KEUTAMAAN BERPEGANG TEGUH DENGAN SUNNAH

Berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya memiliki keutamaan, keistimewaan, dan pahala yang besar. Berdasarkan penelusuran dalil-dalil secara normatif dan yang dibenarkan oleh fakta historis, maka sebagian keutamaan tadi dapat kita kemukakan sebagai berikut:

  1. Terhindar dari perselisihan yang tercela dan yang menjauhkan dari agama

Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴿٤٦﴾

“Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfal: 46)

Nabi bersabda:

“Siapa yang hidup sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak.” Lantas bagaimana jalan keluarnya? Nabi terus melanjutkan sabdanya:

»فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّـينِ. عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. وَإِيَّاكُمْ والأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ. فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ «

“Maka kalian harus berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan mendapat hidayah, gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah setiap perkara baru, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah sesat.” (Shahih, lihat Shahihul Jami’: 2549, Hadits ‘Irbadh ibn Sariyah dalam Sunan Tirmidzi dan Ibnu Majah)

  1. Selamat dari perpecahan yang ancamannya adalah neraka

Nabi bersabda:

»إِنَّ أَهْلَ الْكِتابِ تَفَرَّقوا في دِينِهِمْ على ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّة، وَتَفْتَرِقُ هٰذِهِ الأُمَّةُ على ثَلاثٍ وَسَبْعِينَ كُلُّها في النّارِ إِلا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ «

“Sesungguhnya ahli kitab itu telah berpecah menjadi 72 millah (sekte, golongan), dan umat (Islam) ini akan berpecah menjadi 73 golongan; semuanya di neraka kecuali satu golongan yaitu al-jama’ah.” (Hadits iftiraqul ummah dari Mu’awiyah , Anas , dan Ibnu Umar diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, Hakim dll)

Yang dimaksud dengan jama’ah adalah sunnah dan orang-orangnya sebagaimana dalam satu lafazh:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Yaitu apa yang ada padaku dan apa yang ada pada para sahabatku.” (HR Tirmidzi: 2711, Hakim)

  1. Mendapatkan hidayah dan selamat dari kesesatan

Nabi berkhutbah pada waktu haji Wada’ :

»يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّـي قَدْ تَرَكْتُ فِـيْكُمْ مَا إِنْ اعْتَصَمْتُـمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَداً: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِـيَّهِ «

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya pasti kalian tidak akan sesat selamanya, yaitu: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. al-Baihaqi: 20779 dll dari Ibnu Abbas , Shahih al-Targhib: 41)

Sedangkan Lafazh Hakim (323) adalah:

»قَدْ يَئِسَ الشَّيطانُ بِأَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ، وَلٰكِنَّهُ رَضِيَ أَنْ يُطاعَ فِيما سِوى ذٰلِكَ ممّا تُحاقِرونَ مِنْ أَعْمالِكُمْ، فاحْذَروا يا أَيُّها النّاسُ، إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ ما إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبداً، كِتابَ الله وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (صلَّى الله عليهِ وآلِهِ وسلَّم). إِن كُلَّ مُسْلِمٍ أَخُ الْمُسْلِمِ، الْمُسْلِمون إِخْوَةٌ، ولا يَحِلُّ لامْرِىءٍ مِنْ مالِ أَخِيهِ إِلا ما أَعْطَاهُ عَنْ طِيْبِ نَفْسٍ، وَلا تَظْلِمُوْا، وَلا تَرْجِعُوْا مِنْ بَعْدِي كُفّاراً يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقابَ بَعْضٍ«.

“Setan telah berputus asa untuk disembah di negerimu, akan tetapi dia rela ditaati dalam hal kurang dari itu dari amalan-amalanmu yang kamu remehkan. Maka waspadalah wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang kalau kalian berpegang teguh dengannya pasti kalian tidak akan sesat selamanya; Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya . Sesungguhnya setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya. Kaum muslimin adalah bersaudara, tidak halal bagi seseorang dari harta saudaranya kecuali sesuatu yang ia berikan kepadanya dengan suka rela, janganlah kalian berbuat aniaya, dan janganlah sesudahku kalian kembali menjadi kafir yang saling membunuh.”

  1. Masuk ke dalam golongan Rasulullah

Hadits Anas ; (HR Bukhari: 4943) dalam kisah 3 orang yang datang kepada rumah Nabi untuk menanyakan ibadah Nabi , lalu menganggap ibadah Nabi biasa-biasa dan mereka memahami bahwa hal itu sangat wajar bagi Nabi karena beliau telah diampuni seluruh dosanya dan dijamin masuk surga. Maka mereka memutuskan untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah -melebihi ibadah Nabi – agar mereka bisa masuk surga. Maka Nabi mengatakan:

« مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي».

“Barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku.”

ِAbu Ayyub juga mengatakan (HR. Ibnu Asakir):

« كَانَ يَرْكَبُ الْحِمَارَ، وَيَخْصِفُ النَّعْلَ، وَيُرَقِّعُ الْقَمِيصَ، وَيَلْبَسُ الصُّوفَ وَيَقُولُ: مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتي فَلَيْسَ مِني »

“Rasulullah itu dulu mengendarai keledai, menjahit sandal, menambal kemeja dan memakai kain shuf (wol kasar) dan berkata: “Barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku.” ( Al-Albani berkata dalam Silsilah al-Shahihah (2130): “Shahih karena ada saksi yang sangat kuat”, yaitu riwayat Mursal shahih dari Hasan Bashri, ia berkata:

لَمَا بَعَثَ اللهُ مُحَمَّدًاقَالَ : هَذاَ نَبِيِّي هَذَا خِيَارِيْ، اِئْتَسَوْا بِهِ وَخُذُوْا فِيْ سُنَّتِهِ وَسَبِيْلِهِ، لمَ ْيَكُنْ تُغْلَقْ دُوْنَهُ الْأَبْوَابُ، وَلاَ يَقُوْمُ دُوْنَهُ الْحَجَبَةُ، وَلاَ يُغْدَى عَلَيْهِ بِالْجِفَانِ وَلاَ يُرَاحُ عَلَيْهِ بِهَا، يَجْلِسُ عَلىَ اْلأَرْضِ، وَيَأْكُلُ طَعَامَهُ بِاْلأَرْضِ، وَيَلْبَسُ اْلغَلِيْظَ، وَيَرْكَبُ الْحِمَارَ، وَيُرْدِفُ بَعْدَهُ، وَيَلْعَقُ أَصَابِعَهُ، وَكاَنَ يَقُوْلُ : مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّي.

“Ketika Allah mengutus Muhammad Dia berfirman: “Inilah Nabi-Ku, inilah orang pilihan-Ku, berteladanlah dengannya, dan ambillah sunnah dan jalannya; untuk menemuinya tidak ditutup pintu-pintiu, dan tidak dikelilingi oleh pengawal, tidak dilayani makan siangnya dengan piring-piring, dan tidak dilayani makan malamnya denganya pula. Beliau duduk di atas tanah dan memakan makanannya di atas tanah, memakai kain yang kasar, menaiki himar, membonceng orang di belakangnya, menjilati tangannya (setelah makan) dan beliau bersabda: “Barangsiapa tidak menyukai sunnahku maka ia bukan dari golonganku.” (Lihat pula Mushannaf Abdur-Razzaq: 19555, Sunan al-Baihaqi: 20044. Semoga Allah membalas kebaikan Syekh Khalid bin Abdillah al-Mushlih yang telah membantu menjelaskan kata-kata sulit dalam hadits ini)

Hakim meriwayatkan ucapan Anas bahwa: Nabi memboncengnya di belakangnya, meletakkan makanannya di atas tanah, mendatangi undangan budak sahaya (yang sudah dimerdekakan), dan mengendarai khimar.” (Diriwayatkan Thabrani dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas: “Beliau duduk di atas tanah, makan di atas tanah,….dan mendatangi undangan budak sahaya (yang sudah dimerdekakan) atas hidangan roti dari beras sya’ir.” (Musnad Imam Abu Hanifah: 1/250, Syarah Musnad Abi Hanifah: 1/631)

Dalam shahih Ibnu Khuzaimah ada Bab (150 ) berjudul “Bab ancaman keras dalam meninggalkan mengusap kedua sepatu karena ketidak-senangan terhadap sunnah.”

  1. Lepas dari jalan-jalan setan

Allah berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴿١٥٣﴾

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Hadits Ibnu Mas’ud , Ia berkata:

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ يَوْماً خَطّاً، وَخَطَّهُ لَنَا عَاصِمٌ ـ فَقَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطاً عَنْ يَمِيْنِ الخَطِّ، وَعَنْ شِمَالِهِ فَقَالَ: «هَذِهِ السُّبُلُ، عَلىَ كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ» ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلآيَةِ: {وَأنَّ هَذَا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ} لِلْخَطِّ اْلأَوَّلِ {وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ} لِلْخُطُوطِ {فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ}.

“Rasulullah pernah membuat garis lurus –Ashim membuat garis itu untuk kita- lalu beliau bersabda: “Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau membuat garis-garis dari samping kanan dan kirinya lalu bersabda: “Ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan ada setan yang menyeru kepadanya.” kemudian beliau membaca ayat [وَأنَّ هَذَا صِراطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ] untuk garis yang pertama, dan membaca: [وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ] untuk garis-garis tadi, « Karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.)) ((HR. Baihaqi: 11069, Ahmad, Darimi, Nasa’i, dll)

  1. Terealisasinya Syari’at dan agama dengan benar

Hadits Aisyah (HR. Ahmad: 24208), Sa’ad ibn Hisyam ibn ‘Amir berkata: Saya mendatangi Aisyah lalu saya katakan:

يَا أُمَّ اْلمُؤْمِنِيْنَ أَخْبِرِيْنِي بِخُلُقِ رَسُوْلِ اللهِ ، قاَلَتْ: كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنُ، أَمَا تَقْرَأُ اْلقُرْآنَ، قَوْلَ اللهِ عز وجل {وَإنَّكُ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ} (القلم: 4) قُلْتُ: فَإِنِّي أُرِيْدُ أَنْ أَتَبَتَّلَ، قَالَتْ: لاَ تَفْعَلْ، أَمَا تَقْرَأُ {لَقَدْ كاَنَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ} (الأحزاب: 21) فَقَدْ تَزَوَّجَ رَسُوْلُ اللهِ وَقَدْ وُلِدَ لَهُ.

“Wahai Ibunda kaum mukminin, beritahukanlah kepada saya tentang akhlak Rasulullah .” Maka Dia berkata: “Akhlak beliau adalah al-Qur’an. Tidakkah kamu membaca firman Allah: (yang artinya) “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam: 4) Kemudian saya katakan: “Saya ingin membujang.” Maka Aisyah berkata: “Jangan kamu lakukan, tidakkah kamu baca firman Allah (yang artinya): “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik untukmu.” (QS. al-Ahzab: 21) Sungguh Rasulullah telah menikah dan dikaruniai anak.”

Dan Nabi bersabda:

»مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ«

“Barang siapa melakukan satu amalan yang tidak didasari oleh syari’atku maka ia tertolak.”: (HR. Bukhari:20, 60, Muslim: 4447 dari Aisyah)

  1. Terbebas dari kehinaan dan terwujudnya kemenangan umat Islam

Nabi bersabda:

»إِذَا تَبَايَعْتُمْ بالْعِينَةِ، وَأخَذْتُمْ أذْنَابَ الْبَقَر،ِ وَرَضِيتُمْ بالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ، سَلَّطَ الله عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إلَى دِينِكُم «

“Apabila kalian berjual beli dengan sistim riba terselubung, kamu mengikuti ekor sapi, kamu rela dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah menguasakan atas kalian satu kehinaan, Dia tidak akan mengangkat kehinaan itu hingga kamu kembali ke agamamu.” (Hadits Ibnu Umar, Abu Daud: 3463)

Lafazh Ahmad: (5553)

»حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى مَا كُنْتُمْ عَلَيْهِ، وَتَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ«

“Hingga kamu kembali kepada kondisi (agama)mu semula, dan kamu kembali kepada Allah.”

  1. Mengenal penyakit umat dan resep pengobatannya

Nabi bersabda:

«يُوْشِكُ اَلْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِّكُمُ اْلمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ فِيْ قُلُوْبِكُمُ اْلوَهَنَ». قاَلَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ! وَمَا اْلوَهَنُ ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ اْلمَوْتِ» .

“Hampir saja umat-umat itu mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang makan mengeroyok nampan. Seseorang berkata: “Apakah karena kita sedikit pada waktu itu?” Beliau bersabda: “Bahkan kalian pada hari itu banyak, akan tetapi kalian adalah buih seperti buih air bah. Dan Allah pasti akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan akan melontarkan wahan di hati kalian.” Seseorang bertanya: “Ya Rasulallah, wahan itu apa? Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”(HR. Abu Daud, Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah dari Tsauban , Miskatul Mashabih: 5369, al-Shahihah: 958)

  1. Tercipta keindahan akhlak, kemuliaan dan kesempurnaannya

Rasulullah bersabda:

«إِنَّـمَا بُعِثْتُ لأُتَـمِّـمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ ».

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” ((HR. Baihaqi: 20572, 21242, Ahmad: 8939, Hakim, dari Abu Hurairah , dan ibn Abi Syaibah meriwayatkan dari Zaid ibn Aslam: (27508), dishahihkan Syueb al-Arnauth dan Al-Albani: Shahih al-Jami’: 2349 )

  1. Selamat dari fitnah dan adzab yang pedih

Firman Allah :

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴿٦٣﴾

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. an-Nur: 63)

Said Ibnul Musayyib pernah melihat seorang lak-laki melakukan shalat (di Masjid) setelah terbit fajar lebih dari dua rakaat, di dalamnya ia memperbanyak rukuk dan sujud, maka ia melarangnya. Lalu orang itu berkata:

ياَ أَبَا مُـحَمَّدٍ يُعَذِّبُنِـي اللهُ عَلَـى الصَّلاَةِ ؟!

“Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat.”

Maka Ibnul Musayyib menjawab:

لاَ، وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَـى خِلاَفِ السُّنَّةِ

“Tidak, akan tetapi karena menyalahi sunnah.” (Baihaqi dalam Sunan Kubra: 4481, at-Tamhid: 20/104. Sementara menurut ad-Darimi (441) kesalahan orang tadi adalah shalat sunnah setelah ashar. Lihat Cermin Salaf, Qiblati edisi 11/ tahun II)

Ibrahim an-Nahka’i pernah dalam rombongan safar, lalu mereka dihadapkan pada hari yang sangat panas, lalu Ibrahim berkata:

لَوْلاَ خِلاَفُ السُّنَّةِ لَنَزَعْتُ خُفِّيْ.

“Seandainya bukan karena takut menyalahi sunnah tentu sudah aku lepas sepatuku.” (Ibn Abi Saibah: (1917)

  1. Hidupnya sunnah dan matinya bid’ah

Rasulullah bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَىٰ هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئاً. وَمَنْ دَعَا إِلَىٰ ضَلاَلَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئَا

“Barangsiapa mengajak kepada hidayah maka baginya adalah pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sama sekali. Barangsiapa mengajak kepada kesesatan maka ia memikul dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya. Hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sama sekali.” (Muslim (6755) dari Abu Hurairah)

  1. Terwujudnya iman dan Hidup bahagia di dunia, dan di akhirat selamat dari neraka

Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ﴿١٢٤﴾

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴿٩٧﴾

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Perhatikan pula ayat-ayat berikut: Ali Imran: 31, an-Nisa’: 14, an-Nisa’: 65, al-Ahzab: 36.

  1. Mendapatkan pahala 50 syahid; pahala orang-orang yang sabar di jalan Allah.

Rasulullah bersabda:

« الْمُتَمَسكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ اخْتِلاَفِ أُمَّتِي كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ »

“Orang yang berpegang teguh dengan sunnahku pada masa perselisihan umatku seperti orang yang memegang bara api.” (Hadits al-Hakiim, dari Ibnu Mas’ud, Jami’ Shaghir Wa Ziyadatuh: 11622, Shahih al-Jami’: 6676)

Rasulullah bersabda:

«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كالقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ» .

“Akan datang pada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di dalamnya atas agamanya seperti orang yang memegang bara api.” (HR. Tirmidzi dari Anas, Shahih al-Jami’: 8002, al-Shahihah: 957)

Abu Tsa’labah al-Khusyani pernah menanyakan firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴿١٠٥﴾

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-Maidah 105)

Abu Tsa’labah bertanya tentang makna «Jagalah dirimu» dalam ayat ini. Maka Rasulullah bersabda:

بَلِ ائْتَمِرُوا بالمَعْرُوفِ وَتَنَاهُوْا عن المُنْكَرِ، حَتَّى إذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعاً وَهَوًى مُتَّبَعاً وَدُنْيَا مؤْثَرَةً وَإعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ ـ يَعني ـ بِنَفْسِكَ وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ، فإنَّ مِنْ وَرَائِكُم أيَامَ الصَّبْرِ، الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلَ أجْرِ خَمْسِينَ رَجُلاً يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ.

وَزَادَ أبو داود: يَا رَسُولَ الله أجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ. قالَ: أجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُم»

“Tetapi (maknanya), lakukan yang makruf dan saling melaranglah dari yang mungkar, hingga apabila kamu melihat sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan kekaguman masing-masing orang dengan pendapatnya sendiri, maka jagalah dirimu sendiri dan tingkalkan orang-orang awam. Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari sabar; sabar di dalamnya seperti memegang bara api, bagi orang yang beramal di tengah-tengah mereka mendapat pahala lima puluh orang yang mengamalkan seperti amalnya. (HR. Tirmidzi: 3157, Ibnu Majah: 4101, Abu Daud (4341) menambah: “Ya Rasulallah pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?” Beliau menjawab: “Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.”(Lihat: Shahih al-Targhib: 3172)

Dalam Silsilah Shahihah (494) Syekh Albani menurunkan lafazh:

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ لِلْمُتَمَسِّكِ فِيْهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خمَْسِيْنَ مِنْكُمْ . قاَلُوْا : يَا نَبِيَ اللهِ ! أَوْ مِنْهُمْ ؟ قاَلَ : بَلْ مِنْكُمْ ]

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari sabar, bagi yang berpegang teguh dengan agama yang ada pada kalian di dalamnya pada hari itu pahala lima puluh orang dari kalian. Mereka bertanya: “Wahai Nabi Allah ataukah dari mereka?” Beliau bersabda: “Bahkan dari kalian.” (Hadits Shahih)

Dan telah hadir dengan lafazh: “Lima puluh syahid dari kalian.” Sanadnya Dhaif. Ia memiliki saksi yang sanadnya hasan. Dan saksi lain dari Anas , ada dalam silsilah Dhaifah dengan nomor: 3959)*

  • Adapun hadits:

مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِيْ عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِيْ فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيْدٍ

“Barang siapa berpegang teguh dengan sunnahku pada saat rusaknya umatku maka baginya pahala seratus syahid.” maka hadits ini Dhaif (Misykatul Mashabih: 176 (

  • Juga hadits:

وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِيْ فَقَدْ أَحَبَّنِيْ وَمَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku dan siapa mencintaiku maka ia bersamaku di surga.” Maka hadits ini dhaif, Miskat: 175)

(Poin 1-12 disarikan dari Muhammad ibn Umar Bazamul dalam Fadhl Ittiba’ as-Sunnah, Darul Imam Ahmad, cet-1, 1426)

(Malang; 29 Dzulqa’dah 1427/ 19 Desember 2006. Disampaikan di Masjid al-Akbar Surabaya pada hari Ahad, 24 Desember 2006 dalam rangka Daurah Syar’iyyah, Kajian Islam al-Kaun Surabaya,  disampaikan pada tanggal 07-08 Maret 2008 di PPME, Amsterdam Belanda)*

PENTAX Image
PENTAX Image

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *