F:\cina\GN38463-Artboard_1.png

20 Desember 2018

F:\cina\asia-physical-map-isolated-white-vector-illustration-88078107.jpg

Sekarang umat Islam di seluruh dunia termasuk di Indonesia banyak membicarakan muslim Uighur, dan penderitaan yang mereka alami. Jumlah muslim Uighur antara 12-15 juta. Di di kamp antara 1-3 juta. Wallahu a’lam. Akan kita detilkan lagi nanti.

Begitu hebatnya penindasan pemerintah Turkistan China terhadap etnis muslim Uighur hingga pernyataan protes dan kutukan atas kekejaman pemerintah dilayangkan oleh banyak pihak.Continue reading

Laporan 9 MISI KEMANUSIAAN KE ARAKAN (Rakhine State) BURMA

Bagaimanakah Kondisi Paungdok?

Jumat, 4 Jumada Tsaniyah 1438 H/ 3 Maret 2017. Begitu tiba, kami sangat penasaran, sebab desa ini sangat jauh dari Sittwe. Kami berusaha untuk masuk desa dengan mobil, namun karena buruknya kondisi jalan dan miskinnya desa itu hingga mobil pun tidak bisa masuk. Perasaan kami sudah tidak karuan. Perasaan iba, kasihan, prihatin campur aduk jadi satu. Di situ tidak ada yang bisa bahasa Arab. Ada yang bisa bahasa Inggris karena dia guru bahasa Inggris di sekolah maka melalui dia kita bisa menggali informasi tentang desa Paungdok.

Foto anak Rohingya di Paungdok Agustus 2012.1

Sementara di bawah ini adalah satu “Flash Pesan anti Rohingya” menjelang pemutaran film di Mrauk-U Agus 2012.

Sebagai peneliti, saya sangat penasaran, dan ingin tahu masjid yang ada di dalamnya. Desa Paungdouk dihuni oleh 5 ribu penduduk muslim Rohingya, dengang 5 masjid.

Menurut satu sumber berita disebutkan bahwa ada satu masjid yang berumur 500 sampai 800 tahun: “The mosque of Paungdok, a Rohingya village with about 500 houses and 5,000 people. This mosque is said to be from 500 to 800 years old.” (Masjid Paungdok, sebuah desa Rohingya dengan sekitar 500 rumah dan 5.000 orang. Masjid ini dikatakan berusia 500 sampai 800 tahun.”2 Kami belum tahu masjid mana yang dimaksud sebab yang berhasil kami kunjungi baru 2 masjid, namun kata penduduk itulah masjid yang paling tua yang. Seingat saya -sekarang (26/12/2017)- tertulis di sana tahun 1200-an Hijriyah yang berarti baru berumur 200-an tahun. Wallahu a’lam.Continue reading

 

Bagian 8

Ke MRauk-U

Jumat 4 Jumada Tsaniyah 1438 H/ 3 Maret 2017.

Setelah merasa misi kemanusiaan di kota Sittwe tuntas dilaksanakan, maka kami bermaksud menyempurnakan petualangan ke ibu kota kerajaan Arakan yaitu Mrauk-U. Setelah berdiskusi dengan Bapak Hasyim selaku tokoh di Sittwe yang mengetahui situasi tentang kemungkinan kita mengunjungi kota Mrauk-U atau tidak, maka kita putuskan bahwa kita akan berangkat di pagi hari dan pulang di sore hari. Pak Hasyim mengingatkan bahwa pada dasarnya kita tidak boleh ke sana, soalnya di sana bukan tempat turis seperti kita, itu kota suci umat Budha, kita sangat asing di sana dan berbahaya. Akhirnya dia rela melepaskan kita dengan syarat agar kita tetap dalam mobil saja. Keliling kota dalam mobil.

Pagi hari kami berlima: saya sendiri (Agus Hasan Bashori) selaku pembina PULDAPII, Ketua YBM (Yayasan Bina Masyarakat) Malang, Triono Abu Syifak wakil kantor pusat PULDAPII (ketua KS: konsorsium Sunnah untuk umrah dan haji), Nur Rasyid Abu Rasyidah BIAS-CS (Cinta Sedekah), dan Gunawan pendamping dari Jawa Barat, ditambah Akhi Agung dari SMS Jawa Tengah, ditambah pemandu lokal dari komunitas Budha yang kita panggil Mester Abu dan seorang sopir juga dari Budha, berangkat menuju kota Mrauk-U yang akan di tempuh selama 3 jam. Perjalanan dimulai dari Sittwe, kemudian Ponnagyun, Kyauktaw, Tein Nyo, Mrauk-U dan Paungdok.Continue reading

Melihat Kampung Aung Mingalar

Masih di hari Kamis, 3 Jumada Tsaniyah 1438 H/ 2 Maret 2017. Sore itu kami keliling kota Sittwe untuk melihat perkampungan muslim etnis Aung Mingalar yang katanya jauh lebih mengenaskan karena mereka terkurung di rumah dan kampung mereka. Mereka tidak bisa kemana-mana dan tidak berhak mendapatkan bantuan apapun, dan tidak bisa berhubungan dengan dunia luar. Rumah dan kampung mereka bagaikan penjara, lebih sempit dan tertutup dibanding dengan penjara kampung/IDP Rohingya.
Jumlah muslim Aung Mingalar menurut penuturan Bapak Hasyim dari Sittwe adalah sekitar 6000 jiwa, berada dalam 960 KK.
Kuartal (Quarter) Aung Mingalar hanyalah sebuah kuartal Rohingya di kota Sittwe. Pada bulan Juni 2012 sekitar 10.000 orang tinggal di sana namun kemudian orang-orang Rohingya melarikan diri ke kamp-kamp pengungsian dan beberapa melarikan diri ke Malaysia dan Thailand. Sampai sekarang sekitar 4.000 orang tetap tinggal. Sementara muslim Aung Mingalar tidak mau dipindah ke kamp-kamp Rohingya. Akibatnya mereka terkurung di dalam dan tidak mendapat bantuan, sebab bukan pengungsi.


Foto dari Hotel Kiss ke arah selatan. Ini jalan utama dari Bandara, menuju ke kampung Aung Mingalar.Continue reading

Din menyampaikan perkembangan di Myanmar, terutama di Provinsi Rakhine, menimbulkan keprihatinan kawasan Asia Tenggara dan bahkan dunia.

Din Temui Aung San Suu Kyi, Minta Pengakuan Kewarganegaraan Rohingya

Bersama sejumlah tokoh agama dunia, Prof Din Syamsuddin diterima Aung San Suu Kyi di kantornya, Ibu Kota Myanmar, Naypyidaw, 25 Mei 2018.

Hidayatullah.com– Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015, Prof Din Syamsuddin, bertemu penasehat negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, di Ibu Kota Myanmar, Naypyidaw, 25 Mei 2018 lalu.

Bersama sejumlah tokoh agama dunia, Din Syamsuddin diterima Aung San Suu Kyi di kantornya, dan mereka terlibat dialog terbuka dan akrab.

Pada kesempatan itu, Din yang adalah Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) menyampaikan perkembangan di Myanmar, terutama di Provinsi Rakhine (Arakan), menimbulkan keprihatinan kawasan Asia Tenggara dan bahkan dunia. “Maka perlu diatasi secara tepat,” ujar Din dalam siaran persnya kepada hidayatullah.com, Senin (28/05/2018).

Din mengatakan, tiada lain jalan lain untuk itu kecuali mengembangkan koeksistensi damai dan pengakuan kewarganegaraan bersama bagi seluruh rakyat.

Untuk itu Din yang juga Ketua Dewan Pertimbangan MUI meminta untuk ada pengakuan dan pemberian hak kewarganegaraan bagi etnik Rohingya.

Aung San Suu Kyi, yang menjabat sebagai State Councillor atau setingkat Perdana Menteri, memberi tanggapan dengan menyatakan bahwa Myanmar mengamalkan demokrasi dan oleh karena itu katanya sangat menghargai hak-hak asasi manusia dan nilai-nilai2 demokrasi. Masalah di Provinsi Rakhine dan wilayah-wilayah lain di Myanmar akan dapat diselesaikan dengan semangat perdamaian dan rekonsiliasi.

Sejumlah tokoh agama dunia, antara lain Supreme Patriarch Sri Langka, Supreme Patriarch Kamboja, President of Risho Kosakai dari Jepang Rev Niwano (ketiganya adalah tokoh umat Buddha dunia), Bishop Gunnar Stalsett tokoh Kristiani Eropa, Madame Vinu Aram tokoh umat Hindu dari India, dan Rev Koichi Sugino Wakil Sekjen Religions for Peace Internasional dari New York, serta Din Syamsuddin, President of Asian Conference on Religions for Peace (ACRP), bersama para tokoh lintas agama Myanmar menemui Aung San Suu Ki untuk menyampaikan Surat Para tokoh Agama Dunia untuk Bangsa Myanmar.

Surat yang dihasilkan dari Konsultasi Tingkat Tinggi selama dua hari sebelumnya di Yangon mengandung pesan dan ajakan kepada pemerintah dan Rakyat Myanmar untuk menyelesaikan krisis bernuansa agama dan etnis di Myanmar dengan semangat kemanusiaan, perdamaian, dan rekonsiliasi.

Katanya, Aung San Suu Kyi menerima dengan senang hati surat tersebut, termasuk usulan delegasi untuk adanya Konferensi Internasional tentang Myanmar pada Oktober 2018 yang akan datang. Konferensi tersebut diharapkan menjadi tonggak penyelesaian masalah Myanmar secara berkeadilan.*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Sumber : https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2018/05/28/143202/din-temui-aung-san-su-kyi-minta-pengakuan-kewarganegaraan-rohingya.html