DARI MASJID UMAT BANGKIT

Dalam rangka mengatasi keterpurukan dan ketertinggalan umat Islam dalam membangun peradaban dan dalam mewujudkan jatidirinya sebagai umatan wasathan, kita perlu mengeksplorasi kembali sejarah kita dan mempelajari faktor-faktor keberhasilan bangsa kita dalam memimpin kemanusiaan selama hampir seribu tahun, dan membangun peradaban yang disaksikan oleh para musuhnya sebelum disaksikan oleh putra-putri sendiri. Hal ini diingatkan oleh Imam Malik rahimahullah yang berkata:

ولن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

Tidak akan menjadi baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik awal umat ini.”1

Generasi awal umat Islam ini adalah leluhur kita yang shalih yaitu para sahabat Nabi dan para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, dilanjutkan oleh para imam Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka adalah para pembesar kita. Jadi, kalau kita ingin keberkahan dan kemajuan harus bercermin kepada para pembesar kita. Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- berdabda:

«الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ»

Keberkahan itu ada bersama orang-orang besar kalian.” (HR. Ibn Hibban, 559 dari Ibn Abbas, dishahihkan Hakim, Dzahabi dll)

Syarat kebangkitan

Seorang pemikir muslim bernama Dr. Ali Lagha mengatakan:

نهوض الأمة مرهون بعودتها للمنهج الصحيح

Kebangkitan umat itu tergantung kepada kembalinya umat kepada manhaj yang benar.”

Maka tidak ada cara untuk maju bagi umat Islam kecuali dengan secara serius kembali mempelajari manhaj generasi-generasi terdahulu sejak fajar Islam menyingsing, dan berusaha mengamalkannya.2

Mantan Direktur Riset dan Pengembangan di Universitas al-Jinan Lebanon tersebut menekankan bahwa peradaban mana saja yang mengalami kemerosotan pasti bisa bangkit, namun kewajiban para pemikir dan para cendekiawan harus bekerja keras mengajukan solusi-solusi hingga proses perubahan dan kebangkitan kembali bisa dipercepat. Seluruh komponen di negeri itu harus bersatu dan seirama, pikirannya, emosinya, dan ucapannya, serta langkah-langkahnya, sesuai dengan tuntutan tahapannya.

Ia menyebutkan bahwa Eropa sekarang dari segi peradaban materi seperti surga Allah di bumi, semua orang menyukainya, padahal tahun 1945 M mereka masuk dalam peperangan yang setiap harinya ratusan ribu orang mati. Ibukota Negara-negara Eropa hancur dan porak poranda, namun hari ini mereka maju dan menjadi tujuan orang yang ingin hidup makmur secara fasilitas materi.

Malik Bin Nabi membatasi faktor materi untuk bisa membangun kembali peradaban ada tiga: manusia (SDM), tanah, dan waktu. Yang utama dari ketiga faktor ini adalah SDM, maka umat yang memiliki SDM cukup tidak perlu meratapi reruntuhan bangunan, tetapi mereka harus bekerja secara terpimpin dengan manhaj yang benar untuk membersihkan puing-puing dan membangun kembali peradaban mereka.

Mengingat peradaban Islam bukan peradaban materi, bukan peradaban membangun gedung, melainkan membangun manusia shalih yang bertakwa dan menegakkan keadilan dan menyebarkan kebenaran di muka bumi, maka kita tinggal mempelajari dan meniru bagaimana para Sahabat Nabi dan penerus mereka memimpin dunia. Inilah manhaj yang benar, sesuai dengan wasiat-wasiat Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-.

Jika para Salaf shalih dahulu yang asalnya bercerai berai lalu bersatu dengan Islam, maka hari ini pun tidak bisa orang Islam disatukan kecuali oleh Islam yang diajarkan oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-, baik akidah, hukum, muamalat, akhlak dan petunjuk. Sesungguhnya sejarah membuktikan bahwa setelah itu umat Islam bercerai berai karena penyimpangan mereka dari petunjuk Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, dan karena bid’ah-bid’ah yang muncul di bidang akidah, ibadah, dan tasyri’ serta ucapan atas Allah tanpa ilmu.

Dari sini, sudah menjadi kewajiban agar kita senantiasa secara berkala melakukan introspeksi diri. Kita timbang gerak dan langkah kita dengan timbangan al-Qur`an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaf Shalih.

Karakter dan kepribadian para salaf

Sifat, watak, dan karakter yang harus kita contoh dari para sahabat diterangkan oleh Imam al-Ajjurri dalam kitab al-Syari’ah dengan sanad yang dihasankan oleh Syaikh Isham Musa Hadi dalam tahqiqnya. Disebutkan bahwa Imam Hasan al-Bashri berada dalam satu majlis, dan disebutlah para Sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, maka beliau berkata:

أولئك أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم, كانوا أبر هذه الأمة قلوبا, وأعمقها علما, وأقلها تكلفا, قوم اختارهم الله عز وجل لصحبة نبيه, وإقامة دينه, فتشبهوا بأخلاقهم وطرائقهم فإنهم كانوا ورب الكعبة على الهدي المستقيم.

Mereka itu adalah para sahabat Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-. Mereka itu adalah manusia yang paling baik hatinya dari umat ini, paling dalam ilmunya, paling sedikit sikap pemaksaannya. Mereka adalah kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani Nabi-Nya, dan untuk menegakkan agama-Nya. Maka tirulah akhlak mereka, dan metode mereka, sebab mereka -demi Sang Pemilik Ka’bah- berada di atas hidayah yang lurus.”

Begitu jelas dan tegas arahan Imam Hasan Bashri untuk mengikuti jejak dan langkah para Sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Lebih spesifik lagi, Imam al Auza’i menambahkan lima faktor yang menjadi watak dan corak peradaban sahabat yang wajib kita ikuti dan kita didik masyarakat dan umat untuk mempraktekkannya. Dia berkata:

كَانَ يُقَالُ : خَمْسٌ كَانَ عَلَيْهَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعُونَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ : لُزُومُ الْجَمَاعَةِ ، وَاتِّبَاعُ السُّنَّةِ ، وَعِمَارَةُ الْمَسْجِدِ ، وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ ، وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ” .

“Dulu dikatakan: lima perkara ada pada diri para sahabat Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- dan para Tabi’in yang mengikuti sahabat dengan baik: menjaga jama’ah (kesatuan umat Islam), mengikuti Sunnah, memakmurkan masjid, membaca al-Qur`an, dan Jihad fi sabilillah.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Abu Nuaim dalam al-Hilyah).

Di sini menjadi jelas bahwa Imaratul masjid (memakmurkan masjid) adalah faktor penting dari faktor-faktor kebangkitan dan bersatunya umat Islam.

Peran Masjid di Zaman Kebangkitan Islam

Dahulu, masjid adalah sentral. Pusat ibadah, dakwah, pendidikan, sosial, kesehatan, dan peradaban Islam. Mulanya, Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- membangun masjid di Quba pada hari-hari awal kedatangan saat hijrah dari Makkah, lalu membangun Masjid Nabawi di Madinah. Setelah itu masjid menjadi pusat kegiatan umat Islam dan menyebar di seluruh wilayah yang dibuka di Afrika, Asia, dan Eropa. Masjid Raya menjadi Universitas, tempat bertemunya para ulama dan ilmuwan, tempat menghasilkan SDM-SDM yang digunakan dalam pembangunan.

Masjid dalam konsep Islam yang murni adalah markas deklarasi Tauhid, yaitu Ubudiyyah hanya milik Sang Pencipta yaitu Allah swt. Oleh karena itu, Islam sangat meninggikan kedudukan masjid. Allah berfirman:

{وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً}

“Dan bahwasanya masjid-masjid itu hanyalah milik Allah, maka janganlah beribadah kepada siapapun bersama Allah.” (QS. Al Jin: 18)

Di sini masjid dikaitkan hanya kepada Allah. Dan Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- memotivasi untuk membangun masjid-masjid. Dari Usman ibn Affan, dia berkata: saya mendengar Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِداً يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa membangun masjid karena mencari ridha Allah maka Allah membangunkan untuknya semisalnya di surga.” (HR. Bukhari, 431, Muslim, 828)

Di antara keistemawaan masjid-masjid Allah dibanding yang lainnya adalah masjid berisikan amal-amal shalih, dan di antara yang paling menonjol adalah shalat. Shalat memiliki pengaruh besar dalam mendidik anggota masyarakat untuk istiqamah dan memperbaiki hidup mereka jauh dari penyimpangan, kerusakan, dan kemungkaran. Selain itu masjid juga melaksanakn perannya sebagai pusat terpadu untuk masyarakat dalam urusan keumatan.

Diskusi Ilmu, Sejarah, dan Keumatan

Masjid dibangun untuk berdzikir kepada Allah, untuk menegakkan shalat, membaca al-Qur`an, menyebar ilmu, dan membangun ukhuwah. Allah berfirman:

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرۡفَعَ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلۡغُدُوِّ وَٱلۡأٓصَالِ ٣٦ رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ ٣٧

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur (24): 36-37)

Dalam Shahih Muslim dari Anas ra, bahwa Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ، وَلَا الْقَذَرِ إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ»

Sesunguhnya Masjid ini tidak cocok untuk sesuatu dari hal ini seperti kencing, dan juga kotoran, akan tetapi ia untuk dzikir kepada Allah, shalat dan membaca al-Qur`an.” (HR. Muslim)

Telah ada riwayat yang menjelaskan bahwa para sahabat duduk-duduk di masjid setelah shalat Subuh, mereka berbincang-bincang tentang perkara jahiliyah dulu dan mereka tertawa, dan Nabi pun -Shalallahu alaihi wa salam- tersenyum.” (HR. Muslim dari Jabir ibn Samurah ra, no 670)

Yang dimaksud di sini adalah mereka berbicara tentang nikmat Islam dan lucunya zaman Jahiliyah, jadi bukan ucapan yang sia-sia, atau duniawi murni. Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- telah melarang bicara urusan pribadi seperti jual beli, mengumukan barangnya yang hilang, sebab ini semua duniawi tidak cocok di masjid.

Termasuk kegiatan para sahabat di masjid adalah berbicara tentang ilmu nasab dan sejarah, seperti yang diriwayatkan oleh al-Zubair ibn Bikar bahwa Aqil bin Abi Thalib duduk di atas qathifah (karpet) lalu dikelilingi oleh manusia dan dia bercerita tentang nasab bangsa Arab.3

Peran masjid sebagai pusat ibadah dan ilmu bukan hanya untuk kaum laki-laki, tetapi juga untuk wanita. Imam Bukhari membuat satu bab berjudul “بَابٌ: هَلْ يُجْعَلُ لِلنِّسَاءِ يَوْمٌ عَلَى حِدَةٍ فِي العِلْمِ؟ lalu meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra, dia bercerita bahwa kaum wanita meminta kepada Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- satu hari khusus untuk ta’lim wanita, dan Nabi pun menyanggupinya. (HR Bukhari, 101)

Walhasil, pendidikan yang dilakukan oleh Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- di masjid yang meliputi kaum laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak ini berhasil mengantarkan anak didiknya menjadi manusia-manusia shalih yang sehat, cakap, dan beradab. Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bisa membangkitkan bangsa yang bercerai berai dan buta huruf menjadi bangsa yang bersatu, maju, dan kuat hingga dalam waktu singkat berhasil memimpin dunia dalam peradaban yang penuh dengan adab dan keadilan.

Kemudian kalau kita lihat dalam sejarah umat Islam di Indonesia4 maupun di al-Jazair5 dan di negri-negri Islam lainnya di zaman penjajahan, mereka menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, pertahanan, kaderisasi, dan perjuangan hingga mencapai kemerdekaan.

Kemudian di zaman sekarang, banyak negara berusaha mengerdilkan masjid dan fungsinya, misalnya Undang-Undang Perancis tahun 2016 melarang orang-orang al-Jazair, Maroko, dan Turki untuk membiayai masjid-masjid yang ada di Perancis dengan biaya dari luar. Begitu pula dilarang mendatangkan imam dari luar.6

Demikianlah pentingnya masjid bagi muslim, dan takutnya orang kafir dari peranan masjid dalam membangkitkan umat Islam. Ini semakin membuktikan bahwa umat ini bisa bangkit kembali melalui gerakan masjid, jika difungsikan sebagaimana para salaf shalih menfungsikannya. [*]

________ selesai ————

1 Qadhi Ismail al Jahdhami al Maliki (282 H), al-Mabsuth; Qadhi Iyadh, al-Syifa Bita’rif Huquq al Mushthafa, 2/88.

2 https://mugtama.com/issues2/item/55080-2017-05-27-12-25-52.html.

3 http://islamweb.net/ramadan/index.php?page=ShowFatwa&Option=FatwaId&Id=10375

4 Baca http://www.suaramasjid.com/read/masjid-ulama-dan-gerakan-perjuangan/; https://pwmu.co/14124/08/18/3-masjid-yang-jadi-monumen-perjuangan-merebut-kemerdekaan-ri/.

6 Baca http://www.essirage.net/node/7816

(Visited 48 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *