KAJIAN WALISANTRI RUAQ

👤 Bersama:
Dr. KH. Agus Hasan B, Lc., M.Ag.
(Pengasuh Pesantren Al-Umm dan Mudir Ma’had ‘Ali al-Aimmah)

Tema: “DULU AYAH MEREKA ORANG SHOLIH”

🗓 Sabtu,
23 Dzulhijjah 1440 H/ 24 Agustus 2019

🕌 MASJID JAMI’ AL-UMM
Jl. Joyo Agung No.1 Merjosari Lowokwaru Malang

•••••••••••••••••••••••••••••
On Air
Radio al-Umm 102.5 FM

L I V E S T R E A M:

📺 AL-UMM TV
• www.alumm.tv
• www.youtube.com/user/alummchannel/live

📻 Radio al-Umm
• www.binamasyarakat.com
• www.radioalumm.com
• www.majalahalumm.com

••••••••••
🌐 SOSMED:
• 0823-3936-9900 (wa/tg)
• FB:http://fb.me/alummtivi
• Telegram: https://telegram.me/alummtv

••••••••••
ℹ DAPATKAN BROADCAST/ INFO WHATSAPP, CARANYA:
• Silakan SIMPAN nomor WA diatas&kirimkan format sbb:
info/nama/alamat/nomor wa anda

• Joint telegram

••••••••••
🌸 Salurkan infaq/ sedekah anda melalui al-Umm TV
CP: 0823-3936-9900

Sayyid Naquib al-Attas:

The modern era has witnessed three significant developments that have created unprecedented challenges to the Muslim community: (1) public education, mass media, and mass literacy, (2) the disintegration of Islamic polities, and (3) the formation of learning institutes based on Western concepts, values, and processes.

“The basic problems can be called “the loss of adab”

I (Agus Hasan Bashori) add the fourth one (4): “The spread of Shi’a in a Sunni Muslim country made the situation worse, and The loss of adab getting worse”.

Then the solution is civilized education or ta’dib so that people and leaders become civilized

We need the concept of ta’dib not ta’lim especially character education that is not clear in its direction and role models, because the Father of Character Education alone (Lawrence Kohlberg) committed suicide in 1987.

EMPAT TANTANGAN MUSLIM

Sayyid Naquib al-Attas:

“Era modern telah menyaksikan tiga perkembangan signifikan yang telah menciptakan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi komunitas Muslim: (1) pendidikan publik, media massa, dan literasi massa, (2) disintegrasi negara-negara Islam, dan (3) pembentukan lembaga pembelajaran berbasis pada konsep, nilai, dan proses Barat.

“Masalah dasar bisa disebut” hilangnya adab ”

Saya (Agus Hasan Bashori) menambahkan yang keempat (4): “Penyebaran Syiah di negara Muslim Sunni memperburuk situasi, dan Hilangnya adab semakin buruk”.

Maka solusinya adalah pendidikan yang beradab atau ta’dib sehingga orang dan pemimpin menjadi beradab.

Kita memerlukan konsep ta’dib bukan ta’lim apalagi pendidikan karakter yang tidak jelas arah dan panutannya, karena Bapak Pendidikan Karakter saja (Lawrence Kohlberg) bunuh diri pada tahun 1987.

أربعة تحديات للمسلمين:

سيد نقيب العطاس:

“شهد العصر الحديث ثلاثة تطورات مهمة خلقت تحديات غير مسبوقة للمجتمع الإسلامي: (1) التعليم العام ، وسائل الإعلام ، ومحو الأمية الجماهيرية ، (2) تفكك السياسات الإسلامية ، و (3) تشكيل معاهد تعليمية قائمة على على المفاهيم والقيم والعمليات الغربية.

“المشاكل الأساسية يمكن أن تسمى” فقدان الأدب ”

أضفت (Agus Hasan Bashori) الرابعة (4): “انتشار الشيعة في بلد مسلم سني زاد الوضع سوءًا، وفقدان الأدب يزداد سوءًا”.

ثم الحل هو التعليم الحضاري أو التأديب حتى يصبح الناس والقادة متحضرين (متأدبين)

نحتاج إلى التأديب وليس التعليم ، خاصة تعليم الشخصية الذي ليس واضحًا في اتجاهه ومثاله ، لأن أب تربية الشخصية بمفرده (لورنس كولبرج اليهودي) انتحر عام 1987.

Rendahnya Toleransi Intern Umat Islam

Agama memiliki kedudukan yang penting dalam pendidikan nasional. Dalam tujuan pendidikan nasional disebutkan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” (UU 20/2003, pasal 3).

Selanjutnya tujuan pendidikan Nasional ini dijabarkan dalam pedoman pendidikan karakter. Dalam Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah (2009: 9-10) dinyatakan bahwa dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, dan (18) Tanggung Jawab.

Karakter nomor 3 adalah toleransi. Dalam prakteknya sikap toleransi pelajar dianggap masih rendah baik internal maupun antara umat beragama. Untuk rendahnya toleransi internal umat Islam sangat terlihat dengan maraknya pelarangan pengajian oleh umat Islam sendiri atau pelarangan pembangunan masjid oleh umat Islam sendiri, dengan alasan karena berbeda madzhab atau tradisi.

Hal ini ada yang mengaitkan dengan faktor teologis (karena tujuan pendidikan adalah untuk mencetak manusia yang bertakwa), faktor kurikuler (berkaitan dengan kurikulum, tidak mengenalkan agama lain) dan lain sebagainya.

Sebenarnya faktor terpenting dari rendahnya toleransi adalah al-Jahl (kebodohan) dan jauhnya kita dari para teladan yang sebenarnya dalam beragama, serta bisa jadi ada agenda yang dilancarkan oleh pihak lawan dalam rangka proxy war.

Oleh karena itulah melalui makalah ini saya ingin mengajak pembaca semua untuk belajar toleransi khususnya yang bersifat internal maupun ekternal kepada para salaf shalih, agar tidak menyalahkan Islam dan ulama Islam, dan agar tidak perlu belajar toleran kepada orang lain.

Di Antara Toleransi Adalah Menghargai Perbedaan MadzhabContinue reading

Atas karunia Allah, kami diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu dari banyak ulama baik dari dalam maupun luar negeri, baik dalam dirayah maupun riwayah. Adapun guru-guru kami dalam riwayat hadits, kitab-kitab aqidah Salaf dan fikih madzhab empat terutama madzhab Imam al-Syafi’i adalah:

  1. Syaikh Dr. Yusuf al-Kattani al-Maghribi (rahimahullah)
  2. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Zainal Abidin Rustum al-Maghribi (Syafahullah)
  3. Syaikh Dr. Muhammad ibn Nashir al-Ajmi al-Kuwaiti
  4. Syaikh Dr. Nizham Ya’qubi al-Abbasi al-Bahraini
  5. Syaikh Dr. Waleed ibn Idris al-Minissi Abu Khalid al-Sulami al-Iskandari
  6. Syaikh Abdul Haq al-Haqqani al-Ruhanji al-Akyabi

Dan kini bertambah satu lagi, yaitu:

  1. Syaikh Dr. Hamid ibn Ahmad ibn Akram al-Bukhari al-Madani, Abu Abdirrahim (lahir di Madinah 1387 H), yang leluhurnya berasal dari Fergana Uzbekistan. Beliau meriwayatkan dari hampir 300 ulama al-Haramain, Syam, Yaman, Najed, Mesir, Maghrib, India, Pakistan dan lainnya.

Seperti yang sudah kami beritakan bahwa guru kami Syaikh Hamid Akram Al Bukhori hafizhahullah memberikan ijazah untuk meriwayatkan kitab-kitab kuning madzhab Syafi’i kepada kami berempat (Saya, Ustadz Kholid Syamhudi, Ustadz Abu Qotadah, dan Ustadz Abu Bakar at-Tuway) di ruang VVIP. Setelah itu beliau memberikan kepada Para peserta Muktamar ke-1 PULDAPII, para kyai pengasuh pesantren anggota PULDAPII sebanyak 103 pesantren di gedung Hall Zaitun.

Continue reading

Makna Literasi Al-Qur`an

Literasi mungkin telah menjadi istilah yang familiar bagi banyak orang. Secara umum literasi difahami sebagai melek huruf, atau kemampuan membaca dan menulis. Namun demikian, tidak banyak dari mereka yang memahami makna dan definisinya secara jelas. Oleh karena itu kami merasa perlu menerangkan terlebih dahulu maksud dari istilah ini.

Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa Inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “Kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

Sumber lain yaitu National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi secara kontekstual, yang mana definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Continue reading