ILMU YANG DIINGINKAN OLEH AL-QUR`AN

Jumlah Kata Al-Ilm dalam Al-Qur`an

Kata Al-Ilm di dalam Al-Qur`an dengan segala derivasinya (pecahannya) sangat banyak. Begitu banyaknya hingga membuat orang yang menghitung berbeda-beda hasilnya. Dr. Adian Husaini menyebut ada 823 kali1, Dr. Hasan Khaththaf mengatakan ada lebih dari 750 kali, saya sendiri menghitung apa yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Fuad Abdul Baqi ada 778 kali, jika ditambah dengan kata الأعلام, العالمين dan علامات maka berjumlah 854 kali.2

Dari 778 kali tersebut yang menggunakan kata Al-‘ilm (mu’arraf bi al) sebanyak 28 kali, lalu yang berbentuk nakirah (‘Ilm) sebanyak 237 kali termasuk yang dengan lafazh “bighairi ‘ilm”. Khusus dengan lafzh bighairi ‘ilm 12 kali, ‘ilmullah 1 kali, ‘ilmul kitab 1 kali, ‘ilm Al sa’ah 3 kali, ulu al-‘ilm 1 kali, ‘ilm Al-yaqin 1 kali.3 Ini menunjukkan pentingnya kedudukan ilmu dalam kehidupan manusia, dan rincian ilmu menurut al-Qur`an serta perhatian Al-Qur`an dalam menjelaskan mana ilmu yang benar dan mana yang tidak benar, dan bagaimana konsekuensinya.

Pengertian Al-Ilmu dan Cakupannya dalam Al-Qur`an.

Dari tafsir ayat-ayat ilmu yang kami telusuri, kami mengetahui bahwa lafazh Al-Ilm yang ada di dalam Al-Qur’an kebanyakannya berarti “العلم بالشيء، ومعرفته على حقيقته(mengetahui sesuatu dan mengenalinya sebagaimana adanya), seperti firman Allah (QS. Al Baqarah: 77 dan 216).

Ini adalah pengertian ilmu secara umum, yang sudah diakui oleh para ulama. Akan tetapi ada beberapa tempat yang mana kata Al-Ilm maupun pecahannya di dalam Al-Qur`an memiliki makna lain, yaitu: Kepakaran, pengalaman, keutamaan, ilmu Taurat, ilmu kimia, ilmu bisnis, wahyu ilahi, ajaran agama Islam, penjelasan tentang Nabi Isa as, tentang qiblat, tentang kebatilan orang kafir, tentang Allah dan sifat-Nya, tentang kebenaran Islam, ilmu tentang ismullah Al-A’zham, bukti-bukti yang benar, hujjah, dalil, pemahaman yang benar, tafsir mimpi, kenabian, ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat, ilmu yang bermanfaat, seluruh pengetahuan manusia, ilmu tentang yang ghaib dan ruh, ilmu tentang dunia, tentang kematian, tentang akhirat. Dan kata Ilmu dalam bentuk kata kerjanya juga berarti melihat, membedakan, dan meyakini.

Bahkan sampai ilmu-ilmu orang kafir atau yang mereka anggap sebagai ilmu seperti ucapan mereka kepada para Rasul: “Kami lebih alim daripada kalian, kami tidak akan dibangkitkan, dan kami tidak akan disiksa.” Juga disebut ilmu dalam rangka tahakkum (taubikh, menjelekkan). Jadi kebodohan yang ada pada orang kafir berupa pengetahuan, persepsi, teori, sains, dan filsafat serta berbagai macam metodologi yang mereka miliki, yang mereka banggakan dan mereka jadikan sebagai alat atau bahan untuk menentang dakwah Rasul saw disebut juga oleh Al-Qur`an dengan istilah “ilmu yang ada pada mereka”.

Dari sini kita memahami bahwa istilah ilmu itu mencakup ilmu yang haq yaitu yang datang dari Allah dan apa saja yang tidak bertentangan dengannya, dan mencakup ilmu yang batil atau tidak manfaat, yaitu yang bertentangan dengan ilmu yang dibawa oleh Rasul Allah swt.

Namun yang dimaksud dengan term al-‘ilmu di dalam al-Qur`an secara mutlak, yang dipuji dan diperintah untuk mencarinya yang karenanya Allah menurunkan para Rasul-Nya adalah ilmu Islam atau Ilmu Syar’i, atau ilmu Agama Islam dan semua ilmu yang bermanfaat bagi manusia, dan tidak bertentangan dengan Islam.

Dalam hal ini Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di menyimpulkan:

وحيث أطلق العلم شمل العلوم الشرعية، وهي الأصل وهي أشرف العلوم، وشمل العلوم الكونية، فكل علم نافع في الدين أو في الدنيا فهو داخل في مدح العلم وأهله.

Di mana disebut istilah ilmu secara mutlak maka ia mencakup ilmu-ilmu Syar’i, yaitu pokok (pokoknya ilmu), ia ilmu yang paling mulia, ia mencakup ilmu-ilmu alam (sesuai dengan hirarkinya dalam Islam). Maka setiap ilmu yang bermafaat dalam agama atau di dunia maka ia termasuk dalam ilmu yang dipuji dan pemiliknya juga terpuji.4

Yang menarik, di dalam Al-Qur`an bahkan al-Sunnah sering kata al-ilmu itu maksudnya adalah al-Din (agama Islam yang diwahyukan dengan segala rinciannya). Ini artinya agama Islam tidak bias tegak kecuali dengan ilmu, dan ilmu yang menjadi induk segala ilmu adalah ilmu agama Islam yang menerangi hati. Maka Islam disebut agama ilmu.

Di antara ayat yang menggunakan kata al-ilmu dalam arti al-Din (agama Islam ini) adalah firman Allah Surat al-Baqarah ayat 120, 145, Surat Ali Imran ayat 7, 18, 61. Surat al-Ra’d ayat 37, Surat al-Sura ayat 14, Surat al-Jatsiyah 17.

Di dalam hadits Nabi i menyebut:

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلْفٍ عُدُولُهُ , يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ.

Ilmu (agama Islam) ini dibawa dari setiap generasinya oleh orang-orang yang ‘adil, mereka membersihkan Islam dari tahrif orang-orang ghuluw, intihal orang-orang yang merusak, dan takwil orang-orang yang bodoh.”5

Sedangkan di dalam atsar disebutkan oleh Imam Muhammad ibn Sirin:

«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari mana kalian mengambil agama kalian.”6

Sementara dalam kitab al-Thuyuriyyat diriwayatkan dengan lafazh “Hadzihi al-Ahadits din”.7

Demikianlah istilah ilmu yang ada di dalam al-Qur`an, yang seharusnya difahami dan diikuti oleh setiap muslim, bukan malah mengikuti orang kafir Barat yang mengatakan bahwa agama Islam; al-Qur`an dan hadits dengan segala penafsiran dan fikih para ulama tidak disebut ilmu dan tidak termasuk ilmiah. Ilmu dan ilmiah menurut mereka adalah yang bersifat saintific, logis, dan empiris.

Maka marilah kita selalu merujuk kepada Al-Qur`an dan al-Sunnah agar kita mendapatkan petunjuk kebenaran dan jalan keluar dari kerancuan ilmu manusia yang sengaja dikacaukan oleh orang kafir Barat. [*]

1 Adian Husaini, Urgensi Epistemologi Islam, dalam Adian Husaini, et al., 2013, Filsafat Ilmu, Depok: Gema Insani, hlm. 28.

2 Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al Mu’jam Al Mufahras L Alfazh Al Qur`an, 1987, Beirut: Dar Al Fikr.

3 Ibid, juga lihat, Ayat Waradat Fiha Kalimah Al Ilm. [Online], http://www.almaany.com/quran-b/%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%90%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8E/.

4 Abdurrahman al-Sa’di, al-Dalail al-Qur`aniyyah Fi Anna al-Ulum al-Nafi’ah al-‘Ashriyyah Dakhilah Fi al-Din al-Islami, KSA: Dar Ibn al-Jauzi, tt, 37.

5 HR. Ibn Wadhdhah, al-Bida’ wa al-Nahy ‘Anha, Kairo: Maktabah Ibn Taimiyah, 1416, hlm. 26, tahqiq: Amr Abdul Mun’im Salim. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad, Ibn Abd al-Barr, Ibn al-Nahwi, al-Zain ibn al-Iraqi, al-Hafizh al’Ala`i.

Lihat Husam al-Din Ibn Musa Muhammad ibn Afanah, Ahadits al-Thaifah al-Zhahirah, Bait al-Maqdis, 2002, hlm. 6; Ibn al-Wazir al-Qasimi, al-Raudh al-Basim Fi al-Dzab ‘an Sunnah Abi al-Qasim, Dar ‘Alam al-Fawaid, hlm. 40; Muhammad Shidiq Khan al-Qinnauji, Qathf al-Tsamar Fi Bayan Aqidah Ahl al-Atsar, KSA: Kementerian Islam dan Waqaf, 1421, hlm. 160.

6 HR. Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, al-Musnad al-Shahih, Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-Arabi, tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, jilid 1, hlm. 14.

7 Shadruddin Abu Thahir al-Salafi, al-Thuyuriyyat min Ushul Abu al-Husain al-Mubarak al-Thuyuri, tahqiq: Dasman Yahya, Riyadh: Maktabah Adhwa` al-Salaf, 2004, hlm. 75.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *