Akidah Adalah Pondasi

Akidah adalah pondasi bagi bangunan agama, amal, ibadah, akhlak, dan budaya. Sejarah telah membuktikan bahwa keshalehan umat dibangun di atas keshahihah akidah pemimpin dan anggotanya. Jika akidah mereka benar maka prilaku mereka juga akan benar, dan jika akidah mereka menyimpang maka prilaku mereka juga menyimpang. Akidah yang benar melindungi darah, harta, dan kehormatan, sedangkan akidah yang rusak menjadikan darah, harta, dan kehormatan serta seluruh amal kehilangan nilainya.[1] Oleh karena kita wajib menjadikan ini sebagai arah bagi kurikulum pendidikan agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan kita dan di seluruh Indonesia.

Makna Khulafa` Rasyidun

Di antara akidah yang benar yang perlu mendapatkan perhatian dan pengawalan adalah akidah tentang Khulafa` Rasyidun. Khulafa` adalah bentuk jamak dari Khalifah yang artinya orang yang mengganti pendahulunya. Disebut Khalifah karena sebagian mereka menggantikan posisi sebagian yang lain. Disebut Khulafa` Rasyidun sebab mereka menggantikan posisi dan tugas Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- sepeninggal beliau-Shalallahu alaihi wa salam- dalam memimpin umat Islam. Oleh karena itu Sayyidina Abu Bakar -Radiallahuanhu- bergelar Khalifatu Rasulillah -Shalallahu alaihi wa salam-.Continue reading

Siapa yang tidak kenal ayat kursi di dalam al-Qur`an? Siapa yang tidak hafal? Dan siapa yang tidak percaya tentang keagungannya? Hampir tidak ada. Namun adakah orang yang mengaitkan ayat yang agung ini dengan pendidikan? Sepertinya masih sedikit orang yang melakukan itu, padahal al-Qur`an adalah sumber segala ilmu termasuk ilmu pendidikan, khususnya di zaman sekarang, zaman orang menelaah, meneliti, membuat konsep dan teori tentang pendidikan.

Kita perlu melakukan dan mengembangkan renungan pendidikan dalam al-Qur`an, sebab al-Qur`an adalah sumber hidayah, jalan keselamatan di dunia dan di akhirat bagi orang yang mengimaninya dan merenungkannya. Allah sudah memberikan jaminan dalam surat al-Isra` ayat 9 bahwa umat al-Qur`an tidak akan salah jalan atau tersesat jalan, sebab al-Qur`an datang dengan uslub yang mapan dalam memberikan petunjuk, tidak ada penghalang antara al-Qur`an dan penelaahnya, tidak ada cara menuju akhlak dan adab ataupun karakter melainkan ia sudah menitinya, apakah memotivasi ataukah memperingatkan, sehingga orang yang merenungkan makna-maknanya pasti memetik buah manfaat ilmu-ilmunya.

Allah berfirman:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَ‍ُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa´at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Baqarah: 255)

Keutamaan Ayat Kursi

Ayat ini memiliki banyak pelajaran sampai-sampai Syaikh Muhammad ibn Sholih al-Utsaimin merincinya ke dalam 40 poin,[1] dan Syaikh Prof Abdurrozzaq al-Badr merincinya lebih dari 140 poin.[2]

Adapun di antara keutamaannya maka bisa kami sampaikan sebagai berikut:

A. Ayat tauhid; ayat yang mengesakan Allah dalam ketiga dimensinya:

  • Tauhid rububiyyah: disebutkan dalam ayat ini bahwa Allah adalah pemilik langit dan bumi beserta isinya, pengatur dan penegak langit dan bumi, pemilik keagungan, kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi, Dia pemilik syafaat, dan pemilik kehendak yang mutlak.
  • Tauhid asma’ dan sifat: tentang nama Asmaul Husna di dalam ayat ini disebutkan 5: Allah, al-Hayyu, al-Qayyum, al-‘Aliy , al-‘Azhim.

Tentang Sifat Allah disebutkan bahwa Allah tidak tidur dan tidak mengantuk karena kesempurnaan-Nya, dan Allah mengetahui segala sesuatu.Continue reading

  1. Ahmad bin Hanbal -Rahimahullah-

Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Ayah saya itu, apabila datang kepada beliau seorang yang zuhud atau hidup tirakat beliau menyuruh saya untuk melihat dan memperhatikannya, karena beliau ingin agar aku menjadi seperti orang itu!!” (Al-Siyar, 12/530)

Inilah salah satu pendidikan yang sukses, orang tua selalu mengenalkan dan mengikat anak dengan figur yang shalih yang menjadi contoh bagi gantungan cita-cita anak. Tidak seperti zaman sekarang, anak-anak mencari sendiri figur yang diidolakan melalui televisi dan dunia hiburan. Sungguh jauh antara hasil akhir dari dua model “pendidikan” tersebut!

2. Muslim Abu Abdillah al-Hanafi -Rahimahullah-

Muslim al-Hanafi berkata:

«بِرَّ وَلَدَكَ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ يَبَرَّكَ, وَإِنَّهُ مَنْ شَاءَ عَقَّ وَلَدَهُ»

“Berbuat baiklah kepada anakmu karena hal itu lebih layak agar dia berbakti kepadamu. Sesungguhnya siapa yang mau, bisa saja ia durhaka kepada anaknya.” (Ibnu Abiddunya, al-Nafaqah ‘ala al-Iyal, 1/305, no. 149)

Ungkapan Muslim al-Hanafi ini mengingatkan kita semua agar menanam apa yang ingin kita petik buahnya, jika kita menanam kebaikan maka kita akan memetik buah kebaikan, namun jika menanam pohon keburukan maka jangan salahkan dan jangan menyesal jika yang keluar adalah buah kedurhakaan. Artinya perilaku anak adalah hasil pendidikan yang dia dapatkan dan perilaku orang tua yang dia saksikan.

Pepatah mengatakan:

كَمَا زَرَعْتَ تَحْصُدُ وَمَا زَرَعْتَهُ تَحْصُدُهُ

“Sebagaimana engkau menanam engkau akan mengetam, dan apa yang engkau tanam itulah yang akan engkau ketam.Continue reading

Telah kamisebutkan bahwa untuk menghasilkan anak didik muslim yang baik,beriman, bertakwa dan berakhlak mulia sebagaimana cita-citaPendidikan Nasional, maka kita harus menguatkan kurikulum PAI kitadengan muatan pokok-pokok ajaran Islam tentang Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- ,Ahlulbait dan sahabat, sesuai dengan Sunnah Nabi – Shalallahu alaihi wa salam-,sehingga penyimpangan syiah tidak mendapatkan tempat di hati para murid atau siswa.

Diantaramateri yang wajib diajarkan dengan jelas dan tegas adalah masalah khatman-nubuwwah(penutupan kenabian) dengan Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-.Materi ini dapat menguatkan iman dan membatalkan konsep imamah Syiahyang menyimpang.

Kita wajib menanamkan kepada anak didik kita bahwa Nabi Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Allah -Subhanahu wa ta’ala- menegaskan di dalam al-Qur`an:

مَاكانَ مُحَمَّدٌ أَبا أَحَدٍ مِنْ رِجالِكُمْوَلكِنْرَسُولَ اللَّهِوَخاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكانَ اللَّهُبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً (40

“Muhammaditu bukanlah bapak dari seseorang diantara kamu, tetapi dia adalahutusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah maha mengetahui segalasesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40).Continue reading

 

My experience in investing in religious lessons to improve students’ linguistic levels

الدكتور أغوس حسن بصري

الدكتور أغوس حسن بصري

مدير مؤسسة بناء المجتمع، ومدير معهد الأئمة العالي لإعداد الدعاة والحفاظ ومدير معهد الأم الإسلامي مدينة مالانج جاوى الشرقية – إندونيسيا

مؤتمر ومعرض تعليم اللغة العربية للناطقين بغيرها

الاستراجيات والمنتجات

في رحاب جامعة جاكرتا الحكومية – جاكرتا إندونيسيا

10-12 يناير 2019

 

التعريف بالمعهد والتدريس فيه

أنا مدير مؤسسة بناء المجتمع، فيها وحدات تعليمية متكاملة من روضة أم عرب القرآن للأطفال، ومدرسة الأم المتوسطة، ومدرسة الأم الثانوية، ومعهد الأم الإسلامي إلى معهد الأئمة العالي. الطلاب جاؤو من أنحاء إندونيسيا بل من ماليزيا وتايلاند ونيو زيلندا. عددهم هذه السنة تقريبا 900 طالب وطالبة، منهم 600 ساكنون في داخل المعهد.

وعندنا مدرسان عربيان: أ. أحمد ناصر الدين الليبي و د. أحمد محمد الطوخي المصري وهو حاضر في هذا المؤتمر.

برنامج معهد الأم يستمر لمدة 6 سنوات يتكون من مرحلتي المتوسط والثانوية التابعة لوزارة التعليم ووزارة الشؤون الدينية معا. وبعد 6 سنوات في معهد الأم الطلاب سيتخرجون وهم قد حفظوا القرآن بكامله مجودا، وتكلموا بالعربية بالطلاقة.

في السنة الأولى (2018) من افتتاح المرحلة الثانوية عدد الطلاب والطالبات 64، نصفهم من معهدنا المتوسط (من الداخل) وهم قد حفظوا 6-15 جزءا من القرآن وقد حصلوا على قدر كاف من العربية. والنصف الآخر جاءوا من الخارج وهم قرؤوا القرآن بدون إتقان التجويد وبدون حصيلة من الحفظ وبدون أي معرفة باللغة العربة إلا الحروف العربية فحسب.

هذه الدفعة الأولى الذين أتوا من الخارج التحقوا مباشرة بالمرحلة الثانوية ولم يكن عندنا –حينذاكما يسمى بسنة تمهيدية ولا دورة تزويدية للغة العربية.Continue reading