Siapa tahu kebaikannya tersembunyi sehingga baik baginya, siapa tahu ia memiliki akhlak mulia antara ia dan Allah. Sehingga Allah merahmatinya dan mengampuninya dan ditutup dengan khusnul khatimah dan sementara saya menampakkan ketaatan dan saya tidak menjamin jika tidak dimasuki oleh hal-hal yang membuat tidak diterima oleh Allah .”

Abu Hatim mengatakan: orang yang berakal apabila melihat orang yang lebih tua ia bertawadhdhu kepadanya, dia berkata: Dia telah lebih dulu masuk Islam daripada aku.” Jika melihat yang lebih muda, ia tawadhdhu’ kepadanya seraya berkata: “saya telah lebih dulu melakukan dosa daripadanya.” dan jika melihat yang sebaya ia menganggapnya saudara sendiri,maka mana mungkin akan menyombongkan diri atas saudaranya.”

5. Mengobati Penyakit Ghaflah

Lalai dari Allah dan berpaling dari ketaatan kepada-Nya adalah penyakit yang berbahaya. Allah menciptakan manusia untuk menyembah kepada-Nya, Allah mengucurkan nkmat kepada mereka agar mereka bersyukur kepada-Nya, karena Allah ingin memindahkan mereka dari satu nikmat ke nikmat yang lebih besar. Sedangkan orang-orang yang lalai dan berpaling, mereka melupakan Allah maka Allahpun membuat mereka lupa terhadap diri mereka; lupa kemaslahatan mereka dan kemanfaatan mereka, hingga mereka menelantarkan jiwa mereka dan membahayakannya dalam kesengsaraan dan kekalutan. Hakekat orang yang lalai adalah berpaling dari segala kebaikan dan kebahagiaan, menuju kesia-siaan, kerugian dan kegersangan, ia menukar yang berharga dengan yang sampah, yang tinggi dengan yang rendah, ia berpindah dari satu kekalutan ke kekalutan yang lain. Pendengaran, penglihatan dan pikirannya tidak bermanfaat sedikitpun, kecuali hanya menjadi hujjah yang memberatkannya.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ ءَايَاتِنَا غَافِلُونَ(7)أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus: 7-8)

Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menanggulangi kelalaiannya; Nabi bersabda:

(( الكيس عن دان نفسه وعمل لما بعد الموت والاحمق من اتبع نفسه هداها وتمن على الله الامانى ))

“Orang yang cerdik adalah orang yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan ornag yang bodoh adalah ornag yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap banyak kepada Allah.” (HR Tirmidzi, ibn Majah dan Ahmad).

6. Mengobati penyakit Ghurur.

Ghurur adalah kecenderungan jiwa kepada apa yang diinginkan oleh nafsunya dan yang dicocoki oleh tabiatnya karena sebuah syubhat dan tipuan dari setan. Maka barang siapa merasa di atas kebaikan di dunia atau di akhirat karena syubhat yang rusak, maka ia adalah maghrur (tertipu). Kebanyakan manusia adalah maghrur, yang paling besar ghururnya adalah orang kafir dan ahli bid’ah dan orang fasik. Bahkan tidak jarang orang ahli ilmu dan ahli ibadah yang maghrur.

Ghurur selalu dimotivasi oleh syubhat, karena itu obatnya adalah ilmu yang shahih dan muhasabah yang langgeng. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ 

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Lukman: 33).

D. KIAT MENJAGA HATI

Untuk menjaga hati agar tetap hidup secara sehat, maka hati harus mendapatkan gizi yang cukup. Di antara faktor yang dapat menghidupkan hati adalah:

  1. Cinta kepada Allah

Cinta kepada Allah merupakan terapi yang paling mujarab bagi hati. Apalagi cinta (mahabbah) itu merupakan akar ibadah dan pengabdian. Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (al-baqarah: 165).

Imam ibn al-Qayyim رحمه الله berkata dalam syairnya, “kebaikan hati, kebahagiaan dan kenikmatannya adalah mencurahkan rasa cnta ini hanya kepada yang Maha Pengasih”. Maksudnya adalah bahwa kebaikan, kebahagiaan dan kenikmatannya berada pada ketulusan cinta kepada Allah . Sebab cinta kepada Allah Itulah surganya hati, kekuatan dan kehidupannya. Demi Allah, sesungguhnya hati tidak akan bahagia, tidak akan baik, tidak akan istiqamah, tidak akan menikmati kebahagiaan, tidak merasakan kelezatan dan tidak akan merasa tentram kecuali dengan mencintai Allah .

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Anas ra. ia menuturkan, “ Rasul Allah saw bersabda:

“Ada tiga perkara, yang apabila ia ada pada seseorang, niscaya ia merasakan manisnya iman, yaitu (1) apabila Allah dan rasulnya lebih dicintai melebihi segala sesuatu selain keduanya, (2) mencintai seseorang hanya semata-mata karena Allah, dan (3) tidak suka kembali kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia tidak suka diceburkan ke dalam neraka.”

Dengan mencermati hadits ini secara mendalam dapat kita ketahui bahwa ujung-ujungnya tetap berkisar pada cinta kepada Allah .

Cinta (kepada Allah) itu merupakan kewajiban agama yang paling agung, dasarnya yang paling banyak dan kaidahnya yang paling tinggi, bahkan cinta merupakan landasan setiap amalan iman dan agama. Allah Berfirman:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 

Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Taghabun: 11).

Tanda atau bukti cinta kepada Allah . Dan ukurannya yang benar adalah firman-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ 

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-imran: 31).

Sejauh kadar kepatuhan dan ketaatanmu kepada Nabimu , baik secara lahir maupun batin, maka sejauh itu pulalah kadar kecintaanmu kepada Allah yang dapat memperbaiki hatimu.

  1. Dzikrullah dan Membaca al-Qur’an.

Rasul Allah bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan yang mati.” (HR Bukhari).

Karena itu ibn Taimiyah mengatakan: “Dzikir bagi hati bagaikan air bagi ikan, (kamu bayangkan) bagaimana kondisi ikan apabila dikeluarkan dari air?.

Ibn al-Qayyim di dalam al-Wabil al-Shayyib menyebutkan 80 kegunaan dzikir, di antaranya adalah: “Dzikir itu makanan hati dan ruhnya, jika seorang hamba kehilangan dzikir, maka ia seperti badan yang dihalangi dari makanannya. Dzikir mengusir setan, membuat Allah ridha, menghilangkan kegelisahan dan mendatangkan kebahagiaan.”

Secara umum tidak ada yang paling bermanfaat selain dzikir. Allah berfirman:

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (al-Ra’d: 28.

Dan dzikir yang terutama adalah baca al-Qur’an.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ(29)لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ 

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 29-30).

  1. Mengingat mati.

Orang mengingat mati pendek angan-angannya, banyak amalnya dan sedikit dosanya. Oleh karena itu Rasul Allah lebih memerintahkan agar kita memperbanyak mengingat mati.

Sa’id ibn Zubair (95 H) berkata: “Seandainya ingatan terhadap mati itu pisah dari hatiku tentu aku takut hal itu akan merusak hatiku.”

  1. Ziarah kubur.

Ini adalah sunnah yang banyak ditinggalkan oleh orang-orang yang shalih apalagi oleh orang yang awam. Ziarah kubur yang sunnah adalah sarana yang paling efektif untuk menghidupkan hati dan menghubungkan diri kepada Allah. Para salaf shalih dahulu sangat memperhatikan masalah ini, imam Sofwan ibn Salim (72 H) pernah keluar ke makam baqi’, lalu diikuti oleh seorang yang shalih untuk melihat apa yang akan silakukan oleh Sofwan. Ternyata Sofwan duduk di salah satu makam lalu ia menangis dan terus menangis hingga orang yang menguntitnya merasa kasihan. Ia menyangka kalau makam tadi adalah kuburan dari salah satu kerabatnya, pada waktu yang lain Sofwan duduk pada kuburan yang lain dan melakukan hal yang sama.

Orang shalih tadi bercerita kepada Muhammad ibn Al- Munkadir (lahir antara 33-39, w. 130 H) dan berkata: “saya kira itu adalah kuburan salah satu keluarganya”

Muhammad berkata: “mereka semua adalah saudaranya dan keluarganya. Ia adalah seorang yang hatinya tergerak dengan mengingat mati, setiap kali ia merasakan adanya sifat keras menghampiri hatinya.”

  1. Berkunjung pada orang-orang yang shaleh dan memperhatikan amal-amal shaleh mereka.

Ini adalah hal yang sangat bermanfaat, jika tidak mungkin mendatangi mereka, maka bisa dengan menelaah kisah-kisah mereka dalam kitab-kitab.

Ja’far ibn Sulaiman berkata: “kalau saya merasakan hati saya keras, saya pagi-pagi pergi melihat wajah Muhammad Ibn wasi’ Al-Bashri (123 H), (wajah) beliau seakan-akan (wajah) seorang ibu yang kehilangan anaknya.”

Setiap muslim wajib menjaga hatinya jangan sampai terkena was-was atau penyakit-penyakit lainnya seperti riya’ dan syirik.

Abu Hafsh al-Naisaburi (264 H) berkata: “saya menjaga hatiku selama 20 tahun, kemudian ia menjagaku selama 20 tahun.”

  1. Selalu menghadiri majlis ilmu dan muraqabah (selalu merasa di awasi oleh Allah )

Mencari ilmu, di samping hukumnya wajib, ia memiliki banyak keutamaan di antaranya adalah untuk meningkatkan ilmu dan iman. Salah satu buktinya adalah kisah Hanzhalah berikut ini:

Dari Rib’i Hanzhalah Ibn Ar-Rabi’ al-Usaidi Al-Katib, salah seorang juru tulis Rasul Allah dia berkata: “saya ditemui oleh Abu Bakar , dia bertanya: “Bagaimana engkau wahai Hanzhalah?” saya jawab: “Hanzhalah munafik!” Dia berkata: “Subhanallah apa yang kamu katakan?” saya jawab: “Kita di sisi Rasul Allah diingatkan dengan surga dan neraka, seakan-akan kita melihatnya dengan mata kepala. Dan setelah kita keluar dari hadapan Rasul Allah Allah, kita bergaul dengan istri dan anak-anak serta segala urusan kehidupan kita banyak lupa.”Abu Bakar berkata: “Demi Allah kita juga mengalami Hal yang serupa.” Maka saya dan Abu Bakar berangkat hingga kami tiba di hadapan Rasul Allah . Maka saya katakan: “Hanzhalah munafik, wahai Rasul Allah!” maka Beliau bertanya: “apa itu?” maka saya katakan: “ Ya, Rasul Allah kita itu di hadapan anda, anda memperingatkan kami dengan surga dan neraka seolah-olah hal itu terlihat di hadapan mata, akan tetapi apabila kita keluar dari hadapan anda, dan bergaul dengan istri, anak-anak dan segala urusan kehidupan, kita banyak lupa.” Maka Rasul Allah bersabda: “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya kamu dapat melanggengkan kondisi (keimanan) yang kamu rasakan ketika kamu ada di hadapanku dan di dalam dzikir tentu malaikat akan menjabat tanganmu di atas tempat tidurmu dan di perjalananmu. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, sesaat dan sesaat.”Beliau mengulang tiga kali.

  1. Berpaling dari hal-hal yang sia-sia.

Laghw adalah sesuatu yang batil, tidak penting, tidak bermanfaat dan tidak berkaitan dengan tujuan yang benar.

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ  الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ  وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.”(Al-Mu’minun: 1-3)

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Al-forqan: 72)

Rasul Allah bersabda: “ Di antara bagusnya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak menjadi urusan (kepentingan)nya.” (HR Tirmidzi, Ibn Majjah, Malik, Ahmad ).

  1. Qiyamullail

Orang-orang yang berhati bersih memiliki kedekatan dengan Allah dan selalu berduaan dengan Allah.

Firman Allah:

Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”(al-Dzariyat: 17-18)

Tatkala mereka menyembunyikan amal dan bertakbir dengan gelapnya malam maka Allah-pun menyembunyikan pahala mereka.

Firman Allah:

Seseorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagi balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”(al-Sajadah: 17)

Abu Sulaiman berkata: “Ahli qiyamullail di malam harinya merasa lebih nikmat daripada ahli laghwu dalam permainan mereka. Seandainya bukan karena malam saya tidak ingin berlama-lama didunia.”

Ibn al-Munhadir berkata: “Tidak tersisa dari kelezatan dunia kecuali tiga perkara; qiyamullail, bertemu dengan ikhwan dan shalat berjama’ah.”

  1. Taubat Nashuha dan banyak beristighfar (minta ampunan).

Taubat yang tulus yang memenuhi syarat-syaratnya dapat menjadikan hati bercahaya terang dan dapat mengikis habis noda-noda kemaksiatan darinya. Dan sesungguhnya tenggelam di dalam perbuatan maksiat itu dapat membuat hati menjadi gelap. Oleh karena itu, anda dapat memperhatikan bahwa hati pelaku maksiat yang tenggelam di dalam kemaksiatannya berada dalam selimut kegelapan dan membatu, tidak ada cahaya padanya dan tidak pula ada (rasa) lezat (melakukan ibadah). Malah sebaliknya, ia selalu berada di dalam siksaan dan kesengsaraan.

Maka taubat merupakan jalan hidupnya hati, tidak boleh tidak, ia harus dilakukan agar ia bisa menjadi baik dan istiqamah. Sering melakukan taubat, suka memperbaharuinya dan selalu melakukan istighfar merupakan hal yang dapat memperbaiki dan membersihkan hati serta dapat memotivasi untuk beramal shalih.

Perhatikanlah Rasulullah berliau bersabda didalam hadits shahihnya:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلىَ قَلْبِيْ , وَإِنِّيْ َلأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya hati saya kadang keruh, maka aku beristighfar dalam satu hari sebanyak seratus kali.” (HR. ahmad, hadits no. 18002)

Pada hadits Nabi ini menjelaskan bahwa beliau menghilangkan kabut atau kekeruhan yang menimpa hati beliau dengan istighfar, padahal beliau sudah diampuni oleh Allah segala dosa-dosa yang telah lalu maupun yang akan datang. Maka bagaimanakah dengan orang selain beliau yang banyak memikul dosa dan banyak melakukan kemaksiatan? Tidakkah ia lebih membutuhkan banyak istighfar agar hatinya yang rusak dapat terobati?! Sungguh benar! Demi Allah , betapa kita semua sangat membutuhkan kepadanya (istighfar).

Apabila seseorang bertaubat dari dosa, berarti ia telah membersihkan hatinya dari campur baur noda-dosa, karena ia telah dicampuri oleh amal shalih dan amal buruk. Maka apabila ia bertaubat dari dosa, kekuatan hati akan menjadi jernih dan kemauannya untuk beramal shalih pun menjadi kuat, serta hati akan merasa lapang dari segala dosa perusak yang ada di dalamnya. Allah berfirman:

Dan apakah orang yang sudah mati kemudin dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah msyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaanya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”(al-An’am: 122)

itu adalah suatu perumpamaan yang dicontohkan oleh Allah bagi orang yang hatinya mati karena kekafiran dan kebodohan, lalu Allah memberinya petunjuk berupa taubat dan kemudian menghidupkannya dengan iman dan memberinya cahaya terang yang menyinarinya serta ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat menusia (penuh dengan kebaikan)

  1. Membaca dan mempelajari sejarah kehidupan kaum salaf shalih (para ulama terdahulu)

Di dalam sejarah dan perjalanan hidup mereka itu terdapat banyak pelajaran dan ibrah bari orang-orang yang berakal. Allah berfirman:

Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)

Kisah-kisah para wali Allah, yaitu para Nabi, para Rasul Allah, orang-orang shalih, para syuhada dan lain-lainnya itu dapat memperteguh hati dan dapat meninggalkan bekas kebaikan dan keistiqamahan.

Siapa saja yang memperhatikan dan membaca perjalanan hidup atau sejarah suatu kaum berdasarkan pengetahuan dan penghayatan, maka niscaya hatinya dihidupkan kembali oleh Allah dan Dia sucikan batinnya, apalagi kalau yang dihayati itu adalah sejarah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad . Sebab, sejarah beliau itu merupakan hal yang dapat mempertebal iman dan memperbaiki hati dan batin.

  1. Bersahabat dengan orang-orang shalih, bertakwa dan berbuat kebajikan.

Sebab, mereka adalah orang-orang yang siapa saja yang berteman dengan mereka tidak akan celaka. Allah berfirman guna menyeru kepada nabi Muhammad :

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Kahfi: 19).

Imam Ahmad telah meriwaytkan dari Nabi “Seseorang itu mengikuti agama orang yang ia cintai maka hendaklah seseoraang dari kamu memperhatikan kepada siapa yang ia cintai (berteman akrab).”

Malik bin Dinar pernah berkata: “Sesungguhnya jika kamu memindah batu bersama-sama orang yang shalih itu lebih baik daripada kamu makan manisan bersama-sama orang durjana.”

Itulah beberapa pokok obat terapi bagi hati dan beberapa cara pengobatannya, maka berupayalah anda memahaminya dengan baik dan mengamalkan dengan tekun, karena sesungghnya kebahagiaan yang hakiki itu tidak akan dapat dicapai kecuali dengan keselamatan dan kesehatan hati.

Maraji’

  1. al-Dakwah al-Dawa’, ibn al-Qayyim.

  2. Amradh al-Qulub wa Shifauha, ibn Taimiyah.

  3. Mau’izhah al-Mukminin Min Ihya’ Ulum al-Din, Jamaludin al-Qasimi.

  4. Tazkyah al-Nufus, Ahmad Farid.

  5. Al-Ibadat al-Qalbiyah wa Atsaruha fi Hayat Ala al-Mukminin, Muhammad Hasan al-Syarif.

  6. Shalah al-Qulub, Khalid al-Muslih.

  7. Amal al-Qulub Inda Ibn Taimiyah, Sulaiman al-Ghushn.

  8. Raudah al-Uqala’ wa al-Nuzhah al-Fudhala’, Abu Hatim al-Busti.

  9. Mujtma’ al-Fawaid al-Da’amiyah wa al-Tarbawiyah, Abd. Al-Rahman al-Sa’di.

  10. Thariq al-Wushul Ila al-Ilmi al-Ma’uul, Abd. Al-Rahman al-Sa’di

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *