MENGUATKAN KARAKTER GENERASI PEMIMPIN

Mukaddimah

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter ditegaskan:

  1. bahwa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya merupakan negara yang menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai-nilai luhur, kearifan, dan budi pekerti;
  2. bahwa dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab, perlu penguatan pendidikan karakter;
  3. bahwa penguatan pendidikan karakter sebagaimana dimaksud dalam huruf b merupakan tanggung jawab bersama keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat;[1]

Dari kutipan ini kita memahami bahwa pemerintah sekarang sedang menggalakkan Penguatan Pendidikan Karakter. Dan bahwa hal ini merupakan tanggung jawab bersama, keluarga, satuan pendidikan, dan masuyarakat. Kemudian di antara wasilah untuk mewujudkan bangsa yang berbudaya adalah dengan menguatkan nilai-nilai religius.

Nilai-nilai religius dalam Islam tentu sangat beragam dan luas, dan perlu digali khususnya nilai-nilai yang besar yang dapat membawa bangsa ini kepada martabat yang tinggi dan kehidupan yang lebih baik. Di antara nilai-nilai religius yang sangat diperlukan di era krisis kepemimpinan ini adalah karakter generasi pemimpin. Generasi yang siap memimpin dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan bangsanya.

Pendidikan ini sangat menentukan arah generasi penerus, apakah pendidikan difokuskan untuk menjadikan bangsa ini sebagai generasi buruh, pekerja, kuli, ataukah menjadi generasi pemimpin, yang akan memimpin dirinya, masyarakat, dan bangsanya di negeri sendiri. Selama ini lembaga pendidikan lebih banyak mencetak para pekerja, para buruh dan para kuli. Oleh karena itulah dalam makalah ini saya akan mencoba untuk mengingatkan dua karakter yang menjadi syarat mutlak dalam diri pemimpin, yaitu yakin dan sabar.

Karakter yakin sudah banyak dirusak dan dikikis dari generasi ini melalui berbagai macam syubhat dan konspirasi. Para pejuang sekularisme, kapitalisme, komunisme, matrialisme, liberalism, dan pluralisme telah menanamkan pikiran-pikiran liar dan pendapat-pendapat rusak yang dapat melemahkan keimanan dan keyakinan para mahasiswa dan masyarakat, dan dapat merusak cara pandang dan berfikir mereka. Kekuatan media dan juga pengusaha tidak ketinggalan untuk mengerdilkan agama para pemirsa dan para pekerja.

Begitu pula karakter sabar telah mereka rusak sedemikian rupa melalui syahwat dan muslihat sehingga generasi sekarang terjangkit penyakit hubbuddunya (cinta dunia).

Rusaknya karakter yakin dan sabar menjadikan generasi ini penakut, putus asa, mudah menyerah, tidak berani menghadapi pihak asing yang jelas-jelas merusak negeri, walau hanya sekedar protes dan memberi peringatan. Rusaknya karakter yakin dan sabar membuat orang mudah untuk korupsi, mudah untuk mengkhianati janji, mudah untuk mengorbankan rakyat dan negara. Mereka malas untuk melakukan amar makruf nahi ‘anil munkar, bahkan mungkin sebaliknya yang mereka lakukan. Mereka tidak takut kepada Allah, tidak berminat mensyiarkan agama dan hukum Allah.

Intinya, generasi ini perlu nasehat dan siraman ruhani, perlu bimbingan dan pengobatan syar’i. Penerus bangsa ini perlu pendidikan agama yang benar, aqidah yang tauhid, ibadah yang shahihah dan akhlak yang mulia. Pendidikan karakter sangat diperlukan, khususnya karakter pemimpin; yakin dan sabar yang wajib diperhatikan di segala satuan pendidikan.

Karakter Yakin dan Tingkatannya

Yakin adalah satu cabang iman yang besar, satu sifat sifat orang yang ahli bertakwa dan berihsan. (QS. Luqman: 4-5).

Syaikh Ibrahim ibn Muhamad al-Huqail menjelaskan keyakinan kepada apa saja misalnya:

اليقينُ بحكمة الله تعالى في خلقه وأمره وقدره وفعله وشرعه، فلا يخلق إلا لحكمة، ولا يأمر أمرًا كونيًا إلا لحكمة، ولا يقدر قدرًا إلا لحكمة، ولا يشرع شرعًا إلا لحكمة.

“Yakin dengan hikmah Allah dalam penciptaan-Nya, dalam perintah-Nya, dalam takdir-Nya, perbuatan-Nya, dan Syariat-Nya. Maka Dia tidak mencipta kecuali untuk sebuah hikmah. Tidak memerintah satu perintah dalam penciptaan kecuali untuk suatu hikmah. Tidak menetapkan satu takdir kecuali untuk suatu hikmah dan tidak mensyariatkan satu syariat kecuali untuk suatu hikmah.”[2]

Generasi pemimpin dari umat Islam wajib meyakini Allah, meyakini ayat-ayat-Nya, meyakini syariatnya, meyakini janji-janji dan ancaman-Nya, meyakini pertolongannya bagi yang berjuang di jalannya, dan meyakini hukuman Allah bagi yang menentangnya, dan seterusnya dengan keyakinan yang jujur dan sempurna.

Syaikh Abdurrahman al-Sa’di berkata:

واليقين هو العلم التام الذي ليس فيه أدنى شك، الموجب للعمل

“Yakin adalah ilmu yang sempurna, yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, yang mendorong orang untuk mengamalkannya.”[3]

Imam Baihaqi berkata:

اليقين هو سكون القلب عند العمل بما صدق به القلب فالقلب مطمئن ليس فيه تخويف من الشيطان ولا يؤثر فيه تخوف فالقلب ساكن آمن ليس يخاف من الدنيا قليلا ولا كثيرا

“Yakin adalah tenangnya (mantapnya) hati saat mengamalkan apa yang dibenarkan oleh hatinya. Hati merasa tenang, tidak ada rasa takut dari setan, dan tidak terpengarus oleh rasa waswas. Hati tenang, nyaman, tidak khawatir dunia, baik sedikit maupun banyak.”[4]

Imam Ibn al-Qayyim berkata:

وَلَا يَتِمُّ صَلَاحُ الْعَبْدِ فِي الدَّارَيْنِ إِلَّا بِالْيَقِينِ وَالْعَافِيَةِ، فَالْيَقِينُ يَدْفَعُ عَنْهُ عقوبات الآخرة، والآخرة تَدْفَعُ عَنْهُ أَمْرَاضَ الدُّنْيَا فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ.

“Tidak akan terlaksana kebaikan hamba di dunia dan akhirat kecuali dengan yakin dan ‘afiyah. Yakin menghindarkan dirinya dari hukuman (adzab) akhirat, dan ‘afiyah menghindarkan dirinya; hati dan badannya dari penyakit-penyakit dunia.”[5]

Yakin ini memiliki beberapa jenjang, antara lain: ilmu, bagusnya tawakkal, ridha dan taslim (pasrah), tidak bergantungnya hati kepada selain Allah, yaitu dia lebih percaya dengan apa yang di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganya sendiri!

Yakin juga memiliki 3 tingkat:

Pertama: ‘ilmul yaqin (QS. Al-Takatsur: 5), yaitu ilmu yang pasti yang bersesuaian dengan kenyataan tanpa ada keraguan.

Kedua: ‘ainul yaqin (QS. Al-Takatsur: 7), yaitu apa yang diketahui dengan menyaksikan langsung dan terbukanya tabir.

Ketiga: haqqul yaqin (QS. Al-Waqi’ah: 74), yaitu ilmu yang dialaminya dan dijalaninya sendiri.

Karakter Sabar dan Tingkatannya

Hakekat sabar adalah:

حبسُ النفس عن الجزَع، واللسان عن الشكوى، والجوارح عن المعاصي والذنوب، بمعنى أن يتلقَّى العبد البلاءَ بصدر رحب دون شَكْوى أو سخط.

“Menahan jiwa dari rasa dongkol (sempit dada), lisan dari mengeluh, dan anggota badan dari maksiat dan dosa. Artinya, seorang hamba harus lapang dada saat menghadapi ujian, tanpa mengeluh atau murka.”[6]

Sabar ini dilihat dari sudut kaitannya ada 3 macam:

Pertama: sabar terhadap perintah dan ketaatan sehingga dia menunaikannya.

Kedua: sabar terhadap larangan dan pelanggaran sehingga dia menjauhinya

Ketiga: sabar terhadap qadha dan qadar yang menimpanya sehingga ia tidak marah kepada Allah.

Maka simpul agama ini kembali kepada 3 kaedah ini yaitu:

فعل المأمور، وترك المحظور، والصبر على المقدور،

“Melakukan yang diperintahkan, meninggalkan yang dilarang, dan bersabar atas apa yang ditakdirkan.”[7]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah mengatakan:

الصبر على أداء الطاعات أكمل من الصبر على اجتناب المحرمات وأفضل؛ فإن مصلحة فعل الطاعة أحب إلى الشارع من مصلحة ترك المعصية، ومفسدة عدم الطاعة أبغض إليه وأكره من مفسدة وجود المعصية

“Sabar menjalani ketaatan itu lebih sempurna dan lebih utama daripada sabar menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebab kemaslahatan mengerjakan ketaatan lebih Allah sukai daripada kemaslahatan meninggalkan maksiat. Dan kerusakan tidak melaksanakan taat itu lebih dibenci oleh Allah dari pada kerusakan adanya maksiat.”[8]

Dalil Bahwa Yakin dan Sabar Adalah Karakter Pemimpin

Allah  menyebutkan bahwa sifat para imam (pemimpin) itu adalah sabar dan yakin, maka Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. Al-Sajdah: 24).[9]

Maka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (728 H) berkata:

“Dengan kesabaran dan keyakinan, diraihlah kepemimpinan dalam agama.”[10]

Imam Ibnu Katsir (774 H) berkata: “Cucu Imam Syafi’i (Ibnu binti al-Syafi’i) berkata: Ayah saya membaca di hadapan paman saya, atau paman saya membaca di hadapan ayah saya, bahwa Sufyan ditanya tentang ucapan Ali t:

الصَّبْرُ مِنَ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، أَلَمْ تَسْمَعْ قَوْلَهُ: {وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا}

“Kedudukan sabar dari iman adalah bagaikan kedudukan kepala dari jasad. Tidakkah kamu mendengar firman-Nya: dan Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.” Maka dia menjawab: Ketika mereka mengambil kepalanya urusan maka mereka menjadi para kepala. Sebagian ulama berkata: Dengan kesabaran dan keyakinan, diraihlah kepemimpinan dalam agama.”[11]

Syaikh Abdurrahman ibn Nashir al-Sa’di (1376 H) menafsiri doa “وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا” dengan mengatakan:

“Ya Allah sampaikanlah kami kepada derajat yang tinggi ini, derajat para shiddiq dan orang-orang yang sempurna dari hamba-hamba Allah yang shalih, yaitu derajat imamah dalam agama. Yaitu mereka menjadi panutan bagi orang-orang yang bertakwa dalam ucapan dan perbuatan mereka. Perbuatan mereka diikuti dan ucapan mereka dipatuhi. Orang-orang yang baik berjalan di belakang mereka, sehingga mereka memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk.”

Lalu Syaikh al-Sa’di melanjutkan: “Derajat imamah fiddin tidak bisa diraih kecuali dengan sabar dan yakin, sebagaimana firman Allah .”[12]

Jauh sebelum Ibn Taimiyah sudah ada yang menyebutkan syarat sabar dan yakin tersebut yaitu Abul Hasan al-Wahidi al-Syafi’i (468 H) dalam tafsirnya Al-Wasith saat menerangkan tentang kisah Ashhabul Kahfi (Para pemuda yang berlindung di gua). Dia berkata:

{وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ} [الكهف: 14] ألهمناهم الصبر، {إِذْ قَامُوا} [الكهف: 14] بين يدي ملكهم دقيانوس الجبار الذي كان يفتن أهل الإيمان عن دينهم، فربط الله على قلوبهم بالصبر واليقين حين قالوا بين يديه: {رَبُّنَا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ} [الكهف: 14] الآية.

“Dan kami meneguhkan hati mereka (QS. al-Kahfi: 14) artinya kami ilhamkan kepada mereka kesabaran, “ketika mereka berdiri” di hadapan raja mereka Diqyanus yang bengis yang selalu menguji (menyiksa) orang beriman agar murtad. Maka Allah meneguhkan hati mereka dengan kesabaran dan keyakinan, ketika mereka berkata di hadapannya, “Tuhan kami adalah tuhan langit dan bumi.” (QS. Al-Kahfi: 14).[13]

Usaha Untuk Menanamkan dan Menguatkan Karakter Pemimpin

Guna mewujudkan dan menguatkan karakter pemimpin pada generasi ini dalam setiap satuan pendidikan maka perlu kiranya dilakukan usaha-usaha, antara lain:

  1. Mengajarkan kepada siswa doa-doa yang berkaitan dengan karakter pemimpin khususnya karakter yakin, baik doa dari Nabi i maupun dari sahabat. Doa ini diajarkan dan difahamkan hingga mereka merasa penting doa meminta yakin kepada Allah dan mau mengamalkannya.

Doa-doa dari Nabi i tentang yakin cukup terkenal, yang dari sahabat Nabi i diantaranya adalah doa Abu Bakar[14]:

«اللَّهُمَّ هَبْ لِي إِيمَانًا وَيَقِينًا وَمُعَافَاةً وَنِيَّةً»

Doa Ibn Mas’ud[15]:

«اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا وَفِقْهًا»

Doa Abu Darda`[16]:

«نَسْأَلُ اللَّهَ إِيمَانًا دَائِمًا , وَيَقِينًا صَادِقًا , وَعِلْمًا نَافِعًا»

  1. Mengenalkan keutamaan yakin dan sabar yang ada di dalam al-Qur`an dan al-Sunnah. Dengan memahami kedudukan karakter yakin dan sabar maka generasi ini akan bersemangat untuk memiliki kedua karakter tersebut.
  2. Mengenalkan secara rinci sifat-sifat ahli yakin dan ahli sabar yang ada di dalam al-Qur`an dan al-Sunnah. (baca misalnya makalah sifat Ahli yakin oleh Ustadz M. Syuaib al-faiz).
  3. Menonjolkan kisah-kisah para tokoh yang berhasil karena memiliki karakter yakin dan sabar, khususnya kisah panutan umat Islam, para tokoh pemimpin muslim, baik dari para Nabi, para sahabat, para tabi’in maupun tokoh-tokoh muslim zaman sekarang. Islam dan sejarahnya sangat kaya dengan kisah yakin dan kisah sabar yang inspiratif.
  4. Melatih siswa-siswi agar memiliki karakter yakin dan sabar, memberikan keteladanan kepada mereka dan mengujinya. Hal ini bisa nyata gambarannya pada diri Rasulullah i yang diajari dan diberi sifat yakin oleh Allah kemudian mengajarkan kepada Abu Bakar al-Shiddiq t, khususnya dalam Gua Tsaur saat mengatakan kepadanya: لا تحزن إن الله معنا (“Jangan bersedih, Allah bersama kita!”). Lalu lihat bagaimana Abu Bakar t memiliki karakter ini dan berhasil mengatasi tantangan terberat dalam sejarah Islam pasca Nabi i wafat yaitu menumpas golongan murtaddin dan nabi palsu Musailamah al-Kadzab.

Jadi marilah kita belajar dan kita ajarkan karakter yakin ini kalau kita ingin menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Seorang ulama Tabi’in, yang bernama Khalid ibn Ma’dan berkata:

تَعَلَّمُوا الْيَقِينَ كَمَا تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ حَتَّى تَعْرِفُوهُ فَإِنِّي أَتَعَلَّمُهُ”

“Belajarlah yakin sebagaimana engkau belajar al-Qur`an, hingga engkau mengetahuinya, sesungguhnya aku mempelajarinya”![17]

Subhanallah. Saudaraku, pernahkah kita memiliki kesadaran seperti Imam Khalid Ibn Ma’dan asal Yaman ini?

Sungguh pemahaman yang agung, mengikuti jejak Rasulullah i yang memerintahkan untuk berdoa meminta yakin. Maka Khalid ibn Ma’dan ini pun meninggal dunia karena kerinduannya untuk berjumpa dengan Nabi dan para sahabatnya,[18] beliau wafat tahun 103 di masa Yazid ibn Abdul Malik.

Semoga makalah ini bermanfaat dan menginspirasi.

Malang, 31 Oktober 2017.

  1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter
  2. http://iswy.co/e12a57
  3. Tafsir al-Sa’di, 40
  4. al-Zuhd al-Kabir, 1/352
  5. al-Thibb al-NabawiIbn al-Qayyim, 160; Zadul Ma’ad, 4/197; Lihat Madarij al-Salikin, 2/397
  6. http://www.alukah.net/social/0/30034/#ixzz4wzuEKJo0
  7. https://dorar.net/akhlaq/801
  8. Al-Mustadrak ‘Ala Majmu’ al-Fatawa, 1/145.
  9. Ibn Taimiyah, al-Istiqamah: 40.
  10. Al-Mustadrak ‘Ala Majmu’ al-Fatawa, 1/145.
  11. Abu al-Fida` Ismail ibn Katsir, tahqiq: Sami ibn Muhammad Salamah, Tafsir al-Qur`an al-Azhim, 6/372.
  12. Al-Sa’di, Taysir al-Karim al-Rahman, Muassasah al-Risalah, 588.
  13. Abul Hasan al-Wahidi al-Syafi’I, Al-Wasith fi Tafsir al-Qur`an al-Majid, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 1994, 3/138.
  14. Ibn Abi dunya, Al-Yaqin, 33.
  15. Abdullah ibn Ahmad, Al-Sunnah, 1/369
  16. Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, 2/ 718.
  17. Ibn Abi al-Dunya, Al-Yaqin, 34.
  18. http://www.alukah.net/culture/0/50644/#ixzz4x2AUlPJR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *