HADITS: OPTIMIS (TAFA’UL) DAN PESIMIS (TASYAUM)

  1. Hadits Abu Hurairah  , Rasulullah  bersabda:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَّةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ اْلمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ اْلاَسَدِ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada kesialan karena (suara atau arah terbang) burung , tidak ada hammah (kesialan karena burung malam seperti burung hantu, atau tidak ada yang namanya ruh gentayangan yang menjadi burung karena tidak dibalaskan dendamnya), dan tidak ada shafar. Larilah dari penderita penyakit kusta seperti larimu dari singa.” (HR. Bukhari: 5579, Muslim: 101)

  1. Hadits Ibnu Masúd , Rasulullah  bersabda:

الطِّيَرَة شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلاَثاً، وَمَا مِنَّا إلاّ،َ وَلٰكِنَّ الله يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.

“Thiyarah (pesimis, merasa akan bernasib sial karena khurafat) itu adalah syirik” sebanyak tiga kali, “tidaklah setiap kita melainkan (pernah mengalaminya), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” (HR. Abu Dawud: 3910)

  1. Hadits Abdullah ibnu Ämr  , Rasulullah  bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ» قالوا: يا رسول الله، فَمَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «يَقُوْلُ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، ولا طَيْرَ إلا طَيْرُكَ، ولا إله غَيْرُكَ.

“Siapa yang dibatalkan dari hajatnya oleh thiyarah maka ia telah berbuat syirik.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, kalau begitu apa tebusannya? Beliau bersabda: “Salah seorang mereka berkata: “Ya Allah tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan nasib (keburukan, musibah) kecuali kesialan nasib (dalam takdir) Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar selain-Mu.” (HR. Abu Dawud: 8412, Ahmad: 6748, Thabrani dalam al-Kabir, Ibnu Sunni dalam Ámalul Yaumi Wallailah)

  1. Hadits Abu Hurairah , ia berkata: Saya mendengar Rasulullah  bersabda:

»لاَ طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ ». قِيلَ: يَا رَسُولَ اللّهِ وَمَا الْفَأْلُ؟ قَالَ: «الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ«.

“Tidak ada thiyarah, dan sebaik-baik thiyarah adalah al-Fa’l. Ditanyakan: Wahai Rasulullah apa fa’l itu? Beliau menjawab: “Yaitu kata-kata baik yang didengar oleh salah seorang kamu.” (HR. Bukhari: 5422, 5423, Muslim: 2223(

Thiyarah adalah merasa pesimis dan bernasib sial karena burung. Dulu orang jahiliyah jika memiliki satu keperluan kemudian melihat seekor burung terbang ke arah kanan maka ia merasa optimis dan melanjutkan niatnya. Jika ia melihatnya terbang ke kiri maka ia merasa pesimis lalu pulang mengurungkan niatnya. Maka Islam menolak khurafat tersebut, dan membatalkannya serta mengabarkan bahwa ia tidak memiliki pengaruh apapun, apakah pengaruh baik ataupun buruk.

Kemudian istilah thiyarah digunakan untuk menyebut perasaan pesimis secara mutlak, apakan karena melihat burung atau melihat yang lain, apakah karena melihat sesuatu, atau mendengar sesuatu atau hitungan-hitungan tertentu yang tidak rasional, seperti hitungan weton dan pasaran hari dalam tradisi jawa.

Sabda Nabi : “Sebaik-baik thiyarah adalah fa’l” maksudnya adalah Jika betul seperti kata mereka bahwa sesuatu itu memiki pengaruh maka sebaik-baik yang memiliki pengaruh adalah ucapan baik yang ia dengar, yang membuahkan rasa optimis dan prediksi akan terwujudnya kebaikan.

Para ulama mengatakan bahwa al-fa’l adalah untuk hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, namun biasanya digunakan untuk hal yang menyenagkan. Sedangkan thiyarah maka ia khusus untuk yang tidak menyenangkan. Terkadang digunakan secara majaz untuk hal yang menyenangkan.

(Shahih Bukhari, tahqiq Dr. Mushthafa Dib al-Bugha, Juz 5, halaman 217, Shahih Muslim juz 3/ halaman:1745)

  1. Hadits Anas , Rasulullah  bersabda:

« لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِيْ اْلفَأْلُ، قََالُوْا: وَمَا اْلفَأْلُ؟ قَالَ: كَلِمَةٌٌ َطيِّبَةٌ «

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), dan tidak ada thiyarah. Dan saya sangat tertarik dengan fa’l. Mereka bertanya: Apa fa’l itu? Beliau bersabda: “Yaitu ucapan yang baik” (HR. Bukhari: 5643, 5624, Muslim: 5752, 5753 )

  1. Hadits Ibnu Umar , Rasulullah  bersabda:

لاَ عَدْوَىَ وَلاَ طِيَرَةَ. وَإِنَّمَا الشُّؤْمُ فِي ثَلاَثَةٍ: الْمَرْأَةِ وَالْفَرَسِ وَالدَّارِ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), dan tidak ada thiyarah. Sesungguhnya (jika ada) maka kesialan itu ada pada tiga hal: isteri, kuda (kendaraan) dan rumah.” (HR. Bukhari: 5421, 1993, Muslim: 2225)

Maksudnya adalah jika ada kesialan, maka kesialan itu biasanya ada pada tiga hal ini. Jadi bukan penetapan secara kodrati (inhern) bahwa ketiga hal itu adalah mendatangkan kesialan. Maka barang siapa tertimpa kesialan karena salah satu tiga hal itu ia boleh meninggalkannya atau melepaskannya. (Shahih Bukhari, tahqiq al-Bugha juz 3, halaman 2171, lihat: Fathul Bari: 6/16, Badzlul Majhud: 16/251)

Kesialan pada isteri: apabila ia adalah seorang wanita yang selalu menuntut, atau selalu merasa kurang, lisannya pedas, atau mandul. Kesialan pada kuda (kendaraan): jika ia rewel, tidak patuh, dan tidak dipakai untuk perang. Kesialan pada rumah: Jika ia sempit, dekat dengan tetangga yang buruk, atau jauh dari masjid. (Shahih Bukhari Juz 3/ halaman 1094, Mushannaf Abdur Razzaq: 19527)

Ibnu Mas’ud  berkata: “Jika kesialan itu ada pada sesuatu maka itu ada pada lisan. Tidak ada sesuatu yang lebih membutuhkan penjara yang panjang selain lisan. (Mushannaf Abdur Razzaq: 19528)

Imam Malik dan sejumlah ulama mengatakan bahwa hadits itu berlaku sesuai dengan lahirnya, yaitu bahwa terkadang Allah menjadikan rumah itu menjadi sebab kebinasaan dan kehancuran. Begitu pula isteri atau kendaraan atau pelayan terkadang menjadi sebab kesialan dengan takdir Allah . (Shahih Muslim juz 4/halaman 1746, hadits nomor: 2225 )

Abu Dawud berkata: Hadits ini dibacakan pada al-Harits ibnu Miskin, dan saya hadir. Dikatakan kepadanya: Ibnul Qasim memberitahukan kepada anda? Maka dia berkata: Imam Malik ditanya tentang Syu’m (kesialan) pada kuda dan rumah, beliau menjawab: Berapa banyak rumah yang dihuni orang kemudian mereka mati, kemudian dihuni oleh orang lain lalu juga mati. Inilah tafsirnya menurut kami.” (Sunan Abu Dawud: 3922, al-Baihaqi: juz 8/140)

Diantara hadits yang menunjukkan adanya kesialan pada sebagian isteri adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari  dari Ibnu Abbas  bahwa setelah Ismail  menjadi pemuda ia dinikahkan dengan seorang gadis arab. Ketika Ibrahim  datang menjenguk -setelah ibu Ismail meninggal- ia hanya mendapati isterinya dirumah karena Ismail sedang berburu. Ketika Ibrahim  menanyakan kepadanya tentang keadaan dan kehidupan mereka. Si wanita itu mengatakan bahwa mereka sangat miskin dan kehidupannya sangat sempit. Maka Ibrahim  berkata: Kalau suamimu datang sampaikan salamku dan katakan kepadanya agar ia mengganti kayu pintunya bagian bawah (kinayah tentang wanita). Ketika Ismail  datang ia merasa ada seseorang yang telah datang, maka ia bertanya kepada isterinya. Isterinyapun mencerikan semuanya. Kemudian Ismail  bertanya: Apakah ia memerintahkan sesuatu? Ia menjawab: Ya, ia berpesan agar anda mengganti kayu pintu bagian bawah.” Maka Ismail  berkata: Itu ayahku. Beliau telah memerintahkan aku untuk menceraikannmu. Pulanglah kerumah orangtuamu. Maka iapun menceraikannya kemudian menikah dengan wanita lain. Setelah cukup lama akhirnya Ibrahim  datang lagi. Ia tidak mendapati Ismail , melainkan hanya isterinya. Ia bertanya persis seperti pertanyaan yang diajukan kepada isteri yang pertama dulu. Maka si isteri menceritakan kalau mereka bahagia, selalu dalam kecukupan dan kebaikan. Wanita itu memuji-muji Allah . Ibrahim  bertanya apa makanan kalian? Ia menjawab : Daging. Apa Minuman kalian? Dia menjawab: Air. Maka Ibrahim  mendo’akan: Ya Allah berkahilah untuk mereka dalam daging dan air.” Maka Ibrahim  berpesan: sampaikan salamku pada suamimu dan katakan kepadanya agar menetapkan kayu pintunya. Setelah Ismail  datang dan setelah mendengarkan pesan itu dia berkata: Itu ayahku beliau memerintahkan agar aku mempertahankanmu.” (HR. Bukhari: 3184, 3185)

  1. Hadits:

الشُّؤْمُ سُوءُ الْخُلُقِ

“Kesialan itu adalah akhlak yang buruk”

(Hadits dha’if: dari Jabir dalam Mu’jam Thabrani al-Ausath, Ibnu ‘Asakir dan Daruquthni, dari Aisyah  juga Rafi’ ibn Mukaits dalam Mu’jam Thabrani al-Kabir, dan Musnad Ahmad, dari Ibnu Umar  dalam al-Afrad karya Ibnu Syahin, dari ar-Rabi’ al-Anshari oleh Ibnu Mandah (Lihat Dha’iful Jami’: 2720, 2722, 3286, 3288, 3426)

Diantara kesialan akhlak yang buruk adalah rusaknya amal. Rasulullah  bersabda:

وَإِنَّ سُوءَ الْخُلُقِ لَيُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ

“Sesungguhnya akhlak yang buruk itu merusak amal sebagaimana cukak merusak madu” (Hasan: Shahih al-Jami’: 176 dari Ibnu Umar . Al-Shahihah: 906)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *