Istilah radikalisme dan terorisme yang dimunculkan di media dipahami oleh publik sebagai suatu aliran atau kelompok yang ajarannya sesat dan orangnya jahat; keras, intoleran, ekstrim, dan ujungnya adalah aksi bom bunuh diri.

Lalu muncul sebagian pihak mengaitkan jenggot, cadar, dan celana cingkrang dengan radikalisme dan terorisme. Sementara di dalam agama Islam dikenal hal tersebut sejak masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka apakah sebenarnya ketiga hal tersebut termasuk identitas Agama Islam ataukah ciri radikalisme dan terorisme?

Buku ini memberikan jawaban kepada Anda secara detil, khususnya yang berkaitan dengan referensi Islam khususnya lagi dari kalangan ulama Syafi’iyyah.

Di buku ini dibahas tuntas ketiga hal tersebut secara memadai dan ilmiah.

Kondisi dimana kita hidup saat ini, di negeri ini, saya rasakan gersang bagaikan sahara, kering, panas, jauh dari kehidupan, jauh dari kemakmuran dan jauh dari peradaban. Bagaimana tidak, dari waktu ke waktu kita selalu disuguhi dengan fenomena kejahilan, kemaksiatan, dan kemungkaran yang merajalela, fenomena kurangnya iman, ilmu, dan akhlak di mana-mana, bagaikan benang kusut yang sulit terurai, semakin lama semakin tidak jelas ujung pangkalnya.

Apa yang terjadi sekarang ini termasuk fitnah-fitnah akhir zaman, yang kata Nabi i:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلَازِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga dicabutlah ilmu, banyak terjadi gempa (kegoncangan), zaman berdekatan dan tampak fitnah-fitnah.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah -Radiallahuanhu-).

Begitu derasnya fitnah ini sampai diserupakan oleh Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- sebagai hujan “hujan fitnah”. Beliau bersabda:

إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ”

“Sungguh saya melihat tempat-tempat fitnah di sela-sela rumah kalian seperti tempat-tempat jatuhnya air hujan.” (HR. Bukhari Muslim dari Usamah -Radiallahuanhu-)

Kondisi ini saya tulis sebagai salat satu usaha untuk menghindarkan datangnya murka Allah, sebab dalam hadits Hudzaifah -Radiallahuanu- Rasulullah bersumpah:

“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian beramar ma’ruf dan nahi ‘anil munkar atau sebentar lagi Allah akan mengirim adzab atas kalian dari sisinya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya maka Dia pun tidak menjawab doa kalian.” (HR. Turmudzi, hadits Hasan).

Sebagai alat bantu untuk memahami panasnya admosfir gurun sahara kehidupan dan fakta derasnya hujan fitnah yang mengeringkan kerongkongan dan mengernyitkan dahi, saya kemukakan beberapa data berikut:Continue reading

KAJIAN WALISANTRI RUAQ

👤 Bersama:
Dr. KH. Agus Hasan B, Lc., M.Ag.
(Pengasuh Pesantren Al-Umm dan Mudir Ma’had ‘Ali al-Aimmah)

Tema: “DULU AYAH MEREKA ORANG SHOLIH”

🗓 Sabtu,
23 Dzulhijjah 1440 H/ 24 Agustus 2019

🕌 MASJID JAMI’ AL-UMM
Jl. Joyo Agung No.1 Merjosari Lowokwaru Malang

•••••••••••••••••••••••••••••
On Air
Radio al-Umm 102.5 FM

L I V E S T R E A M:

📺 AL-UMM TV
• www.alumm.tv
• www.youtube.com/user/alummchannel/live

📻 Radio al-Umm
• www.binamasyarakat.com
• www.radioalumm.com
• www.majalahalumm.com

••••••••••
🌐 SOSMED:
• 0823-3936-9900 (wa/tg)
• FB:http://fb.me/alummtivi
• Telegram: https://telegram.me/alummtv

••••••••••
ℹ DAPATKAN BROADCAST/ INFO WHATSAPP, CARANYA:
• Silakan SIMPAN nomor WA diatas&kirimkan format sbb:
info/nama/alamat/nomor wa anda

• Joint telegram

••••••••••
🌸 Salurkan infaq/ sedekah anda melalui al-Umm TV
CP: 0823-3936-9900

Ada kisah yang sangat menarik, menunjukkan agungnya al-Qur`an dan mulianya umat Islam karena tidak bisa dipermainkan atau dilecehkan soal al-Qur`an. Kisah ini terjadi di Zaman Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid al-Abbasi (berkuasa pada tahun 198-218 H/ 813 – 833 M).

Yahya ibn Aktsam ibn Muhammad al-Tamimi (w. 22 Dzul Hijjah 242 H), seorang ulama besar dari generasi Tabi’it Tabi’in dan qadhi agung di Bashrah bercerita: Khalifah Makmun memiliki majlis diskusi (untuk para Ulama), maka masuklah ke dalam majlis seorang Yahudi yang bagus bajunya, tampan wajahnya dan semerbak wangi aromanya. Lalu dia berbicara, ucapan dan ungkapannya bagus. Ketika majlis sudah bubar, Khalifah Makmun memanggilnya lalu bertanya, “Engkau seorang Israel?” Dia menjawab, “Ya.”

Khalifah: “Masuklah ke dalam Islam, aku akan berbuat dan melakukan untukmu.” Khalifah pun menjanjikannya. Namun dia menjawab, “Agamaku dan agama leluhurku.” Maka diapun pamit pergi.

Setahun kemudian dia datang lagi kepada kami, namun dia sudah menjadi muslim. Maka diapun berbicara tentang fikih dan bagus penjelasannya. Maka tatkala majlis sudah selesai Khalifah Makmun memanggilnya, lalu bertanya, “Bukankah engkau sahabat kami kemarin?” Dia menjawab, “Benar.” Dia bertanya: “Lalu apa yang membuatku masuk Islam?”

Dia bercerita: Saya pergi dari hadapan paduka, maka saya ingin menguji agama-agama ini. Paduka tahu bahwa tulisan tangan saya sangat bagus. Maka saya mengambil kitab Taurat lalu saya salin dengan tulisan tangan saya sebanyak 3 eksemplar, saya beri tambahan-tambahan di dalamnya dan juga saya kurangi. Lalu saya masukkan ke gereja, ternyata ketiganya laku, mereka membelinya dariku.

Lalu saya mengambil Injil. Saya salin menjadi 3 eksemplar. Saya beri tambahan-tambahan di dalamnya dan juga saya kurangi. Lalu saya masukkan ke Sinagog, ternyata ketiganya laku, mereka membelinya dariku.

Berikutnya saya mengambil al-Qur`an, saya salin menjadi 3 mushhaf. Saya beri tambahan-tambahan di dalamnya dan juga saya kurangi. Lalu saya masukkan ke para warraq (yaitu tukang kertas, pembuat dan penjual kertas, penyalin buku dan penjual buku), maka mereka memeriksa halamannya, membolak baliknya. Tatakala mereka mendapati di dalamnya ada tambahan dan pengurangan maka mereka mencampakkannya dan tidak mau membelinya. Maka saya tahu bahwa kitab ini adalah kitab yang dijaga. Inilah yang menjadi sebab keislaman saya.

Yahya ibn Aktsam berkata: Lalu saya pergi haji di tahun itu, saya bertemu dengan Imam Sufyan ibn Uyainah, lalu saya ceritakan kepada beliau kisah di atas maka beliau berkata kepada saya: Buktinya ini ada di dalam al-Qur`an. Saya katakan: Di tempat mana? Dia menjawab: Dalam firman Allah tentang Taurat dan Injil, Allah berfirman:

… بِمَا ٱسۡتُحۡفِظُواْ مِن كِتَٰبِ ٱللَّهِ …

“…disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah …” (QS. al-Maidah: 44)

Allah menyerahkan penjagaannya kepada mereka (Taurat dan Injil), maka hilanglah.

Dan Allah berfirman tentang al-Qur`an:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami yang menjaganya.” (Qs. Al-Hijr: 9)

Maka Allah menjaganya atas kita (al-Qur’an), maka dia tidak akan hilang.” (Imam Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, 7/159-160).

Demikianlah, kisah ini membuktikan bahwa Taurat bisa diubah-ubah dan Yahudi bisa ditipu, Injil bisa diubah-ubah dan Nasrani bisa ditipu, sementara al-Qur`an tidak bisa diubah-ubah dan Umat Islam tidak bisa ditipu soal kitab sucinya. Maka kita tidak perlu heran dengan adanya Aksi Bela Islam 1, 2 dan 3, yang merupakan aksi bela al-Qur`an dari penistaan, sebuah aksi yang tidak pernah ada satu kitab di dunia ini yang dibela dengan aksi unjuk rasa (demo) raksasa dan super damai seperti itu.

Maka begitu besar nikmat Allah atas kita, begitu agung kitab suci al-Qur`an di atas kitab-kitab yang lain. Sudahkan kita mengagungka al-Qur`an? Sudahkan kita membacanya setiap hari? Menjadikannya sebagai dasar hidup kita? Mari hidupkan hati dengan membaca al-Qur`an, sesibuk apapun. Jadikan sebagai jargon kita: “Tiada hari tanpa al-Qur`an, minimal 1 halaman, apapun yang terjadi”.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai ahli al-Qur`an dan pembela al-Qur`an, dan di akhirat nanti mendapatkan syafaat al-Qur`an. Aamiin. [*]

Salah satu wirid keselamatan adalah memperbanyak bacaan shalawat, misalnya:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.”

Cara baca:

Dibaca 10 kali di pagi hari dan 10 kali di sore hari, dan untuk bilangan maksimalnya maka tidak ada batasan. Batasannya adalah “semakin banyak semakin manjur”.

Khasiatnya:

  • Mengusir beban jiwa dan mengampuni dosa-dosa

Dari Thufail ibn Ubay ibn Ka’b dari ayahnya, dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِى

“Wahai Rasulullah, saya ini banyak bershalawat (berdoa) untukmu maka berapa aku jadikan untukmu dari shalawatku (doaku)?”

Rasulullah  menjawab: “Terserah kamu (sesukamu).” Saya katakan: “Seperempat?” Beliau menjawab:

« مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ »

“Terseserah kamu, jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.”

Saya katakan: “Setengah?” Beliau menjawab:

“Terseserah kamu, jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.”

Saya katakan: “Dua pertiga?” Beliau menjawab:

“Terseserah kamu, jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.”

Saya katakan:

أَجْعَلُ لَكَ صَلاَتِى كُلَّهَا

“Kalau begitu aku jadikan seluruh doaku untumu?”

Beliau menjawab:

« إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ »

“Kalau begitu dicukupkan kamu dari beban pikiranmu dan diampuni untukmu dosa-dosamu.” (HR. Turmudzi, dihasankan oleh al-Arnauth dalam kitab Jalaul Afham karya Ibnul Qayyim.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  ditanya tentang syarah hadits ini maka beliau berkata: Ubay ibn Ka’b memiliki kebiasaan berdoa untuk dirinya, lalu bertanya kepada Nabi : “Apakah dia menjadikan seperempatnya sebagai doa (shalawat) untuk Nabi ?” Maka Nabi menjawab: “Jika kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.” Lalu dia berkata: “Setengahnya?” Beliau menjawab: “Kalau kamu tambah maka itu lebih baik bagimu.” Hingga dia bertanya: “Kalau begitu aku jadikan semua shalat (doa)ku untukmu?” Maksudnya: “Aku jadikan semua doaku segabai shalawat kepadamu?” Lalu Nabi bersabda: “Kalau begitu dicukupkan kamu dari beban pikiranmu dan diampuni untukmu dosa-dosamu.” Karena orang yang bershalawat kepada Nabi  sekali saja maka Allah membalasnya dengan memberi rahmat sebanyak 10 kali, dan barangsiapa bershalawat kepadanya maka Allah mencukupkan dari beban pikirannya dan mengampuni dosa-dosanya. (Lihat Jalaul Afham, tahqiq Syuaib dan Abdul Qadir al-Arnauth, h. 79.)

Syaukani  berkata: “Dalam dua hal ini terdapat simpul kebaikan dunia dan akhirat, karena orang yang dicukupi dari beban pikirannya akan selamat dari cobaan-cobaan dunia dan gangguannya, sebab setiap cobaan pasti memiliki pengaruh dalam membebani pikiran, meskipun ringan (sedikit). Dan barangsiapa diampuni dosa-dosanya pasti selamat dari cobaan akhirat, karena tidak ada yang menjerumuskan seorang hamba kecuali dosa-dosanya.” (Tuhfatuddzakirin, h. 30.)

  • Mendapatkan syafaat Rasulullah 

Rasulullah  bersabda:

مَنْ صَلىَّ عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِيْنَ يُمْسِيْ عَشْرًا أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa bershalawat untukku sepuluh kali pada pagi hari, dan sepuluh kali pada sore hari, maka ia mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat.” (HR. At-Thabrani melalui dua isnad, keduanya baik. Lihat Majma’ Az-Zawaid, 10/120 dan Shahih At- Targhib wat Tarhib, 1/273.)

Redaksi shalawat:

Shalawat yang paling sempurna adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi  yang biasa disebut dengan shalawat ibrahimiyyah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.” (HR. Bukhari dalam Fathul Baari: 6/408.)

Sedangkan shalawat yang paling pendek, setidaknya yang menggabungkan antara shalawat dan salam seperti:

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.” [*]