Setiap Umat Mempunya Kiblat dan Ingin Menjadi Kiblat Bagi Yang Lain

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kiblat/kib·lat/ adalah: n 1 arah ke Kakbah di Mekah (pada waktu salat); 2 arah; jurusan; mata angin; berkiblat/ber·kib·lat/ v berarah; menuju: pendirian itu tampaknya ~ kepada perdamaian dunia; mengiblatkan/me·ngib·lat·kan/ v mengarahkan ke kiblat.[1]

Jadi kiblat adalah arah dan tempat untuk menghadap. Kalau orang muslim mengarah kepada Ka’bah dalam shalatnya maka itu karena Ka’bah adalah arah yang dituju oleh umat Islam, tempat dan pusat untuk ibadah mereka. Demikian pula dalam pendidikan, kalau negara-negara Islam misalnya mengarah ke Mekkah dan Medinah dalam pendidikan Islam maka bisa disebut mereka berkiblat kepada Mekkah dan Medinah. Kalau mereka mengarah ke negera-negara Barat maka mereka berkiblat ke negera-negara Barat.

Oleh karena itu, setiap orang pasti memiliki kiblat, bahkan pasti berkeinginan menjadi kiblat, menjadi rujukan, tempat dan tujuan serta menjadi model bagi negera-negara lain. Salah satu yang berkeinginan menjadi kiblat dan pusat yang dituju oleh negara-negara lain dalam pendidikan Islam adalah Menteri Agama RI. Beliau mengaitkan cita-cita menjadi “kiblat pendidikan Islam dunia” ini dengan perkembangan jumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Alasan yang dikemukakan, karena dilatarbelakangi kesiapan untuk menjadi tuan rumah bagi warga negara lain belajar Islam. Menurutnya, selama ini kiblat dan pusat pendidikan Islam berada di negara-negara Timur Tengah yang menggunakan Bahasa Arab.

Karena sekarang di negara-negara Arab Timur Tengah (Midle East) seperti Mesir, Yaman, Yordania, Irak, Suriah dan sebagainya sedang dilanda perang dan konflik sektarianisme yang sangat dahsyat, maka sangat cocok jika Indonesia kelak menjadi alternatif kiblat pendidikan Islam dunia, dan agaknya cukup masuk akal. Sebab, masih menurut Lukman Hakim Syaefudin, pembangunan pendidikan Islam telah menemukan momentum yang kuat. Regulasi pendidikan telah menempatkan pendidikan Islam yang semula “di pinggir” kini berada di tengah pusaran pendidikan nasional. Kedudukan madrasah pun setara dengan sekolah pada semua jenjang. Pesantren dan diniyah diakui sebagai sistem pendidikan nasional. Pendidikan tinggi keagamaan mendapatkan payung hukum yanag sama kuat dengan UU No.12 tahun 2012. “Regulasi ini menempatkan pendidikan Islam memiliki ‘bergaining position’ yang semakin kuat,” katanya.[2]

Kita Menjadi Kiblat Pendidikan Islam Dunia

Sungguh mulia apa yang diharapkan oleh Menteri Agama RI, yaitu agar Indonesia menjadi pusat pendidikan Islam di dunia karena melihat kepada dua hal, yaitu perkembangan jumlah lembaga pendidikan Islam dan regulasi yang ada. Namun, jika kita melihat realitas mutu pendidikan Islam di Indonesia sekarang ini justru kita prihatin dan sedih. Bagaimana tidak? 69% siswa SMA dan yang sederajat di Indonesia ini belum bisa membaca al-Qur`an.[3]

Continue reading

Alhamdulillah, dengan izin Allah -Subhanahu wa ta’ala- al-faqir mendapatkan sanad hadits dari Syekh Dr. Muhammad Nashir al Ajmi al-Musnid al-Kuwaiti, Syekh Dr. Nizham Ya’qubi al-Bahraini, Syekh Prof. Dr. Muhammad Zaenal Abidin Rustum al-Maghribi, Syekh Dr.Yusuf ibn Ibrahim al-Kattani al-Maghribi, Syekh al-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Makki dan juga Syekh Akram Ziyadah al-Urduni untuk sebagian hadits.

Sanad Hadits Saya Kepada Imam al-Bukhari

Di makalah ini akan saya sebutkan dua sanad saya kepada Imam al-Bukhari rahimahullah:

Pertama: Sanad al-Termasi

Saya (Abu Hamzah ibn Qamari ibn Abdul Ghani al-Sanuwi al-Jawi), telah mengabarkan kepada saya:

  1. Al-Allamah al-Muhaqqiq al-Musnid Syaikh Dr. Muhammad ibn Nashir al-Ajmi al-Kuwaiti dengan kitabnya al-Kaukab al-Munir al-Sari fi al-Ittishal bi Shahih wa Tsulatsiyyat al-Bukhari dalam satu majlis yaitu di malam hari Rabo di Kuwait pada tanggal 11 Jumada Akhirah 1433 H, dan mengijazahkan kepada kami untuk membacanya sebagaimana mengijazahkan kepada kami seluruh apa yang beliau riwayatkan. Kemudian saya mendengar dari beliau awal Shahih Muslim, dan al-Arba’un al-Hanbaliyyah (Musnad Imam Ahmad) di malam hari Rabo di kediaman beliau pada tanggal 29 Rabi’ al-Tsani 1436 H/18-2-2015 M, kemudian beliau mengijazahkan Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Kemudian beliau menegaskan kembali ijazah beliau secara umum kepada saya tentang semua riwayat dan kitab beliau pada hari Selasa, 11 Rabi’ al-Tsani 1437 H melalui pesan singkat beliau. Beliau berkata:
  2. Telah mengabarkan kepada saya Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani (1410 H/ 1990 M, guru Sayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki)
  3. Dari Syaikh Umar Hamdan al-Mahrasi al-Tunisi (1368 H)
  4. Dari Syaikh al-Faqih al-Muhaddits al-Musnid al-Muqri` Muhammad Mahfuzh ibn Abdullah ibn Abdul Mannan al-Tarmasi al-Jawi tsumma al-Makki (1338 H, guru Pendiri NU Syaikh KH Hasyim al-Asy’ari 1366 H)
  5. Dari Syaikh al-Sayyid Abu Bakar ibn Muhammad Syatha al-Makki yang dikenal dengan Sayyid Bakri (1310 H/1892 M, guru pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan 1910 M))
  6. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
  7. Dari Syaikh Usman ibn Hasan al-Dimyathi
  8. Dari Syaikh Ali al-Syanwani
  9. Dari Isa ibn Ahmad al-Barawi
  10. Dari Syaikh Ahmad al-Dafri
  11. Dari Syaikh Salim ibn Abdillah al-Bashri
  12. Dari Walid Abdillah ibn Salim al-Bashri
  13. Dari Syaikh Muhammad ibn Alauddin al-Babili
  14. Dari Syaikh Salim ibn Muhammad al-Sanhuri
  15. Dari al-Najm Muhammad ibn Ahmad al-Ghaithi
  16. Dari Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari ibn Muhammad al-Anshari
  17. Dari al-Hafizh Ahmad ibn Ali Ibn Hajar al-Asqalani
  18. Dari Ibrahim ibn Ahmad al-Tanukhi al-Ba’li
  19. Dari Abu al-Abbas Ahmad ibn Abi Thalib al-Hajjar al-Shalihi
  20. Dari Abu Abdillah al-Husain ibn al-Mubarak al-Zabidi al-Hanbali
  21. Dari Abu al-Waqt Abdul Awwal ibn Isa al-Sajzi
  22. Dari Abu al-Hasan Abdurrahman ibn Muhammad al-Daudi
  23. Dari Abu Muhammad Abdullah ibn Ahmad al-Sarakhsi
  24. Dari Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf al-Firabri
  25. Dari penulis yaitu Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail al-Bukhari rahimahumullah.

Dengan demikian antara saya dan imam Bukhari dalam sanad ini terdapat 24 perawi, dan antara saya dengan Rasulullah i berdasarkan Tsulatsiyyat Imam Bukhari ada 28 perawi. Sanad yang panjang. Semoga Allah merahmati semua guru saya. Aamiin.Continue reading

Ilmuwan atau Intelektual muslim sekaligus Pelancong (Traveler) dan penulis di era ini yang paling terkenal adalah Sheikh Mohammad bin Nashir Al-Abudi. Beliau banyak mengungkap negeri-negeri di dunia yang belum dikenal, khususnya negeri-negeri Islam atau tempat-tempat yang dihuni oleh komunitas muslim meskipun sedikit. Posisi beliau di Rabithah ‘Alam Islami (Liga Dunia Muslim) yang di antara tanggung jawabnya adalah melihat kondisi dunia Islam dan mengunjungi minoritas dan pusat-pusat Islam di mana saja di dunia, membuat beliau bisa memiliki kesempatan langka yang beliau manfaatkan, apalagi beliau memiliki bakat lain yaitu menulis dan sastra. Ini bukanlah kunjungan foya-foya atau jalan-jalan untuk plesiran, akan tetapi investigasi dan studi kemudian menghasilkan harta kekayaan berupa pengetahuan dan budaya dan melihat langsung keadaan dunia Islam dan negara-negara lain, yang diabadikan dengan gaya bahasa Arab yang halus, indah, dan fasih dalam berbagai buku yang kini sudah mencapai 65 kitab rihlah yang dicetak dan 82 buku yang masih naskah, ditambah dengan buku-buku lain selain rihlah yang mencapai 11 buku.

Kekayaan ilmiah ini dihasilkan dari usaha dan penelitian serta survei kemudian menulisnya dalam buku-buku yang menarik judul dan isinya sehingga pembaca akan menemukan semua kesenangan dalam membaca dan menelaah semua informasinya baik tentang alamnya maupun sejarahnya. Beliau tidak hanya bergantung pada perjalanan resmi, akan tetapi memanfaatkan waktu-waktu liburan untuk perjalanan baru ke negara yang tidak pernah dikunjungi sebelumnya. Setiap perjalanan dan wisata itu beliau menulis buku harian yang mencatat semua apa yang dia lihat atau diamati sejak ia meninggalkan rumah hingga kepulangannya.

Beliau mulai dengan menyebut sebab perjalanan, kemudian tanggal, jadwal keberangkatan, rute perjalanan, dan merekam setiap apa yang ia lihat atau amati. Peradaban Arab dan Islam yang dikuasainya sangat menolongnya untuk menulis perjalanan ini. Pengetahuannya yang luas soal traveling masa lalu mampu menghubungkannya dengan masa kini dalam setiap catatan pada negara yang memiliki sejarah. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris dalam tulisan dan komunikasi ditambah lagi dengan kecerdasan yang diberikan oleh Allah, Tuhan kecerdasan dan ketelitian. Pertama yang ia catat dalam bukunya pada setiap perjalanan adalah tempat yang akan dikunjunginya dan lokasinya di dalam peta dunia, kemudian informasi tentang penduduk, bahasa, dan adat istiadat mereka. Lihat misalnya dalam bukunya yang menarik berjudul “Hilang di Tahiti” dia berkata: “…asal penamaan Tahiti untuk pulau besar ini yang ibukotanya adalah Papeete, dengan luas 1.041 kilometer persegi, kemudian menjadi nama yang mencakup -dari sisi administrasi– kumpulan pulau-pulau terdekat, meskipun masing-masing pulau memiliki namanya sendiri-sendiri, akan tetapi Tahiti adalah pulau yang terbesar wilayahnya. Sebelumnya disebut Polinesia Prancis karena ia merupakan daerah jajahan Perancis, dan arti dari nama “Tahiti” adalah “tinggal di samping”.

Dia mengidentifikasi lokasinya dari peta dunia dengan mengatakan: “Dia terletak jauh di sebelah selatan Samudra Pasifik di sebuah lokasi hampir menjadi tengah-tengah antara Kota Los Angeles (di sebelah barat Amerika Serikat) dan Kota Sydney (di sebelah tenggara benua Australia). Meskipun jaraknya sangat jauh dari negri kita dan dari Eropa, namun para wisatawan Eropa datang ke sana dalam jumlah besar, sebab perusahaan pariwisata membuat paket wisata keliling dunia dan yang paling penting adalah kunjungan ke Tahiti, dengan biaya yang proporsional. Jalur paling dekat dari negara-negara Arab adalah melalui Australia dan Selandia Baru.”

Kemudian dia melanjutkan menulis menggambarkan pulau ini, ditinjau dari sejarahnya dan orang Eropa pertama kali yang menemukannya, populasinya, dan keyakinan mereka. Kemudian memberikan penjelasan rinci tentang ibu kota, jalan-jalan, dan pelabuhannya, kondisi sosialnya kemudian menggambarkan perjalanannya di luar kota, di hutan-hutan dan pedesaan sembari menjelaskan kondisi penduduk dan karakter mereka.
Semua itu ditulis dengan bahasa yang mudah dan indah sehingga membuat pembaca hanyut dalam alur cerita penulis hingga tamat, keluar dengan mendapatkan banyak informasi berharga yang tidak dia kenal sebelumnya, dan melihat kondisi dunia baru yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Dalam kunjungannya ke negara dimana Islam sudah lama tersebar di sana, seperti India, misalnya, dia tidak hanya mencatat apa yang dia lihat atau dengar dari kondisi kota dan masyarakat, namun dia kembali ke sumber sejarah yang lampau yang berbicara tentang tempat-tempat ini seperti buku “Tahqiq Ma Li al-Hind Min Maqulah Maqbulah fi al-‘Aql aw Mardzulah” karya sejarawan Muhammad ibn Ahmad Abu Raihan al-Bairuni (362-440 H), atau buku Tuhfah al-Nazhzhar Fi Gharaib al-Amshar wa ‘Ajaib al-Asfar yang dikenal dengan nama Rihlah Ibn Bathuthah karya Muhammad ibn Abdillah ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Lawati al-Thanji (703-779 H).

Dalam kunjungannya ke negara di mana penyebaran Islam masih baru seperti Amerika Selatan, dia berbicara dengan sangat rinci dan akurat tentang gelombang pertama yang bermigrasi ke negara ini dari umat Islam dan gelombang-gelombang berikutnya, tentang keadaan kaum Muslimin, penghidupan dan hubungan mereka dengan penduduk yang lain, dan kebutuhan mereka kepada para da’i dan para ulama. Selain itu dia menulis tentang cuaca, iklim, kondisi sosial dan ekonominya. Seperti yang digambarkan dalam wawancara siaran radio setiap pekan di radio Arab Saudi.

Upaya besar yang dilakukan oleh seorang da’i, Syaikh Muhammad Nashir al-Abudi ini perlu diapresiasi, dihargai. Pelancong dan penulis besar ini layak mendapatkan hadiah dan penghargaan semisal penghargaan “King Faisal International Prize” dan Penghargaan Festival Nasional untuk Warisan dan Budaya, dan penghargaan-penghargaan lainnya.

Mari kita kita jadikan ini sebagai inspirasi untuk melakukan hal yang besar untuk ilmu, Islam, dan dakwah. Jadilah traveler muslim yang produktif untuk Islam wal Muslimin. [*]

Yakin adalah karakter inti yang diperlukan dalam diri seorang pemimpin. Pemimpin yang tidak memiliki karakter yakin tidak bisa diharapkan. Dia tidak akan bisa menegakkan keadilan, tidak bisa menolong orang yang lemah, tidak bisa mempertahankan kehormatan bangsa, tidak bisa memiliki kewibawaan, dan tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah .

Oleh karena itu, dalam Islam orang yang memiliki karakter yakin ini adalah orang-orang yang memiliki keistimewaan, bisa berbuat banyak dalam segala keadaan. Dia manusia tetapi berbeda dengan kebanyakan manusia.

Kalau kita merenungkan al-Qur`an saja, tanpa mendalami kitab-kitab hadits dan sejarah Islam, minimal ada 10 sifat yang dimiliki oleh sosok pribadi dan pemimpin yang berkarakter yakin, yaitu:

  1. Ia beriman dengan yang ghaib (QS. Al-Baqarah: 3-5).

Orang yang yakin adalah orang yang beriman dengan hari akhir, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka. Oleh karena itu orang yang yakin tidak takut mati, bahkan bersemangat mencari mati syahid di jalan Allah seperti ahli dunia bersemangat mencari hidup.

Umair ibn al-Humam al-Anshari t, pada waktu perang Badar berkata kepada Nabi i: “Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasul i menjawab: “Benar.” Maka dia berkata: “Bakh, Bakh.” Rasulullah i bertanya: “Mengapa kamu mengatakan: bakh, bakh?” Dia menjawab: “Demi Allah, ya Rasulallah, saya tidak mengucapkannya kecuali berharap ingin menjadi penghuninya.” Maka Rasulullah i mengatakan: “Kamu termasuk penghuni surga.” Maka dia mengeluarkan beberapa biji kurma dari wadahnya lalu memakan sebagiannya, kemudian berkata:

: لَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِي هَذِهِ إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ

“Kalau saya hidup hingga memakan kurma-kurmaku ini niscaya ia adalah kehidupan yang lama.”

Dia berkata: “Maka dia melemparkan kurma-kurma yang ada padanya, kemudian memerangi mereka hingga terbunuh.” Rahimahullah rahmatan wasi’ah. (HR. Muslim: 4950, Ahmad: 12425)

  1. Ia yakin bahwa rizki di tangan Allah semata, bukan di tangan manusia. (QS. Al-Dzariyat: 20-23).

Orang yang yakin banyak berinfaq di jalan Allah tidak takut melarat atau diancam embargo sekalipun. Orang yang yakin bersemangat untuk bersedekah dan menolong orang lain sebagaimana ahli riba bersemangat mencari keuntungan walaupun terhadap orang susah.

Berkumpullah Hudzaifah al-Mar’isyi, Sulaiman al-Khawwash dan Yusuf Asbath. Mereka berdiskusi tentang al-Faqr (kemelaratan) dan al-Ghina (kekayaan), sementara Sulaiman terdiam. Sebagian mereka berkata: “Kaya itu adalah orang yang memiliki rumah yang menaunginya, pakaian yang menutupinya dan makanan yang mencukupinya dari kelebihan dunia.” Sebagian berkata: “Kaya adalah orang yang tidak membutuhkan kepada manusia.” Maka dikatakan kepada Sulaiman: “Apa yang engkau katakana, wahai Abu Ayyub?” Maka ia menangis kemudian berkata:

رَأَيْتُ جَوَامِعَ الْغِنَى فِي التَّوَكُّلِ، وَرَأَيْتُ جَوَامِعَ الشَّرِّ مِنَ الْقُنُوطِ. وَالْغَنِيُّ حَقَّ الْغِنَى مَنْ أَسْكَنَ اللَّهُ قَلْبَهُ مِنْ غِنَاهُ يَقِينًا، وَمِنْ مَعْرِفَتِهِ تَوَكُّلًا، وَمِنْ عَطَايَاهُ وَقَسْمِهِ رِضًى، فَذَاكَ الْغَنِيُّ حَقَّ الْغِنَى وَإِنْ أَمْسَى طَاوِيًا وَأَصْبَحَ مُعْوِزًا

“Saya melihat simpul kekayaan itu ada pada tawakkal. Dan saya melihat simpul keburukan ada pada putus asa. Kaya yang sejati adalah orang yang ditempatkan di hatinya oleh Allah, dari kecukupan-Nya berupa keyakinan, dan dari ma’rifat kepada-Nya berupa tawakkal, dari pemberian-Nya dan pembagian-Nya berupa ridha. Itulah orang kaya yang sejati, meskipun ia di sore hari dalam keadaan perut kempes dan di pagi hari kesulitan.” (Ibn Abi al-Dunya, al-Yaqin, 79)Continue reading