Ilmuwan atau Intelektual muslim sekaligus Pelancong (Traveler) dan penulis di era ini yang paling terkenal adalah Sheikh Mohammad bin Nashir Al-Abudi. Beliau banyak mengungkap negeri-negeri di dunia yang belum dikenal, khususnya negeri-negeri Islam atau tempat-tempat yang dihuni oleh komunitas muslim meskipun sedikit. Posisi beliau di Rabithah ‘Alam Islami (Liga Dunia Muslim) yang di antara tanggung jawabnya adalah melihat kondisi dunia Islam dan mengunjungi minoritas dan pusat-pusat Islam di mana saja di dunia, membuat beliau bisa memiliki kesempatan langka yang beliau manfaatkan, apalagi beliau memiliki bakat lain yaitu menulis dan sastra. Ini bukanlah kunjungan foya-foya atau jalan-jalan untuk plesiran, akan tetapi investigasi dan studi kemudian menghasilkan harta kekayaan berupa pengetahuan dan budaya dan melihat langsung keadaan dunia Islam dan negara-negara lain, yang diabadikan dengan gaya bahasa Arab yang halus, indah, dan fasih dalam berbagai buku yang kini sudah mencapai 65 kitab rihlah yang dicetak dan 82 buku yang masih naskah, ditambah dengan buku-buku lain selain rihlah yang mencapai 11 buku.

Kekayaan ilmiah ini dihasilkan dari usaha dan penelitian serta survei kemudian menulisnya dalam buku-buku yang menarik judul dan isinya sehingga pembaca akan menemukan semua kesenangan dalam membaca dan menelaah semua informasinya baik tentang alamnya maupun sejarahnya. Beliau tidak hanya bergantung pada perjalanan resmi, akan tetapi memanfaatkan waktu-waktu liburan untuk perjalanan baru ke negara yang tidak pernah dikunjungi sebelumnya. Setiap perjalanan dan wisata itu beliau menulis buku harian yang mencatat semua apa yang dia lihat atau diamati sejak ia meninggalkan rumah hingga kepulangannya.

Beliau mulai dengan menyebut sebab perjalanan, kemudian tanggal, jadwal keberangkatan, rute perjalanan, dan merekam setiap apa yang ia lihat atau amati. Peradaban Arab dan Islam yang dikuasainya sangat menolongnya untuk menulis perjalanan ini. Pengetahuannya yang luas soal traveling masa lalu mampu menghubungkannya dengan masa kini dalam setiap catatan pada negara yang memiliki sejarah. Selain itu, kemampuan bahasa Inggris dalam tulisan dan komunikasi ditambah lagi dengan kecerdasan yang diberikan oleh Allah, Tuhan kecerdasan dan ketelitian. Pertama yang ia catat dalam bukunya pada setiap perjalanan adalah tempat yang akan dikunjunginya dan lokasinya di dalam peta dunia, kemudian informasi tentang penduduk, bahasa, dan adat istiadat mereka. Lihat misalnya dalam bukunya yang menarik berjudul “Hilang di Tahiti” dia berkata: “…asal penamaan Tahiti untuk pulau besar ini yang ibukotanya adalah Papeete, dengan luas 1.041 kilometer persegi, kemudian menjadi nama yang mencakup -dari sisi administrasi– kumpulan pulau-pulau terdekat, meskipun masing-masing pulau memiliki namanya sendiri-sendiri, akan tetapi Tahiti adalah pulau yang terbesar wilayahnya. Sebelumnya disebut Polinesia Prancis karena ia merupakan daerah jajahan Perancis, dan arti dari nama “Tahiti” adalah “tinggal di samping”.

Dia mengidentifikasi lokasinya dari peta dunia dengan mengatakan: “Dia terletak jauh di sebelah selatan Samudra Pasifik di sebuah lokasi hampir menjadi tengah-tengah antara Kota Los Angeles (di sebelah barat Amerika Serikat) dan Kota Sydney (di sebelah tenggara benua Australia). Meskipun jaraknya sangat jauh dari negri kita dan dari Eropa, namun para wisatawan Eropa datang ke sana dalam jumlah besar, sebab perusahaan pariwisata membuat paket wisata keliling dunia dan yang paling penting adalah kunjungan ke Tahiti, dengan biaya yang proporsional. Jalur paling dekat dari negara-negara Arab adalah melalui Australia dan Selandia Baru.”

Kemudian dia melanjutkan menulis menggambarkan pulau ini, ditinjau dari sejarahnya dan orang Eropa pertama kali yang menemukannya, populasinya, dan keyakinan mereka. Kemudian memberikan penjelasan rinci tentang ibu kota, jalan-jalan, dan pelabuhannya, kondisi sosialnya kemudian menggambarkan perjalanannya di luar kota, di hutan-hutan dan pedesaan sembari menjelaskan kondisi penduduk dan karakter mereka.
Semua itu ditulis dengan bahasa yang mudah dan indah sehingga membuat pembaca hanyut dalam alur cerita penulis hingga tamat, keluar dengan mendapatkan banyak informasi berharga yang tidak dia kenal sebelumnya, dan melihat kondisi dunia baru yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Dalam kunjungannya ke negara dimana Islam sudah lama tersebar di sana, seperti India, misalnya, dia tidak hanya mencatat apa yang dia lihat atau dengar dari kondisi kota dan masyarakat, namun dia kembali ke sumber sejarah yang lampau yang berbicara tentang tempat-tempat ini seperti buku “Tahqiq Ma Li al-Hind Min Maqulah Maqbulah fi al-‘Aql aw Mardzulah” karya sejarawan Muhammad ibn Ahmad Abu Raihan al-Bairuni (362-440 H), atau buku Tuhfah al-Nazhzhar Fi Gharaib al-Amshar wa ‘Ajaib al-Asfar yang dikenal dengan nama Rihlah Ibn Bathuthah karya Muhammad ibn Abdillah ibn Muhammad ibn Ibrahim al-Lawati al-Thanji (703-779 H).

Dalam kunjungannya ke negara di mana penyebaran Islam masih baru seperti Amerika Selatan, dia berbicara dengan sangat rinci dan akurat tentang gelombang pertama yang bermigrasi ke negara ini dari umat Islam dan gelombang-gelombang berikutnya, tentang keadaan kaum Muslimin, penghidupan dan hubungan mereka dengan penduduk yang lain, dan kebutuhan mereka kepada para da’i dan para ulama. Selain itu dia menulis tentang cuaca, iklim, kondisi sosial dan ekonominya. Seperti yang digambarkan dalam wawancara siaran radio setiap pekan di radio Arab Saudi.

Upaya besar yang dilakukan oleh seorang da’i, Syaikh Muhammad Nashir al-Abudi ini perlu diapresiasi, dihargai. Pelancong dan penulis besar ini layak mendapatkan hadiah dan penghargaan semisal penghargaan “King Faisal International Prize” dan Penghargaan Festival Nasional untuk Warisan dan Budaya, dan penghargaan-penghargaan lainnya.

Mari kita kita jadikan ini sebagai inspirasi untuk melakukan hal yang besar untuk ilmu, Islam, dan dakwah. Jadilah traveler muslim yang produktif untuk Islam wal Muslimin. [*]

Yakin adalah karakter inti yang diperlukan dalam diri seorang pemimpin. Pemimpin yang tidak memiliki karakter yakin tidak bisa diharapkan. Dia tidak akan bisa menegakkan keadilan, tidak bisa menolong orang yang lemah, tidak bisa mempertahankan kehormatan bangsa, tidak bisa memiliki kewibawaan, dan tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah .

Oleh karena itu, dalam Islam orang yang memiliki karakter yakin ini adalah orang-orang yang memiliki keistimewaan, bisa berbuat banyak dalam segala keadaan. Dia manusia tetapi berbeda dengan kebanyakan manusia.

Kalau kita merenungkan al-Qur`an saja, tanpa mendalami kitab-kitab hadits dan sejarah Islam, minimal ada 10 sifat yang dimiliki oleh sosok pribadi dan pemimpin yang berkarakter yakin, yaitu:

  1. Ia beriman dengan yang ghaib (QS. Al-Baqarah: 3-5).

Orang yang yakin adalah orang yang beriman dengan hari akhir, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka. Oleh karena itu orang yang yakin tidak takut mati, bahkan bersemangat mencari mati syahid di jalan Allah seperti ahli dunia bersemangat mencari hidup.

Umair ibn al-Humam al-Anshari t, pada waktu perang Badar berkata kepada Nabi i: “Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasul i menjawab: “Benar.” Maka dia berkata: “Bakh, Bakh.” Rasulullah i bertanya: “Mengapa kamu mengatakan: bakh, bakh?” Dia menjawab: “Demi Allah, ya Rasulallah, saya tidak mengucapkannya kecuali berharap ingin menjadi penghuninya.” Maka Rasulullah i mengatakan: “Kamu termasuk penghuni surga.” Maka dia mengeluarkan beberapa biji kurma dari wadahnya lalu memakan sebagiannya, kemudian berkata:

: لَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِي هَذِهِ إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ

“Kalau saya hidup hingga memakan kurma-kurmaku ini niscaya ia adalah kehidupan yang lama.”

Dia berkata: “Maka dia melemparkan kurma-kurma yang ada padanya, kemudian memerangi mereka hingga terbunuh.” Rahimahullah rahmatan wasi’ah. (HR. Muslim: 4950, Ahmad: 12425)

  1. Ia yakin bahwa rizki di tangan Allah semata, bukan di tangan manusia. (QS. Al-Dzariyat: 20-23).

Orang yang yakin banyak berinfaq di jalan Allah tidak takut melarat atau diancam embargo sekalipun. Orang yang yakin bersemangat untuk bersedekah dan menolong orang lain sebagaimana ahli riba bersemangat mencari keuntungan walaupun terhadap orang susah.

Berkumpullah Hudzaifah al-Mar’isyi, Sulaiman al-Khawwash dan Yusuf Asbath. Mereka berdiskusi tentang al-Faqr (kemelaratan) dan al-Ghina (kekayaan), sementara Sulaiman terdiam. Sebagian mereka berkata: “Kaya itu adalah orang yang memiliki rumah yang menaunginya, pakaian yang menutupinya dan makanan yang mencukupinya dari kelebihan dunia.” Sebagian berkata: “Kaya adalah orang yang tidak membutuhkan kepada manusia.” Maka dikatakan kepada Sulaiman: “Apa yang engkau katakana, wahai Abu Ayyub?” Maka ia menangis kemudian berkata:

رَأَيْتُ جَوَامِعَ الْغِنَى فِي التَّوَكُّلِ، وَرَأَيْتُ جَوَامِعَ الشَّرِّ مِنَ الْقُنُوطِ. وَالْغَنِيُّ حَقَّ الْغِنَى مَنْ أَسْكَنَ اللَّهُ قَلْبَهُ مِنْ غِنَاهُ يَقِينًا، وَمِنْ مَعْرِفَتِهِ تَوَكُّلًا، وَمِنْ عَطَايَاهُ وَقَسْمِهِ رِضًى، فَذَاكَ الْغَنِيُّ حَقَّ الْغِنَى وَإِنْ أَمْسَى طَاوِيًا وَأَصْبَحَ مُعْوِزًا

“Saya melihat simpul kekayaan itu ada pada tawakkal. Dan saya melihat simpul keburukan ada pada putus asa. Kaya yang sejati adalah orang yang ditempatkan di hatinya oleh Allah, dari kecukupan-Nya berupa keyakinan, dan dari ma’rifat kepada-Nya berupa tawakkal, dari pemberian-Nya dan pembagian-Nya berupa ridha. Itulah orang kaya yang sejati, meskipun ia di sore hari dalam keadaan perut kempes dan di pagi hari kesulitan.” (Ibn Abi al-Dunya, al-Yaqin, 79)Continue reading

Seperti yang diberitakan oleh Rasulullah , bahwa semakin lama dunia ini tidak semakin baik melainkan semakin buruk. Ambil saja sebagai contoh, jabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Dulu hal ini sangat tabu. Kalaupun ada itu hanya sebatas antara para kerabat (meski bukan mahram) saat bertamu atau bertemu setelah lama berpisah. Kini hal itu menjadi sesuatu yang sangat biasa, dan dianggap baik, bahkan yang lebih dari itupun seperti ‘Cipika dan cipiki’ (cium pipi kanan dan cium pipi kiri) telah mulai membudaya dan diperdagangkan. Lebih ironis lagi adalah pandangan mereka yang sinis dan kebencian mereka yang miris terhadap orang yang tidak mau melakukan apa yang mereka lakukan, atau orang yang menentang ajakan mereka yang murahan itu.

Jabat tangan antara laki-laki dan perempuan dianggap halal dan tidak berdosa. Semua kalangan baik pejabat maupun rakyat, para kyai dan santri, para dosen dan mahasiswa, majikan dan buruh –kalau selebritis, artis dan insan intertainment jangan ditanya lagi, karena itulah dunia mereka– melakukan hal yang tercela tersebut. Maka tidak heran dan tidak perlu menyesal jika banyak perselingkuhan, perceraian, kenakalan remaja dan kebodohan.

Mungkin ada yang bertanya: Mengapa dikaitkan dengan perzinaan dan perselingkuhan? Ya, karena jabat tangan itu adalah salah satu mukaddimah hubungan mesra antara laki-laki dan perempuan, dan penyalur syahwat antara keduanya. (baca mukjizat larangan laki-laki berjabat tangan dengan wanita, Qiblati edisi 04 tahun II)

Mungkin pula ada yang menyanggah dengan mengatakan: “Saya tidak terangsang ketika berjabat tangan dengan wanita lain? Situ saja yang berpikiran ngeres.” Perlu diketahui, orang seperti ini biasanya saraf-saraf rangsangan di tangan telah mati karena “over dosis”. Artinya telah terbiasa dengan dosa jabat tangan ini, sehingga rangsangan sedikit tidak menimbulkan reaksi, melainkan harus rangsangan yang lebih besar lagi?! Akibatnya, bisa dipastikan bahwa orang seperti ini tidak terangsang dengan tangan istrinya, bahkan nilai tangan istrinyapun bisa jadi kalah dengan sebagian wanita yang lebih lembut sentuhannya, yang memang masih jarang disentuhnya. Maklum tangannya sudah terbiasa dengan berbagai macam tangan wanita, jadi yang lebih lembut, lebih mesra, lebih jarang disentuh itu yang lebih menarik seleranya.

Begitu pula dengan wanita yang telah terbiasa dengan tangan banyak laki-laki, ia akan merasa dingin-dingin saja dengan tangan suaminya yang hambar itu. Jika hal ini sudah dianggap biasa maka nafsu manusia pasti melangkah kepada tahap berikutnya, begitu seterusnya, sampai kenistaan dianggap budaya dan kekejian diukur dengan suka rela antara sesama.Continue reading

Mukaddimah

Dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter ditegaskan:

  1. bahwa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya merupakan negara yang menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai-nilai luhur, kearifan, dan budi pekerti;
  2. bahwa dalam rangka mewujudkan bangsa yang berbudaya melalui penguatan nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab, perlu penguatan pendidikan karakter;
  3. bahwa penguatan pendidikan karakter sebagaimana dimaksud dalam huruf b merupakan tanggung jawab bersama keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat;[1]

Dari kutipan ini kita memahami bahwa pemerintah sekarang sedang menggalakkan Penguatan Pendidikan Karakter. Dan bahwa hal ini merupakan tanggung jawab bersama, keluarga, satuan pendidikan, dan masuyarakat. Kemudian di antara wasilah untuk mewujudkan bangsa yang berbudaya adalah dengan menguatkan nilai-nilai religius.

Nilai-nilai religius dalam Islam tentu sangat beragam dan luas, dan perlu digali khususnya nilai-nilai yang besar yang dapat membawa bangsa ini kepada martabat yang tinggi dan kehidupan yang lebih baik. Di antara nilai-nilai religius yang sangat diperlukan di era krisis kepemimpinan ini adalah karakter generasi pemimpin. Generasi yang siap memimpin dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan bangsanya.

Pendidikan ini sangat menentukan arah generasi penerus, apakah pendidikan difokuskan untuk menjadikan bangsa ini sebagai generasi buruh, pekerja, kuli, ataukah menjadi generasi pemimpin, yang akan memimpin dirinya, masyarakat, dan bangsanya di negeri sendiri. Selama ini lembaga pendidikan lebih banyak mencetak para pekerja, para buruh dan para kuli. Oleh karena itulah dalam makalah ini saya akan mencoba untuk mengingatkan dua karakter yang menjadi syarat mutlak dalam diri pemimpin, yaitu yakin dan sabar.

Karakter yakin sudah banyak dirusak dan dikikis dari generasi ini melalui berbagai macam syubhat dan konspirasi. Para pejuang sekularisme, kapitalisme, komunisme, matrialisme, liberalism, dan pluralisme telah menanamkan pikiran-pikiran liar dan pendapat-pendapat rusak yang dapat melemahkan keimanan dan keyakinan para mahasiswa dan masyarakat, dan dapat merusak cara pandang dan berfikir mereka. Kekuatan media dan juga pengusaha tidak ketinggalan untuk mengerdilkan agama para pemirsa dan para pekerja.

Begitu pula karakter sabar telah mereka rusak sedemikian rupa melalui syahwat dan muslihat sehingga generasi sekarang terjangkit penyakit hubbuddunya (cinta dunia).

Rusaknya karakter yakin dan sabar menjadikan generasi ini penakut, putus asa, mudah menyerah, tidak berani menghadapi pihak asing yang jelas-jelas merusak negeri, walau hanya sekedar protes dan memberi peringatan. Rusaknya karakter yakin dan sabar membuat orang mudah untuk korupsi, mudah untuk mengkhianati janji, mudah untuk mengorbankan rakyat dan negara. Mereka malas untuk melakukan amar makruf nahi ‘anil munkar, bahkan mungkin sebaliknya yang mereka lakukan. Mereka tidak takut kepada Allah, tidak berminat mensyiarkan agama dan hukum Allah.

Intinya, generasi ini perlu nasehat dan siraman ruhani, perlu bimbingan dan pengobatan syar’i. Penerus bangsa ini perlu pendidikan agama yang benar, aqidah yang tauhid, ibadah yang shahihah dan akhlak yang mulia. Pendidikan karakter sangat diperlukan, khususnya karakter pemimpin; yakin dan sabar yang wajib diperhatikan di segala satuan pendidikan.

Karakter Yakin dan Tingkatannya

Yakin adalah satu cabang iman yang besar, satu sifat sifat orang yang ahli bertakwa dan berihsan. (QS. Luqman: 4-5).

Syaikh Ibrahim ibn Muhamad al-Huqail menjelaskan keyakinan kepada apa saja misalnya:

اليقينُ بحكمة الله تعالى في خلقه وأمره وقدره وفعله وشرعه، فلا يخلق إلا لحكمة، ولا يأمر أمرًا كونيًا إلا لحكمة، ولا يقدر قدرًا إلا لحكمة، ولا يشرع شرعًا إلا لحكمة.

“Yakin dengan hikmah Allah dalam penciptaan-Nya, dalam perintah-Nya, dalam takdir-Nya, perbuatan-Nya, dan Syariat-Nya. Maka Dia tidak mencipta kecuali untuk sebuah hikmah. Tidak memerintah satu perintah dalam penciptaan kecuali untuk suatu hikmah. Tidak menetapkan satu takdir kecuali untuk suatu hikmah dan tidak mensyariatkan satu syariat kecuali untuk suatu hikmah.”[2]

Generasi pemimpin dari umat Islam wajib meyakini Allah, meyakini ayat-ayat-Nya, meyakini syariatnya, meyakini janji-janji dan ancaman-Nya, meyakini pertolongannya bagi yang berjuang di jalannya, dan meyakini hukuman Allah bagi yang menentangnya, dan seterusnya dengan keyakinan yang jujur dan sempurna.

Syaikh Abdurrahman al-Sa’di berkata:

واليقين هو العلم التام الذي ليس فيه أدنى شك، الموجب للعمل

“Yakin adalah ilmu yang sempurna, yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, yang mendorong orang untuk mengamalkannya.”[3]

Imam Baihaqi berkata:

اليقين هو سكون القلب عند العمل بما صدق به القلب فالقلب مطمئن ليس فيه تخويف من الشيطان ولا يؤثر فيه تخوف فالقلب ساكن آمن ليس يخاف من الدنيا قليلا ولا كثيرا

“Yakin adalah tenangnya (mantapnya) hati saat mengamalkan apa yang dibenarkan oleh hatinya. Hati merasa tenang, tidak ada rasa takut dari setan, dan tidak terpengarus oleh rasa waswas. Hati tenang, nyaman, tidak khawatir dunia, baik sedikit maupun banyak.”[4]

Continue reading