Makalah ini pernah dimuat di Majalah al Umm Edisi ke 1 Volume V “Kedudukan Puasa Syawal”:

Untuk mendapatkannya bisa menghubungi Pemasaran Majalah al Umm :

di 0812-3133-8889

Nama saya Hafeza Khatun. Saya berasal dari desa Sangena di #Rathedaung Township. Bayi yang digendongnya itu bernama Musharafa. Nama ayahnya adalah Mohamed Sohel. Ayahnya telah hilang. Aku tidak punya informasi tentang ayahnya. Ibunya ditembak mati oleh militer. Namanya Setara. Saya tidak melihat warna seragam militer yang menembaknya. Saya bukan dari desa itu. Putriku menikah dengan seorang pria di desa ChutPyin. Saya mendengar dari penduduk desa, tubuh anak perempuan saya dipotong-potong dan dibakar. Masih belum ada kabar tentang ayah si bayi.
Di desa itu, beberapa orang terbunuh, dari keluarga bayi, enam anggota terbunuh juga, kudengar. Di antara mayat, satu adalah paman bayi, kakek, bibi mendapat luka peluru yang dirawat di rumah sakit Chittagong. Saya merawat bayi ini. Dari keluarga saya, tidak ada yang diserang. Kami meninggalkan desa kami dan berlindung di desa lain. Paman cucu perempuan saya terbunuh dua bulan yang lalu. Kami tiba di sini di Bangladesh selama dua bulan. Kakek bayi dan keluarganya tiba di sini sebelum kita. Bayi itu ditemukan oleh neneknya. Ketika anak perempuan dan mertuanya dipukul dengan peluru, mereka terbaring. Ketika militer pergi dari sana menembaki di sini, bayi itu menangis di tanah dan neneknya menjemputnya. Ibu bayi itu berkata, Damma, saya mendapat peluru di tubuh saya. Mengatakan seperti itu, dia terbaring. Darah ditumpahkan secara luas. Melihat kedatangan militer, nenek bayi mendekati suaminya yang juga terbaring karena luka peluru. Ketika dia mendekati suaminya, dia berkata, jangan takut, duduklah di sini bersamaku. Nenek bayi itu setengah buta. Dari situlah, nenek bayi melihat ke arah ibu si bayi dan melihat militer menyambar hiasan emas dan sejumlah uang dari tubuhnya. Setelah itu, militer pergi dan dia melarikan diri bersama bayi ke desa tetangga. Sekarang saya merawat bayi yang mengonsumsi susu bubuk. Bayi menderita diare. Untuk itu, saya membawanya ke rumah sakit empat kali untuk perawatan. Jika ayah si bayi masih hidup, mungkin dia berada di desa Chut Pyin. Nama saya Hafeza. Nama ayahku adalah Hussain Ahamed.

Setelah anak anak Rohingya kehilangan tanah airnya, kampungnya, rumahnya, namanya, orang tuanya, setelah berhasil lari membawa agamanya. Kini di kamp pengungsian di Bangladesh anak anak yatim Rohingya itu didatangi oleh Kaum Sikh, dan Para Misionaris Kristen.
Sungguh ujian yang berat dan super berat. Akankah mereka kehilangan agamanya?
Bukankah mereka saudara seagama kita?
Dimanakah kita?
Dimana umat Islam? Apakah kita sudah berbuat sesuai dg kewajiban kita?
Tidakkah ada yang memimpin dan menyatukan usaha umat Islam untuk menolong saudaranya?!
Ya Allah tolonglah mereka, ya Allah ampuni kelemahan kami.
Silahkan ikuti penjelasan Syaikh Abdullah Umar Al Armani di video ini

salurkan bantuan Anda ke rekening Dompet Sosial YBM
___________
DONASI ROHINGYA:
– ke Rekening Dompet Sosial YBM
BSM 77 5656 7777
a.n. Dompet Sosial YBM
(Kode 451)
CP: 081 332 675 653 (Bpk. M. Ali Khudlori)

7 Nopember 2017

Campbell telah meminta agar tekanan lebih banyak ditujukan kepada Aung San Suu Kyi atas diamnya terhadap kejahatan kemanusiaan terhadap Rohingya oleh negaranya.
Campbell mengutuk Aung San Suu Kiy atas sikapnya yang membisu terhadap pembersihan etnis Rohingya di Myanmar
Campbell telah meminta agar tekanan lebih banyak ditujukan kepada Aung San Suu Kyi atas diamnya terhadap kejahatan kemanusiaan terhadap Rohingya oleh negaranya.

Gregory Campbell (lahir 15 Februari 1953) adalah seorang politisi serikat pekerja Irlandia Utara, dan Anggota Parlemen Partai Buruh Demokratik (DUP).