AKU DULU MONDOK HANYA DENGAN 500 RUPIAH

Diantara yang unik yang saya temukan saat proses bongkar-bongkar pindahan rumah di masa karantina kini adalah kartu pembayaran pondok pesantren Darul Ulum Gondang Bangil pimpinan Guru kami Syaikh Muhammad Suwaifi bin Abdurrozzaq.

Ternyata bulanan yang harus kita bayarkan waktu itu tahun 1405/ 1985 M nominalnya hanya 500 rupiah perbulan.
Tapi perlu anda ketahui bahwa saya pribadi untuk biaya hidup cuma rata-rata 125 rupiah sebulan. Itu hanya untuk membeli sebagian lauk pauk sementara beras membawa sendiri atau dikirim.
Kantong beras selaligus berfungsi sebagai bantal.
Uang 125 rupiah itu untuk urunan beli sayur, umumnya kubis yang murah di pasar, atau terong, serta bumbu. Kadang ikan asin dan beli sayur masak di warung, biasanya rawon pepaya dll. Selebihnya dikirim ibu Nur Fathonah serundeng, dan sambel goreng tempe, atau mencari kangkung di sawah sekitar pondok atau daun singkong dari pohon singkong karet yang besar dan tinggi di sekolah.

Kita menanak nasi “ngeliwet” pakai kendil “alat memasak yang terbuat dari tanah”
Dengan kayu bakar atau kompor minyak tanah
Makan bersama di nampan
Minum air entep yang hangat dan berwarna coklat
Sering juga kita minum langsung dari sumur yang sekaligus banyak sabunnya karena mandi dan nyuci di pinggir sumur dan menimba air dari sumur.
Walhasil. Masa bersejarah yang tidak mungkin terlupakan.

Di kartu ini ada coretan-coretan bahasa Arab:
اقرع = غوندي
عقد = كالونغ
قفل= ذهب, موليه
قط = تشوكوب
حسبي
يطوي = غلمفيت

Ini menunjukkan salah satu cara belajar bahasa arab di tengah keterbatasan fasilitas.
Sementara bendahara ustadz M. Tahayyatullah sekarang mengajar di pondok Singa Putih al Munfaridin pimpinan sahabat pondok KH Saifullah.
Yang mengajar di situ banyak dari alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Gondang Bangil:
Ustadz Tahiyyat
Ustadz Usman Ali
Ustadz M Alwi
Juga Akhi Tamim
Hafizhahumullah wawaffaqahum lima fihi ridhohu

Diantara pelajaran yang perlu kita ambil:
1. Mondok itu adalah perjuangan, harus tirakat dan prihatin.
2. Zaman ini berputar sangat cepat, tanda kiamat.
Baru 35 tahun yang lalu hidup kita sudah beda. Nilai uang jauh berbeda, pendidikan banyak berubah.
3. Untuk sukses wajib rajin dan istiqamah.
Saya dulu ngaji sama Gus Zainul Rahimahullah di tahun pertama.
Yang senior ngaji Sama KH. Suwaifi.
Di tahun kedua saya bertekad harus gabung dengan wetonan yang diasuh langsung oleh Kyai rahimahullah.
Berikut adalah foto kitab kuning yang masih saya simpan, kitab kuning yang saya khatamkan di pondok maupun yang saya beli untuk muthola’ah setelah itu

رحم الله مدرسينا ومعلمينا وأدخلهم الله الجنة

 

(Visited 24 times, 1 visits today)

Leave a Comment

Your email address will not be published.