JANGAN MUNAFIQ DALAM SALAM, SALAM ISLAM ADALAH SALAM TAUHID BUKAN RADIKAL

Agama kita adalah agama tahuhid

Agama kita adalah tauhid, baik dalam keyakinannya maupun dalam pengamalan dan syiarnya, yaitu:

  1. Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Tuhan Pencipta yang Sempurna, meyakini bahwa Dia menyandang nama-nama indah dan sifat-sifat agung yang disebutkan dalam al-Quran dan al-Sunnah.
  2. Meyakini bahwa Allah adalah satu-satu ilah yang haq dan mengikhlaskan seluruh ibadah kita hanya untuk-Nya tanpa sekutu bagi-Nya.

Maka sejak lahir di telinga kanan bayi diperdengarkan kalimat-kalimat adzan sebagai kumandang  agama Islam agama tauhid. Setiap hari, kita  pergi tidur dan bangun  dibarengi dengan berdoa secara tauhid. Adzan dan iqamat setiap hari 5 kali berisi kumandang kalimat tauhid. Semua amal kita hanya akan diterima oleh Allah swt kalau kita bertauhid. Aktivitas dakwah kita yang  pertama dan utama adalah tauhid. Khutbah jumat kita selalu diawali dengan tauhid. Surat pertama dalam al-Quran berisi tauhid. Surat terakhir berisi tauhid, seluruh isi surat-surat al-Quran adalah tauhid. Talbiyah, syiar manasik haji dan umrah adalah tauhid. Jihad fi sabilillah adalah untuk menegakkan tauhid. Menikahnya umat Islam adalah dengan kalimat tauhid. Talqin terakhir untuk meninggalkan dunia ini adalah tauhid. Ikrar tiap hari  berkali-kali dalam iftitah shalat adalah tauhid. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163) الأنعام

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al-An’am: 162-163)

Maka isi kehidupan yang dibangun dengan tauhid ini akan mewujudkan kedamaian abadi dari dunia hingga surga. Oleh karena itu salam penghormatan pun yang harus disebar, adalah salam tauhid, salam Islam, salam penuh berkah:

فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. Al-Nur: 61)

Salam Islam adalah syiar tauhid

Imam Nawawi berkata:

: معنى السلام: قيل: هو اسم الله تعالى، فقوله: السلام عليك؛ أي: اسم السلام عليك، ومعناه: اسم الله عليك؛ أي: أنت في حفظه، كما يقال: الله معك، والله يصحَبك، وقيل: السلام بمعنى السلامة؛ أي: السلامة ملازمة لك.

“Makna al-Salam, ada yang mengatakan ia adalah nama Allah. Maka ucapan assalamu alaika, maksudnya:

1)  nama assalam itu atasmu, artinya nama Allah atasmu, yaitu engkau berada dalam penjagaan-Nya, sebagaimana dikatakan: Allah bersamamu, Allah menemanimu.

2) Ada yang mengatakan: assalam artinya assalamah, maksudnya: keselamatan selalu menyertaimu.” (Shahih Muslim dengan Syarah nawawi, 7/395)

Assalam, adalah salah satu asmaul husna, sebagaimana ada dalam firman Allah:

 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴾ [الحشر: 23].

Rasulullah ﷺ bersabda:

: ((إن السلام اسمٌ من أسماء الله تعالى، وضَعه الله في الأرض؛ فأفشوا السلامَ بينكم))

“Sesungguhnya assalam itu satu nama dari nama-nama Allah ta’ala, Allah meletakkannya di bumi, maka sebarkanlah assalamu di antara kalian.”  (Al-Albani, Shahih al-Adab al-Mufrad, no. 1019, hadits Hasan dari Anas ra.)

Abdullah ibn Mas’ud ra juga mengatakan:

“Sesungguhnya assalam itu satu nama dari nama-nama Allah yang Allah letakkan di bumi, maka sebarkanlah di antara kalian. Sesungguhnya seseorang itu itu jika mengucapkan salam kepada satu kaum lalu mereka menjawabnya maka dia memiliki kelebihan satu tingkat di atas mereka, sebab ia yang mengingatkan mereka kepada Assalam. Dan jika ia tidak dijawab maka dia dijawab oleh makhluk yang lebih baik dan lebih bagus dari padaya (maksudnya adalah para malaikat). (Al-Albani, Shahih al-Adab al-Mufrad, no 793, hadits shahih).

Oleh karena assalam itu nama Allah maka Ibnul Qayyim saat menuturkan pertanyaan kedua puluh dua: Apa hikmah dalam menambahkan kata rahmat dan berkah kepada Allah dan menyebut salam tanpa ditambahkan kepada Allah? Jawabannya adalah: Assalam itu nama dari nama-nama Allah maka cukup disebut secara lepas tanpa idhafah. Adapun rahmat dan berkah seandainya tidak ditambahkan kepada Allah maka tidak diketahui rahmat siapa dan berkah siapa yang diminta. Kalau dikatakan: bagimu rahmat dan berkah, maka ucapan ini tidak memberikan rasa terhadap yang merahmati dan yang memberi berkah, maka dikatakan: rahmatullah wa barakatuh.”  (Ibn al-Qayyim, Badai’ al-Fawaid, 2/181)

Assalam adalah ucapan penghormatan yang diridhai Allah untuk para hamba-Nya

Rasululullah ﷺ bersabda:

Allah menciptakan Adam, dan tingginya adalah 60 hasta, kemudian berfirman: pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat itu, lalu dengarkanlah apa jawaban mereka terhadap ucapan salammu dan salam bagi anak keturunannya. Maka Adam mengatakan: assalamualaikum. Maka mereka menjawab: assalamu alaika warahmatullah. Mereka menambahi wa rahmatullah. Maka setiap orang yang masuk surga tingginya seperti Adam, maka manusia senantiasa berkurang hingga sekarang.” (HR. Bukhari no. 6227, Muslim, no. 2841)

Salam adalah ucapan selamat bagi ahli surga

Allah berfirman:

 جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ * سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ ﴾ [الرعد: 23، 24]،

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Al-Ra’du: 23-24)

 دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Do’a mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma“, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.” (QS. Yunus: 10)

 تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا ﴾ [الأحزاب: 44]

“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (QS. Al-Ahzab; 44)

 لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا * إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا

Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (QS. Al-Waqi’ah: 25-26)

Orang yahudi iri dengan Salam Islam

Sayyidah Aisyah ra berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

((ما حسَدَتْكم اليهود على شيءٍ ما حسَدَتْكم على السلام والتأمين))

“Tidaklah orang Yahudi merasa iri dengan kalian seperti irinya mereka  dengan kalian atas nikmat salam dan ucapan aamiin.” (al-Albani, Shahih al-Jami’, no. 5613)

Menyebar salam tauhid menciptakan kedamaian di dunia dan di akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ»

“Kalian tidak masuk surge hingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan sesuatu jika kalian melakukannya maka kalian saling mencintai?! Sebarkan salam di tengah kalian.” (HR. Muslim, no. 54, dari Abu Hurairah ra)

Jangan dikotori dengan salam jahiliyyah, salam syirik

Masyarial muslimin

Salam tauhid yang murni dan agung ini janganlah dicampakkan atau dikotor-kotori  dengan ditambahi kesyirikan, permintaan keselamatan dan kesejahteraan  kepada selain Allah alias kepada yang dipersekutukan dengan Allah.

Di dunia ini, sepertinya khusus terjadi  di Indonesia melalui orang-orang yang kurang mengagungkan Allah, dan menoleh kepada selain Allah, kurang mencari ridha Allah dan berebut mencari keridhoan manusia, setelah  ia mengucapkan salam tauhid, ia menambahkan dengan mengucapkan “Shalom”nya orang Yahudi, lalu salam sejahternya  umat Kristen, lalu  “Om Swastiastu” salamnya orang  Hindu, lalu “Namo Buddhaya”  salamnya orang Budha, atau ditambah juga dengan salam  “Wei Dong Tian” milik  Konghucu.

Al-hamdulillah, bersyukur kepada Allah yang menggerakkan hati nurani Majelis Ulama Indonesia Propinsi Jawa Timur  yang memperingatkankan bahwa menyatakan ucapan salam lintas agama tersebut adalah terlarang karena merupakan perbuatan “bid’ah” yang bisa sampai tingkat syirik dalam doa  atau sekurangnya “syubhat” dalam berakidah.

MUI Jatim menyatakan dalam taushiyahnya tersebut, di poin nomor 5 sampai 7 sebagai berikut:

  1. Jika dicermati, salam adalah ungkapan do’a yang merujuk pada keyakinan dari agama tertentu. Sebagai contoh, salam umat Islam, “Assalaamu’alaikum” yang artinya “semoga Allah mencurahkan keselamatan kepada kalian”. Ungkapan ini adalah doa yang ditujukan kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Salam umat Budha, “Namo buddaya artinya terpujilah Sang Budha, satu ungkapan yang tidak terpisahkan dengan keyakinan umat Budha tentang Sidarta Gautama. Ungkapan pembuka dari agama Hindu, “Om swasti astu” Om, adalah panggilan umat Hindu khususnya di Bali kepada Tuhan yang mereka yakini yaitu “Sang Yang Widhi”. Om” Seruan ini untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan yang tidak lain dalam keyakinan Hindu adalah Sang Yang Widhi tersebut. Lalu kata swasti, dari kata su yang artinya baik, dan asti artinya bahagia. Sedangkan Astu artinya semoga. Dengan demikian ungkapan Om swasti astu kurang lebih artinya, “semoga Sang Yang Widhi mencurahkan kebaikan dan kebahagiaan”.
  2. Bahwa doa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah. Bahkan di dalam Islam doa adalah inti dari ibadah. Pengucapan salam pembuka menurut Islam bukan sekedar basa basi tetapi do’a.
  3. Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bid’ah yang tidak pernah ada di masa yang lalu, minimal mengandung nilai syubhat yang patut dihindari.

Umat agama lain ternyata tidak suka dengan salam lintas agama

Menurut seorang tokoh agama Hindu, Ngakan Made Madrasuta, dalam bukunya yang berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010), setiap agama memiliki konsep Tuhan yang khas. Ada perbedaan konsep Tuhan antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam.

Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yakni Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut “Allah”. Ia menegaskan: “Membangun toleransi bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah!” (hal. 33).

Jangan munafiq, Mari kita mencari izzah kepada Allah, bukan kepada tuhan selain Allah

Mari kita perkuat iman kita, kita perkokoh keyakinan kita kepada Allah. Kita tingkatkan pencarian kita kepada ridha Allah dan kejayaan dari Allah. Janganlah kita munafiq, yaitu mengaku muslim tetapi mencari izzah kekuatan, kemenangan dan kejayaan kepada selai Allah.

بَشِّرِ الْمُنافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذاباً أَلِيماً (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكافِرِينَ أَوْلِياءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعاً (139)

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. Al-Nisa’: 138-139).

Ingat begitu pentingnya salam Islam hingga Allah mewajibkan untuk menjawabnya :

قال الله تعالى: ﴿ وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا ﴾ [النساء: 86].

هذه الآية المباركة دليلٌ على أن رد السلام فرض على كل مسلم بالغ عاقل قادر على رد السلام.

قال ابن كثير: قوله تعالى: ﴿ وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ﴾ [النساء: 86]؛ أي: إذا سلَّم عليكم المسلم، فردُّوا عليه أفضل مما سلم، أو ردوا عليه بمثل ما سلَّم؛ فالزيادة مندوبةٌ، والمماثلة مفروضةٌ؛ (تفسير ابن كثير جـ 1 صـ 544).

روى البخاري عن الحسن البصري قال: “التسليم تطوُّعٌ، والرد فريضةٌ”؛ (حديث صحيح) (صحيح الأدب المفرد للألباني حديث: 794).

قال ابن كثير – تعليقًا على كلام الحسن البصري -: هذا الذي قال هو قول العلماء قاطبةً؛ أن الردَّ واجبٌ على مَن سلم عليه، فيأثم إن لم يفعل؛ لأنه خالَف أمرَ الله في قوله: ﴿ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ﴾ [النساء: 86]؛ (تفسير ابن كثير جـ 1 صـ 545).

وقال القرطبي: أجمع العلماء على أن الابتداءَ بالسلام سنةٌ مرغَّبٌ فيها، ورده فريضةٌ؛ لقوله تعالى: ﴿ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ﴾ [النساء: 86]؛ (تفسير القرطبي جـ 5 صـ 298).

Begitu pentingnya salam Islam, sampai disyariatkan untuk dikirim

تبليغ السلام:

يُسَنُّ تبليغ السلام للآخرين من المسلمين؛ فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يسلِّم بنفسه على من يواجهه، ويحمل السلام لمن يريد أن يسلم عليه من الغائبين.

روى الشيخانِ عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: أتى جبريلُ النبيَّ صلى الله عليه وسلم، فقال: ((يا رسولَ الله، هذه خديجة قد أتت معها إناءٌ فيه إدامٌ أو طعامٌ أو شرابٌ، فإذا هي أتتك فاقرأ عليها السلام مِن ربها ومني، وبشِّرْها ببيتٍ في الجنة من قصب، لا صخب فيه ولا نصب))؛ (البخاري حديث 3820/ مسلم حديث 2432).

روى البخاريُّ عن عائشة رضي الله عنها، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يومًا: ((يا عائشُ، هذا جبريل يقرئك السلام))، فقلت: وعليه السلام ورحمة الله وبركاته؛ (البخاري حديث 3768).

Begitu pentingnya Salam Islam Sampai salam disyariatkan kepada orang yang sudah mati

إلقاء السلام على الأموات:

مِن السنَّة أن يسلِّم المسلم على الأموات عند زيارة المقابر، ويدعوَ لهم بالرحمة.

روى مسلمٌ عن بريدة، قال: كان رسولُ الله صلى الله عليه وسلم يعلمهم إذا خرجوا إلى المقابر، فكان قائلهم يقول – في رواية أبي بكرٍ -: السلام على أهل الديار، وفي رواية زهيرٍ: السلام عليكم أهل الديار، مِن المؤمنين والمسلمين، وإنا إن شاء الله للاحقون، أسأل الله لنا ولكم العافيةَ))؛ (مسلم حديث 975).

روى مسلمٌ عن عائشة: أنها قالت: كيف أقول لهم يا رسول الله؟ قال: ((قولي: السلام على أهل الديار، مِن المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون))؛ (مسلم حديث 974).

اللهم أعز الإسلام والمسلمين وأذل الشرك والمشركين وانصر عبادك الموحدين، اللهم انصر جنودنا ورجال أمننا ، وأيدهم بتأييدك واحفظهم بحفظك واجزهم خير الجزاء على ما يقومون به من حماية أمننا وحدودنا ومقدساتنا يا سميع الدعاء. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وأدخلنا الجنة مع الأبرار. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

15 11 2019

dieng

(Visited 117 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.