ISLAM DI PULAU KORSIKA PERANCIS TEMPAT KELAHIRAN NAPOLEON

D:\A\DESJO-00125_1-17.jpg

(Sejarawan Corsica Yang obyektif mengatakan: “Darah umat Islam bercampur dengan darah kaum Korsika, sehingga sekelompok besar dari mereka masuk Islam karena kelebihan Islam yang tak terhitung.”)

Pulau Korsika Tempat kelahiran Napoleon Bonaparte itu seluas 8.680 km2 dan populasi sekitar 326.000 jiwa, bahasa resmi nya adalah Perancis. Dari jumlah penduduk tersebut, hampir 10.000 beragama Islam, yang mayoritas berasal dari Aljazair dan Tunisia, dan sudah menjadi warga negara penuh.

Korsika ibu kotanya adalah Ajaccio. Ekonomi utamanya pertanian, dan tanaman utamanya adalah zaitun, anggur, sayuran, tembakau, pinus, Beberapa penghuninya juga berlatih memancing, juga tambang besi, timah, dan tembaga, juga dianggap sebagai kota wisata karena iklimnya yang sejuk dan bentang alamnya yang berbatu-batu.

D:\A\1200px-Locator_map_of_Arrondissement_Calvi_2017.png

Pulau Corsica terletak di Laut Mediterania, barat Italia, dan utara pulau Italia Sardinia, sekarang menjadi bagian dari Perancis, meskipun lebih dekat ke Italia daripada daratan Prancis, diduduki oleh Perancis pada tahun 1769. Budaya Corsica adalah campuran dari Italia dan Prancis. Bahasa ibu Korsika diakui sebagai bahasa daerah oleh pemerintah Prancis. Orang-orang Corsica cenderung lebih Italia daripada Perancis. Pulau ini adalah salah satu pulau terindah di Mediterania, dan pegunungan membentuk dua pertiga pulau, dalam satu rangkaian.

D:\A\2000px-Conquête_de_l'Islam_à_la_chute_des_Omeyyades.svg.png

Laut Mediterania di Abad Pertengahan berada dalam konflik, dan umat Islam tahu nilai strategisnya, maka rute perdagangan internasional harus diamankan, dan Serangan Bizantium (Romawi) di pantai negara-negara Arab harus dihilangkan dan serangan itu harus dipindahkan ke pantai yang jauh dari negara-negara Islam. Jika sudah berhasil menguasai Laut Mediterania, umat Islam bisa masuk Eropa untuk menyebarkan agama Islam. Tetapi dalam serbuan umat Islam ke pulau ini, mereka dihadang oleh kekaisaran Carolingien yang didirikan Charlemagne untuk menjadi kan imperium yang suci dan penjaga Katolik. Maka Ia membangun armada angkatan laut yang terdiri dari 1.000 kapal, dan tentaranya dipersenjatai atas nama membela agama juga.

D:\A\18-Corse-Sagone.jpg

Nama pulau ini disebutkan dalam buku-buku ahli geografi dan sejarawan Muslim dengan nama “Kursika, Korsikha, Korsakha atau Korshaqa, (“كورسيكة”، أو “كورسكة”، أو “قورسقة” أو “قورشقة”؛) dan yang terakhir disebut oleh al- Idrissi. Tetapi pembicaraan tentangnya dan tentang penaklukannya hanya bersifat global, sepertinya hal tersebut tidak disertai dengan pergerakan peristiwa-peristiwa politik yang dicatat oleh para sejarawan Arab sebagaimana biasanya, dan juga karena mereka bukan pintu gerbang masuknya Islam ke Eropa seperti yang diinginkan para penakluk. Namun justru yang mencatat masuknya umat Islam ke pulau ini adalah beberapa sejarawan Barat.

Al-Aghalibah (Aghlabid, Penguasa muslim Tunis) menaklukkan Corsica

Nama Aghlabid, penguasa Tunisia, terkait dengan pembukaan (penaklukan) beberapa pulau Mediterania, termasuk pulau Corsica. Dr. Mohammed Al-Montaser al-Kattani memiliki sebuah buku berjudul “al-Muslimun Fi Urubba wa Amrika (Muslim di Eropa dan Amerika),” dan pada akhir bagian pertama mengatakan: “Aghlabid membuka pulau Kursikah pada tahun 806 M (192 H), dan tetap di tangan mereka meskipun ada serangan Kristen lalu diambil alih oleh dinasti Fatimiyah, hingga dikuasai oleh kekuatan Kristen tahun 930 M, sehingga Pemerintahan Islam berlangsung selama 124 tahun di pulau itu, dan serangan terakhir terhadap pantai-pantai Prancis dan Pulau Korsika adalah di zaman Wali al-Jazair al-Utsmani yang bernama Khairuddin Barbarossa, yang membuka kota Nice (Nis) dan tetap tinggal di sana selama hampir setahun (1543 M). Peperangan-peperangan ini bersifat bertahan, sebab serangan Negara-negara Kristen ke pantai-pantai Maroko.

Dr. al-Kattani menyimpulkan bahwa Ibrahim ibn al-Aghlab membuka Pulau Sardania tahun 809 M. Dan pulau itu berada dalam kekuasaan al-Aghalibah hingga dikuasai oleh Ubaidiyyun (Fathimiyyun) tahun 909 M, lalu tetap berada di tangan mereka sampai tahun 1003 M ketika Bani Umayyah merebutnya – maksudnya para pengikut negara Bani Umayyah yang ada di Andalusia -. Kemudian ia dikuasai oleh Kristen, kemudian Mujahid al-Amiri mencoba mengambilnya kembali pada 1015 M, tetapi upayanya gagal, dan mengalahkan pasukannya dikalahkan oleh aliansi Kristen yang terdiri dari beberapa negara.

Pada awal pembahasannya tentang Corsica, “Dur Durant” dalam bukunya “The Story of Civilization” melihat bahwa kaum Muslim telah mengambilnya dari kaum Frank sampai diambil oleh orang-orang Italia dari kota Tuscany.

Sementara Archibald Lewis, dalam bukunya “Kekuatan Maritim dan Perdagangan di Mediterania,” telah meragukan tentang penaklukan pulau Korsika oleh kekuatan Islam. Menurutnya pulau Corsica itu tidak diduduki oleh pasukan Islam dalam arti yang tepat, dan bahwa itu menganut netralitas dalam konflik memperebutkan pengendalian perairan Mediterania. Dia juga berpandangan bahwa apa yang dikatakan tentang pulau Korsika juga dikatakan pada pulau Siprus dan Sardinia.

Apa yang dikatakan kaum Frank

Adapun Rincian dari upaya berulang untuk membuka Pulau Corsica sampai benar-benar dibuka (ditaklukkan) oleh umat Islam, maka Kami berutang kepada profesor Faiz Naguib Iskandar, seorang profesor sejarah abad pertengahan, yang memberikan informasi rinci tentang masalah ini. Ia mempresentasikan penelitian panjang di mana ia mengutip orang Barat secara rinci, Dan menerbitkannya dalam buklet terpisah, penelitian ini berjudul “Charlemagne dan penaklukan Islam di pulau Corsica dalam terang catatan sejarah raja-raja Frank” (شارلمان والفتوحات الإسلامية لجزيرة كورسيكا فى ضوء حوليات ملوك الفرنجة). Meskipun ada hal yang berlebihan dan legendaris yang mendorong beberapa sejarawan Barat untuk mengajukan beberapa tuduhan terhadap umat Islam yang menaklukkan, namun Dr. Fayez Iskander mampu mengambil inti sari materi sejarah di antara hal-hal berlebihan dan legenda-legenda yang menyertai tulisan-tulisan Barat yang menulis peristiwa penaklukan Pulau korsika.

D:\A\28764555_184954552113888_5353466495814860800_n.jpg

Menurut pendapat Dr. Iskandar bahwa sebagian besar sumber sejarah Islam tidak menyebutkan berita penaklukan Islam di pulau Corsica, dan bahwa kurangnya perhatian terhadap berita ini mungkin karena ia tidak mempengaruhi perkembangan peristiwa secara signifikan, dan tidak mengarah pada perluasan ruang lingkup penaklukan Islam di Eropa.

Campuran Arab- Korsika

Menurut sejarawan Barat, tahun-tahun (806-813 M) adalah periode yang penuh dengan upaya berulang-ulang untuk membuka pulau itu. Sebagai hasil dari serangan angkatan laut berturut-turut, Charlemagne (Kaisar Kekaisaran Carolingian) menyadari bahaya serangan itu terhadap kekaisarannya, yang ia anggap sebagai kekaisaran suci yang mewakili agama Kristen Katolik dengan restu dari Paus. Maka pada tahun 810 M, ia memerintahkan semua kabupaten dan gubernur untuk membangun menara dan benteng di negaranya di muara sungai, yang dianggap sebagai titik masuk yang mudah dimasuki oleh armada Islam.

Dr. Fayez Najib Iskandar berkata:

Para penakluk muslim mampu mengalahkan orang-orang Korsika (Corsicans) dengan semangat, bahasa dan aqidah mereka.Banyak Corsicans memeluk Islam, mengenakan pakaian kepribadian Arab-Islam, dan memeluk prinsip-prinsip dan tradisi Arab Muslim. Ini diakui oleh sejarawan Korsika Pierre Antoni dalam bukunya History of Corsica. Dia berkata:

إن دماء المسلمين اختلطت بدماء الكورسيكيين، حتى إن جموعًا غفيرة منهم اعتنقت الدين الإسلامي، بسبب مزاياه التى لا تُعد ولا تُحصى, خاصة إعفاء معتنقيه من دفع الجزية؛ بحسب ذلك المؤرخ الكورسيكي.

Darah umat Islam bercampur dengan darah orang-orang Korsika, dan bahkan sejumlah besar dari mereka masuk Islam karena kelebihannya yang tak terhitung, , Menurut sejarawan Korsika.

Peninggalan umat Islam

Dr. Alexander berkata: Orang-orang Muslim telah meninggalkan pengaruh besar pada bahasa Korsika. Masih ada kata-kata yang digunakan oleh orang. Sebagaimana banyak daerah dan tempat di Korsika yang masih membawa nama-nama yang berasal dari kata-kata Arab. Bangsa Mor meninggalkan tanda mereka (sidik jari mereka) di pulau ini.

Nama “Mor” atau “Morin” pada awalnya disebut oleh orang Yunani. Orang Yunani menyebut orang-orang Maroko sekarang “Moritania” (tanah Moor) nisbat kepada suku-suku Moor. Arti kata “mor” dalam bahasa Yunani (memiliki warna gandum) dan orang Spanyol memanggil orang Maroko dengan nama sampai hari ini dengan istilah (Moro), dan dari situ diperoleh nama Maurice, yang diluncurkan oleh orang Spanyol terhadap orang Islam Andalusia. Nama ini dan turunannya masih banyak di Pulau Corsica.

Orang-orang Barat menunggu waktu yang tepat yaitu adanya perbedaan diantara antara umat Islam sendiri. Realitanya, upaya-upaya negara Fatimiyah (Syiah) untuk mengambil alih kerajaan Islam telah melemahkan negara Islam dan stabilitas para penakluk hingga negara Fatimiyah menjadi penyebab langsung dalam mengusir kekuatan umat Islam atas pulau-pulau Mediterania. Perebutan kekuasaan membuat mereka menjadi sasaran empuk bagi mereka di waktu yang tepat, dan mereka bias merebut kembali apa yang sudah dikuasai oleh umat Islam.

Dalam perang dunia kedua,Pulau ini berhutang banyak pada pejuang Maroko (Goumier, Tirailleurs, Divisi Gunung Maroko ke-4). Ini adalah departemen Perancis pertama yang dibebaskan dari Nazi yang fasis pada 4 Oktober 1943.

http://www.desdomesetdesminarets.fr/wp-content/uploads/2014/12/St%C3%A8le_GoumiersMarocains.jpg

Sangat disayangkan kemudian pihak-pihak tertentu menyerukan anti Arab dan merusak masjid di pulau Korsika. Pada malam hari Minggu 8 hingga Senin 9 April 2012, komunitas Muslim di Ajaccio di Corsica dikejutkan oleh penemuan api yang menghancurkan masjid Ajaccio. Label rasis juga ditemukan di bagian depan masjid. “Rally of Muslims of France”.

Masjid Île-Rousse (Haute-Corse) menjadi sasaran acara rasis, dan dinodai untuk pertama kalinya pada November 2013 dengan kepala babi hutan.

Kemudian berlanjut ada lagi yang menulis tulisan berwarna hitam “IAF” (“I Arabi Fora”, “The Arabs Outside”) di dinding luar gedung yang berfungsi sebagai masjid. Ada juga yang demo anti arab, da nada juga yang merusak masjid.

Mereka yang anti Arab, tampaknya mereka tidak tahu atau melupakan jasa-jasa orang Arab muslim di pulau korsika. Semoga Umat islam hidup damai disana dan islam bias menyinari Eropa lewat Korsika.

https://www.maspero.eg/wps/portal/home/radio-and-tv-magazine/culture/details/f8b0a58e-d00c-4cd6-be92-17db35b0dd86

http://www.pageshalal.fr/actualites/des_tags_racistes_sur_une_mosquee_corse_des_domes_des_minarets-fr-10787.html

:http://www.corsicainfurmazione.org/17423/corse-le-rmf-condamne-lincendie-de-la-mosquee-dajaccio/2012/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *