Ketergesa-gesaan dalam mendidik anak

Mendidik anak dimulai melahirkan menyusui bahkan masa sebelumnya, bahkan semakin komplek setelah itu, semua orang ingin anaknya menjadi anak yang sholeh/sholihah, anak sholeh anak sholihah adalah impian dari orang tua, ukuran sholeh dan keberhasilan mendidik anak selalu mengacu kepada akhlak mulia, jadi akhlak adalah nomer satu dalam mendidik anak, dan yang paling lama dan berat adalah masalah akhlak ini, pemerintah tidak banyak mengeluh kepada pengetahuan anak para praktisi tidak mengeluh pada kurangnya ketrampilan anak tetapi mengeluh pada akhlak anak, akhlak adalah perkara yang rumit, untuk mencapai anak sholeh dan sholihah sunnahnya bukan melalui perintah larangan saja, dan bukan melalui peraturan-peraturan keras, akan tetapi melalui anak menyerap secara fitrah apa yang ada disekitarnya kalau yang disekitarnya ayah beserta ibu maka anak itu betul-betul foto kopi orang tua karena kedua orang tua menjadi sumbernya, setiap hari yang didengar dilihat oleh anak adalah kedua orang tuanya dirumah, baik orang tua berbuat baik berbuat buruk maka itulah yang direkam oleh anak, Orang tua mendidik anak sejak anak belum bisa bicara, jika ditambah dengan bacaan bagus, audio video yang bagus maka itulah yang direkam oleh anak, juga sebaliknya jika diberi fasilitas yang buruk maka yang buruklah yang direkam oleh anak.

Apalagi dimasa kedua orang tua yang sibuk harus bekerja dua-duanya maka anak diberi fasilitas saja seperti game agar anak tenang, tetapi mereka tidak menyadari bahwa itu adalah candu bagi anak, otaknya mati fitrahnya mati karenanya, ini merupakan kesalahan orang tua sehingga menjadikannya lebih buruk, bukan diberikan pendidikan yang baik malah diberi fasilitas yang buruk, mungkin diawal tidak terasa perubahannya tapi akan terasa saat anak menginjak dewasa baru terasa perubahan bengkoknya anak seperti apa, jika sudah pada masa itu maka ibarat pohon yang akarnya kuat keras akan tetapi pohonnya bengkok maka akan sangat sulit untuk meluruskannya.

oleh karena itu banyak ortu yang mendapati anaknya yang sudah bengkok saat ia sudah lulus sekolah dasar, lalu keluar perkataan “Jika kamu nakal kamu saya pondokkan”, sehingga asumsi yang dibangun adalah pondok itu tempat pembuangan anak nakal, ucapan ini salah, jadi kesimpulan yang diambil orang tua adalah jika anak dekat dengan ortu adalah rahmat jika anak dipondokkan, dijauh dengan orang tua adalah adzab maka ini adalah pemikiran yang salah. harusnya menanamkan dari kecil bahwa dengan ilmu itulah rahmat, jika selesai mengambil ilmu dari orang tua maka carilah ilmu yang lebih tinggi, kalau bisa mondok di pondok yang bagus maka dapat rahmat yang luar biasa kalau tetep dirumah ilmunya tidak jauh dari ilmu orantuanya.

banyak dari kalangan orang tua yang tidak terbiasa dengan dunia pondok, ingin menyekolahkan disekolah sunnah, maksudnya adalah sekolah yang perhatian lebih dengan sunnah nabi, mereka mengharapkan masuk dipondok langsung berubah dan mengerti sunnah, padahal orang tua tidak menghitung pendidikan anak sebelum masuk pondok yang sunnah jika masuk sudah smp maka sudah 6 tahun di Sekolah Dasar yang telah dilalui si anak.

jadi jika anak sudah dimasukkan saat usia 12 tahun, lalu misalkan ada hal yang tidak bagus pada anak maka tidak mudah merubah anak tersebut, tidak serta merta langsung menghapus pengaruh selama 12 tahun tersebut, orang tua kadang hanya ingin langsung mendapatkan perubahan pada anak, tidak sabar, menyimpulkan, lalu membandingkan dengan saat kecil atau dengan saudara si anak yang sekolah disekolah lain, tidak mencari penyebabnya, lalu dengan mudahnya protes, menggugat, tidak percaya mudah memindahkan anak ke sekolah lain dengan tergesa-gesa. ini harus dipahami, inilah penyakit yang disebut isti’jal “tergesa-gesa”,

ada sebuah hadits penting yang harus diulang-ulang bagus jika dihafal, Habbab bin arrat adalah generasi awal yang disiksa yang sangat tidak manusiawi dan tidak tahan, beliau mengadu “separuh menggugat” Nabi,

Dari Abu Abdillah Khabbab bin Arati , ia berkata : “Kami mengadu kepada Rasulullah SAW Saat ini beliau sedang berbantalkan sorbannya di bawah lindungan Ka’bah. Kami bertanya : “Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami ? Apakah engkau tidak mendoakan kami ?” Beliau

menjawab : “Orang-orang sebelum kalian, ada yang ditanam hidup-hidup, digergaji dari atas kepalanya sehingga tubuhnya terbelah dua dan ada pula seseorang yang disisir dengan sisir besi sehingga mengenai daging kepalanya, yang demikian itu tidak menggoyahkan agama mereka. Demi Allah, Allah pasti akan mengembangkan agama Islam ini hingga merata di Shan’a sampai ke Hadramaut dan masing-masing dari mereka tidak takut melainkan hanya kepada Allah, melebihi takutnya kambing terhadap serigala. Tetapi kalian sangat tergesa-gesa

.” (HR. Bukhari)

demikianlah ketergesa-gesaan adalah suatu hal yang salah, juga dalam mendidik anak maka perlu kesabaran, perlu proses jika istiqomah dan syarat-syaratnya di penuhi ortu kerjasama dengan sekolah terus mendo’akan sang anak, keberhasilan itu pasti (sunnatullah).

Rasulullah bersabda,

إنما العلم بالتعلم وإنما الحلم بالتحلم

“Sesungguhnya ilmu diraih dengan belajar dan kemurahan hati (hilm) dengan berlatih murah hati”

*catatan saat Kajian Parenting SD Islam Al Umm

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *