Atas karunia Allah, kami diberi kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu dari banyak ulama baik dari dalam maupun luar negeri, baik dalam dirayah maupun riwayah. Adapun guru-guru kami dalam riwayat hadits, kitab-kitab aqidah Salaf dan fikih madzhab empat terutama madzhab Imam al-Syafi’i adalah:

  1. Syaikh Dr. Yusuf al-Kattani al-Maghribi (rahimahullah)
  2. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Zainal Abidin Rustum al-Maghribi (Syafahullah)
  3. Syaikh Dr. Muhammad ibn Nashir al-Ajmi al-Kuwaiti
  4. Syaikh Dr. Nizham Ya’qubi al-Abbasi al-Bahraini
  5. Syaikh Dr. Waleed ibn Idris al-Minissi Abu Khalid al-Sulami al-Iskandari
  6. Syaikh Abdul Haq al-Haqqani al-Ruhanji al-Akyabi

Dan kini bertambah satu lagi, yaitu:

  1. Syaikh Dr. Hamid ibn Ahmad ibn Akram al-Bukhari al-Madani, Abu Abdirrahim (lahir di Madinah 1387 H), yang leluhurnya berasal dari Fergana Uzbekistan. Beliau meriwayatkan dari hampir 300 ulama al-Haramain, Syam, Yaman, Najed, Mesir, Maghrib, India, Pakistan dan lainnya.

Seperti yang sudah kami beritakan bahwa guru kami Syaikh Hamid Akram Al Bukhori hafizhahullah memberikan ijazah untuk meriwayatkan kitab-kitab kuning madzhab Syafi’i kepada kami berempat (Saya, Ustadz Kholid Syamhudi, Ustadz Abu Qotadah, dan Ustadz Abu Bakar at-Tuway) di ruang VVIP. Setelah itu beliau memberikan kepada Para peserta Muktamar ke-1 PULDAPII, para kyai pengasuh pesantren anggota PULDAPII sebanyak 103 pesantren di gedung Hall Zaitun.

Continue reading

Mendidik anak dimulai melahirkan menyusui bahkan masa sebelumnya, bahkan semakin komplek setelah itu, semua orang ingin anaknya menjadi anak yang sholeh/sholihah, anak sholeh anak sholihah adalah impian dari orang tua, ukuran sholeh dan keberhasilan mendidik anak selalu mengacu kepada akhlak mulia, jadi akhlak adalah nomer satu dalam mendidik anak, dan yang paling lama dan berat adalah masalah akhlak ini, pemerintah tidak banyak mengeluh kepada pengetahuan anak para praktisi tidak mengeluh pada kurangnya ketrampilan anak tetapi mengeluh pada akhlak anak, akhlak adalah perkara yang rumit, untuk mencapai anak sholeh dan sholihah sunnahnya bukan melalui perintah larangan saja, dan bukan melalui peraturan-peraturan keras, akan tetapi melalui anak menyerap secara fitrah apa yang ada disekitarnya kalau yang disekitarnya ayah beserta ibu maka anak itu betul-betul foto kopi orang tua karena kedua orang tua menjadi sumbernya, setiap hari yang didengar dilihat oleh anak adalah kedua orang tuanya dirumah, baik orang tua berbuat baik berbuat buruk maka itulah yang direkam oleh anak, Orang tua mendidik anak sejak anak belum bisa bicara, jika ditambah dengan bacaan bagus, audio video yang bagus maka itulah yang direkam oleh anak, juga sebaliknya jika diberi fasilitas yang buruk maka yang buruklah yang direkam oleh anak.

Apalagi dimasa kedua orang tua yang sibuk harus bekerja dua-duanya maka anak diberi fasilitas saja seperti game agar anak tenang, tetapi mereka tidak menyadari bahwa itu adalah candu bagi anak, otaknya mati fitrahnya mati karenanya, ini merupakan kesalahan orang tua sehingga menjadikannya lebih buruk, bukan diberikan pendidikan yang baik malah diberi fasilitas yang buruk, mungkin diawal tidak terasa perubahannya tapi akan terasa saat anak menginjak dewasa baru terasa perubahan bengkoknya anak seperti apa, jika sudah pada masa itu maka ibarat pohon yang akarnya kuat keras akan tetapi pohonnya bengkok maka akan sangat sulit untuk meluruskannya.Continue reading

Makna Literasi Al-Qur`an

Literasi mungkin telah menjadi istilah yang familiar bagi banyak orang. Secara umum literasi difahami sebagai melek huruf, atau kemampuan membaca dan menulis. Namun demikian, tidak banyak dari mereka yang memahami makna dan definisinya secara jelas. Oleh karena itu kami merasa perlu menerangkan terlebih dahulu maksud dari istilah ini.

Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa Inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “Kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

Sumber lain yaitu National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi secara kontekstual, yang mana definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Continue reading

Bulan Syawal 1438 H/ Juli 2017 adalah awal tahun ajaran baru, dimana para murid dan para santri baru mulai masuk jenjang pendidikan yang baru. Sementara salah satu faktor keberhasilan dalam mencari ilmu adalah berbekal akhlak yang mulia kepada semua orang yang terkait dan berada di sekitarnya. Oleh karena itu dalam kesempatan yang baik ini saya akan membantu para santri untuk mengukir kesuksesannya dengan menyuguhkan makalah tentang “menghormat guru”.

Guru adalah pelita manusia dan tiang negara. Para santri wajib mendoakan untuk mereka, memuji dan menghormati mereka karena jerih payah mereka dalam mendidik para santri dan murid. Tugas guru adalah agung, karena agungnya risalah yang mereka bawa, yaitu menyampaikan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya -Shalallahu alaihi wa salam-.

Guru adalah orang-orang yang mengentaskan manusia dari kebodohan menuju ilmu. Khalifah Umar -Radiallahuanhu- berkata:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ، وَتَعَلَّمُوا لِلْعِلْمِ السَّكِينَةَ وَالْحُلْمَ، وَتَوَاضَعُوا لِمَنْ تَتَعَلَّمُونَ مِنْهُ وَلِيَتَوَاضَعَ لَكُمْ مَنْ تُعَلِّمُونَهُ وَلَا تَكُونُوا جَبَابِرَةَ الْعُلَمَاءِ، فَلَا يَقُومُ عِلْمُكُمْ بِجَهْلِكُمْ

“Belajarlah ilmu, dan belajarlah untuk ilmu itu sikap ketenangan dan kewibawaan, dan berendah hatilah kepada orang yang kamu belajar kepadanya dan kepada orang yang engkau mengajarinya, dan janganlah menjadi ulama yang sombong (angkuh).” (dengan sanad hasan, HR. Al-Ajjurri dalam al-Syari’ah, 1/478; al-Amali al-Jurjani dalam Tartib al-Aamali al-Khamsiyyah, 1/61, no. 214; Ibn Abdil Barr dalam Jami’ al-Ilm wa Fadhlih. Abul Asybal al-Zuhari: “Shahih secara mauquf dari Umar, Tahqiq Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlihi, no. 893, dan diriwayatkan secara marfu’, 2/501, no. 803, dhaif jiddan[1]).Continue reading