Istilah radikalisme dan terorisme yang dimunculkan di media dipahami oleh publik sebagai suatu aliran atau kelompok yang ajarannya sesat dan orangnya jahat; keras, intoleran, ekstrim, dan ujungnya adalah aksi bom bunuh diri.

Lalu muncul sebagian pihak mengaitkan jenggot, cadar, dan celana cingkrang dengan radikalisme dan terorisme. Sementara di dalam agama Islam dikenal hal tersebut sejak masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka apakah sebenarnya ketiga hal tersebut termasuk identitas Agama Islam ataukah ciri radikalisme dan terorisme?

Buku ini memberikan jawaban kepada Anda secara detil, khususnya yang berkaitan dengan referensi Islam khususnya lagi dari kalangan ulama Syafi’iyyah.

Di buku ini dibahas tuntas ketiga hal tersebut secara memadai dan ilmiah.

D:\AIMMAH\IJAZAH SANAD\abu syamah\Screenshot_2019-08-20-18-08-09-592_com.whatsapp.png

D:\AIMMAH\IJAZAH SANAD\abu syamah\IMG-20190820-WA0062.jpg

Dr. KH. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag berkata:

“Buku ini secara khusus akan meneguhkan keberadaan Anda dalam barisan Ahlussunnah, dan menuntun Anda ke jalan yang benar, yaitu Islam di periode pertama, sebelum munculnya berbagai macam penyimpangan, perpecahan, sekte, fanatisme, kejumudan dan liberalisme. Selain itu buku ini dilengkapi dengan ijazah sanad kepada Imam Abu Syamah rahimahullah.”

Al-Imam Abu Syamah AL-Syafi’I (665 H) berkata:

“Sesungguhnya pada zaman akhir-akhir ini penduduk dunia telah dikuasai oleh kemalasan, kebosanan, dan cinta dunia. Orang yang paling berminat dari mereka terhadap ilmu-ilmu al-Qur`an merasa puas dengan menghafal surat-suratnya dan menuqil sebagian qiraat-qiraatnya … Dalam ilmu hadits merasa cukup dengan mendengarkan sebagian kitab dari para masyayikh yang kebanyakan mereka lebih bodoh dari dirinya dalam ilmu riwayat apalagi ilmu dirayat. Di antara mereka ada orang yang puas hanya dengan sampah-sampah pemikiran dan dengan mengutip pendapat orang-orang yang semadzhab dengannya.”Continue reading

Ilmu sangat menentukan arah dan tingkat keagamaan individu dan umat. Ilmu dan agama adalah unsur terpenting dari suatu tsaqafah (kebudayaan) dan hadharah (peradaban). Ilmu melandasi kebudayaan, mengarahkan dan mengendalikannya1. Oleh karena itu konsep tentang ilmu adalah penting, dan lebih penting lagi adalah meluruskan kerancuan dalam konsep ilmu.

Sebagaimana kita ketahui sekarang ini di lembaga-lembaga pendidikan di luar Islam banyak yang tidak mengetahui atau bahkan tidak mau mengakui konsep ilmu dalam Islam, sementara di lembaga-lembaga Islam telah mengalami kerancuan dalam memahami ilmu menurut Islam.

Diantara unsur-unsur penting dalam konsep ilmu adalah pengertian ilmu, hakekat ilmu, macam-macam ilmu, hirarki ilmu buah ilmu dan penyakit ilmu. Contoh kerancuan yang sangat mendasar adalah pengertian dan penggunaan kata ilmu. Banyak orang menggunakan istilah ilmu untuk sains saja, dengan demikian agama termasuk Al-Qur’an dan Sunnah bukan termasuk ilmu, maka menurut mereka makalah yang ilmiah adalah makalah yang tidak memuat ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi S.A.W. Sebagian dosen melarang mengutip ayat dan hadits, ada yang membolehkannya namun dalam foot note saja2. Begitu juga ada orang yang mempertanyakan: Apakah Al-Qur`an kitab ilmu?3 Sungguh ini aneh sekali, sebab yang dia inginkan adalah apakah Al-Qur`an itu kitab sains? Maka ini menunjukkan kerancuan yang serius tentang istilah ilmu ini.

1 Baca Khalid Ibn Abdillah Al Qasim, et al., Al Madkhal Ila Al Tsaqafah Al Islamiyyah, Riyadh: Madar Al Wathan Li Al nasyr, 2009 hlm. 10. Juga Malki Ahmad Nasir, 2012, Konsep Ilmu dan Aplikasinya dalam Pembangunan. [Online], http://insistnet.com/konsep-ilmu-dan-aplikasinya-dalam-pembangunan-1/, Rabu 26 Nopember 2014.

2 Seperti yang pemakalah alami saat kuliah di Pascasarjana UMM tahun 2001 M.

3Silkan baca Dr Imarah Saad Syandul, Hal Al Qur`an Kitab Ilm? {Online}, http://e3jaz.way2allah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=144

ABU HAMZAH IBN QOMARI

Prinsip kedua yang dijadikan dasar oleh ahli hadits dalam membangun manhaj dakwah mereka adalah mencari ilmu yang bermanfaat.

Ilmu yang dimaksud oleh ahli hadits1

Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syar’i, terutama ilmu al-Kitab dan as-Sunnah dengan ujung tombaknya ilmu hadits nabawi yang mulia . Yang demikian itu karena ilmu hadits di samping ilmu-ilmu syar’i adalah bagaikan kepala jika dibanding dengan jasad. Ia diperlukan oleh mufassir, faqih, sejarawan, ahli bahasa dan ahli-ahli yang lain, sebab semua dasar-dasar mereka dalam istimbath ( mengambil kesimpulan hukum) dan tarjih ( memilih pendapat yang unggul) berputar pada studi sanad dan pengetahuan tentang shahih dan dhaifnya berita.

Ahli hadits telah menghabiskan usia mereka dalam mencari sunnah-sunnah nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Mereka mengumpulkan hadits Nabi, sunnah para sahabatnya, menelusuri kabar berita mereka, kabar berita para tabi’in dan tabi’it tabi’in. Kemudian mereka mempelajari sanad-sanadnya ( mata rantai para perawinya) meneliti shahih tidaknya. Karena dalam hadits dan Atsar yang sahih telah ada kecukupan, tidak perlu lagi kepada yang dhaif. Sebagaimana yang dikataklan oleh Ibnul Mubarak bahwa dalam hadits shahih itu sudah cukup menyibukkan, tidak perlu yang dhaif2. Dengan demikian ahli hadits memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ahli ilmu-ilmu yang lain.

Ahli hadits juga mencurahkan perhatian untuk mengetahui Nasikh mansukh ( hukum yang menghapus dan yang dihapus), hadits dan atsar yang menafsirkan surat dan ayat al-Qur’an, apa yang diriwayatkan tentang bab-bab fiqih, hukum dan sunan, bahasa dan aqidah. Mereka mencari yang shahih, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Mereka membuang yang dhaif, munkar, saqith, mathruh dan maudhu’ (palsu).Continue reading