اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكاً فِيْهِ . اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً . اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ بِمَا خَلَقْتَنَا وَرَزَقْتَنَا, لَكَ الْحَمْدُ بِاْلإِيْمَانِ, وَلَكَ الْحَمْدُ بِاْلإِسْلاَمِ, وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ، وَلَكَ الْحَمْدُ بِاْلأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْمُعَافَاةِ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى ذَلِكَ حَمْدًا كَثِيْرًا، لَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا فِي قَدِيْمٍ أَوْ حَدِيْثٍ, أَوْ سِرٍّ أَوْ عَلاَنِيَةٍ, أَوْ خَاصَّةٍ أَوْ عَامَّةٍ, أَوْ حَيٍّ أَوْ مَيِّتٍ, أَوْ شَاهِدٍ أَوْ غَائِبٍ، لَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى، وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضِيْتَ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, يَاآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ.

Allahu Akbar 3x, ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Di pagi ini seluruh umat Islam merayakan Hari Raya Islam yang terbesar yaitu Idul Adha. Di pagi seperti ini Rasulullah berkhutbah mengatakan:

إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَـٰذَا، أَنْ نُصَلِّي ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ. فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا. وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ ذٰلِكَ، ، فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لأَهْلِهِ. لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada Hari Raya ini adalah shalat, kemudiuan pulang lalu menyembelih. Barangsiapa melakukan hal ini maka telah mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa menyembelih sebelum itu maka sesungguhnya ia hanyalah daging biasa yang ia suguhkan kepada keluarganya, tidak ada nilai nusuk sama sekali.” (HR. Bukhari: 5545, 5560; Muslim: 5029)

Hari ini adalah hari bergembira, hari makan dan minum bersama keluarga, hari sedekah, memberi hadiah dan hari bersenang-senang. Rasul Allah bersabda:

((كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا مَا شِئْتُمْ))

“Makanlah dan berilah makan (pada orang lain) dan simpanlah sesukamu.” (HR. Bukhari: 5529; 11303)

Berkumpul, makan bersama di Hari Raya ini adalah sunnah karena merupakan ekspresi dari syi’ar yang agung ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

جَمْعُ النَّاسِ لِلطَّعَامِ فِي اْلعِيْدَيْنِ وَأَيَّامِ التَّشْرِيْقِ سُنَّةٌ وَهُوَ مِنْ شَعَائِرِ اْلإِسْلاَمِ الَّتِي سَنَّهَا رَسُوْلُ اللهِ

“Mengumpulkan manusia untuk hidangan makanan pada dua hari raya dan pada hari-hari tasyriq adalah termasuk bagian dari syi’ar Islam yang diajarkan oleh Rasulullah .” (Majmu’ Fatawa: 25/298)

Allahu Akbar 3x, ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Pelajaran yang perlu diingat di hari Raya Qurban ini adalah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Continue reading

Kita telah membahas pentingnya akidah Ahlussunnah tentang Khulafa` Rasyidin, tentang makna Khulafa Rasyidin dan dasar hukumnya. Selanjutnya kita perlu menanamkan keutamaan Khulafa` Rasyidin kepada para siswa agar keimanan mereka semakin mantap tidak tergoyahkan. Keutamaan dan kemuliaan dalam bahasa Arabnya adalah manqabah, bentuk jamaknya manaqib.

Manaqib Khulafa Rasyidin sangatlah banyak. Semua penting untuk diketahui, namun jika tidak memungkinkan maka minimal kita terangkan manaqib secara ringkas yang langsung berdasarkan dalil-dalil al-Qur`an dan sunnah sebagai berikut.

Pertama: Manaqib Sayyidina Abu Bakar -Radiallahuanhu-, antara lain:

  1. Allah -Shalallahu alaihi wa salam- berfirman:

وَلَا يَأۡتَلِ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah…” (QS. An-Nur: 22)

Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa ayat ini adalah tentang Abu Bakar -Radiallahuanhu- Ini adalah yang ada dalam kitab-kitab tafsir seperti al-Thabari, al-Baghawi, Ibn Katsir dan Ibn Sa’di. Maka Allah -Subhanahu wa ta’ala- menyebut Abu Bakar dengan sifat al-Fadhl (keutamaan).

  1. Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:

ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ

“… sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, …” (QS. At-Taubah: 40)

Continue reading

Pada edisi yang lalu telah kami sajikan bagian pertama dari terjemahan makalah Dr. Usman Qadri Makanisi yang dipublikasikan di website saaid.net.[1] tentang “Renungan Pendidikan Dalam Surat Maryam” yang berisi 12 poin penting terkait pendidikan Islam. Kini kita lanjutkan dengan “Renungan Pendidikan Dalam Surat Maryam” bagian kedua. Berikut ini adalah terjemahan saya terhadap lanjutan tulisan Dr. Usman Qadri yang saya beri catatan kaki, nama surat dan nomor ayat serta kesimpulan akhir:

Orang yang melihat Surat Maryam dengan seksama, dia akan mendapatkan bahwa surat ini berbicara tentang pendidikan keluarga, dan hubungan antara sesama anggota keluarga.

Bagian pertama berbicara tentang Sayyidina Zakariya dan putranya Yahya alaihimassalam, beban dakwah, memikul amanah, dan birrul walidain.

Bagian kedua berbicara tentang hubungan erat antara ibu dan anaknya, ibu yang perawan dan suci, Maryam, yang telah menghibahkan dirinya untuk agama Allah dan dakwah-Nya, anak shalih Isa u yang membela kesucian dan kemuliaan ibunya, memikul beban dakwah kepada Allah.

Bagian ketiga berbicara tentang Nabi Ibrahim u yang mendapat hidayah Ilahi, hubungannya dengan ayahnya ketika sang anak mengajak sang ayah dengan penuh sopan santun untuk menyembah Allah yang Maha esa, kemudian dia menyendiri menjauhi kaumnya ketika mereka bersikukuh membela kekufuran, maka Allah memuliakannya dengan keturunan yang shalih, hingga menjadi panutan bagi alam semesta.

Continue reading


طرائق معرفة السنن الإلهية

د. أغوس حسن بصري السنوي في ملتقى الدعاة -جنوب شرق آسيا- في ١٨ يونيو قدم بحثا بعنوان طرائق معرفة السنن الإلهية وذلك بتدبر القرآن والسنة وبقراءة التاريخ والتفكر في الكون.
كانت المحاضرة امام المشايخ مثل الشيخ الأستاذ الدكتور أحمد بن الشيخ عبد الله الغنيمن ( محاضر في الجامعة الاسلاميه في المدينة – والمفتي في مكتب الإفتاء في المسجد النبي) وكذلك الشيخ ابو على من المدينة.
والشيخ الدكتور عيسى محمد عيسى المسملي من جامعة أم القرى.
وبعد المحاضرة أبدى لي مباشرة كل منهم شكرهم وثناءهم على المقالة والمحاضرة القيمة والنفسية…
الحمد لله والشكر لله.
والمقالة بكاملها كالآتي:

Download disini

Sungguh tidak terasa, begitu cepatnya Ramadhan meninggalkan kita, terasa baru kemarin kita berkumpul, shalat berjama’ah, shalat tarawih, buka bersama, dan mengikuti kajian-kajian menarik. Ingin rasanya kita menangis, goresan yang ditorehkan Ramadhan di dalam hati ini terasa masih segar, goresan yang tidak berdarah namun berair mata. Itulah goresan kerinduan yang terukir karena kecintaan.

Betapa tidak, Ramadhan adalah bulan jihad, bulan perjuangan, bulan kesabaran, bulan yang menjadi simbul kemenangan melawan nafsu setan, bulan yang penuh dengan rahmah, berkah dan maghfirah, bulan semangat: semangat shalat jama’ah, shalat sunnah, puasa, baca al-Qur’an, berzikir, bersedekah dan semangat berukhuwah. Bulan yang di dalamnya pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, setan dibelenggu, malaikat diturunkan, pahala dilipat gandakan, rahmat dibentangkan. Sungguh berbahagialah orang yang menatap Ramadhan dengan wajahnya, menyambut dengan tangannya dan memeluk dengan kuatnya. Ya Allah, terimalah semua amalan baik kami dan ampunilah segala kesalahan dan dosa kami, dan luluskan kami dari madrasah taqwa, madrasah Ramadhan, amin.

Ada sekelompok orang yang sangat rugi dan celaka, hatinya keras, tidak mendapat ampunan, mendapat laknat Allah, yaitu orang yang penuh dengan debu maksiat dan kotoran dosa, yang setelah dimasukkan ke dalam madrasah Ramadhan ini atau digodok dan dicuci dalam mesin cuci Ramadhan, ternyata ia masih tetap seperti semula, tidak bersih dan tidak berubah menjadi putih. Setelah Ramadhan ia masih tetap malas beribadah dan giat melakukan maksiat. Rasulullah  bersabda:

((مَنْ اَدْرَكَ رَمَضَانَ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ))

“Barang siapa menjumpai Ramadhan dan ia tidak mendapatkan ampunan, maka jika ia mati akan masuk neraka” (Hadits shahih riwayat Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban).Continue reading