Atas karunia Allah, kami diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu dari banyak ulama baik dari dalam maupun luar negeri, baik dalam dirayah maupun riwayah. Adapun guru-guru kami dalam riwayat hadits, kitab-kitab aqidah Salaf dan fikih madzhab empat terutama madzhab Imam al-Syafi’i adalah:

  1. Syaikh Dr. Yusuf al-Kattani al-Maghribi (rahimahullah)
  2. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Zainal Abidin Rustum al-Maghribi (Syafahullah)
  3. Syaikh Dr. Muhammad ibn Nashir al-Ajmi al-Kuwaiti
  4. Syaikh Dr. Nizham Ya’qubi al-Abbasi al-Bahraini
  5. Syaikh Dr. Waleed ibn Idris al-Minissi Abu Khalid al-Sulami al-Iskandari
  6. Syaikh Abdul Haq al-Haqqani al-Ruhanji al-Akyabi

Dan kini bertambah satu lagi, yaitu:

  1. Syaikh Dr. Hamid ibn Ahmad ibn Akram al-Bukhari al-Madani, Abu Abdirrahim (lahir di Madinah 1387 H), yang leluhurnya berasal dari Fergana Uzbekistan. Beliau meriwayatkan dari hampir 300 ulama al-Haramain, Syam, Yaman, Najed, Mesir, Maghrib, India, Pakistan dan lainnya.

Seperti yang sudah kami beritakan bahwa guru kami Syaikh Hamid Akram Al Bukhori hafizhahullah memberikan ijazah untuk meriwayatkan kitab-kitab kuning madzhab Syafi’i kepada kami berempat (Saya, Ustadz Kholid Syamhudi, Ustadz Abu Qotadah, dan Ustadz Abu Bakar at-Tuway) di ruang VVIP. Setelah itu beliau memberikan kepada Para peserta Muktamar ke-1 PULDAPII, para kyai pengasuh pesantren anggota PULDAPII sebanyak 103 pesantren di gedung Hall Zaitun.

Continue reading

Makna Literasi Al-Qur`an

Literasi mungkin telah menjadi istilah yang familiar bagi banyak orang. Secara umum literasi difahami sebagai melek huruf, atau kemampuan membaca dan menulis. Namun demikian, tidak banyak dari mereka yang memahami makna dan definisinya secara jelas. Oleh karena itu kami merasa perlu menerangkan terlebih dahulu maksud dari istilah ini.

Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa Inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “Kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

Sumber lain yaitu National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi secara kontekstual, yang mana definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Continue reading

Bulan Syawal 1438 H/ Juli 2017 adalah awal tahun ajaran baru, dimana para murid dan para santri baru mulai masuk jenjang pendidikan yang baru. Sementara salah satu faktor keberhasilan dalam mencari ilmu adalah berbekal akhlak yang mulia kepada semua orang yang terkait dan berada di sekitarnya. Oleh karena itu dalam kesempatan yang baik ini saya akan membantu para santri untuk mengukir kesuksesannya dengan menyuguhkan makalah tentang “menghormat guru”.

Guru adalah pelita manusia dan tiang negara. Para santri wajib mendoakan untuk mereka, memuji dan menghormati mereka karena jerih payah mereka dalam mendidik para santri dan murid. Tugas guru adalah agung, karena agungnya risalah yang mereka bawa, yaitu menyampaikan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya -Shalallahu alaihi wa salam-.

Guru adalah orang-orang yang mengentaskan manusia dari kebodohan menuju ilmu. Khalifah Umar -Radiallahuanhu- berkata:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، وَتَعَلَّمُوا لِلْعِلْمِ السَّكِينَةَ وَالْحُلْمَ، وَتَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ وَلِيَتَوَاضَعَ لَكُمْ مَنْ تُعَلِّمُونَهُ وَلَا تَكُونُوا جَبَابِرَةَ الْعُلَمَاءِ، فَلَا يَقُومُ عِلْمُكُمْ بِجَهْلِكُمْ

“Belajarlah ilmu, dan belajarlah untuk ilmu itu sikap ketenangan dan kewibawaan, dan berendah hatilah kepada orang yang kamu belajar kepadanya dan kepada orang yang engkau mengajarinya, dan janganlah menjadi ulama yang sombong (angkuh).” (dengan sanad hasan, HR. Al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, 1/478; al-Amali al-Jurjani dalam Tartib al-Aamali al-Khamsiyyah, 1/61, no. 214; Ibn Abdil Barr dalam Jami’ al-Ilm wa Fadhlih. Abul Asybal al-Zuhari: “Shahih secara mauquf dari Umar, Tahqiq Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlihi, no. 893, dan diriwayatkan secara marfu’, 2/501, no. 803, dhaif jiddan[1]).Continue reading

Kita telah membahas pentingnya akidah Ahlussunnah tentang Khulafa` Rasyidin, tentang makna Khulafa Rasyidin dan dasar hukumnya. Selanjutnya kita perlu menanamkan keutamaan Khulafa` Rasyidin kepada para siswa agar keimanan mereka semakin mantap tidak tergoyahkan. Keutamaan dan kemuliaan dalam bahasa Arabnya adalah manqabah, bentuk jamaknya manaqib.

Manaqib Khulafa Rasyidin sangatlah banyak. Semua penting untuk diketahui, namun jika tidak memungkinkan maka minimal kita terangkan manaqib secara ringkas yang langsung berdasarkan dalil-dalil al-Qur`an dan sunnah sebagai berikut.

Pertama: Manaqib Sayyidina Abu Bakar -Radiallahuanhu-, antara lain:

  1. Allah -Shalallahu alaihi wa salam- berfirman:

وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah…” (QS. An-Nur: 22)

Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa ayat ini adalah tentang Abu Bakar -Radiallahuanhu- Ini adalah yang ada dalam kitab-kitab tafsir seperti al-Thabari, al-Baghawi, Ibn Katsir dan Ibn Sa’di. Maka Allah -Subhanahu wa ta’ala- menyebut Abu Bakar dengan sifat al-Fadhl (keutamaan).

  1. Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:

ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ

“… sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, …” (QS. At-Taubah: 40)

Continue reading

Pada edisi yang lalu telah kami sajikan bagian pertama dari terjemahan makalah Dr. Usman Qadri Makanisi yang dipublikasikan di website saaid.net.[1] tentang “Renungan Pendidikan Dalam Surat Maryam” yang berisi 12 poin penting terkait pendidikan Islam. Kini kita lanjutkan dengan “Renungan Pendidikan Dalam Surat Maryam” bagian kedua. Berikut ini adalah terjemahan saya terhadap lanjutan tulisan Dr. Usman Qadri yang saya beri catatan kaki, nama surat dan nomor ayat serta kesimpulan akhir:

Orang yang melihat Surat Maryam dengan seksama, dia akan mendapatkan bahwa surat ini berbicara tentang pendidikan keluarga, dan hubungan antara sesama anggota keluarga.

Bagian pertama berbicara tentang Sayyidina Zakariya dan putranya Yahya alaihimassalam, beban dakwah, memikul amanah, dan birrul walidain.

Bagian kedua berbicara tentang hubungan erat antara ibu dan anaknya, ibu yang perawan dan suci, Maryam, yang telah menghibahkan dirinya untuk agama Allah dan dakwah-Nya, anak shalih Isa u yang membela kesucian dan kemuliaan ibunya, memikul beban dakwah kepada Allah.

Bagian ketiga berbicara tentang Nabi Ibrahim u yang mendapat hidayah Ilahi, hubungannya dengan ayahnya ketika sang anak mengajak sang ayah dengan penuh sopan santun untuk menyembah Allah yang Maha esa, kemudian dia menyendiri menjauhi kaumnya ketika mereka bersikukuh membela kekufuran, maka Allah memuliakannya dengan keturunan yang shalih, hingga menjadi panutan bagi alam semesta.

Continue reading