BELAJAR DARI KAKEK GURU, SYAIKH MUHAMMAD MAHFUZH AL-TERMASI

Alhamdulillah, dengan izin Allah -Subhanahu wa ta’ala- al-faqir mendapatkan sanad hadits dari Syekh Dr. Muhammad Nashir al Ajmi al-Musnid al-Kuwaiti, Syekh Dr. Nizham Ya’qubi al-Bahraini, Syekh Prof. Dr. Muhammad Zaenal Abidin Rustum al-Maghribi, Syekh Dr.Yusuf ibn Ibrahim al-Kattani al-Maghribi, Syekh al-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Makki dan juga Syekh Akram Ziyadah al-Urduni untuk sebagian hadits.

Sanad Hadits Saya Kepada Imam al-Bukhari

Di makalah ini akan saya sebutkan dua sanad saya kepada Imam al-Bukhari rahimahullah:

Pertama: Sanad al-Termasi

Saya (Abu Hamzah ibn Qamari ibn Abdul Ghani al-Sanuwi al-Jawi), telah mengabarkan kepada saya:

  1. Al-Allamah al-Muhaqqiq al-Musnid Syaikh Dr. Muhammad ibn Nashir al-Ajmi al-Kuwaiti dengan kitabnya al-Kaukab al-Munir al-Sari fi al-Ittishal bi Shahih wa Tsulatsiyyat al-Bukhari dalam satu majlis yaitu di malam hari Rabo di Kuwait pada tanggal 11 Jumada Akhirah 1433 H, dan mengijazahkan kepada kami untuk membacanya sebagaimana mengijazahkan kepada kami seluruh apa yang beliau riwayatkan. Kemudian saya mendengar dari beliau awal Shahih Muslim, dan al-Arba’un al-Hanbaliyyah (Musnad Imam Ahmad) di malam hari Rabo di kediaman beliau pada tanggal 29 Rabi’ al-Tsani 1436 H/18-2-2015 M, kemudian beliau mengijazahkan Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Kemudian beliau menegaskan kembali ijazah beliau secara umum kepada saya tentang semua riwayat dan kitab beliau pada hari Selasa, 11 Rabi’ al-Tsani 1437 H melalui pesan singkat beliau. Beliau berkata:
  2. Telah mengabarkan kepada saya Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani (1410 H/ 1990 M, guru Sayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki)
  3. Dari Syaikh Umar Hamdan al-Mahrasi al-Tunisi (1368 H)
  4. Dari Syaikh al-Faqih al-Muhaddits al-Musnid al-Muqri` Muhammad Mahfuzh ibn Abdullah ibn Abdul Mannan al-Tarmasi al-Jawi tsumma al-Makki (1338 H, guru Pendiri NU Syaikh KH Hasyim al-Asy’ari 1366 H)
  5. Dari Syaikh al-Sayyid Abu Bakar ibn Muhammad Syatha al-Makki yang dikenal dengan Sayyid Bakri (1310 H/1892 M, guru pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan 1910 M))
  6. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
  7. Dari Syaikh Usman ibn Hasan al-Dimyathi
  8. Dari Syaikh Ali al-Syanwani
  9. Dari Isa ibn Ahmad al-Barawi
  10. Dari Syaikh Ahmad al-Dafri
  11. Dari Syaikh Salim ibn Abdillah al-Bashri
  12. Dari Walid Abdillah ibn Salim al-Bashri
  13. Dari Syaikh Muhammad ibn Alauddin al-Babili
  14. Dari Syaikh Salim ibn Muhammad al-Sanhuri
  15. Dari al-Najm Muhammad ibn Ahmad al-Ghaithi
  16. Dari Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari ibn Muhammad al-Anshari
  17. Dari al-Hafizh Ahmad ibn Ali Ibn Hajar al-Asqalani
  18. Dari Ibrahim ibn Ahmad al-Tanukhi al-Ba’li
  19. Dari Abu al-Abbas Ahmad ibn Abi Thalib al-Hajjar al-Shalihi
  20. Dari Abu Abdillah al-Husain ibn al-Mubarak al-Zabidi al-Hanbali
  21. Dari Abu al-Waqt Abdul Awwal ibn Isa al-Sajzi
  22. Dari Abu al-Hasan Abdurrahman ibn Muhammad al-Daudi
  23. Dari Abu Muhammad Abdullah ibn Ahmad al-Sarakhsi
  24. Dari Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf al-Firabri
  25. Dari penulis yaitu Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari rahimahumullah.

Dengan demikian antara saya dan imam Bukhari dalam sanad ini terdapat 24 perawi, dan antara saya dengan Rasulullah i berdasarkan Tsulatsiyyat Imam Bukhari ada 28 perawi. Sanad yang panjang. Semoga Allah merahmati semua guru saya. Aamiin.

Kedua: Sanad al-Kattani (Magharibah)

Sanad ini –jika shahih- adalah sanad tertinggi insyaallah, yaitu dari Syaikhi Syekh Dr. Yusuf al Kattani al-Maghribi penulis Kitab Kalimat Shahih al-Bukhari (744 halaman, cet. Kementrian Wakaf al-Maghrib), berdasarkan Tsulatsiyyat Imam Bukhari, maka antara saya dengan Imam Bukhari hanya ada 13 perantara, dan antara saya dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ada 17 perantara.

Maka saya berkata:

Saya meriwayatkan Shahih al-Bukhari dengan sanad tinggi:

  1. Khadim al-Hadits al-Nabawi di Rabat Maghribi Syaikh Dr. Yusuf ibn Syaikh Ibrahim ibn Syaikh Muhammad al-Kattani telah memberi ijazah ‘ammah secara mutlak kepada saya pada tanggal 19 Sya’ban 1434 H
  2. Dari ayah beliau Syaikh Ibrahim al-Kattani
  3. Dari pamannya Syaikh Abdul Hay al-Kattani[1]
  4. Dari Syaikh yang panjang umurnya al-Syihab Ahmad ibn al-Mulla Shalih al-Suwaidi al-Baghdadi al-Syafi’i (Beliau menulis kepada Syaikh Abdul Hay dari Makkah saat berhaji).[2]
  5. Dari Sayyid Muhammad Murtadha al-Zabidi al-Husaini al-Mishri (w. 1205 H)
  6. Dari al-Mu’ammar (yang panjang umurnya) Muhammad Ibn Sinnah al-Fullani (al-Sudani, ahli Hadits abad 12 H, lahir tahun 1042 H, muridnya yang terkenal Shalih al-Fullani al-Umari al-Madani))
  7. Dari Syaikh Ahmad ibn al-‘Ajil al-Yamani,
  8. Dari al-Quthub al-Nahrawali (bukan al-Nahrawani)
  9. Dari Ahmad ibn Abi al-Futuh al-Thawusi
  10. Dari yang panjang umur Baba Yusuf al-Harawi (hidup 300 tahun)
  11. Dari Syadzabkhat al-Farisi al-Firghani
  12. Dari Yahya ibn Syahan al-Khatlani
  13. Dari Muhammad ibn Yusuf al-Firabri
  14. Dari Imam Muhammad ibn Ismail al-Bukhari.[3]

Dengan sanad ini pula saya meriwayatkan Shahih al-Bukhari dan kitab-kitab lainnya dari Syaikh Prof Dr. Muhammad Zaenal Abidin Rustum (penulis kitab Nudhrah Ahl al-Hadits dan pendiri Madrasah Fikriyah untuk membela al-Qur`an dan al-Sunnah) dari guru beliau Syaikh Dr. Yusuf al-Kattani. Syekh Muhammad bertemu saya di Kuwait dan memberikan hadiah banyak kitab, kemudian memberi ijazah kepada saya dan dikirimkan dari al-Maghrib pada hari Senin, 22 Jumada al-Akhirah 1433 H.[4]

Contoh Hadits dari Tsulatsiyyat Imam al-Bukhari

– حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ (البلخي، شمال أفغانستان، الآن مزار شريف ت 214 هـ)، قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ (الحجازي ت 146 هـ)، عَنْ سَلَمَةَ (المدني ت 74 هــ)، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

Dari sinilah pentingnya sanad yang sambung kepada para Tabi’in, Para Sahabat dan kepada Rasulullah i (khususnya sampai akhir masa tadwin al-Sunnah yaitu abad ketiga hijriyah, setelah itu jarang sekali riwayat syafahiyyah) untuk mengetahui apakah riwayat itu shahih atau tidak, apakah riwayat itu maqthu’, mauquf atau marfu’. Berbeda dengan ahli ahwa` wa al-bida’ yang tidak sambung sanad ajarannya kepada Rasulullah i, seperti Syiah Rafidhah yang banyak berdusta atas nama Ahlul Bait dan atas Nama Rasulullah i, sebagaimana saya buktikan dalam disertasi saya dengan judul “Studi Kritis Konsep Ilmu dalam Kitab Nahj al-Balaghah dan Implementasinya dalam Penguatan PAI ”. Kitab Nahj al-Balaghah adalah kitab suci bagi Syiah setelah al-Qur`an, karya Syarif Radhi al-Rafidhi.

Kitab Khashaish al-Aimmah yang merupakan pengantar bagi Nahj al-Balaghah berisi hadits alawi sebanyak 174 ditambah 15 di bagian akhir, sehingga berjumlah 180 hadits alawi yang sebagiannya diulang di dalam Nahj al-Balâghah, dan berisi hadits nabawi sebanyak 11 hadits. Hadits nabawi inipun banyak yang palsu dan khurafat semisal hadits:

مَنْ زَارَ عَلِيًّا بَعْدَ وَفَاتِهِ فَلَهُ الْجَنَّةُ

“Barangsiapa berziarah ke kuburan Ali maka baginya surga.”[5] Sama dengan hadits palsu yang diriwayatkan gurunya dalam al-Irsyad (h. 252) yang berbunyi:

مَنْ زَارَ الْحُسَيْنَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَهُ الْجَنَّةُ

Inilah salah satu pembeda agama Islam dari agama-agama lain. Dan pembeda antara Ahlu Sunnah dan sekte-sekte yang lain.

Pada saat terjadi fitnah dan muncul ahli-ahli bid’ah di tahun 35 H, saat terbunuhnya Khalifah Usman r.a. konsep sanad ini mulai diterapkan dengan serempak dan ketat. Imam Muhammad ibn Sirin (w. 110 H) bersaksi:

لَمْ يَكُوْنُوْا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا: سَمُّوْا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ، وَيُنظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ.

“Mereka dulu tidak bertanya tentang Isnad, tetapi ketika terjadi fitnah mereka berkata: Tolong sebutkan para perawi kalian, maka dilihatlah kepada Ahlu Sunnah lalu diambil hadits mereka dan dilihatlah kepada ahli Bid’ah lalu tidak diambil hadits mereka.” [6]

Ini menunjukkan bahwa ketika hadits itu beredar di tengah-tengah Sahabat saja, mereka saling memberitahu dan tidak perlu bertanya tentang isnad, karena semua Sahabat ‘udûl (bentuk jamak dari ‘âdil yang artinya shahih dan dipercaya) berdasarkan nash dari Allah, Sunnah dan Ijma’[7].

Belajar dari Syaikh al-Termasi dan para ulama Ahli Hadits

Hampir semua Ahli hadits berguru, bermulazamah, bertalaqqi kepada para syaikh Ahlu Sunnah sampai khatam lalu mendapatkan ijazah untuk meriwayatkan, mengajar, dan menulis. Begitu pula dengan Syaikh Muhammad Mahfuzh al-Termasi, lahir di Termas Pacitan, lalu belajar kepada ayahnya, kemudian mulazamah kepada Syaikh Kyai Muhammad Shalih Darat al-Samarani, kemudian pindah ke Makkah belajar kepada Sayyid Abu Bakar Syaththa al-Makki, Syekh Abdul Ghani al-Bimawi al-Jawi, al-Mufassir al-Faqih Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi, Syekh Muhammad Zainuddin Badawi al-Sumbawi dll.

Dia lebih memilih Makkah dari pada Pacitan, maka saat ayahnya yang memipin pesantren yang didirikan oleh kakeknya itu wafat dia tetap tidak mau pulang. Akhirnya pesantren dikembangkan oleh adiknya Kyai Dimyati, dan Kyai Muhammad Mahfuzh memilih tetap tinggal di Makkah.

Setelah mendapatkan ijazah dari guru-gurunya dia mulai mengajar dan mengarang. Di antara muridnya adalah KH. Hasyim Asy’ari (1366 H) pendiri Nahdhatul Ulama (NU), dan al-Muhaddits Umar ibn Hamdan al-Mahrasi al-Madani al-Makki (1368 H) yang mendapatkan ijazah untuk seluruh kitab dan riwayat-riwayatnya.

Sedangkan kitab karangannya ada sekitar 20 kitab, meliputi ilmu fikih, ushul fikih, hadits dan ilmu hadits serta qira`at dan lainnya, hingga Syaikh Yasin al-Fadani berkata: “Dia adalah alim, muhaddits, musnid, faqih, ushuli dan muqri`.” Beliau akhirnya wafat (1920 M) dan dimakamkan di Maqbarah al-Ma’la Makkah, rahimahullah rahmatan wasi’an.

Syaikh Muhammad Mahfuzh al-Termasi sangat bagus akhlaknya, tidak pernah mengurusi yang bukan urusannya, qana’ah, wira’i , sabar, dan tawadhu’. Beliau memiliki satu anak dan hafal al-Qur`an.

Dari penjelasan singkat ini kita bisa mengambil pelajaran dan kesimpulan:

  1. Keistimewaan agama Islam, dan ciri Ahlu Sunnah adalah kitab sucinya dan ajarannya bersanad kepada Rasulullah.
  2. Makkah jantung agama Islam dan pusat ilmu Islam, bahkan benteng umat Islam di akhir zaman.
  3. Tradisi Salaf Shalih adalah melakukan rihlah/safar ke pusat-pusat Islam untuk mempelajari Islam
  4. Mempelajari Islam dan ilmu-ilmu Islam harus dibimbing oleh para ulama yang lurus aqidahnya dan bagus akhlaknya.
  5. Untuk memahami secara mendalam dan menguasai ilmu-ilmu Islam yang benar harus menguasai bahasa Arab, al-Qur`an, Hadits dan Ushul (metodologinya).
  6. Kelulusan dalam menuntut ilmu ditandai dengan mengkhatamkan banyak kitab, bahkan satu kitab bisa berkali-kali dan mendapatkan Ijazah dari Syekhnya (Syaikh al-Tarmasi mengkhatamkan shahih Bukhari sebanyak 4 kali dari gurunya Sayyid Bakri).
  7. Ilmu-ilmu Islam diwariskan dengan dihafal dan ditulis, khususnya setelah mendapatkan Ijazah.
  8. Ikhlash dan berakhlak mulia dalam mencari dan mengemban amanah ilmu.
  9. Perhatian dengan dalil-dalil al-Qur`an dan Sunnah serta memilih qaul yang rajih dalam masalah yang dikhilafkan. Ini salah satu keistimewaan kitab Hasyiah Minhaj al-Qawim karya Syakh al-Tarmasi .

Misal, mana yg lebih utama alhamdulillah (syukur dan tauhid) atau la ilaha illallah (tauhid saja). Maka Syaikh al-Tarmasi berkata: “Alhakim bidzalik qoulunnabi:

أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ قَبْلِي لاَ إلهَ إِلاَّ الله”

“Sesuatu yang paling utama yang pernah aku dan para nabi sebelumku katakan adalah Laa ilaha illallah.”

  1. Semangat membantah kesesatan Syiah dan membela Sahabat dan Ahlul Bait. Di halaman 60 kitab Hasyiah beliau berkata: “Dalam mengulang ‘wa ‘ala alihi’, terdapat bantahan terhadap Syiah yang melarang memisahkan antara Nabi dan ahlubaitnya dengan kata ‘ala (kepada). Nabi bersabda

قولو اللهم صل على محمد وعلى آله

“Ucapkan oleh kalian ; ya Allah bershalawatlah kepada Muhammad dan kepada keluarganya.”

Di halaman 180, beliau menegaskan wajibnya mencintai para Sahabat Nabi i dan melaknat orang-orang yang mencaci Sahabat. Nabi i bersabda:

من سب أصحابي فعليه لعنة الله

“Barangsiapa mencaci sahabatku maka dia dilaknat oleh Allah.”

  1. Belajar dari guru lebih afdhal daripada belajar dari buku.

Ini beliau terangkan di halaman 111.

Beliau mengatakan: “Telah berijma’ para ulama bahwa belajar langsung dari lisan para guru adalah lebih utama daripada belajar dari buku.” Lalu beliau menyebutkan 3 alasan, yaitu: a) sampainya makna-makna dari nasib (yang bisa bicara dan faham) kepada nasib. berbeda dengan buku yang bukan nasib. b) jika ada kesulitan memahami sebagian penjelasan guru maka guru bisa membahasakan dengan kalimat lainnya yang bisa dipahami. c) di buku ada hal-hal (disebutkan ada 8) yang bisa menghalangi dari ilmu, hal ini tidak ada pada guru.

  1. Inti al-Qur`an itu ada di dalam surat Al-Fatihah

Di halaman 159 beliau menerangkan bahwa al-Fatihah itu merangkum semua isi al-Qur`an.

    1. Tentang ilahiyyah ada dalam (الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم).

Saya katakan: Ini tentang tauhid Rububiyyah dan Tauhid Asma’ dan Shifat.

    1. Tentang Ma’ad (Darul Akhirah) ada dalam (ملك يوم الدين).
    2. Tentang al-‘Ibadat semuanya, baik al-I’tiqad maupun hukum-hukum yang menjadi konsekuensi dari perintah-perintah dan larangan-larangan ada dalam (إياك نعبد وإياك نستعين).

Saya katakan: Ini tentang tauhid Ubudiyyah atau Uluhiyyah.

    1. Tentang Syariat semuanya ada dalam (الصراط المستقيم)

Saya katakan: Ini mencakup manhaj, ushul, fiqih dan akhlak serta adab.

    1. Tentang para Nabi dan yang lainnya ada dalam (أنعمت عليهم)

Saya katakan: Ini tentang al-wala’ (kecintaan dan pembelaan)

    1. Tentang macam-macam golongan orang kafir ada dalam (غير المغضوب عليهم ولا الضالين)

Saya katakan: Ini tentang al-Bara` (kebencian dan permusuhan)

  1. Indonesia, kalau ingin memiliki ulama yang bisa mengajar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dan diakui oleh dunia Islam maka harus mengeratkan hubungan dengan ulama-ulama di Hijaz secara khusus dan di Saudi Arabia secara umum, sebagaimana para ulama Nusantara yang terdahulu, bukan malah ke Barat atau Persia.
  2. Kita para sarjana Muslim, wajib menulis tentang Islam dengan metodologi yang benar sebagaimana para ulama Ahlussunnah.

Malang, Selasa 23 Desember 2015

abu_hamzah@msn.com

082 333 55 4141

Disampaikan dalam Seminar Internasional Program Doktor Pendidikan Islam PascaSarjana UIK Bogor, dengan Topik “Peran Ulama Indonesia di Dunia Pendidikan Internasional” pada hari Senin, 17 Rabiul Awal 1437 H/ 28 Desember 2015.

  1. Lihat http://www.alhassanain.com/arabic/magazin/ulum_alhadith/2/21.html, http://shamela.ws/browse.php/book-10772/page-22656.
  2. Lihat http://www.thabtislam.com/?p=546
  3. Admin web YBM, Ijazah sanad hadits mudir ma’had al-Aimmah dari Syekh Dr. Yusuf al-Kattani, http://www.binamasyarakat.com/ijazah-sanad-hadits-mudir-mahad-al-aimmah-dari-syekh-dr-yusuf-al-kattani/, Selasa, 23 Desember 2015.
  4. Admin YBM, Ijazah untuk Ustadz Abu Hamzah Agus Hasan Bashori dalam periwayatan hadits, http://www.binamasyarakat.com/ijazah-untuk-ustadz-abu-hamzah-agus-hasan-bashori-dalam-periwayatan-hadits/, Selasa 23 Desember 2015.
  5. Khashaish, hal. 40; lihat Ali Salus, Ma’a al-Itsnay Asyriyyah fi al-Ushul wa al-Furu’, hal. 1036.
  6. Muslim al-Naisaburi, al-Musnad al-Shahih, 1/15.
  7. Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi, al-Kifâyah fi ‘Ilm al-Riwâyah, tahqiq al-Suraqi dan al-Madani, Maktabah al-Ilmiyya, Madinah, tt, 1/46; Usman ibn Abdirrahman ibn al-Shalah, Ma’rifah Anwâ’ ‘Ulûm al-Hadîts (Muqaddimah Ibn al-Shalah), tahqiq: Nuruddin ‘itr, Dar al-Fikr, Beirut, 1986, 1/292.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *