KH. BAIDLOWI MUSLICH: PESANTREN GADING SUDAH 5 GENERASI (BERUMUR 252 TAHUN), SAYA SUDAH PUNYA 3 PONDOK PESANTREN, SAYA MERASA BERDOSA BELUM BERDAKWA KEPADA ORANG NON MUSLIM!

Kemarin Pada hari Selasa, 23 Dzulqa’dah 1441 H/14 Juli 2020.KH. M. Shohibul Kahfi salah satu pimpinan Pondok Pesantren Gading Malang tutup usia, dan dimakamkan pada hari Rabu 24 Dzulqa’dah 1441 H/ 15 Juli 2020 H. Beliau Lahir di Malang pada 19 Februari 1959, dan wafat pada usia 61 tahun. Beliau adalah menantu KH. Muhammad Yahya. Istrinya adalah adik dari istri KH. Baidlowi Muslich.

Sepuluh hari sebelumnya, Sahabat Juang kita, KH Abdul Wahid Mudzakir bin KH. Ghazali (Gus Wahid Arema) pada hari Sabtu 13 Dzulqa’dah 1441 H/ 4 Juli 2020 jam 5.50 juga telah wafat. Beliau adalah keponakan KH. Muhammad Yahya, sebab ibu Gus Wahid yaitu Ibu Dewi Zulaikha adalah adik kandung dari Bu Nyai Hj. Siti Khadijah istri KH Muhammad Yahya rahimahumullah, mertua dari KH. M. Baidowi Muslich.

Maka atas wafatnya KH. Shahibul Kahfi kita ucapkan:

إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَه وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه، وَأَكْرِمْ نُزُوْلَه، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه، وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ. اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنّا بَعْدَه وَاغْفِرْلَنَا وَلَه وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَأْوَاه آمِـيْن يَا رَبَّ العَالَمِين

Sehubungan dengan itu kami (Saya, Abu Royyan, Farid, dan Abu Shalih) Rabu setelah Asar, sebab paginya ikut acara audiensi dengan Anggota DPR RI soal penolakan RUU HIP, bertakziyah ke kediaman KH. Ahmad Arif Yahya, namun beliau masih ziarah di makam, maka kami ke rumah KH. Baidhawi Muslih. Setelah kami dipersilahkan masuk dan duduk, Pak KH Baidhowi yang sudah tampak semakin sepuh itu (usia 76 tahun, kelahiran tahun 1944) berkisah:

“Pesantren Gading ini berdiri tahun 1768 di jaman Penjajahan Belanda, oleh KH. Hasan Munadi (1768 – 1858), yang membesarkan pesantren selama 90 tahun dan wafat di usia 125 tahun.

  1. Cerita awalnya, Kota Malang waktu itu tergolong tidak aman, maka Belanda mengadakan sayembara Siapa yang dapat menjadikan Malang sebagai Kota aman maka akan diberi hadiah. Ternyata yang bisa menjadikan aman adalah KH Hasan Munadi maka beliau diberi tanah sekian hektar dari sungai di Barat sana itu hingga jalan lori di timur.

Akhirnya dibangunlah Surau tempat shalat dan ngajar. kemudian ada Santri yang menetap lalu dikawinkan dan berkembang. Maka sekarang ini menjadi kampung pesantren.

  1. Generasi kedua diasuh oleh putra beliau yaitu KH. Isma’il (1858 – 1908).
  2. Generasi ketiga adalah KH Abdul Majid. Beliau tidak punya anak laki-laki, maka putrinya dinikahkan dengan KH Muhammad Yahya (lahir tahun 1903 M, di desa Jetis, 10 km arah barat Kota Malang, Saat ini, desa Jetis berada di wilayah kecamatan Dau, kabupaten Malang dan berbatasan langsung dengan kelurahan Tlogomas yang sudah berada di wilayah Lowokwaru, Kota Madya Malang (dekat dengan Pondok Pesantren al-Umm).”

KH. Baidhowi melanjutkan:

“Saya datang dari Banyuwangi ke pondok Gading ini tahun 1962, lalu saya menjadi menantu beliau, dan menemani beliau hingga beliau wafat 23 Nop tahunn 1971.”

  1. Lalu generasi keempat: PPMH diasuh oleh KH. Abdurrohim Amrullah Yahya dari tahu 1971 hingga 2010. K.H. Abdur Rochim Amrullah Yahya (lahir 1942 –wafat 2010) Sebagai penerus Kiai Yahya beliau bersama saudaranya yaitu KH. Abdurrahman Yahya (lahir 1945) bertekad melestarikan apa yang dirintis dan ditetapkan oleh Kiai Yahya, serta melakukan pengembangan positif selama tidak bertentangan dengan cita-cita dan wasiat Kiai Yahya. Kiai Abdur Rochim dipanggil kehadirat-Nya dengan meninggalkan tiga putri dan satu putra pada tahun 2010, sedangkan KH Abdurrohman wafat tahun 2018.
  2. Generasi kelima PPMH dipimpin oleh:

KH. Ahmad Arief Yahya mulai tahun 1971 – sekarang 2020, KH. Muhammad Baidlowi Muslich, Ust. Drs. HM. Shohibul Kahfi, M.Pd. (yang kemarin 14-7-2020 wafat), dan Ibu Nyai Dewi Aisyah (Pesantren Putri)

K.H. Ahmad Arif Yahya (Lahir 1948) putra ke-enam Kiai Yahya. Saat ini beliau menjabat sebagai Kepala Madrasah Diniyah Matholiul Huda PP. Miftahul Huda. Sejak tahun 1978 Kiai Ahmad Arif bersama beberapa ustadz mengelola Madrasah Diniyah dengan menerapkan sistim salaf klasikal. Dalam madrasah ini beliau membagi jenjang pendidikan terdiri dari tiga tingkatan, yakni tingkat ula, wustho, dan ulya.

KH. Muhammad Baidlowi Muslich suami dari Nyai Hj. Maryam Mashrifiyah Lahir 1958.

Nyai Hj. Maryam meneruskan perjuangan ibunda beliau Almarhumah Nyai Hj. Siti Khodijah dalam mengasuh santri putri PP. Miftahul Huda sementara Suami beliau, K.H. M. Baidlowi Muslich, menjabat sebagai Kepala Pondok Pesantren Miftahul Huda, kepala Pondok Pesantren Anwarul Huda di Karang Besuki Malang., dan “pondok pesantren Lapas I Malang, sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia Kota Malang (empat periode berturut-turut, 20 tahun.

Alhamdulillah, Selama ini KH. Baidlowi Muslich sudah 2 kali datang ke pondok pesantren al-Umm untuk bersilaturrahim dan untuk memberikan ceramah dalam wisuda SMP Islam Ponpes al-Umm angkatan pertama.

Ust. Drs. HM. Shohibul Kahfi, M.Pd. yang kemarin wafat adalah suami dari Nyai Hj. Dewi Aisyah (Lahir 1962). Nyai Hj. Dewi Aisyah adalah putri terakhir Kiai Yahya. Bersama kakak beliau, meneruskan ibunda Almarhumah Nyai Hj. Siti Khodijah mengasuh pondok putri di PP. Miftahul Huda.

KH. Baidlowi Mushlih juga bercerita:

Anak pertama Kyai Yahya adalah A. Dimyati Ayatullah Yahya (1936 – 1971) yang meninggal 40 hari (bulan Sya’ban) sebelum Kiai Yahya wafat (bulan Syawal).

Kini dari 11 anak Kyai Yahya, Putra beliau yang masih hidup tinggal Dua, Kyai Ahmad arif di Miftahul Huda, dan KH. Muhammad Ghozali Yahya (Lahir 1952) di pondok pesantren di Karangploso, Malang. Sedangkan anak putrinya juga tinggal 2: Istri Yai baidlowi Nyai Hj. Maryam Mashrifiyah, dan istri Kyai Shohibul Kahfi Nyai Hj. Dewi Aisyah.

Kyai Baidhowi melanjutkan ceritanya:

KH. M Yahya itu selain seorang Sufi beliau adalah ahli hisab falak. Beliau mewasiatkan: “Jangan sampai ditinggalkan ilmu ini”. Beliau memakai kitab Hisab “Sullam al-nayyiroini”.

Selama ini Rukyat yang merupakan syariat berlaku untuk umum. Sedangkan yang Khusus adalah hisab. “al-Hisab lilhasib, waqila wajib alaihi, wa’ala man shaddaqahu.” “Jadi Gading ini menjadi kiblatnya. Kitab Sullam Nayyiroiniini dibaca tiap tahun. Dan kini sudah banyak santri yang bisa membuat calendar setiap tahunnya.” Tegas beliau.

Kyai Baidhowi kemudian mengatakan: Alhamdulillah suplemen imunitas tubuh (termasuk dari covid-19) dari pak Yai Agus (maksudnya saya) sangat bermanfaat, saya gunakan untuk memasukkan para santri secara bertahap ke pesantren. Lalu beliau menyinggung bahwa pandemic korona -19 ini juga sangat mungkin karena dosa manusia. Di jawa timur paling tinggi kasus korona sebagaimana paling tinggi Narkobanya. Di dalam al-Qur`an (Surat al-Ankabut) Allah mengingatkan:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنبِهِ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40)

KH M. Baidowi Muslich Pengasuh PP Miftahul Huda, Anwarul Huda dan “Ponpes di Lapas Kelas 1 Malang” yang dibantu oleh Gus Wahid (sampai beliau wafat), sekaligus Ketua Umum MUI Kota Malang akhirnya mengatakan kepada saya dan teman-teman al-Umm:

“Saya punya program membina para muallaf supaya bisa menjadi da’I kepada orang-orang non muslim. Saya sudah nulis buku “Mengapa Saya memilih Islam”? itu sebagai panduan nantinya.” Lalu beliau memberikan hadiah buku itu bersama buku Resolusi Jihad dan Peran KH. M. Yahya dalam Membebaskan kota Malang dari Penjajah.

“Saya merasa berdosa belum menjalankan sunnah Nabi yang berdakwah kepada orang non muslim bahkan menyurati para raja kafir di dunia dengan tegas mengatakan: Aslim taslam (masuklah ke dalam Islam kamu pasti selamat).”

“Kita merasa berdosa- sambil memegang dada beliau, jika tidak melakukan itu. Orang non muslimpun yang masuk neraka mengatakan (QS al-Mulk):

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10)

Maka kita harus ada upaya memperdengarkan kepada mereka apa itu Islam. Oleh karena itu saya membuka ponpes di Lapas Malang yang jumlah Napi 2000, semuanya muslim (muslim yang tidak mengerti agamanya) dan 90 orang non muslim. Ya memang Jawa Timur ini mayoritas Muslim. Disitulah kita wajib instrospeksi mengambil hikmah di balik covid-19. Dan saya sedang menyiapkan buku: “dosa-dosa menyebabkan malapetaka.” Ya masih belajar menulis Kyai” kata beliau kepada saya.

Kemudian Kyai Baidhowi melanjutkan dengan mengatakan: “akhir Juni lalu semua ormas kumpul di MUI untuk menolak RUU HIP. Dan saya ingatkan agar bersatu padu mengahadapi komunis. Sebab saya menyaksikan sejarah kekejaman PKI tahun 1965. Kalau sampai mereka bangkit niscaya yang akan dihabisi kita-kita para ulama ini.”

Saya sampaikan kepada beliau hasil dari audiensi para ulama, kyai, habaib, tokoh masyarakat dan ormas Islam dengan 8 anggota DPR RI Dapil Malang, yang ternyata tidak satupun yang hadir.

Demikian sebagian besar obrolan kami dengan beliau. Lalu kami pamit karena hari sudah mulai gelap, dan gentian dengan tamu yang baru datang.

Semoga menjadi bagian dari ilmu sejarah para tokoh ulama kota Malang, dan bermanfaat.

Malang 15 Juli 2020

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *