KISAH YAI BUKHORI YANG PENYABAR

 

Dr. KH. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag

Hari Ahad, 3 Maret 2018, setelah menyolati jenazah pakdhe Haji Anwar di Pandaan, kami menikmati rujak “Takwa”, kemudian mampir ke Bibik Siti Zaenab di Sukorejo Pandaan.

Mengingat suasana berkabung maka kami pun membicarakan tentang orang-orang tua kami yang sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah –insyaallah-, terutama Kyai Muhammad Bukhari, sebagai nara sumber adalah Bibi Siti Zaenab binti M. Bukhari. Pembicaraan dimulai setelah ashar dan dilanjutkan setelah maghrib.

Saya (Agus Hasan Bashori ibn Nur Fathonah binti Muhammad Bukhari (+Tuhayyah) ibn Gartam) adalah keponakan Bibi Siti Zaenab. Buyut kami dari jalur ibu bernama Gartam (mungkin asal Donganti) dan istrinya bernama buyut Katun (asli Dusun Sukorejo, Desa Karang Jati). Mereka ini dikaruniai 5 anak oleh Allah:

  1. Topo (berumah tangga di Ledok, Bangil, Pasuruan)

Pak Kyai Topo memiliki anak antara lain: Budhe Sofi, Rabi’ah, Majid (tidak menikah)

Ketiganya sering saya kunjungi saat saya menjadi santri di PPDU Bangil.

Kemudian satu lagi paling sering saya kunjungi sewaktu saya di Bangil, apakah saat saya nyantri atau sudah mengajar di PPDU dan di Manarul Islam Bangil adalah Mas Sajad yang taat beragama, putra Budhe Shofi. Dia memiliki satu putra laki-laki, sekarang tinggal di Surabaya bersama istrinya.

Ada juga Bapak Ihsan yang biasa dikenal sebagai orang pintar juga anak budhe Shofi, yang jarang kita kunjungi, biasanya kalau hari raya saja.

Juga ada mbak Ratna, dan Mas Ote. Entah sekarang mereka berada di mana.

2. Sumiyah (tetap tinggal di Sukorejo Karangjati) yang memiliki beberapa anak: Riyama, Shalih, Abdurrazzaq, dan Khanifah.

  • Riyama mempunyai anak: Iksan, Manan, Nawara, dan Siti.

Manan punya anak bernama Qasim, yang kini anaknya menjadi santri di Pesantren (SMPI al- Umm).

Sementara Siti punya anak bernama Imarah (dinikah oleh Misdran), kini anaknya nyantri di Pesantren (SMPI al-Umm)

  • H. Sholeh, tinggal dan beranak pinak di Kota Pandaan.
  • KH. Abdurrazak pemangku masjid dusun Sukorejo, memiliki anak: Mahfuzh, Nur Kholis, Munib dll.
  • Khanifah, memiliki dua anak perempuan Barokah dan Aminah. Barokah dinikahi oleh Musyaffa’ dari Kota Sukorejo memiliki anak antara lain Riris dinikahi oleh Ustadz M. Syahri (santri at-Tabi’in pertama, anggota dewan pendiri YBM)

Aminah dinikahi Syuhada` dikarunia anak bernama Mas’ud Effendi (dosen UB), yang anaknya sekolah di SDI al-Umm.

3. Jannah (tetap di Korjo), memiliki anak: Misykah, Kang mad, Sadiyah, Siti.

Miskah punya anak: muhayyah, syafik, syarofah.

Syafik menikah dengan Thaha memiliki anak antara lain Thalik menikah dengan Heri SP (Gondanglegi Malang) melahirkan anak: Fauzan, dan Faishal, keduanya nyantri di Pesantren al-Umm

4. Jayadi (tetap di Korjo, dekat dengan Yai M. Bukhori di Gumuk Gong Sukorejo Karangjati.

Menikah dengan Muhaya, memiliki anak Majidah, Maning, Mahmudah, Munojo.

5. Muhammad Bukhari.

Belajar nyantri di Pondok Pesantren Singopolo Bangil. Setelah itu menikah dengan Mak Nyik Tuhayya putri Yai Sayi’ dan Buyut Nafisah Kabunan Kepulungan Gempol Pasuruan. Pak Kyai Bukhari atau yang biasa kami Panggil Yai Bu adalah menantu yang paling dicintai oleh Buyut Syayi’, selain karena keilmuannya juga karena akhlaknya yang luhur: perhatian, sopan, sabar, setia, dan sosialnya tinggi.

Bibik Zaenab menuturkan: “Di antara perhatian Bapak (Yai Bu) kepada masyarakat, jika dia sedang makan sekalipun kalau ada tamu mengabarkan bahwa fulan sakit maka beliau langsung meninggalkan makannya dan mengambil surbannya langsung pergi menjenguk orang yang sakit tersebut.”

Kepada istrinya sangat sayang, kepada anak-anaknya sangat sayang.

Bibik Zaenab menuturkan: “Saya dengar bahwa Pak Yik Syayik saudaranya orang Arab, Buyutmu dulu dinikahi orang Arab, maka Pak Yik Syayik ganteng, tinggi, mancung (seperti anaknya Kyai Munawar, kakak Tuhayya).”

“Di Sukorejo sini Bapak (Yai Bu) adalah orang paling kaya, tokoh agama, sekaligus pejuang kemerdekaan.”

Menurut kesaksian Bibi Siti Zaenab, Yai Bu selain mengisi pengajian dia juga menjadi Imam di beberapa masjid yang ada di desa-desa lain, seperti di Desa Mendalan, Desa Kalitengah, dan Desa Klagen. Di samping itu juga membuka pengajian di rumah untuk anak-anak, dan memiliki mushalla, yang di tempatnya atau di dekatnya kemudian kita dirikan Mushalla al Tabi’in tahun 1995 sampai sekarang (2018) .

Di zaman penjajahan Belanda, ada tentara yang baik namanya Jaemi, dia selalu dicari-cari dan dikejar-kejar sama Belanda dengan mobil patrolinya. Dia sering bersembunyi di lumbung padi Yai Bu. Dia masuk di tumpukan padi. Dia berada di atas landasan kebo/sag, lalu ditumpuki padi. Belanda datang ke rumah Yai Bu. Yai Bu cukup disegani, maka Belanda bertanya: “Bu, di mana Jaemi?” Beliau menenjawab: “Tidak tahu, di mana Jaemi.” Belanda memeriksa dan menusuk-nusukkan pedangnya ke tumpukan padi. Perasaan was-was menghantui, namun Alhamdulillah selamat. Ketika mobil ptroli sudah sampai desa Korame, sekitar 1 km dari Sukorejo, maka Jaemi dikeluarkan. Karena itu pejuang Jaemi ini sering bersembunyi di rumah Yai Bu.

Pernah dia kepergok Belanda saat ada di dekat masjid (Abdurrozak) di tengah desa Sukorjo maka dia bersembunyi di rumah di baratnya masjid. Belanda memburu dan membakar rumah itu. maka Jaemi keluar dan menghilang di perkebunan, tahu-tahu sudah muncul di rumah Yai Bu dan bersembunyi di sana. Dia bilang: “Aku Hampir saja mati, Bu”.

Saat sudah merdeka, Yai Bu diuruskan Pensiunannya, maka pensiunan beliau keluar, namun sayang diambil oleh orang Jogonalan, Pandaan, yang menguruskannya.

Yai Bu menikah dengan Mak nyik Tuhaya dikarunia anak: Nur Fathonah, Ghafur, Syueb, Siti Zaenab dan kembarannya, lalu 3 anak lainnya, semuanya tujuh yang hidup hanya ibu Nur Fathonah dan Siti Zaenab.

Ibu Nur Fathonah menikah beberapa kali dan yang terakhir dengan Bapak Qomari. Dari pernikahan ini dikaruniai 6 anak: M. Sholihan, M. Mujib Ansor, Agus Hasan Bashori, M. Ali Khudlori, M. Syuaeb al Faiz, dan Zuraida Fathonah.

Bibi Zaenab mengatakan: “Yang mewarisi sifat-sifat baik Yai Bu adalah Agus Hasan Bashori: Ahli ilmu, rajin, penyabar, peduli, dan peyayang.”

Jasa besar yang tidak bisa dilupakan dari Yai Bu adalah:

  1. Seluruh tanah di Korjo baik untuk rumah, sawah, kebun, dan masjid, serta pesantren al-Tabi’in adalah warisan Yai Bukhori.
  2. Rumah Kabunan Kepulungan adalah pembelian Yai Bu yang dibelinya dengan menjual Sapi. Tujuan utama Yai Bu adalah untuk rumah bagi Nur fathonah yang tinggal di Kabunan. Sementara untuk ladang dan sawahnya maka itu bagian warisan milik Nyai Tuhayya yang juga dari keluarga kaya dan pemimpin di Kabunan.

Yai Bu, pernah bilang kepada ibu Nur fathonah dan juga kepada Bibi Zaenab bahwa dia merindukan adanya anak laki-laki, karena dia ingin kalau sudah meninggal nanti ada yang ziarah kubur dan mendoakannya. Maka bibi Zaenab menghibur: “Sudahlah Pak, Bapak sudah punya cucu-cucu laki-laki: anaknya Neng 5 laki-laki, anakku satu laki-laki. Bapak punya 6 anak laki-laki, mereka pintar-pintar semua, khususnya anaknya Ning. Maka bapakpun terhibur.”

Setelah hidup dengan perjuangan panjang akhirnya bapak Yai Bu berpulang ke rahmatullah insyaallah, pada 1 Syawwal sekitar tahun 1983/1984, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di belakang rumah kakanya Jayadi, Korjo Karangjati.

Alhamdulillah, kini sudah ada 10 keturunan Buyut Gartam yang menjadi santri di pesantren al Umm Malang, belum lagi keturunan Buyut Gartam yang mengaji di Mushalla al-Tabi’in Korjo, di atas tanah peninggalan Yai Bu dan Mak Nyik Tuha.

Semoga Allah menerima amal shalah Yai Bukhori dan Mak Nyik Tuhayya, dan semoga Allah merahmati mereka berdua, mengampuninya dan menjadikan kuburannya sebagai taman surga, dan dijadikan sebagai ahli surga berkat doa cucu-cucunya dan syafaat Rasulullah saw. Amin. [*]

Semoga Allah memudahkan saya untuk mengumpulkan Bani Gartam. Di atas kebaikan. Aamiin.

Kepada Bani Gartam yang ingin bergabung silahkan hubungi 082 333 55 4141

Malang, Ahad 4 Maret 2018.

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *